
"Aarggh.. Stop mas.. Please." Keara menggelengkan kepala ke kiri dan kanan. Bulir bening dari netranya sudah menitik membasahi pelipisnya. Keara meringis kesakitan di tengah kenikmatan permainan Harris.
Keara mencengkram, mencakar, dan apa saja yang bisa dia lakukan pada tubuh suaminya. Lelaki itu sudah menggila dalam pusaran gelombang nikmat dan memabukkan. Kedua raga bersimbah peluh itu terus memadu cinta dalam penyatuan yang membuat Keara dan Harris terus mende*sah dan menyebut nama pujaan hatinya berulang kali.
"Sayang, pelaann.. Perutku kram..!!" pekik Keara lagi, karena Harris tak juga peka atas rintihannya.
Mendengar ucapan Keara itu mendadak kesadaran Harris kembali. Ia langsung menghentikan serangannya tapi tak kunjung mencabut pusakanya. Penantiannya sudah berada di ujung jalan. Tanggung kalau langsung dicabut. Ia pun menyiram rahim istrinya lebih dulu, sebelum akhirnya melepas penyatuan penuh cinta itu.
"Sayang, kamu kenapa? Kok bisa kram...?" Harris tampak khawatir. Ia mengusap usap lembut permukaan perut Keara.
Harris segera menyingkirkan tubuhnya dari atas raga mungil yang hampir sejam lamanya ia kungkung itu. Wajahnya mengernyit mengikuti Keara yang juga sedang meringis kesakitan.
Keara menepuk sedikit keras punggung tangan mas Harris yang masih ada di atas perutnya. Bibirnya sudah cemberut dan siap menyemprotkan omelan untuk suami tercintanya itu.
"Masih bisa nanya 'kok bisa kram'?? Dasar gak peka! Situ ngajak bercinta apa main kuda lumping?? Gerakan mas ganas begitu kayak orang kesurupan." sembur Keara.
Harris malah terkekeh mendengar omelan istrinya. Rindu rasanya mendengar betapa cerewet dan menggemaskan gadisnya ini. "Maaf, sayang.. Maaf." ucapnya penuh penyesalan. Tapi meskipun begitu, senyumnya masih manis membingkai.
"Tapi emang bercinta dan main kuda lumping itu beda tipis, sayang.." imbuh Harris dengan seringai jahil.
"Iisshh.. Kayak pernah main kuda lumping aja. Persis orang kesurupan." cibir Keara.
"Hehe, maaf sayang, tapi itu salah kamu sendiri. Kamu tuh menggai*rahkan banget, sayang. Yang ini makin sempit, yang ini makin bulat. Aah.. perfect!" Harris menunjuk area sensitif atas dan bawah milik Keara yang ia maksud dengan mimik muka mesumnya. Membuat Keara mendelik kesal dan berujung mencubit dada suaminya yang masih bertelan*jang itu.
"Terus sekarang masih sakit?" tanya Harris lagi setelah serangan cubitan maut untuknya mereda.
"YA MASIIH!"
"Iya.. Kalem sayang. Jangan ngegas gitu.. Biar gak tambah sakit." Harris mengusap puncaak kepala Keara dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus permukaan perut mulus milik istrinya itu. Kedua tangannya bersinergi dengan kompak berusaha memberi ketenangan dan kenyamanan pada Keara.
"Biasanya pernah kram begini?"
Keara menggeleng.
"Perasaan pompaanku masih dalam batas wajar. Tadi agak cepet sih, tapi sebelumnya kan juga pernah sebrutal ini." Harris tampak berpikir. Ia merasa tadi dia tidak keterlaluan menghajar istrinya. Dia juga masih waras dan tidak suka menyiksa istri. Apa nikmatnya bercinta dengan keras dan kasar? Itu sama sekali bukan gayanya.
"Itu ngomong sendiri kalau brutal.." desis Keara. Ia berbaring di posisi yang masih sama seperti tadi. Dengan tubuh yang juga masih polos. Terpampang di depan Harris yang sedang duduk bersila di atas ranjang di sisinya dengan senjata laras panjang yang sudah mengkerut.
"Oh aku tau!" Harris menjentikkan jari di muka istrinya. "Pasti ini gara gara kamu abis makan pedes tadi.."
Keara makin cemberut. "Biasanya aku juga makan pedes. Gak masalah tuh.."
"Iya, tapikan kalau sekarang kamu harus kerja keras setelah makan pedas.."
"Kerja keras... Dikerjain kali yang bener." cibir Keara. Harris terkekeh saja.
"What should i do?" Harris tampak panik. Tapi tidak tau apa yang harus dilakukan. Ia bangkit dari duduknya di atas ranjang. Keningnya berkerut tampak ia sedang berpikir keras. Sembari berpikir ia menyambar kembali piyama dan kaos oblongnya yang tadi berserakan di lantai.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
"No...." Keara melambaikan tangan tanda penolakan. "Masih jam empat pagi nih..."
"Ya kenapa? Rumah sakit kan buka dua puluh empat jam.."
"Tapi kelamaan.. Enakin dulu perutnya sekarang. Kita bisa ke rumah sakit nanti-nanti kalau sudah enakan.."
"Baiklah, aku kompres air hangat saja, oke? Tunggu di sini, sayang.." Harris langsung keluar kamar tanpa menunggu jawaban dari istrinya.
Bukannya langsung ke dapur, Harris malah turun ke kamar pekerja untuk membangunkan Bik Santi. Ia tidak tau apa yang harus dilakukan untuk membuat kompresan. Memang apes bagi Bik Santi, tadi tengah malam dibangunkan Keara untuk menemani masak, sekarang dibangunkan lagi oleh tuannya untuk menyiapkan air hangat untuk kompres bahkan sebelum shubuh menjelang.
Tidak sampai lima belas menit Harris sudah kembali ke kamar dengan membawa ember kecil wadah air hangat dan kain untuk mengompres. Dengan telaten ia mengompres perut istrinya. Mencoba meredakan rasa kram yang menyiksa wanitanya.
"Sudah enakan, sayang?" tanya Harris karena melihat istrinya yang mulai tenang. Bahkan sesekali Keara terlihat mengantuk dan hampir tertidur.
"Enak banget, sayang.. Makasih, mas."
"Alhamdulillah."
Setelah mengatakan itu, Keara terpejam sempurna. Ia sudah lelap terbuai mimpi, merasakan rasa hangat yang menyamankan perutnya yang mendadak kram.
...---------------...
.
.
...Happy weekend, kaka 🥰...
.
.
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih