
"Hahh? B-bulan depan??"
"Iya, sayang.. Aku sudah bicara dengan ibu kamu, dan kami sudah sepakat kalau pernikahan kita tanggal dua puluh lima bulan depan.. Pihak WO juga sudah tau dan mengurus semuanya dengan cepat.."
Keara terbelalak. Sedang Harris masih tenang saja, tidak merespon keterkejutan Keara. Dia memang tidak main-main ingin mempercepat pernikahannya dengan gadis ini. Perpisahan karena kesalah pahaman yang terjadi kemarin sangat membuatnya belajar dan tidak ingin sampai terulang kembali.
"Tapi mas.. Bukannya mas Harris janji kita akan menikah setelah aku wisuda.?"
"Yang penting kan kamu sudah lulus.. Wisuda bisa tetap berlangsung meskipun kita sudah menikah. Tidak akan mengubah apapun, sayang.."
"Tapi mas, aku belum mempersiapkan apa-apa.." kekeuh Keara masih berusaha merubah pikiran Harris.
"Lagian kapan mas Harris bilang sama ibuk.. Ibuk gak ngomong apa-apa tuh sama aku.."
"Kamu tidak perlu menyiapkan apa-apa sayang.. Orang-orang wedding Organizer yang akan mengurus semuanya." jawab Harris tenang.
"Aku sudah bicara sama ibu kamu dan mas Arman. Kemarin waktu kamu tidak mau keluar kamar. Kupikir, aku juga perlu menjelaskan kepada mereka tentang berita yang tersebar luas di TV.. Aku pikir mereka juga harus tau tentangku, sebelum memutuskan menerimaku sebagai suamimu atau tidak.."
"Tapi ternyata ibu dan mas Arman menerimaku dengan baik. Mereka bahkan merangkulku, K.. Membuatku merasa seperti mendapat satu keluarga baru lagi.."
Terdengar nada sendu dalam ucapan Harris. Keara spontan menatap nanar pada lelakinya. Masih terlihat jelas lelaki ini masih menyimpan luka dalam hatinya. Ia masih saja rendah diri terhadap masa lalunya yang kelam.
Padahal kalau dipikir-pikir, tidak ada satupun kejadian di masa lalunya yang terjadi akibat kesalahan Harris. Harris kecil murni hanya korban keegoisan orang-orang dewasa di sekitarnya. Tapi nyatanya lelaki itu masih menyimpan semua duka dan ia jadikan sebagai aib di masa kini yang memberatkan langkahnya.
"Memang sudah seharusnya ibu dan mas Arman menerimamu mas.. Kamu lelaki yang sangat baik.." gumam Keara. Tidak peduli Harris bisa mendengarnya atau tidak.
"Karena itu, sayang.. Tekadku sudah bulat untuk segera menikahimu.. Aku tidak mau menunggu terlalu lama lagi. Kamu kalau marah serem.. Suka batal-batalin pernikahan.." Harris tersenyum. Jemarinya dengan lembut menaikkan dagu Keara lantas mengecup bibirnya singkat.
"Iya, mas.. Tapi yaa jangan satu bulan juga. Mendadak banget.." Keara merajuk. Berharap Harris mau mendengarkannya.
"Baiklah sayang.. kalau begitu kita menikah dua minggu lagi."
"DUA MINGGU??" pekik Keara.
"Hem.."
"Mas Harris ini ngerti itung-itungan hari, minggu, dan bulan gak sihh?? Satu bulan aja mendadak banget, kok malah dua minggu??!"
"Kenapa sayang? Apa lebih baik kita menikah minggu depan? Baiklah.. Aku akan menelepon orang WO agar mempercepat persiapannya.." Harris sudah mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Eh, wait.. wait..!" Keara dengan panik menahan tangan Harris yang bersiap mengarahkan ponselnya mendekati telinga.
"Mas Harris ini becandanya gak lucu deh ah. Nyebelin!!"
"Siapa yang becanda. Aku serius sayang.. Aku anggap protesmu itu karena kamu ingin pernikahan kita dipercepat."
"Heh.. Mana bisa begitu. Gak! Aku gak mau!! Ini namanya pemaksaan.." rengek Keara.
"Baiklah kalau itu maumu sayang.. Aku akan menelepon Bara." Harris menempelkan ponselnya ke telinga setelah menekan nomor kontak Bara. Bodyguardnya itu dengan cepat menjawab panggilan dari tuannya.
"Halo, Tuan.."
"Bara, carikan penghulu di daerah dekat sini. Aku akan menikah besok pagi.."
"MAS HARRISS!! Iiiihh...! Gak! Aku gak mau!!" Keara melipat tangannya di dada dan memalingkan wajahnya.
"Ralat Bara! Aku akan menikah malam ini. Jadi cari dan bawa penghulu sekarang juga! Cepaftttrp...." ucapan Harris terputus karena Keara membungkam mulut lelaki itu dengan tangannya.
"Mas Harriiiiiss..!" Keara menghentakkan kakinya di pasir dengan kesal. "Oke, aku setuju satu bulan lagi. Deal. Aku gak akan protes dan cerewet lagi. Oke? Bulan depan kita menikah. Ya, mas yaa..? Kita sudah deal, oke? Sini tutup dulu teleponnya.." Keara merebut ponsel di tangan Harris. Lantas berbicara setengah teriak pada ponsel Harris, sebelum mematikan sambungan telepon itu.
"Mas Bara.. jangan kemana-mana. Gak perlu nyari penghulu..! Kami ga jadi nikah malam ini..!"
Harris tergelak. Merasa sukses mengerjai Keara hingga gadis itu merengut sangat lucu. Menggemaskan.
Keara spontan mencubit dada Harris dengan segenap perasaan kesal yang masih menguasai.
"Ya sudah sini aku cubitin sampe puas. Kebetulan banget aku juga lagi kesel nih sama mas Harris...." Keara sudah siap dengan mengarahkan kedua tangannya di depan dada Harris, tapi Harris dengan cepat menahan.
"Sayang, lain kali kalau marah cubit aku saja sepuasmu.. Sampai berdarah juga gak apa-apa. Asal jangan pergi sambil menangis seperti waktu itu lagi. Hm? Janji?"
Keara mengangguk. Bibirnya bergetar menahan tangis yang akan pecah. "Ya mana mungkin aku sesadis itu nyubit mas Harris sampai berdarah." gumamnya lirih.
"Sakitnya tidak seberapa daripada dengar kamu bilang tidak mau menemuiku lagi, sayang.." Harris mengusap pipi lembut Keara dengan ujung jarinya.
"Apalagi kamu bilang tidak mau menikah denganku. Jangan lagi kau ucapkan kata-kata itu sayang.. Itu sangat menyakitkan."
Air mata Keara sudah meluncur luruh ke pipi. Harris mengusapnya dengan lembut.
"Aku hanya ingin membahagiakanmu, tapi yang terjadi kamu malah menangis dan bersedih seperti ini.."
Keara menggeleng kuat. "Asal mas ingat janji Mas Harris. Jangan pernah menyuruhku pergi saat ada masalah. Sekalipun nanti mas Harris belum bisa mengatakan apa-apa, tetap saja aku ingin terus berada di sampingmu.."
"Bilang saja padaku kalau aku cukup diam dan tidak cerewet. Maka akan aku lakukan.. Mas hanya perlu tidak mengirimku kemanapun.."
"Aku tau sayang.. Aku janji." ujar Harris seraya terus membelai pipi gadis itu. Satu tangannya yang lain lantas melingkari pinggang ramping Keara dan menariknya hingga gadis itu menempel sempurna dengan raga Harris.
Harris bergerak cepat menurunkan kepalanya. Menyatukan bibir mereka dan melu*mat dengan hasrat yang menggebu. Ia memainkan bibirnya mengecap dan menghisap bibir manis yang menjadi candunya. Merayu dengan cumbuan penuh kerinduan. Agar gadisnya mulai belajar membalas ciumannya.
Perlahan celah itu terbuka. Harris dengan sigap melesakkan lidahnya menelusuri rongga mulut kekasihnya. Ciumannya tidak lagi kecupan lembut, tapi berubah memanas dan menuntut. Sebelah tangannya pun tak lagi membelai pipi, tapi sudah beralih ke tengkuk gadisnya. Menekan di sana. Berharap tidak ada lagi jarak sekecil apapun.
Malam yang pekat dan sunyi. Tak ada seorangpun di dekat mereka, yang terdengar hanya deburan ombak susul menyusul menyapa bibir pantai. Udara dingin yang berhembus dari laut semakin tajam menusuk tulang. Suasana hening yang meleburkan perasaan rindu dua insan yang sedang memanas, seolah terdengar bagai nyanyian merdu yang membuai.
Keara terhanyut pada ciuman panas lelakinya. Hingga tanpa sadar lengannya melingkar di leher belakang Harris. Sesekali meremas rambut lelaki itu kala lidah Harris bergerak nakal dan membelit lidahnya.
Entah sejak kapan Keara juga mulai membalas ciuman Harris. Bibir dan lidahnya bergerak mengikuti nalurinya saja. Karena ini juga pertama kali baginya mencumbu sedalam ini. Sepanas ini.. Se-menggairahkan ini..
Sungguh Harris sudah mampu merobohkan pertahanan dirinya. Mengoyak gengsinya.
Harris semakin liar merayu bibir kekasihnya. Menye*sapnya seolah ingin menghisap habis bibir gadisnya. Sampai ia tanpa sengaja memberi gigitan kecil di bibir bawah Keara. Memancing suara merdu lolos dari bibir gadis itu.
"Hh....." lirih desa*han itu terdengar. Tapi reaksi Harris saat mendengarnya seakan merasa sebuah aliran listrik bertegangan kuat menyambar tubuhnya.
"Jangan bersuara sayang.. Kalau tidak, kamu akan membuat adik kecilku memberontak."
Mendengar ucapan Harris, sontak Keara menarik wajahnya. Tautan bibir mereka pun terlepas. Nafas keduanya memburu dan memanas.
Dia menoleh ke kanan dan kiri dengan wajah dan telinga yang sudah merah padam.
"Siapa yang memberontak pada kita, mas? Apa tadi ada yang melihat kita??" tanya Keara dengan nada panik. Bibirnya yang sedikit membengkak membuat Harris menyeringai senang.
Harris hanya menarik nafas panjang. Gairahnya terputus di tengah jalan. Tapi gadisnya ini malah mengkhawatirkan sesuatu yang sia-sia.
"Ada harimau yang tadi melihat kita. Dan dia sangat ingin menerkammu.." ujar Harris dengan wajah lesu. Dia meraih jemari Keara dan menggandengnya berjalan ke arah hotel.
"Ayo kembali ke hotel saja sekarang. Harimau itu sudah tertidur lagi.."
Keara mencoba mencerna ucapan Harris. Lalu tergelak begitu menyadari maksud lelakinya.
"Hahahaa.. Dasar mesum."
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih