Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Makan Bersama


"M-mas Harris ngapain datang kesini?" Tanya Keara heran. Tapi yang membuatnya terbata sungguh bukan itu. Tapi karena tiba-tiba bayang Harris yang tidur tanpa mengenakan kaus muncul lagi sekelebatan di otak Keara.


'Hey.. Istighfar K.. Jangan mesum. Eling.. Elingg..' batin Keara dalam hati. Berusaha mengusir sekelebatan bayangan panas itu dari otak kotornya.


"Aku datang untuk nyelametin kamu. Mau kamu jadi sasaran fitnah istri orang?!" jawab Harris dingin. Ia lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.


"Aku gak salah kok.." gumam Keara.


Harris hanya diam. Dia tau, kalau Keara memang tidak sengaja bertemu mantan pacarnya tadi saat sedang menunggu Juna. 'Ah, cowok itu.. Beruntung aku tadi lebih cepat dari dia menyambar Keara. Kalau tidak, aku akan kalah start, dan balik dengan tangan kosong..' membayangkan itu, Harris tanpa sadar tersenyum dengan seringai tipis.


"Malah senyam senyum.." Keara cemberut sambil melirik-lirik ke arah Harris.


"Kalau dalam situasi seperti tadi, orang gak akan lihat kamu salah apa gak. Mereka akan tetap lebih percaya pada istri. Apalagi orang-orang yang gak kenal sama kamu.."


"Iya sih.. Apes banget aku ketemu sama Nico pas dia lagi dibuntutin sama istrinya.. Ngeselin banget tuh dua manusia.."


Harris tersenyum tipis mendengar Keara mendumal kesal. Gadis manis itu tetap terlihat ceria di mata Harris.


"Mau langsung dianter pulang? Atau mau kemana dulu?"


Keara mendengar pertanyaan dari Harris. Tiba-tiba terbersit satu ide menarik di kepalanya. Ia memberanikan diri saja. Mumpung ketemu kan..


"Mau makan dulu dong mas.." Keara nyengir ke arah Harris. Entah pria itu melihat atau tidak, dia tidak ambil pusing. "Aku laper banget. Siang tadi makan cuma dikit."


Harris melirik Keara disela-sela konsentrasinya menyetir. "Mau makan dimana?"


"Seadanya dekat sini aja, terserah mas Harris. Aku ngikut aja.. Aku pemakan segala kok. Hehe.."


"Oke."


Mas Harris tanpa menoleh, melajukan mobilnya membelah kerumunan orang-orang berkendara yang sebagian besar juga akan pulang setelah seharian bekerja. Padat merayap. Membuat Keara dua kali menguap menahan kantuk. Lamat-lamat ia mengingat tentang mas Juna.


'Ehh.. Mas Juna apa kabar ya? Tadi aku kan nungguin dia? Trus pas dia dateng aku malah pergi sama Mas Harris.. Aduh Keara.. bego bener sih bisa sampe lupa udah ninggalin orang.. Chat mas Juna dulu ah..'


Keara mengetikkan pesan whatsapp ke nomer Juna.


"Mas Juna.. Maaf ya. Tadi aku langsung pergi. Males di sana ada pasangan aneh. Besok aja kita ngobrol lagi ya, Mas.. Tadi mas Juna mau ngomong apa."


"Oke, K.." begitu jawaban chat singkat yang dikirim Juna. Masuk dengan cepat hanya berselang satu menit setelah chat Keara terkirim.


Mobil Harris berbelok memasuki sebuah rumah makan iga yang cukup familier bagi Keara. Bukan karena sering makan disini, karena memang baru sekali ia makan iga bakar resto ini. Itupun dari bingkisan acara peringatan seratus hari kematian Mas Rizky. Dan dengan kata lain, bingkisan box nasi pemberian dari Harris untuk Bu Farida sekeluarga. Netra Keara berbinar terang, lantas memandang Harris dengan tatapan penuh terima kasih.


Ketika turun dari mobil, Harris menangkap ekspresi senang Keara. Tidak sadar bibirnya pun turut menyunggingkan senyum.


"Mas Harris kenapa senyum-senyum hayoo..?" Keara yang lebih dulu tampak kegirangan kini malah menggoda Harris.


"Senyum kamu yang paling lebar."


"Hehe... Aku suka iga bakar di resto ini. Aku makan tadi pagi, dapet nasi box dari seratus harian mas Rizky kemarin.." Keara tanpa malu menceritakan alasannya tersenyum.


Harris semakin tersenyum lebar melihat kepolosan Keara.


"Oh iya.. nasi box itu juga pemberian mas Harris.."


"Kalau gitu pesan sesukamu, dan makan yang banyak hari ini.." pungkas Harris.


"Siiap Bos.."


Keara memesan seporsi iga bakar dan segelas jus strawberry, dan Harris memesan makanan yang sama. Sembari menunggu makanan pesanannya datang, Keara lebih memilih menyimpan ponselnya di tas dan memulai pembicaraannya dengan Harris.


"Gimana rasanya jadi pacar artis mas?" Keara menyesalkan, kenapa harus pertanyaan ini yang dipilih jadi pembuka.


Harris mengangkat bahu. "Gak tau. Aku gak pernah punya pacar artis."


"Ah.. mas Harris pura-pura lupa apa gimana.. Itu si Hanna Rosaline." desak Keara. Jawaban Harris tadi seperti sedikit melegakan hatinya.


"Foto mas Harris tuh bahkan sudah muncul di akun lambe-lambean.."


"Apa itu akun lambe-lambean?"


"Itu loh.. Akun gosip di instagram.."


Harris terkekeh. sambil menggelengkan pelan kepalanya. "Itu cuma kerjaan media."


"Maksudnya? Mas Harris gak beneran pacaran sama si Hanna itu?"


"Terus kenapa mas Harris gak nyangkal?"


"Ya karena namaku gak disebut sama Hanna. Hanna hanya menyebut inisial HR, lalu media berspekulasi kalau itu aku. Manusia yang namanya berinisial HR kan ga cuma aku.."


Keara mengangguk-angguk dengan senyum tertahan. Entahlah.. dia senang saja kalau ternyata mas Harris tidak benar-benar berpacaran dengan Hanna Rosaline. Si artis sok cantik itu.. Eh, wait. Ada yang salah nih..


"Walaupun cuma sebut inisial, tapi nyatanya foto dan profil yang beredar itu mas Harris. Bukannya itu artinya mas Harris juga harus klarifikasi.. Orang kan bisa salah paham, mengira mas Harris beneran pacaran sama Hanna. Terus.. Hanna juga bisa salah paham. Mikirnya mas Harris ga nolak digosipin begitu, bisa jadi mas Harris kasih peluang buat Hanna masuk ke kehidupan mas Harris..."


Harris terdiam. Sikap cuek bebeknya selama ini baru kali ini dikritik, dan semua ucapan Keara itu ada benarnya juga.


"Gak serumit itu K.. Cuman malas...."


"Ya jangan disepelein, Mas.." Keara menyela argumen Harris. "Sekarang coba Mas pikir, kalau Hanna benar-benar berpacaran dengan HR tapi media mengarahkannya pada mas Harris, dia pasti sibuk klarifikasi.. 'engga kok, guys.. pacarku HR yang ini loh.. Bukan si Harris Risjad itu'.. Tapi apa? Dia diem aja kan, itu artinya emang mas Harris yang dituju."


"Yang perlu dipertanyakan justru motif si Hanna menyebarkan inisial HR. Kemungkinan pertama, Bisa jadi dia memang menargetkan untuk beneran bisa dekat dengan Mas Harris. Kemungkinan kedua, dia memang ga berniat mengungkap identitas pacarnya, dia hanya asal mencatut inisial HR untuk mendongkrak popularitas.." Keara nyerocos terus tanpa memberi kesempatan Harris untuk membela diri.


'Kalau feelingku sih.. kemungkinan pertama yang bener..' batin Keara.


Harris memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba pening. Mendengar celotehan Keara benar-benar menghibur hatinya. Tapi isi celotehan Keara itu membuatnya berpikir hal yang disepelekannya selama ini.


"Apapun motif Hanna, aku ga ambil pusing K.. Selama akun akun gosip itu gak mengulik kehidupan pribadiku, aku tidak keberatan.."


"Emang mas Harris ga keberatan, kalau misalnya ada cewek yang mau deketin mas Harris jadi mundur teratur karena salah paham? Dia kira mas beneran sudah punya pacar.. Artis pula pacarnya.." serang Keara tanpa kenal lelah.


"Enggak. Aku gak peduli sama orang lain. Kecuali kamu." jawab Harris santai.


Netra Keara membulat, "Kecuali aku? Maksudnya?" Sejujurnya debaran jantungnya sudah tidak terkontrol lagi. Tapi Keara berpura biasa saja. Tidak ingin terlihat mencolok.


"Iya. Kecuali kamu. Kamu ga boleh salah paham, kamu harus tau kalau aku dan artis itu tidak ada hubungan apa-apa.."


Harris mengatakannya dengan santai, sedangkan Keara sudah hampir jantungan mendengarnya. Semburat merah sudah menjalar di pipi dan seluruh wajah gadis manis itu. 'Apa maksudnya itu tadi? Apa si gunung es ini udah tau cara gombalin cewek?'


Harris tersenyum tipis menyadari keterkejutan Keara. Sungguh bertemu dan bicara dengan gadis ini sangat menghibur hatinya.


"Kenapa juga cuma aku yang ga boleh salah paham?" tanya Keara sambil berpura-pura merengut.


Belum sempat Harris menjawab, pramusaji datang mengantarkan makanan pesanan mereka berdua dan menyimpannya di meja.


"Udah, jangan ngajakin debat terus. Makan yang banyak.. Biar badan kamu gak kurus kering begitu. Jadinya tuh paha kalau dibuat bantal tidur agak empuk, gak atos begitu.." ujar Harris. Menggoda Keara ternyata semenyenangkan ini, batinnya.


"Ih.. body shaming banget nih orang.." Keara mulai menyessap jus strawberry pesanannya. Ups.. Keara berhenti. Tetiba dia menyadari satu hal yang ganjil. Dia menepuk dan mencubit punggung tangan Harris yang menumpang di atas meja. "Iiiih Mas Harris..."


"Aww.. Aawh.. Apa sih K?" Harris meringis kesakitan, tapi ada senyum bahagia terselip di antaranya..


"Mas Harris sebenarnya sadar kan pas tidur di pangkuanku kemarin? Jangan-jangan mas Harris pura-pura tidur ya?! Ngaku!!" ujar Keara dengan bersungut-sungut.


Harris tergelak. Sedangkan pipi Keara semakin memerah. "Pura-pura sih enggak. Aku beneran gak sadar.. Karena itu juga alasanku mau ketemu kamu hari ini. Aku mau minta maaf dan berterima kasih." sahut Harris tenang.


"Maaf yaa, tidur kamu jadi gak nyaman gegara aku.. Dan terima kasih, kamu sudah peduli dan mau nyamperin saat aku meracau gak jelas dalam tidurku.."


Keara menjadi salah tingkah. Malu bercampur senang sekaligus. Entahlah apa tendensi malu dan senangnya ini.. Mas Harris bahkan tidak mengatakan satu hal pun yang menjurus rayuan. Tapi.. hmm mbuhlah.


"Mau bilang makasih aja pake ngatain kakiku kurus kering dan atos.. Padahal sendirinya nyaman banget tidur semalaman bantalan kaki aku.." Keara ngedumal dengan bibir cemberutnya. Pipinya terasa panas terbakar. Ia alihkan pandangannya dari Harris, ke piring iga bakar yang aroma kelezatannya langsung menguar di indera penciumannya.


"Lagian ini kaki fungsinya emang buat jalan, bukan buat bantal."


Harris tergelak. "Ya kalau nyaman, bener. Nyaman banget malah. Tapi kalau atos begitu tidur ga nyenyak.. Bangun-bangun kepala pusing.. Makanya makan yang banyak."


Keara makin merengut. Sedangkan Harris tertawa penuh kemenangan.


'Hiiisshh.. Ini nih yang disebut gak tau terima kasih. Padahal dia yang bikin pegel, tapi masih ngatain. Kalau kepalanya pusing pas bangun bobok, salah dia sendiri lah.. Tidur ga pake baju di ruangan ber-AC. Eehh..' Keara bermonolog dalam hati, namun sekelebatan bayang Harris tidur tanpa baju kembali menghantuinya. Membuat pipinya makin panas seolah terbakar. Jantungnya juga berdegup tiga kali lebih cepat dari normal.


'Aduh.. Mana bisa makan dengan tenang kalau begini. Bayangan kotor, huussh husshh sanaaa..!!'


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih