
Harris mendekati istrinya yang berbaring di ranjang seraya memeluk guling. Bahu wanita itu naik turun pertanda pemiliknya sedang menangis tersedu-sedu. Meski tanpa suara, tetap saja pilu rasanya melihat orang tercinta begitu terluka.
"Sayang, aku terima hukuman kamu.. Tapi please jangan nangis lagi.." tangan Harris berusaha meraih tubuh mungil Keara agar tidak membelakanginya lagi. Tapi ditepis.
"Ya harus terima.. Enak aja kalau mau nolak hukuman dari aku.. Itu tuh udah konsekuensi mas Harris yang sering bohongin aku.." isak Keara. "Mas Harris tuh jahat banget sama aku... Mas Harris gak sayang lagi sama aku.. Huuaaaa.."
"Maafin aku, sayang.. Jangan ngomong gitu, please.. Aku sayang banget sama kamu, K.. Aku harus bagaimana biar kamu maafin aku?"
"Tepati janji mas Harris buat selalu jujur dan terbuka sama aku.. Anggap aku istri mas Harris..." sahut Keara dengan isakan yang terdengar menyayat hati.
"Iya, aku janji sayang.. Aku janji."
Keara berbalik menatap suaminya. "Kalau begitu, ceritakan apa lagi yang mas Harris sembunyikan dari aku."
Netra Harris membulat. Di kepalanya terjadi perdebatan tentang jawaban yang harus diberikan pada istrinya. Haruskah ia berbohong lagi untuk menutupi semuanya? Atau memang ini sudah saatnya Keara mengetahui kebe*jatan bapaknya?
"Gak bisa jawab kan? Kalau begitu jangan ngomong sama aku lagi." ketus Keara. Ia beringsut hendak memunggungi Harris lagi. Tapi Harris dengan cepat menahan tubuh istrinya.
"Baik sayang.. Aku akan menceritakan semua padamu.. Jangan nangis lagi, hm?"
Harris pun mengungkapkan dimana dia menemukan Pak Suryo. Bagaimana kesepakatan akhirnya mengikat mereka. Juga tentang Tiara, anak angkat Pak Suryo yang ia selamatkan beberapa tahun silam karena akan dijual pada konglomerat kaya oleh Suryo Pratomo. Serta bagaimana kini Tiara mencoba bersembunyi karena Suryo yang semakin dekat dengannya. Semua cerita itu mengalir tanpa ingin ditutup-tutupi lagi oleh Harris.
Keara, entah sejak kapan ia bangkit dari posisi rebahannya. Cerita yang ia dengarkan teramat mengguncang hati dan mentalnya. Sejak kecil hingga dewasa, Keara memang meyakini bapak kandungnya bukanlah pria yang baik dan bertanggung jawab. Tapi ternyata tidak hanya itu. Bapaknya juga sangat jahat dan tidak berperasaan.
"Aku malu memiliki ayah seperti dia.. Huaa huuuaa.." tangisnya tak terbendung lagi.
"Jangan bicara seperti itu sayang.. Apapun yang dilakukan orang tua kita itu bukan urusan kita. Kita sebagai anak tidak bisa memilih ingin terlahir dari orang tua seperti apa.. Tugas kita hanya berbakti pada orang tua selagi itu hal yang baik. Ingat sayang, yang bisa kita lakukan hanya belajar dari kesalahan orang tua kita.. Agar kita kelak bisa jadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita.."
"Tapi aku tidak punya muka lagi untuk ketemu sama Tiara.. Bapakku udah jahat banget sama dia.."
Keara terdiam. Ia juga paham itu. Tapi dadanya tetap terasa sesak. Bapaknya adalah manusia tidak beradab. Orang yang tidak punya hati dan menyengsarakan orang lain demi uang. Bahkan untuk kembali pada keluarganya sendiri dan menikahkan putri kandungnya saja bapak meminta imbalan seratus juta per bulan. What??!!
"Aku lah yang lebih merasa bersalah.." Mas Harris kembali berucap. Kali ini lebih bergumam pada dirinya sendiri. "Keputusanku mengembalikan pak Suryo kepadamu dan keluargamu sepertinya bulan keputusan yang tepat. Kamu, ibu, dan mas Arman tidak satupun yang menerima bapak dengan tangan terbuka. Kalian semua justru merasa tertekan dengan kembalinya pak Suryo.."
"Belum lagi tanggung jawabku pada keselamatan Tiara yang terancam karena membawa Pak Suryo dekat di sekitarku lagi.. Semuanya jadi lebih rumit sekarang.." imbuh Harris.
"Kalau hari ini aku gak tanya, seumur hidup mas bakalan menyimpan rahasia ini dariku kan? Tega banget sih..." seloroh Keara.
"Maaf, sayang.."
"Seneng banget sih ngebodohin istri sendiri... Hikss hiiikks..."
Harris mengulurkan lengannya. Ingin mendekap wanitanya. Ia sungguh tidak tahan melihat wanita tercintanya itu menangis tanpa henti sejak tadi. Tapi netranya membulat begitu Keara menepis pelukannya.
"Jangan mengambil kesempatan memeluk aku saat aku nangis.. Hukuman mas Harris itu termasuk dilarang memelukku." ucap Keara tetap ketus meski sambil sesenggukan.
"Sayang... jangan hukum aku kayak gini, please... Aku janji gak akan bohongin kamu lagi.. Jan-ji !!" ucap Harris mantap. Ia ingin meyakinkan Keara, tapi sepertinya istrinya tidak bergeming sedikitpun.
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih