Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Sangat Bahagia


Bara memungut lagi ponsel yang tadi ia lempar sembarangan. Ponselnya berdering nyaring sekali. Bisa ia tebak, siapa si penelepon itu. Harris Risjad.


"Ya?" jawab Bara.


"Dimana wanita gila itu sekarang?" Harris bertanya tanpa basa-basi sebelumnya.


"Di hadapanku."


"Kau bawa kemana dia?"


"Ke apartmentmu.."


"Jaga dia jangan sampai lolos! Aku gak mau ada kejadian dia datang lagi kemari merusak acaraku!"


"Ya, pasti Tuan.. Menikahlah dengan tenang.." ujar Bara. Bersamaan dengan itu, wanita yang tergolek lemah di atas ranjang mulai menunjukkan gerakannya.


Bara menyimpan ponselnyal kembali di atas meja. Wajahnya yang datar itu mengamati wanita gila tawanannya. Cantik. Se*xy. Apalagi dress pendeknya itu sedikit terangkat sampai mengekspos penuh sebelah pahanya. Mengingat tadi Bara membantingnya ke ranjang tanpa membenarkan posisi tubuh wanita itu.


Baru kali ini ia menawan seorang wanita. Kalau berandal laki-laki ingusan sampai si tua bangka yang tak tau diri sudah jadi makanannya sehari-hari. Itu pula alasannya tidak bisa bersikap lembut dan sabar, pada wanita mabuk ini. Dia cukup kelabakan dibuatnya.


Sedikit demi sedikit Hanna memperoleh kembali kesadarannya. Dia mengerjap beberapa kali demi memastikan apa yang dilihat di depannya adalah nyata adanya. Pengaruh alkohol agaknya sedikit berkurang, meskipun masih tercium aromanya.


"Dimana aku berada sekarang?" tanyanya pada Bara. Yang tentu saja tidak akan direspon oleh Bara.


Melihat sikap kaku Bara, Hanna berangsur mengingat siapa lelaki ini. Lelaki yang sama yang membawanya dengan mobil untuk menjauhkannya dari acara pernikahan Harris.


Hanna memijat pelipisnya yang masih terasa pusing. Dia bangkit perlahan dan menghampiri Bara yang sedang duduk sambil bersedekap tangan di sofa.


"Berapa banyak Harris membayar bodyguard sepertimu?" tanyanya dengan nada mengejek.


"Aku bukan Bodyguard Harris Risjad." Bara menyorotkan tatapan tajamnya pada wanita itu. Untuk pertama kalinya netra keduanya bersitubruk.


"Lalu?" satu sudut bibirnya sedikit terangkat. Bukti kesombongan seorang Hanna Rosaline. Keadaannya saat ini sangat tidak menguntungkan, masih saja berani menyombogkan diri.


"Aku hanya anji*ng liar yang diberi makan oleh Harris."


"Haa..Ha..Hahaa.. Pantas saja kau sangat setia pada tuanmu.." Hanna tertawa dengan nyaringnya.


Bara masih tetap tanpa ekspresi menatap wanita itu. Wanita dengan gaun pendek warna hitam yang semakin menonjolkan kulit putihnya. Dress dengan bahu terbuka dan bagian depan yang rendah, sehingga memperlihatkan sedikit belahan da danya.


Bara menelan ludahnya kasar ketika Hanna dengan impulsif duduk di pangkuannya. Melingkarkan lengannya di leher kekar Bara seraya menjambak pelan rambut belakang lelaki itu.


"Kalau begitu, apa anji*ng liar ini juga akan menggigit orang yang mengusik tuannya?" tanya Hanna dengan tubuh yang sudah menempel sempurna pada tubuh kekar Bara.


"Tentu saja. Bahkan tidak hanya menggigit, anji*ng liar ini juga bisa menghabisi siapa saja yang ingin mencelakai tuannya." jawab Bara seraya memalingkan wajahnya dari Hanna.


'Wanita ini sepertinya masih mabuk. Dasar wanita gila.' batin Bara.


Hanna terus menggesek-gesekkan dadanya ke tubuh Bara. "Kalau begitu buktikan.. Aku juga ingin merasakan gigitan anji*ng liar."


Bara meladeni tawanannya yang seddikit gila itu. Bibirnya meraup bibir wanita yang disodorkan sendiri secara sukarela oleh pemiliknya. Ciumannya panas dan saling menuntut. Balasan permainan bibir seimbang juga dilakukan oleh Hanna. Membakar gai rah di antara keduanya.


Ia berdiri seraya menggendong tubuh Hanna yang memang sejak tadi berada di pangkuannya. Lalu menghempaskan raga itu ke ranjang. Dengan sekali tarikan satu tangannya Bara merobek gaun yang dipakai Hanna, sampai memperlihatkan perut putih mulus wanita itu.


Pergulatan panas di pagi hari itu pun tak dapat dihindari. Suara desa han dan era ngan bersahutan memenuhi setiap sudut ruangan. Keduanya menik mati setiap proses perjalanan menuju puncak nirwana bersama.


...----------------...


Perhatian orang-orang juga teralihkan ketika mobil iring-iringan pengantin pria mulai memasuki gang kecil itu. Semua orang mengagumi deretan mobil mewah itu. Mobil-mobil keluaran luar negeri yang tidak banyak beredar di pasaran dalam negeri. Meskipun tidak bisa menerka berapa harga satu unit mobil itu, mereka sudah tau hanya orang-orang dengan kekayaan fantastis saja yang bisa memilikinya.


Belum lagi orang-orang yang ada di dalam mobil tersebut. Tampan dan cantik bak aktor dan aktris film. Vitamin mata.


Keara pun mulai bisa menguasai emosinya. MUA sudah merapikan kembali make upnya sehingga tampak cantik seperti sedia kala. Senyumnya terkembang saat diberitahu rombongan calon suaminya sudah tiba di rumahnya. Ada kebahagiaan bercampur aduk dengan rasa haru dan gugup memenuhi hatinya. Impiannya untuk menikah dengan lelaki baik akan segera terwujud dalam hitungan menit.


Keara dituntun oleh ibu keluar kamar sampai menuju meja tempat digelarnya akad nikah. Harris yang sudah lebih dulu berdiri di sana seketika terpukau melihat bidadari hatinya berjalan mendekat ke arahnya.


"Cantik." kata yang terlontar dari bibir Harris itu tanpa suara. Netranya berbinar memandangi senyum malu-malu gadisnya. Sekejap ia lupa akan menghadapi peperangan batin paling hebat seumur hidupnya.


Setelah duduk berdampingan, juga berhadapan dengan penghulu, wali nikah dan para saksi, tergambar jelas gurat ketegangan di wajah Harris. Sangat berbanding terbalik dengan kesehariannya yang tidak pernah gentar ketika menghadapi klien dari belahan dunia manapun.


Keara menautkan jemari berharap bisa meredam gelisah yang melanda. Sejak kemarin, ibuk terus mengingatkannya untuk melangitkan doa selama proses ijab kabul berlangsung. Meski pikirannya sulit untuk diajak berkonsentrasi, namun Keara tetap menuruti petuah sang ibu.


Tapi Harris Risjad tetaplah Harris Risjad. Lelaki pejuang tangguh itu lambat laun terlihat bisa menguasai diri. Usai khotbah nikah disampaikan, Mas Harris sudah bersiap dengan sorot penuh keyakinan.


"Saudara Harris Risjad bin almarhum Alfariz Risjad, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Keara Assyifa binti Suryo Pratomo dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan uang dua ratus lima puluh juta rupiah, tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Keara Assyifa binti Suryo Pratomo dengan maskawin tersebut di atas, tunai."


"SAH??"


"SAH !!"


Jawaban serempak dari semua orang yang hadir di sana berhasil membuat debar jantung Keara yang mendadak hilang sejak detik pertama Harris menyambung ucapan bapak tanpa putus dalam satu tarikan napas, kini telah kembali.


"Alhamdulillah."


"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jama'a bainakumaa fii khoir."


"Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka, dan selalu mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan."


...----------------...


...----------------...


Harris be like :


Kampret banget si Bara, aku yang ijab kabul, dia yang duluan unboxing cewek... 🙈🙈


...----------------...


Maapkan jam segini baru up.


Lunas yaa Buibuk, mas Harris dan K sudah resmi dan bisa terkam-terkaman 😂


Yang mau kondangan, dipersilahkan 🥰🌹


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih