Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Salah Paham


Hawa dingin mencekat. Suasana kamar rawat berkelas VIP dalam beberapa menit lamanya mendadak beku. Hening. Sepi.


Dua raga tercenung, salah tingkah. Tak tau harus berbuat apa. Atau berkata apa untuk memecah kebekuan. Keduanya canggung. Kepala, tangan, dan kaki bergerak di luar kontrol. Demi menutupi aroma awkward yang mengukung di antara mereka.


Hampir tiga puluh menit lamanya Keara menumpahkan tangis dan emosinya dalam pelukan Harris. Membiarkan lelaki itu mendekapnya, mengusap punggungnya, dan menguatkannya. Lelaki asing itu. Lelaki yang sebelumnya tak pernah ia duga bisa selembut ini kepadanya. Keara merasakan kenyamanan, hingga tanpa sadar ia meluapkan sesak yang menumpuk di dadanya dalam dekapan Harris.


Sedangkan Harris masih terbelenggu dalam pikirnya sendiri. Logikanya tidak bisa menebak isi hati gadis manis di hadapannya ini. Tangis gadis itu begitu menyayat hatinya. Mengoyak harga dirinya. Sebegitu berat kah bagi gadis ini untuk sekedar berteman dengannya? Sebegitu tidak pantasnya kah seorang Harris Risjad untuk didekati?


Ingin sekali Harris marah. Namun entah pada siapa. Mungkin pada wasiat Rizky? Yang sempat melenakannya, karena mengira akan menjadi jalan untuk bisa dekat dengan Keara. Namun nyatanya wasiat itu membuat gadis ini menangis tersedu. Dan memupus harapannya dalam sekejap mata.


Bagaimanapun pedihnya perasaan Harris. Bagaimanapun kepalanya mendidih menahan emosi, namun saat ini, keinginannya untuk meredam kesedihan gadis manis ini lebih menjadi prioritasnya.


Pada akhirnya dia harus menyiapkan hatinya sendiri. Menerima kenyataan bahwa pesan terakhir sahabatnya harus ia lupakan. Begitu berat untuk diwujudkan. Bukan karena Harris tak mau berusaha. Tapi karena ia tak ingin lagi melihat Keara menangis seperti beberapa menit lalu. Terlalu menyakitkan.


Sudah saatnya menjauh. Tidak perlu ditunda lebih lama lagi. Karena kalau tidak sekarang, ia takut hatinya akan goyah dan kembali ingin berlama- lama bersama Keara. Semakin lama perpisahan itu ditunda, akan semakin besar luka yang ditorehkan.


"Ee.. Aku siap-siap mau pulang dulu.." kalimat pertama berhasil lolos dari bibir Harris. Memecah keheningan.


"I-iya.. Aku tunggu di depan." jawab Keara tergagap.


"Untuk apa menunggu? Pulang saja K.." sahut Harris. "Kamu tidak ada kewajiban untuk mengurusku. Aku sudah baikan, dan aku juga sudah maafkan keisenganmu kemarin."


Harris bangkit dari duduknya. Tanpa berkata-kata lagi. Memberikan penjelasan yang ditunggu Keara, kenapa dirinya disuruh pulang setelah sesi haru biru dan pelukan panjang yang mendebarkan beberapa menit lalu. Lelaki itu berjalan masuk ke toilet di dalam kamar. Meninggalkan Keara termenung. Tak kunjung merubah posisi duduknya.


Baru saja ia merasa cowok ini begitu lembut padanya. Bisa menenangkan kegundahannya. Keara bisa merasakan kehangatan yang coba disembunyikan oleh lelaki ini. Tapi kenapa barusan sikapnya kembali menjadi dingin?


Keara beranjak keluar dari kamar rawat Harris setelah menoleh ke arah pintu kamar mandi beberapa saat lamanya. Hanya suara gemericik air yang terdengar.


Keara duduk di selasar rumah sakit di dekat taman buatan rumah sakit. Mencari udara segar untuk melepas penat. Dari tempatnya duduk, ia bisa tetap melihat pintu kamar VIP tempat Harris dirawat.


Dirinya diliputi kebimbangan. Tak tau harus pulang atau menunggu. Kalaupun menunggu ia ragu Harris akan menerimanya. Mengingat tadi lelaki itu menyuruh Keara pulang. Tapi kalau ia pulang, itu artinya Keara mengingkari janjinya dengan Bu Farida. Janji untuk menemani Harris sampai gunung es itu pulang ke rumahnya.


Lama Keara menimbang dalam diam, hingga ia terkejut karena seorang anak kecil terjatuh gegara tersandung kaki Keara yang agak menjulur ke depan.


"Aduh." pekik anak perempuan itu. Usianya sekitar empat tahunan. Dengan rambut sebahu diikat dua dan berpakaian rok mini motif princess elsa, anak kecil berperawakan mon tok ini meringis kesakitan.


"Duh.. maaf yaa adek cantik.. Sakit yaa?" Keara membantu anak kecil tersebut untuk berdiri. Lantas mengusap lutut si anak. "Kamu kesandung kaki kakak yaa? Kakak minta maaf yaa.."


"Iya kak.. Gak papa kok." jawab si anak. Dia duduk di samping Keara sembari mengayun- ayunkan kakinya. "Gak cakit kok kak.."


"Adek cantik namanya siapa?"


"Ala."


"Ala?"


"Iyak. Ala.." jawab si anak. "kalau kaka namanya syapa?"


"Ke-a-ra." Keara sengaja mengeja namanya. Karena dia yakin anak lucu ini pasti cadel, tidak bisa mengucap huruf R dengan benar.


"Ooh.. Kaka Kela.."


Keara tergelak.. "Lah.. kok jadi Kela?"


"Kak Kela cakit apa?" tanya Ala tanpa peduli protes Keara karena namanya diganti secara sepihak.


"Ehmm sakit apa yaa?" Keara berakting seolah sedang berpikir, dengan mengetuk dagunya dengan ujung jari telunjuk.


"Pak Doktel belum bilang ya Kak? Sama ama Ala.. Doktel Isan uga belum bilang Ala cakit apa.."


"Emangnya Ala apanya yang sakit?"


"Kepalanya. Kata doktel Isan aku halus dipeliksa dulu bial tau cakit apa.."


"Terus Ala disini sama siapa?"


"Sama papa."


"Papa sekarang dimana? Nanti Ala dicariin papa lo.."


"Papa lagi ngobol cama Doktel Isan di sana.."


Ala menunjuk satu pintu di ujung selasar. Keara menyimpulkan itu adalah ruangan dokter Isan yang disebutkan Ala tadi.


"Kalau mama?" Keara geli sendiri dengan kekepoannya pada anak kecil ini. Tapi sejujurnya, Keara bertanya hanya gegara senang mendengar suara gemas Ala. Bicaranya masih agak cadel tapi bisa dimengerti. Lucuuk.


"Mama aku tibuk kelja Kak.. Mama Ala kan pengacala.. Keljanya belain olang baik dan menghukum olang jahat.."


"Kelja lah.. Papa Ala kan bos di kantol. Papa Ala olang tibuk.. pulangnya malem telus. Pas Ala udah bobok."


'Haha.. Bahaya nih anak gemes, dikorek dikit. Eh.. kebuka semua deh aib keluarga. Hahahaa..' Batin Keara dalam hati. Lumayan juga mendengar celoteh gadis cilik ini. Mengurangi kegundahannya karena si gunung es yang masih aja beku.


"Berarti sekarang papa Ala bolos kerja dong.."


"Iya.. tapi gak apa apa. Papa gak akan dimalahi. Bosnya papa kan eyang kung.. Eyang kung kan baik, gak suka malah-malah."


"Ohh.. gitu.." Keara mengangguk-angguk dengan gaya yang dibuat-buat. Seolah baru saja mendapat informasi penting tentang rahasia internal negara.


"Kalau Kak Kela ngapain di lumah cakit?"


"Kak Kela nungguin temen kaka.. Kasian temen kaka gak punya mama papa.. Gak kayak Ala. Jadi pas sakit, gak ada yang nemenin." Keara jadi terbawa gaya Ala, menyebut dirinya dengan nama Kela.


Keara jadi ingat pada Harris. Dia menoleh ke balik punggungnya agar bisa melongok ke pintu kamar rawat Harris. Pintu itu masih tertutup rapat. 'Eh tuh cowok lama juga dandannya..'


"Katian.. Kayak Molie. Temen cekolah aku juga juga udah gak punya mama papa."


"Duh.. kasian banget yaa.. padahal masih kecil." Kali ini Keara benar-benar tulus ikut bersimpati. Membayangkan anak sekecil ini tumbuh besar tanpa kasih sayang orang tua. Membayangkan saat mereka merindukan mama papanya, tapi tidak bisa mengungkapkannya. Pasti sangat menyedihkan.


"Ala.. Jadi anak baik yaa.. Molie jangan dijauhin, tapi dijadikan teman aja.. Disayang, diajak main, Kasian Molie ga punya mama papa. Gak kayak Ala.." Keara memberi petuah pada anak kecil gemas yang baru ditemuinya ini. Dan anak itu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan kekuatan penuh. Sehingga kunciran rambutnya bergerak-gerak lucu.


"Sekarang kak Kela mau nemuin temen kak Kela dulu.. Siapa tau temen kak Kela lagi butuh bantuan."


"Oke deh kak.. Ala juga mau ke papa dulu ah. Mau ngajak pulang."


"Oke. Dadaah Ala...." Keara dan gadis kecil itu berpisah dengan lambaian tangan yang terus mengiringi. Sampai tubuh mungil gadis cilik itu menghilang di balik pintu yang disebutnya sebagai ruangan Dokter Isan tadi.


Keara memutuskan masuk kembali ke kamar rawat Harris. Dengan percaya diri dia membuka handle pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Mas, kok lama ba...." kalimat Keara terhenti. Saat yang ditemuinya berada di dalam kamar tersebut bukanlah Harris. Melainkan seorang perawat yang sedang merapihkan ranjang pasien.


Keara menoleh ke kanan dan kiri. Celingukan. Memastikan bahwa ia tidak salah membuka pintu kamar. Benar ini kok kamarnya, tapi...


"Mbak cari pasien yang di kamar ini?" tanya perawat tersebut.


"Iya sus.."


"Pak Harris Risjad?"


Keara menggangguk.


"Pasien sudah pulang mbak. Barusaan banget keluarnya.."


"Oh begitu.. baik. Makasih, Sus." Keara berjalan dengan lunglai. Keluar rumah sakit dengan perasaan tak menentu.


Hatinya sakit. Tapi tak tau karena apa. Konyol sekali jika dia kecewa hanya karena ditinggal pulang oleh seorang Harris. Tapi nyatanya iya. Keara sedih. Kecewa. Dan sedikit rasa kehilangan, bahkan sebelum ia sempat memiliki. Rumit kan..


'Mas Harris ini kenapa sih? Apa aku udah ngomong atau ngelakuin kesalahan? Kirain pelukannya tadi pertanda gencatan senjata.. Ternyata tetep aja kaku. Beku kayak gunung es. Main tinggal pulang aja.. Masa dia ga liat aku tadi duduk di sana.? Pamit dulu kek.. Ngomong apa dulu gitu kek... Ngeselin banget sih. Awas aja kalau ketemu aku kerjain makan cabe lagi biar tau rasa!!' Monolog Keara dalam hati.


Ia berjalan keluar rumah sakit dengan mata nanar. Air matanya sudah berkumpul mendesak untuk keluar. Keara mempercepat langkahnya. Menangis di atas maticnya ternyata tetap jadi pilihan yang terbaik. Karena maticnya itu tak akan meninggalkannya seperti si Risjad itu.


...----------------...


Dia duduk terkulai di bangku belakang mobil mewahnya. Dengan kepala tersandar lemas di sandaran mobilnya yang nyaman. Sebelah lengan kekarnya melingtang menumpang di dahinya. Berusaha menutupi kegalauan yang menderanya beberapa saat lamanya.


"Kita langsung pulang, Tuan?"


"Iya." jawabnya.


Harris Risjad. Lelaki di dalam mobil yang melintas membelah kepadatan jalan di sore hari. Sungguh raganya masih lemah. Tapi yang lebih memprihatinkan adalah hatinya. Rapuh.


'Sorry, Rizky.. Bukan maksudku ingin mengabaikan pesan terakhirmu. Ku anggap kedekatan yang kamu maksud, cukuplah dengan tidak bersikap dingin padanya, huh? Kamu lihat sendiri Ky.. betapa menyedihkannya tangis Keara saat dia tau kamu mengharapkan kami dekat dan akrab.'


'Terima kasih Ky.. Bahkan saat kamu tau kamu akan pergi, kamu berusaha mencarikanku teman. Tapi sekarang kamu percaya kan, tidak semua orang mau mendekat padaku. Mungkin ini sudah jadi ketetapanNya. Aku lebih pantas sendiri. Sebatang kara.'


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih