
"Bahkan sampai hari ini, Galenku selalu menemaniku dalam diam. Dia selalu ada buatku.. Dia selalu melindungiku. Meski tidak mengatakan apapun. Sama seperti dulu. Dia selalu menjadi pelipur laraku.."
Harris bangkit dari duduknya. Tangannya erat menggenggam jemari Keara. "Jangan ngomong ngelantur. Ayo aku antar pulang.."
"Tunggu dulu, mas..." Keara menurut untuk bangkit, tapi ia menarik tangannya sekuat mungkin agar terlepas dari genggaman Harris.
"Sudah kubilang aku mau berterima kasih dulu sama Galenku..."
"Heh? M-maksud kamu?"
Keara melingkarkan tangannya ke pinggang Harris. Wajahnya menengadah demi menatap wajah tampan yang ada di atasnya. "Galen... Kamu Galenku, terima kasih..." lirihnya.
Dengan senyum terkembang yang menghiasi wajah Keara, terlihat begitu cantik dan mempesona di mata Harris. Lampu penerangan berasal dari kejauhan sehingga di tempat mereka berdiri sedikit temaram. Namun wajah cantik itu jelas memancarkan sinar yang menerangi hati dan jiwa Harris.
"K.. K-kamu.. tau... Ehmm.... Kamu tau.. aku..." Harris tergeragap. Ia masih tercekat setelah mendengar ucapan Keara tentang galen.
"Tau. Kamu galenku.." Keara kembali menelusupkan tubuh mungilnya di dekapan Harris.
Ada desir hangat yang menjalari tubuh tegap lelaki itu. Jantungnya berdegup makin kencang. Dadanya bergemuruh. Ia sangat bahagia. Tapi juga bingung di waktu yang sama. Ia tidak mengerti kenapa Keara bisa tau tentang dirinya. Semalam ini? Bagaimana bisa tau??
"Bagaimana kamu bisa tau K..?"
"Dari mas Rizky."
"Heh?"
"Mas Rizky yang memberi tahukan padaku..."
"Rizky? Rizky juga tidak tahu..."
"Mas Rizky datang ke mimpiku.....Dia mengingatkanku tentang cerita gadis SMA cinta pertama mas Harris.."
"Gadis SMA yang bikin kamu cemburu?"
Wajah Keara seketika memerah. "Siapa yang cemburu..?"
"Kamu." Harris menjawil ujung hidung Keara. Sedang satu tangannya yang lain menekan pinggang Keara agar lebih menempel lagi dengan tubuhnya.
Keara menelan salivanya. Ia akui, tadi dirinya lah yang lebih dulu memeluk lelaki ini. Tapi sekarang detak jantungnya yang tak bisa dikendalikan membuat lututnya mendadak lemas. Ia ingin melarikan diri sekarang juga. Bukan karena tidak suka, tapi karena ia sangat malu dan canggung dengan situasi saat ini.
Raganya kini tak berjarak dengan raga lelaki yang perlahan sudah menguasai hatinya. Dalam posisi berdiri dan berhadapan. Melekat sempurna. Bahkan wajahnya yang menengadah saat ini bisa merasakan hangatnya hembusan nafas seorang Harris.
"Katakan bagaimana Rizky menceritakan tentang Galen.."
Mendengar nama Rizky disebut, spontan bibirnya menyunggingkan senyuman. "Mas Rizky bilang, cinta mas Harris sudah mentok sama cewek SMA cengeng yang manggil mas Harris Galon.. Hahahhaaa.."
"Kenapa bisa jadi Galon sih..? Hahahaa...." Keara tergelak. Membenamkan wajahnya ke dada Harris dan tertawa terbahak-bahak di sana. Dari getaran di dada lelaki itu, Keara bisa tau Harris pun sedang tertawa saat ini.
"Dulu Rizky memang sering meledekku dengan memanggilku Galon.."
"Oh ya? Hahaa.. Aneh-aneh aja mas Rizky tuh..." ujar Keara lagi. "Seandainya dulu mas Rizky menyebut nama Galen, aku akan lebih cepat mengenali mas Harris.."
"Jangan berandai-andai.. Yang tidak terjadi pada diri kita itu pasti bukan yang terbaik bagi kita.."
"Hemm.." gumam Keara.
"Apa karena itu sikap mas Harris sangat dingin kepadaku dulu? Sampai sangat enggan bertemu denganku setiap kali aku bersama mas Rizky.."
"Hmm.." Harris tersenyum mengingat mendiang sahabatnya itu. "Karena kalau sampai Rizky tau kamulah gadis SMA yang kumaksud, dia pasti akan melepasmu saat itu juga. Dan memberikanmu kepadaku. Aku hafal betul wataknya.."
"Seandainya itu benar terjadi, Rizky menyerahkan kamu kepadaku dan kamu pun tau bahwa aku Galen. Belum tentu kamu menerimaku dan bisa mencintaiku kan? Kamu pasti masih berat melepaskan Rizky. Atau mungkin tidak akan mau berpisah dari Rizky, benar?"
Keara tidak menjawab. Ia menatap lelaki itu dengan tatapan nanar. Dalam hati ia membenarkan pemikiran Harris.
"Kita pertama kali bertemu di luar taman ini adalah ketika Rizky mengenalkanmu kepadaku. Jadi secara tidak langsung, karena Rizkylah aku bisa melihatmu lagi. Aku pun sangat bersyukur. Kamu bertemu dengan lelaki sebaik Rizky. Aku yakin, dia tidak akan membuatmu menangis, sampai ingin kembali ke taman ini."
"Aku bahagia untuk kebahagiaanmu, sayang.. Meskipun tidak pernah ku tunjukkan, tapi aku bahagia. Setiap kali Rizky menceritakan betapa manisnya kamu, betapa manjanya sikapmu, betapa baiknya hatimu. Aku tulus ikut bahagia atas kalian."
"Meskipun aku tidak ingin bertemu denganmu, sungguh, bukan berarti aku membencimu. Cukuplah aku tau kamu baik-baik saja. Aku hanya tidak tau bagaimana cara bersikap normal jika sudah melihatmu. Aku tidak ingin Rizky tau. Aku hanya tidak ingin mengganggu hubungan kalian. Aku tidak ingin mengusik kebahagiaan kalian.."
"Sekarang kamu lihat, kan..? Semua yang terjadi adalah yang terbaik menurut ketetapanNya. Meskipun jalannya harus berputar-putar dulu, tapi pada akhirnya aku lah yang akan memilikimu. Aku bisa mendekapmu seerat ini.. Aku bisa menciummu.. Dan kita akan segera menikah.. Bukankah semua yang terjadi ini adalah yang terbaik, sayang?"
Keara mengangguk cepat. Ia membenarkan semua ucapan Harris. Dalam hatinya ia sungguh tersentuh dengan perilaku kedua sahabat itu. Kedua orang yang tidak memiliki ikatan darah tapi begitu saling menyayangi dengan caranya masing-masing. Ia tidak menyangka jalan takdir yang ia lalui saat ini. Takdir indah yang meski jalannya tidak mudah, tapi pada akhirnya membawa ia bertemu dan bersatu dengan Galennya.
"Jadi, apa sekarang kamu sudah paham, gadis SMA yang kamu cemburui itu dirimu sendiri?" goda Harris.
Keara mengusapkan wajahnya yang memerah ke dada Harris. Ia jelas sedang sangat malu saat ini. Dulu dia bahkan mengomel panjang lebar ketika Harris membicarakan gadis SMAnya itu.
"Jadi.. Apa kamu sudah percaya sekarang, kalau benar kamulah cinta pertamaku..?" goda Harris lagi.
"Hemm.." jawab Keara. Masih tidak berani menampakkan wajahnya pada Harris.
"Kenapa tidak berani menatapku sekarang?"
"Apa sih maasss..." rengek Keara saat jemari kokoh Harris berusaha mengangkat wajah gadis itu.
"Lihat aku."
Keara perlahan mengangkat wajahnya. Kini netranya terkunci dengan milik Harris. Harris merapatkan kembali dekapannya.
"Mana katanya mau berterima kasih pada Galen..?" Harris agaknya sangat menikmati ekspresi lucu Keara saat ini. Hingga ia terus menggoda gadis itu. Wajahnya merona dengan senyum malu-malu. Sangat menggemaskan.
"Sudah kan.." jawab Keara dengan bibir merengut.
"Kapan?"
"Tadi..."
"Hm.. Mau kutunjukkan cara berterima kasih yang baik dan benar??"
"Heh?" netra gadis itu membulat. Tatapnya tak lepas dari sang lelaki.
Harris tanpa aba-aba, mencium bibir Keara. Melu*mat dan menye*sap dengan lembut. Hingga membuat Keara melayang dan terbawa suasana.
Gadis itu kini tak lagi segan membalas ciuman lelakinya. Ia sudah tau harus berbuat apa. Ciu*man panas di tengah malam yang dingin itu memabukkan kedua insan. Dua-duanya melebur rasa cinta dan bahagia yang membuncah di hatinya.
Keara mengalungkan kedua lengannya di leher Harris. Tangannya dengan kuat meremas rambut lelaki itu, kala Harris dengan nakalnya memberi gigitan kecil di bibir bawahnya. Lidahnya lincah bergerak, tidak terbatas lagi. Menelusuri setiap jengkal rongga mulut gadisnya. Menjilat dan menghi*sap bagian manapun yang ia suka.
"Ayo..kita lanjutkan di kamarku, sayang..." ujar Harris dengan nafas tersengal.
"Sembarangan. Aku bilang sama ibuk kalau aku bakal pulang..."
*Huuufftt...
Harris mengusap kepala gadisnya. Ia memejamkan mata menikmati kehangatan di tengah malam yang dingin. Kebahagiaannya tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Gadis SMAnya yang cengeng kini sudah beranjak dewasa dan sebentar lagi akan menjadi istrinya.
...----------------...
Sabar yaa, Harimau.. Tunda dulu terkam-menerkamnya.. Masuk kandang lagi yuk..
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih