Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Polusi Mata


🌹 Rumah Harris


Perumahan elit tempat tinggal Harris tak jauh dari rumah Rizky. Dan juga searah jalan pulang Keara. Sepertinya Harris memang tidak ingin jauh dari Rizky dan keluarganya.


Ia ingat cerita Ica tadi, kalau Harris selalu mengajak mereka tinggal bersama di rumahnya. Tapi kedua orang tua Ica selalu menolak. Bu Farida kerap berkata kalau dulu beliau menampung dan merawat Harris tanpa pamrih. Saat Harris sukses, Harris tak perlu merasa berhutang budi apapun sebab Bu Farida dan suaminya ikhlas merawat Harris.


Tapi Harris tidak patah arang. Lelaki itu tidak pernah melupakan jasa baik keluarga Rizky. Harris menanggung seluruh biaya kuliah Ica. Mas Adi dan Angga pun dipekerjakan di perusahaannya.


Keara berhenti di depan rumah megah dan mewah. Menurut alamat yang diberikan Ica, rumah ini adalah rumah mas Harris. Keara melangkah masuk dengan jantung berdebar dan kaki gemetar. Pasalnya, ini pertama kali dia menginjakkan kaki di rumah semewah ini. Amazing.



Rumah sebesar ini ditinggali seorang diri? Betapa sepi dan kosongnya. Rasa pilu seakan menjalari ruang hati Keara. Membayangkan betapa kesepiannya Harris di rumah ini. Hanya berteman asisten rumah tangga, driver, dan security. Tanpa keluarga yang hangat dan ceria. Betapa menyedihkannya.


Keara jadi menemukan berjuta alasan untuk bersyukur. Meskipun ia tinggal di rumah kecil, tapi selalu ada ibuk dan mas Arman yang selalu menemaninya. Memberinya kehangatan. Memanjakannya setiap saat. Menemani dan merawatnya di kala sakit. Ironi memang. Tapi rasa syukur memang menjadi landasan agar merasa bahagia.


Keara langsung disapa pak Diman begitu sampai di pintu pagar. Sehingga ia tidak perlu ditanya-tanya security, dan bisa langsung masuk ke dalam. Pak Diman juga membantu Keara memasukkan motor maticnya melewati pagar.


"Wah ada non Keara datang.. Kebetulan sekali Tuan Harris baru saja pulang dari China." begitu sambutan ramah Pak Diman. Driver mas Harris ini pasti sudah cukup lama bekerja di sini. Dari sikap ramah beliau, tampak dia menganggap Mas Harris sebagai anak atau kerabatnya sendiri.


"Iya pak.. Ini saya dapat titipan dari Bu Farida pak.. Dari acara pengajian seratus harinya mas Rizky. Saya titip ke Pak Diman saja yaa.." ujar Keara. Berusaha meminimalisir dentuman jantungnya kalau dia tidak perlu bertemu dengan Harris.


Eh, tadi pengen ketemu. Sekarang gak mau ketemu. Gimana sih K..?


Bukan gak mau ketemu sebenarnya. Tapi deg-degan, gugup, tak tau harus bicara apa. Susah banget lah intinya. Jadi Keara memilih untuk menghindar saja. Mentalnya belum cukup kuat.


"Jangan Non.. Non masuk saja. Ada Bik Santi.. Dan juga lebih baik ketemu sendiri sama Tuan Harris ya non.."


Nah kan.. Pak Diman gak asik nih.


"Ayo Non.. Mari. Lewat sini." ajak Pak Diman sopan.


Keara tidak punya pilihan selain mengikuti Pak Diman masuk ke dalam rumah. Rumah mewah yang interior dalamnya mampu membuat Keara berdecak kagum. Hiasan lampu gantung kristal, desain interior, dan perabotan super mahal dan premium langsung menyapa Keara dan memanjakan mata. Mashaa Allah.


Pak Diman pamit keluar begitu sudah terlihat Bik Santi di ruang tamu. Bik Santi datang dengan langkah cepat setengah berlari. "Ini non Keara? Yang dimintain tolong sama Bu Rida?"


"Iya Bik.. " Keara lantas menyodorkan plastik besar tempat box nasi. "Ini Bik.. titipan dari Bu Farida."


"Ooh.. iya.. Iya, terima kasih sudah mau mengantar ya Non.."


"Ya sudah.. Keara pamit pulang ya Bik.."


"Eh, tunggu sebentar ya Non.. Sebentar saja. Duduk dulu Non. Monggo..."


Keara menurut. Meski dengan perasaan was-was dan gugup bukan main. Bik Santi berjalan masuk ke dalam rumah. Keara mendadak membayangkan berjalan-jalan di rumah yang luas ini.. Pasti berasa kayak olahraga. Eh belum lagi yang nyapu dan ngepel.. Buseeet.. Kalau Keara pasti sudah encok.. Pegal linu. Keara tersenyum-senyum sendiri membayangkannya.


Rumah besar ini tampak sepi dan kosong. Tidak ada tanda-tanda pergerakan manusia selain Bik Santi tadi. Dan tidak terdengar suara apapun. Hening. Senyap.


Mas Harris pun tidak tampak batang hidungnya. Sekalipun Keara sudah memanjangkan leher melongok ke kanan dan kiri. Tidak ada. Sepi.


Keara jadi merasa serba salah. Iya, dia sendiri juga bimbang. Tak bisa mendefinisikan perasaannya sendiri. Dia memang tidak siap bertemu dengan Harris. Tapi saat sudah menginjakkan kaki di rumah Harris seperti sekarang, tetapi tidak mendapati bayang lelaki itu membuat Keara sedikit kecewa. Bingung kan..? Aneh emang.


Bik Santi berjalan mendekat sembari menenteng paper bag ukuran sedang berwarna merah. Kemudian mengangsurkannya pada Keara begitu jarak mereka sudah dekat. "Ini Non.. Oleh-oleh dari China."


"Oh.. Emm... Ini benar buat Keara Bik? Tapi kan saya.." Keara bingung harus menerima paper bag itu atau tidak. Mana mungkin dia dapat jatah oleh-oleh? Kedatangannya kemari saja tidak ia prediksi.


"Iya Non.. Tuan Harris kalau pulang dari luar negeri sering bawa oleh-oleh banyak. Dan disuruh bagikan ke siapa saja. Terserah Bik Santi.. Tuan sendiri tidak pernah melarang mau saya berikan pada siapa. Kalau untuk Bu Rida sekeluarga, sudah pasti dapat."


"Oh.. gitu ya Bik.."


"Iya Non.. Jadi monggo diterima Non.."


"Makasih yaa Bik.."


"Sama sama Non.."


"Ya sudah Bik.. Saya pamit pulang ya Bik.."


"Gak perlu Bik.. Saya bawa motor sendiri kok.."


Keara beranjak dari duduknya. Ragu-ragu, ia melontar tanya pada Bik Santi. Sesuatu yang cukup membuatnya penasaran dari tadi. "Ehm... maaf Bik, kalau boleh tau Mas Harrisnya dimana ya?"


"Tidur di kamarnya Non.. Baru pulang ke rumah tadi, Bibik mau kasih teh hangat ke kamarnya, Eh.. orangnya udah tidur lelap banget. Mungkin kecapekan kali ya Non.."


"Oh Gitu.. Iya Bik.. Pasti capek banget."


Oke, Keara.. Gagal ketemu lagi walaupun sudah di depan mata. Harus seneng apa sedih kalau begini? Yang pasti Keara merasa kilatan rasa kecewa di hatinya. Karena tak kunjung bisa bertemu lelaki ini.


Keara baru berjalan beberapa langkah. Masih jauh untuk mencapai pintu keluar. Tiba-tiba terdengar teriakan dari lantai atas yang begitu mengejutkan.


"MAMAAA!! MAAAMMAA...!!"


"Siapa itu..."


"Itu Tuan. Pasti ngigau lagi. Saya tinggal ya Non.." Bik Santi berlari tergopoh-gopoh naik tangga untuk sampai ke lantai atas.


Entah mendapat ilham dari mana, Keara tidak peduli tata krama dan kesopanan dulu sementara ini. Dia spontan mengikuti Bik Santi. Berlari menuju lantai atas tempat suara memilukan itu berasal.


Mas Harris mengigau memanggil-manggil mamanya? Hati Keara terasa perih teriris. Mendengar suara teriakan dengan penuh nada pilu itu. Tiba-tiba memenuhi rumah mewah yang sedari tadi hening. Menyedihkan.


Bik Santi membuka pintu kamar Harris. Keara akhirnya bisa melihat lelaki itu lagi. Setelah tiga minggu lalu terakhir kalinya ia melihat Harris terbaring di ranjang rumah sakit. Kini lelaki itu terbaring di kamarnya.


Tanpa mengenakan kaus, Harris tidur bertelanjang dada. Hanya mengenakan celana panjang dan tidak berselimut. Mungkin saking lelahnya sampai tertidur seperti itu, batin Keara.


"Ma.. Mama..!!" Harris merintih lirih.


Keara bisa menangkap air mata yang mengalir dari sudut netranya yang masih terpejam. Sekujur tubuhnya dibanjiri keringat. Padahal kamar luas ini ber-AC dengan suhu yang lumayan dingin menurut Keara.


Bik Santi berdiri di sisi kanan Harris. Berusaha mengguncang-guncang tubuh Harris untuk membangunkan lelaki itu. Keara spontan naik ke tengah ranjang. Ia duduk bersimpuh di sisi kiri Harris. Ikut membantu Bik Santi menyadarkan Harris.


Tangis pilu lelaki itu terdengar sangat menyayat hati. Tanpa sadar Keara ikut menitikkan bulirr bening dari netranya. Dia menggenggam telapak tangan besar Harris. Ingin rasanya meringankan rasa sepi lelaki ini. Tapi tak tau harus berbuat apa.


Rupanya Harris bereaksi saat Keara memegang tangannya. Harris membuka sedikit kelopak matanya. Mata merah penuh peluh itu menatap Keara dengan setengah sadar. Pancarannya sendu penuh luka terpendam.


"Mamaa.."


'Mas Harris manggil aku mama? Berarti dia belum sadar betul...' gumam Keara. Ia saling melempar pandang dengan Bik Santi. Yang tentu sama bingungnya dengan Keara.


Mas Harris mengangkat tubuhnya. Dengan gerakan cepat lelaki itu beringsut ke pangkuan Keara. Lengannya melingkari pinggang ramping Keara, tubuhnya menelungkup, dan kepalanya direbahkan di paha Keara.


Keara terbelalak. Terkejut sejadi-jadinya. "I-ini.. M-mas Harris kenapa tidurnya begini Bik..?" gumam Keara pada Bik Santi.


"Ehmm.. gak papa ya, Non.. Biarin begini dulu. Nanti juga berubah posisinya.." Bik Santi berbicara dengan nada sungkan. "Maaf ya Non.. Nanti kalau sudah lepas, bisa Non tinggal.."


"Hah..? Ehm.." Keara bukan keberatan. Tapi dia tidak bisa tidak tergoda dengan tubuh kekar yang terbuka di depan matanya ini. Mana lengan Mas Harris ngerangkul erat banget pula. Sungguh posisi yang membuat dada dan kepalanya nyut-nyutan.


Harris menggeram lagi. Keara melihat wajah lelah itu kembali terlelap. Bik Santi menutup punggung Harris dengan selimut. Ah.. begitu lebih baik. Polusi mata berkurang..


"Saya temani di sini ya Non.." ucap Bik Santi. Keara mengiyakan. Berdua saja dengan laki-laki, dan posisi tidurnya begini amat sangat tidak nyaman. Setan menghantui dimana -mana. Bahaya.


Harris kembali bergumam lirih. Tapi Keara masih bisa mendengar suara lelaki ini.


"Ma.. Mama... Harris capek Ma..."


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih