
🌹 Kantor Harris
"Pagi Pak.." sapa Aswin pada Harris, atasannya.
Pagi-pagi sekali dia sudah berada di ruangan Harris. Demi melaporkan hasil temuannya kemarin. Harris hanya berdehem menjawab sapaan Aswin. Wajahnya datar seperti biasa. Dan tatapan matanya sedikitpun tidak teralih dari layar laptopnya.
"Saya mau melaporkan informasi yang Pak Harris minta kemarin."
Harris mengangkat wajahnya untuk melihat Aswin. Sambil mengangguk tipis, ia bersiap mendengarkan laporan asistennya itu.
'Tumben cepet kerjanya.' batin Harris.
"Nama lengkapnya Juna Arya Oetomo. Dia putra bungsu pengusaha farmasi OK Health Indo. Ayahnya Dito Oetomo, dan ibunya Fera Santika, seorang dokter gigi."
Harris mengernyit. "Kalau dia anak orang kaya kenapa kerja di kafe?"
Aswin melanjutkan laporannya, "Karena tidak disetujui berpacaran dengan seorang perempuan, dia kabur dari rumah. Sudah dua tahun dia tidak tinggal di kediaman orang tuanya. Tapi kalau disebut kabur tidak juga. Karena Juna ini dulunya tinggal di appartment mewah yang masih milik ibunya. Mobil, credit card, semua kehidupannya masih dijamin sama ibunya. Bahkan dia tidak perlu bekerja, karena ibunya masih menanggung seluruh biaya hidup dan kuliahnya."
"Nah, yang mengherankan adalah selama tujuh atau delapan bulan ke belakang, dia benar-benar kabur. Tidak bisa ditemukan oleh keluarganya. Semua fasilitas kekayaan orang tuanya ditinggalkan. Dan yang seperti kita tau pak, Juna menyewa kontrakan sederhana dan bekerja di kafe yang sama dengan Mbak Keara."
"Siapa perempuan yang jadi pacarnya itu?" tanya Harris.
"Ee.. Tidak tau pak."
"Kalau begitu apa yang terjadi saat tujuh bulan dia kabur? Apa dia masih tetap bersama dengan pacarnya?"
Aswin nyengir. "Saya tidak mencari tau sampai sedetail itu Pak.."
"Gob lok. Pantesan tumben banget kerjanya cepet. Ternyata tetap saja gak beres kerjanya."
Aswin pasrah saja. Mencoba memaklumi bosnya yang sedang bucin parah. Sampai ingin menyelidiki secara detail rival-rivalnya.
Harris terlihat berpikir keras. "Tujuh bulan yang lalu.. tujuh bulan...." ia bergumam sambil memutar-mutar pena di meja kerjanya.
"Tugasmu sekarang, cari tau siapa pacar Juna dulu, appartment tempat tinggalnya dulu, merk mobil dan nomor polisinya, dan cari tau dimana kontrakannya sekarang. Jelas?"
"Jelas Pak."
"Saya tunggu secepatnya."
"B-baik Pak.."
Sepeninggal Aswin, Harris kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Tumpukan file menunggu review dan tanda tangan persetujuan darinya. Tidak ada jadwal meeting keluar. Maupun janji temu dengan kolega bisnisnya. Sungguh hari Jumat yang tenang.
Saat sore menjelang, Harris menyandarkan punggungnya. Merenggangkan sendi-sendinya yang kaku. Ia lalu mengambil ponselnya dan mendial nomor telepon Keara. Seharian belum mendengar suara gadis cerewet itu sepi juga.
"Assalamualaikum K.."
"Waalaikumsalam.. Mas Harris.. Ada apa?" suara ceria yang dirindukan Harris itu akhirnya terdengar.
"Kamu masih di kafe?"
"Masih, Mas.."
"Bukannya ini sudah jam pulang?"
"Iya, mas.. Tapi ini ada sahabatku dateng ke kafe. Jadi yaa Ngobrol-ngobrol dulu di sini sama temen.."
"Oh gitu.. Kalau aku kesana boleh?"
"Boleh dong mas.." jawab Keara dengan senyum lebarnya. "Nanti Aku kenalin juga sama temen aku ya mas.. Dia cantik loh.. Jomblo pulaa.. Hihihii.." Terdengar suara cekikikan dari cewek-cewek ABG di seberang sana.
'Dasar cewek Oon.. Ngapain juga promosiin temennya yang masih jomblo. Apa peduliku..' batin Harris.
Setelah menutup teleponnya, Harris langsung menyambar kunci mobilnya dan melesat pergi.
...----------------...
🌹 First Love Cafe
Keara duduk dengan menyeruput es kopi americano pesanannya. Di depannya, Ocha sudah menghabiskan setengah cup minumannya.
"Pacar barumu tuh K..?" tanya Ocha setelah Keara menerima telepon dari Harris.
Sore ini pulang dari kantor, Ocha mendadak datang ke kafe. Khusus untuk menemui Keara, sahabat dan rekan ghibahnya ini.
"Bukanlaah.. Masa iya pacarku aku kasih tau kalau temenku cantik dan jomblo.. Gak rela banget laah." sahut Keara.
"Temenku..."
"Rela kalau misalnya nanti pas ketemu aku, dia kepincut sama.aku?" tanya Ocha dengan tatapan menggoda. Dia paham betul bagaimana Keara tidak terbiasa berteman dengan lawan jenis. Jadi, ketika ada 'teman' yang akan ia kenalkan, Ocha yakin pasti ada rasa yang tak biasa yang di hati sahabatnya ini.
"Ehhmm... Rela gak yaa??" Keara lalu tergelak. "Udah ah.. gak mau berandai-andai. Kalau nanti mas Harris beneran naksir sama kamu, baru deh aku pikirin rela gak relanya.. Hehee..."
"Huuhh.. Bilang aja gak rela.." cibir Ocha. Lalu terkekeh bahagia melihat reaksi salah tingkah sahabatnya.
"Rela kok.. Asal Mas Harrisnya emang beneran suka.. Bahagia.. Aku pasti rela, dan dukung sama siapapun yang mas Harris sukain.. Yang penting mas Harris bahagia.."
"Anjriiiiitt.. Wahahahaa..." tawa Ocha meledak. Membuat Keara malu karena mendadak jadi pusat perhatian pengunjung kafe yang lain.
"Tumben sih kamu melow melow meong gituu.. Hahahaaa..."
"Hushh.. Huussh.. Kamu nih ketawanya malu-maluin banget sih.. Diem heh.." Keara sampai memukuli lengan Ocha gemas.
Mereka tertawa-tawa sepanjang waktu. Ada saja yang dibicarakan. Mulai dari hal-hal lucu di tempat kerja Ocha, cerita teman-teman SMA mereka dulu, sampai bergosip random dan membahas apa saja yang menarik.
"K.. Liat tuh arah jam 9, cowok beniiiing banget sebening air wudhu.." seru Ocha.
Keara menoleh ke arah yang ditunjukkan Ocha. Kemudian ia terkekeh saat melihat Harris berjalan mendekatinya.
"Mas Harris sebening air wudhu? Hahaa.. Bener juga sih.. Tapi jangan lupa ditambah sedingin gunung es.."
"Heii.. Dia itu Harris Risjad? Yang kemarin digosipin pacaran sama Hanna Rosaline kan? Harris Risjad founder BukaToko??"
"Iyaa.. Iyaa, betuuull...." cibir Keara. Kalau soal cowok ganteng aja update banget nih si Ocha.
"Waah.. ini sih aku juga mau K..." pekik Ocha kecentilan. "Deal yaa..? Kamu tadi bilang rela yaa, kaan? Aku mau deketin dia.. Fix. Titik."
Keara spontan memberengut. "Coba aja. Pasti baru kenalan juga langsung ilfeel kamu. Orangnya anyep. Dingin. Kaku."
"Ih cowok begitu malah keren kali, K.. Cool.."
Keara ingat sekali pertama kali mas Rizky mengenalkan Mas Harris kepadanya. Harris hanya mengenalkan diri seperlunya. Setelah itu dia duduk bersama Rizky dan Keara tanpa mengucap sepatah kata pun. Ia bahkan tidak sekalipun berbasa-basi hanya untuk menunjukkan keramahannya pada pacar sahabatnya.
Harris menyentuh bahu Keara. Membuat gadis itu mendongak, lalu tersenyum pada sosok tampan berkemeja hitam. Pantas saja kelihatan bening, outfit mendukung sih..
"Hai K.." senyum Harris tersungging sejak ia masuk kafe tadi.
"Sini, mas.. Duduk disini." Keara menarik kursi di sampingnya, agar Harris bisa duduk.
"Kenalin nih mas, Ocha temen SMA aku.. Cha, ini mas Harris.."
"Hai, Ocha.." Harris dengan senyum lebarnya mengulurkan tangan untuk bisa bersalaman dengan Ocha.
Ocha sudah pasti membalas uluran tangan itu dengan riang gembira. "Halo Mas Harris.."
"Sudah lama disini?" tanya Harris, seraya duduk di kursi samping Keara.
"Sekitar sejam lalu mas.. Pulang kerja langsung kesini.."
"Oh .. Kerja dimana?"
Harris dan Ocha mengobrol santai. Tak lupa senyuman Harris yang tak mengendur sedikitpun sejak tadi. Membuat Keara terheran heran. Tapi sekejap kemudian ia merengut dan mendadak badmood.
"Tumben ramah banget.. Lagi happy kayaknya mas Harris nih.." sela Keara di tengah dua orang temannya yang sedang asik mengobrol.
"Heh? Apa, K?" tanya Harris.
"Apaan sih K..? Nyela aja.. Tadi katanya rela...." seloroh Ocha.
Menyebalkan.
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih