
Waktu bergulir. Dua bulan berlalu dengan segala ceritanya. Kehidupan harmonis Keara dan Harris terus diwarnai oleh cinta dan perhatian tulus satu sama lain. Meskipun dengan bumbu ledakan emosi dan moodswing Keara yang membuat Harris mengelus dada. Tapi berkat kesabaran Harris yang berlapis baja, jadilah tidak ada pertengkaran yang berarti di antara mereka.
Komunikasi keduanya dengan mama Anita juga lancar setiap hari. Bahkan mama Anita kerap menanyakan perihal kandungan Keara. Beliau tidak mau melewatkan kelahiran cucu kembarnya itu
Kandungan Keara sudah menginjak usia 38 minggu. Itu artinya semakin dekat tanggal taksiran lahir, tinggal dua minggu lagi kalau perkiraan dokter tepat. Ia semakin susah bergerak dengan perut yang makin membesar.
Saat ini kedua kakinya sedang direndam di baskom yang berisi air hangat. Seraya santai di ruang tengah. Di depan televisi yang menayangkan acara masak memasak, tapi netranya terpaku membaca artikel di smartphone nya.
Entahlah.. Padahal sudah dipakai beraktivitas. Tapi tetap saja kaki ibu hamil itu membengkak. Atau justru malah kebanyakan aktivitas jadi bengkak? Ah, serba salah.
Yang pasti, satu hal yang menjadi favoritnya akhir-akhir ini. Dipijat.
Kalau pagi sampai sore begini, Keara kerap meminta Bik Santi memijat kakinya. Sedangkan malam hari, giliran Mas Harris yang harus memijat kakinya, bahunya, menggosok punggungnya, dan mengusap perut besarnya. Ternyata memboyong dua bayi di perut teramat berat ia rasa. Tubuh mungilnya seakan kepayahan membopong dua makhluk hidup yang beratnya hampir empat kilogram, bersemayam dalam rahimnya.
Bik Santi menghampiri seraya meletakkan segelas jeruk hangat yang masih mengepulkan asap. Ia lantas duduk di lantai dekat kaki Keara dan memberi pijatan di kaki yang sedang berendam itu. Tanpa diminta, seolah sudah hafal kebiasaan nonanya.
"Sama diminum wedang jeruknya, Non.." ucap Bik Santi menginterupsi keasyikan Keara bersama smartphone-nya. "Masih hangat-hangat Agak panas sedikit.. Sesuai selera non Keara.."
Keara menyeruput jeruk hangat. Ia sampai memejamkan mata saking nikmatnya. "Makasih Bik.. Bik Santi terbaik." ucapnya dengan imbuhan acungan jempol.
"Istirahat, Non.. Lagi hamil besar begini non K malah sibuk persiapan buka butik.." seloroh Bik Santi. Ia saksi bagaimana dari pagi Keara terus memainkan gawainya. Berselancar mencari apa saja perintilan untuk butik barunya.
"Iya Bik.. Ga sibuk kok. Ini nyarinya juga sama santai.. Pembukaannya gak buru-buru.. Nunggu abis lahiran. Dan benar-benar pas si kembar udah settle. Sekarang, butik baru aja masuk tahap pembangunan. Belum apa-apa.." kilah Keara.
Sebenarnya memang masih lama, tapi antusiasme Keara nampak sangat jelas. Ini bisnis pertama yang akan digeluti. Hal baru yang memacu adrenalinnya. Mengisi hari-hari yang biasanya nganggur jadi sedikit berkegiatan.
Seminggu setelah hari ulang tahun Harris, tepat dua bulan yang lalu adalah anniversary pertama pernikahan Harris dan Keara. Alih-alih meminta kado barang mewah, Keara justru menginginkan sesuatu yang lebih besar. Dan suami tercintanya itu langsung menyetujui.
"Sayang, boleh gak aku minta kadonya yang lain." ucap Keara dua bulan lalu. Ketika Harris dan Keara sedang makan malam di restoran mewah dengan setting romantis sebagai perayaan ulang tahun pertama pernikahan mereka.
"Boleh dong.. Anything you want, sweetheart.." Harris menggenggam jemari Keara. Memberi usapan lembut seraya memainkan jemari lentik itu. "Apa itu?"
"Aku mau memulai usaha. Apa boleh?"
Harris menaikkan alis. Menuntut penjelasan lebih lagi.
"Aku pengen deh punya usaha di bidang fashion and beauty, mas.. Kayak aku banget gitu.." ada binar cerah di manik mata Keara yang tertangkap oleh radar Harris. Membuat senyum lelaki itu merekah demi membuat wanitanya bahagia dan bersemangat.
"Aku tuh beberapa hari lalu searching-searching gitu tentang usaha.. Terus aku tertarik di bidang ini sayang.. Tau sendiri kan, cewe tuh perintilannya buanyaak banget. Make up, skincare, setiap bulan habis dan pasti butuh re-purchase. Ga ada tuh aku liat cewe yang udah cantik terus stop skincare, dia bakalan terus cantik seumur hidup. Pasti butuh skincare lagi dan lagi."
"Terus baju, tas, sepatu.. Hampir semua cewe kayaknya menganut asas 'ga punya baju padahal ada se-lemari penuh baju diri sendiri'. Tas dan sepatu juga pasti ngikutin tema baju. Jarang banget ada cewe yang punya tas dan sepatu satu biji doang sepanjang masa. Ga ada, kalau aku bilang." cerocos Keara panjang lebar. "Karena itu aku yakin bisnis ini berpotensi, sayang.."
Eits, Harris diajak ngomongin bisnis? Sisi perfectionist seorang Harris Risjad jelas tidak akan menyetujui mentah-mentah. Ia mempertanyakan tentang konsep, strategi marketing, juga tentang kompetitor yang berarti sudah banyak orang yang lebih dulu berbisnis di bidang yang sama dengan Keara.
Keara tetap menjawab dengan yakin dan antusias. Ia memaparkan secara detail apa saja yang tersusun di kepala. Seolah dia sudah tau kalau mas Harris akan menguliti rencananya. Sehingga keinginan bisnis Keara ini terasa bukan hanya angan belaka. Tapi sudah terkonsep matang. Meski baru berada dalam kepala saja.
"Kamu ga kerepotan? Sebentar lagi si kembar lahir. Aku ga mau kamu lebih fokus bisnis daripada ngurusin anak-anak...dan aku." pungkas Harris. Sebagai senjata terakhir untuk menggoyahkan keinginan Keara. "Aku gak mau jadi terabaikan karena kamu sibuk berbisnis."
Keara tersenyum centil. Ia menoel dagu Harris dengan ekspresi gemas yang dibuat-buat. "Mana mungkin aku mengabaikan suamiku yang ganteng ini.. Nanti kalau ada orang lain yang ngurusin, bisa pusing tujuh keliling akuu.."
"Kita kan bisa hire orang yang lebih profesional, mas.. Lagian aku juga ga punya pengalaman bisnis. Mana bisa langsung pegang. Palingan aku checking-checking aja dari rumah sambil sesekali kontrol langsung ke lapangan. Like a big boss gitu.." Keara mengibaskan rambut panjangnya dengan sebelah tangan. Like a big boss...
"Oke. Proposal accepted." Harris tersenyum. Ada rasa bangga dan bahagia tersirat dari wajahnya. Bangga, wanitanya memiliki pemikiran maju dan mandiri.
Jadilah, dari sana Harris mengatur pertemuan dengan seorang desain interior untuk merancang butik Keara. Menggunakan properti yang sudah ia miliki sebelumnya. Hanya perlu diberi sentuhan arsitektur sesuai konsep yang diinginkan Keara.
Harris pun menugaskan Aswin untuk segera open recruitment pegawai butik baru. Hingga mengurus semua administrasi recruitment sampai interview dan keseluruhan prosesnya. Ia ingin mewujudkan keinginan istrinya tercinta. Tanpa membuat Keara repot turun tangan sendiri untuk hal teknis yang masih memungkinkan di-handle bawahannya.
Setelah menghabiskan segelas wedang jeruk, Keara naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. Seharian menatap layar ponsel membuat matanya memanas. Keara ingin tidur sebentar. Sepertinya memejamkan netra yang penat setelah seharian berkutat dengan ponsel adalah solusi terbaik.
Hingga waktu bergulir dan mentari kian dalam tenggelam. Petang menjelang ketika Harris pulang ke rumah. Tidak ada yang menyambutnya di depan pintu seperti biasa. Rumah tampak sepi tanpa senyuman wanita pujaan hati yang selalu jadi pemandangan pertamanya setiap kali pulang kerja.
"Keara mana?" tanya Harris pada Bik Santi yang membukakan pintu untuknya.
"Sepertinya masih tidur, Tuan.." Bik Santi melihat ke atas ke arah pintu kamar Harris dan Keara. "Sejak tadi siang pamit tidur, terus saya ga liat non Keara keluar kamar sampe sekarang.."
Harris mengangguk singkat. Lalu meneruskan langkah memasuki rumah. Dengan langkah lebar ia menaiki tangga. Tak sabar ingin melihat wanita yang dirindukan seharian ini. Pantas sejak siang tidak ada gangguan chat dan telepon dari Keara. Pun saat sore tiba, biasanya Keara akan menelponnya dan meminta lekas pulang, sore ini tidak ia lakukan.
Begitu ia membuka pintu, betapa terkejutnya Harris melihat Keara berbaring meringkuk sambil...menangis!
Harris melangkah setengah berlari setelah menutup pintu kamar. "Sayang, kamu kenapa? Kenapa nangis??" tanyanya panik.
...****************...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih