Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Bara Bere


"Aaaawhhh.. Sayaaang!!"


Sebuah teriakan yang berasal dari suara yanga sangat dikenal di kamar tidurnya, membuat Harris yang saat itu sedang memilah milih setelan kerja di walk in closet, berlari cepat. Pikirannya dipenuhi kecemasan.


"Sayang, ada apa??" tanyanya panik. Tapi sedetik kemudian keningnya mengerut karena melihat wanita yang berteriak tadi berdiri santai di atas sebuah timbangan badan digital.


Keara. Wanita yang dikhawatirkan Harris tadi hanya nyengir lebar. Merasa bersalah karena raut panik suaminya atas teriakannya yang mengejutkan.


"Ada apa?" tanya Harris lagi. Kali ini dengan nada pelan, dan mencoba bersabar atas perilaku istrinya yang semakin aneh semenjak hamil.


"Berat badanku naik dua kilo...." rengek Keara manja. Dia mendekati suaminya yang masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer pendek itu. Bergelayut manja dengan melingkarkan lengannya di leher sang suami.


"Aku kira kenapa.. Teriakanmu histeris gitu."


"Hehe.. Itu juga berita penting dan gawat sayang..." cicit Keara.


Harris mengusap puncak kepala wanita hamil itu. Lantas berjalan masuk lagi ke walk in closet Menuntaskan apa yang tadi hendak ia lakukan. Memakai baju dan bersiap-siap pergi ke kantor.


Tapi bukan Keara namanya kalau Harris bisa pergi menjauh tanpa masalah. Wanita itu langsung menghentakkan kakinya dengan kesal dan menggerutu. "Tuh kan.. Mas Harris langsung ngeloyor pergi gitu aja. Pasti gara-gara aku sekarang udah gendut kan..? Aku udah gak cantik lagi. Gak menarik lagi."


Harris balik badan. Langkahnya memutar kembali mendekati raga sang istri. "Sayang, aku hanya mau berpakaian.."


"Ya udah sana. Ngapain balik lagi kemari.." ujar Keara dengan bibir mengerucut.


"Sayangku, istriku tercinta.. Kamu wanita paling cantik di dunia ini. Di mata dan di hatiku, kamu harta paling berharga yang kumiliki. Terlebih ada dua baby buah cinta kita hidup dalam rahimmu. Makin besar rasa cintaku buat kamu.." Harris paling mengerti. Di saat-saat seperti ini, dia harus berkata romantis untuk menghibur Keara.


"Satu lagi sayang, Kamu gak tambah gendut kok.. Kamu tambah sexy.." imbuh Harris seraya mengerling genit dan tangannya dengan jahil mere*mas pantat istrinya.


Keara tersipu manis. Wajahnya bersemu rona merah sehingga menambah kecantikan paras alaminya. "Awas yaa kalau nanti aku tambah gendut lagi dan mas Harris ngelirik cewek lain.. Ku pelintir rudalmu ini.." ucap Keara seraya tangannya yang jahil meraba tonjolan di dalam boxer suaminya.


"Gak akan sayang.. Kalau gak percaya buktiin aja. Gendutin badan kamu.." tantang Harris.


"Ishh.. Gak mau laah.. Seenaknya aja. Ntar ngurusinnya lagi tuh susah banget." cibir Keara.


"Hahaha.. Oke, sayangku.. Sekarang pilih. Aku harus berganti pakaian atau kita main satu ronde?" tanya Harris dengan seringai nakal.


"Ganti pakaian aja." jawab Keara. Senyum manis terlukis di wajah cantiknya menghadapi kemesuman sang suami. Bagaimana bisa main satu ronde, dokter saja masih melarang prosesi bercocok tanam dilakukan. Yang ada tangan dan mulut hangat Keara yang harus bekerja keras untuk memuaskan Harris sebagai gantinya.


Harris bergegas ke walk in closet setelah mengecup singkat bibir istrinya yang menggemaskan itu. Dia sudah terlambat sepuluh menit dari waktu pertemuan yang sudah dijanjikan dengan Bara dan juga Aswin.


...----------------...


Sesampainya di kantor, Harris menanggalkan jas dan menyampirkan ke sandaran kursi. Ia segera duduk dan menyalakan laptopnya.


Kemarin seharian libur tidak ke kantor membuat Harris banyak melewatkan pekerjaan. Meskipun beberapa yang paling penting dan mendesak akan tetap dilaporkan Aswin melalui email, dan Harris mengeceknya dari ruang kerja di rumah. Tapi tetap saja, bagi seorang perfeksionis seperti Harris, akan selalu ada yang kurang kalau dia tidak memantau secara langsung laporan demi laporan pekerjaannya.


Baru lima belas menit Harris berkonsentrasi menelisik file dalam drive kerja, Bara dan Aswin sudah masuk ke ruangan dan menginterupsi CEO nya. Mereka memang sudah membuat janji untuk berkumpul pagi ini. Untuk membicarakan langkah selanjutnya dari rencana mencebak orang yang ada di belakang Alex.


"Gimana?" tanya Harris begitu kedua orang sahabat sekaligus bawahannya sudah duduk nyaman di sofa. Harris bangkit dari kursinya. Berjalan mendekat, setelah itu ikut duduk di sofa single dekat dua lelaki berwajah tidak setampan dirinya itu.


"Si breng*sek itu!!" geram Harris. Tangannya terkepal sangat kuat. "Beraninya penjahat ke*lamin itu terobsesi dengan istriku."


"Martha juga terlibat? Wanita tua itu lagi-lagi cari masalah denganku. Harusnya sudah kutendang saja dia dari rumahku." imbuh Harris.


"Kita bawa saja si Alex kepa*rat itu ke polisi. Biar polisi yang mencari tau dan menangkap orang yang menyuruhnya." usul Aswin.


"Janganlah. Bego banget usulanmu itu." decak Harris.


"Terus?"


Di antara mereka bertiga, -kalau dulu berempat dengan Rizky,- Aswin memang yang paling polos. Keahliannya hanya bekerja di belakang meja sebagai asisten CEO. Tapi kalau rencana balas membalas dan jebak menjebak, Aswin sangat payah.


"Sudahlah.. bisamu hanya mengurus perusahaan saja. Jangan ikut-ikutan ngurusi tikus." dengus Harris kesal.


"Kita harus bersikap bodoh dengan pura-pura tidak tau apa-apa. Kita biarkan kep*arat itu melakukan apa saja sampai kita dapat bukti akurat untuk menjebloskannya ke penjara." Bara mengutarakan pendapatnya. Daripada terus menerus mendengar debat kusir Harris dan Aswin.


"Nah biar Bara saja, dia ahlinya." pandangan Harris beralih pada preman datar itu. "Gimana laporan si Agus?"


"Sesuai perintah, Agus sudah mengirim foto-foto kalian berdua menggunakan ponsel Alex. Foto yang dikirim sangat mesra bahkan terkesan intim. Kalau benar baj*ingan itu terobsesi dengan nona Keara, dia pasti kepanasan dan bergegas menyusun rencana." tutur Harris panjang lebar.


"Gimana cara kita mengetahui rencana tikus-tikus gila itu?" tanya Aswin mewakili rasa penasaran Harris. Harris mengangguk-angguk saja. Daripada dia yang harus bertanya. Gengsi.


"Anak buahku yang kutugaskan mengikuti David Soehandoko malam itu, mendengar percakapan David dan asistennya. Malam itu David mabuk berat. Lalu aku suruh saja anak buahku menyimpan alat penyadap di tas kerja David. Jadi kita bisa mendengarkan obrolan mereka selagi tas itu ada di dekatnya." lapor Bara.


"Buahahahahahaa..." Harris tergelak. "Bara Bere Bara Bere.. Lo emang brillian. I Love you so much, Bar... Ga salah aku pelihara macan berwajah lempeng kayak kamu. Hahahaa.. Di saat-saat seperti ini bisa juga kamu pakai otak lebih dulu ketimbang otot."


Aswin tersenyum lebar sambil bertepuk tangan dengan gaya congkak. Merasa dapat angin segar untuk membalas kelakuan bejat orang-orang yang hendak mencelakakan rumah tangga bos sekaligus sahabatnya. Dan Bara yang dipuja puji dengan gaya lebay selangit hanya menatap tanpa ekspresi ke arah bosnya.


"Efek bergaul sama istrimu tuh.. Jadi ketularan otak cerdik dan liciknya. Dia kan ada aja akal bulusnya.. Apalagi kalau udah ada yang diincar.." tukas Aswin yang langsung mendapat sambutan tos dari Harris.


"Baguslah.. Ada juga pengaruh yang bermanfaat dari wanitamu itu." ledek Harris.


"Jadi mau tau kelanjutan laporannya gak nih..?" sela Bara.


Lama-lama jengah juga mendengar sahabat-sahabatnya mengejek wanita yang saat ini tengah mengandung anaknya. Mungkin di awal pernikahan, ia pun sangat membenci wanita itu. Tapi enam bulan bersama membuatnya mulai mengenal jati diri pasangannya. Wanita itu tak lebih dari sekedar wanita lemah yang mencoba berbagai cara licik untuk mengelabuhi orang lain bahwa dirinya kuat, tangguh, dan berpengaruh. Meskipun caranya salah, tapi Bara bisa merasakan perubahan positif wanita itu.


"Oke.. Oke.. Lanjutkan." sahut Harris sambil menahan sebisa mungkin tawanya.


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih


...----------------...