
Harris menghempaskan dua kotak pizza berukuran besar ke meja yang ada di dalam kamar. Tanpa menoleh ke Keara yang berjalan lemah di belakangnya, Harris mencuci wajahnya di wastafel. Lantas melepas kemeja dan kaus dalamnya.
Keara berdiri terpaku melihat aktifitas suaminya tanpa berkata apapun. Pikirannya mencoba menerka-nerka apa yg terjadi pada suaminya. Namun ia tetap tidak bisa memahami.
Sepanjang perjalanan pulang tadi, Harris diam membisu. Tidak ada percakapan apapun antara keduanya. Dinginnya malam ditambah pula dengan sikap dingin Harris semakin membekukan suasana malam ini. Membuat Keara semakin tersiksa.
Harris hanya mengenakan celana piyama tanpa kaus. Ia menatap ke arah istrinya. Untuk pertama kalinya Harris melihat ke dalam manik mata Keara. Menyadari kekeliruannya karena telah membuat gundah wanita tercintanya. Tapi apa daya. Lidahnya terlalu kelu untuk menjabarkan perasaannya pada Keara saat ini. Ia butuh waktu. Ya. Hanya butuh waktu.
Harris menghampiri Keara. Mengusap puncak kepala wanita itu hingga kedua telapak tangannya berhenti di pipi kanan dan kiri milik Keara.
Keara tertegun. Ia tersihir dengan perlakuan lembut dari Harris yang mendadak berubah dari mode dingin kembali menghangat. Ia menatap dalam netra indah sang suami. Ada hal tersembunyi di sana yang tak bisa ditebak oleh Keara.
"Maafkan aku sayang.. Tiba-tiba aku gak enak badan. Aku tidur duluan yaa.."
"Mas Harris ga enak badan? Mana yang sakit? Mas Harris pusing? Atau perutnya kembung? Kecapean? Mau aku buatin teh hangat? Atau aku ambilin obat di bawah yaa..?" cecar Keara.
Harris hanya menggeleng lemah seraya tersenyum.
"Kenapa ga bilang dari tadi sih..? Aku kan jadi mikir yang enggak-enggak.."
"Maaf ya sayang.. Kamu makan pizzanya sendiri yaa.. Aku tidur dulu." pungkas Harris. Meski tanpa penjelasan, Harris seolah menegaskan kalau ia tidak ingin dibantah lagi. Lelaki itu lantas berjalan menjauh dari Keara. Lalu tidur dengan posisi meringkuk di atas ranjang.
Keara masih terpaku berdiri di tempatnya semula. Ia kini memandangi punggung sang suami yang mulai bergerak beraturan. Mas Harris bisa tertidur secepat itu? Apa ia benar-benar sakit? Tapi tadi badannya tidak demam. Kalaupun benar sakit, kenapa sikapnya tidak manja seperti biasanya? Mas Harris kenapa sih sebenarnya?
Keara menghempaskan tubuhnya ke sofa. Mulai membuka kotak pizza dan mengambilnya sepotong. Moodnya memang memburuk, tapi perutnya tidak bisa diajak berkompromi. Keara tetap merasa lapar dan ingin melahap pizza yang ia bawa pulang tadi. Meskipun rasa lezat pizza tidak berkurang sedikitpun, Keara tetap merasa sedih. Ia makan seraya meratapi perubahan suasana hati suaminya yang mendadak ini.
Tadi saat berangkat ke restoran pizza semua terasa baik-baik saja. Bahkan Keara sempat berpura-pura ngambek hanya karena ingin ditemani makan oleh Harris. Dan sejauh yang Keara ingat reaksi mas Harris juga masih normal. Mas Harris justru masih terlihat tertawa senang dengan sikap merajuk Keara. Lalu apa masalahnya?
Apa terjadi sesuatu saat Keara pergi ke toilet? Atau mas Harris bertemu dengan seseorang yang membuat hatinya mendadak gundah gulana? Tapi siapa? Wanita lain kah?
'Aaargghhhh...' Keara menggaruk rambutnya kasar. Ia sungguh frustasi membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang tak pasti. Terutama memikirkan kalau benar ada wanita lain yang ditemui mas Harris hingga membuat lelakinya itu mendadak berubah jadi dingin.
'Aaarrghhh.. Gak mungkin.' bantah Keara dalam hati.
Setelah melahap tiga potong pizza, Keara beranjak menuju ke toilet dalam kamarnya. Ia mandi air hangat demi menenangkan pikiran. Lantas berganti piyama dan bersiap menyusul sang suami ke alam mimpi.
Apa daya tidur lelap hanya menjadi angan-angannya. Keara berguling ke kanan dan kiri. Matanya sulit terpejam. Ia sudah terbiasa tidur dalam pelukan sang suami. Terlebih sejak ia hamil. Tapi sekarang suaminya sudah lebih dulu terlelap. Bahkan posisi tidurnya membelakangi Keara. Keara hanya bisa berkali-kali menghela nafas panjang.
Biasanya, Harris akan terbangun kalau Keara bergerak-gerak di atas ranjang. Tapi malam ini Harris tidak terganggu sama sekali. Dengkuran halus tetap mengalun meski Keara secara tidak langsung sengaja mengusik tidurnya.
Sampai terdengar suara isakan lirih, Keara mendongak ke arah Harris. Ya, dia tidak salah dengar. Harris, suaminya, sedang terisak dalam tidurnya. 'Apa mas Harris mimpi buruk ya?'
Keara mengguncang-guncangkan raga besar di sampingnya itu. Dengan lembut ia menepuk pipi suaminya. Mencoba menyadarkan Harris dari mimpinya. Tapi Keara justru merasakan suhu tubuh Harris yang tidak biasa. Suaminya itu agak demam ternyata. Pantas saja kalau mas Harris sampai mengigau.
Seingat Keara, Harris sudah lama tidak mengigau lagi. Terutama sejak mereka menikah. Tapi malam ini berbeda. Lirih sekali terdengar rintihan Harris, "Ma.. Mama..."
Hati Keara seperti dijalari sengatan listrik beraliran kecil. Pikirannya berkecamuk. Apa yang terjadi hingga mas Harris kembali mengingat mamanya? Kenapa mimpi buruk yang sudah lama tidak pernah muncul, malam ini kembali menghantui mas Harris.
"Mama?" gumam Keara.
Keara tanpa sadar menitikkan air matanya. Apa mamanya yang membuat suasana hati mas Harris mendadak berubah? Apa tiba-tiba mas Harris teringat tentang mamanya? Tapi apa yang memicu ingatannya itu datang secara tiba-tiba? Apakah karena saat itu mereka sedang berada di restoran pizza? Atau... Mas Harris melihat mamanya juga berada di restoran yang sama?
Pikiran Keara berkecamuk tak menentu. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Dan yang bisa memastikan itu hanyalah penjelasan langsung dari mas Harris.
Keara melihat suaminya itu tidur dengan gelisah. Keringat membasahi dahinya. Padahal suhu di kamarnya saat ini cukup sejuk. Ia pun membelai rambut Harris dan berniat membangunkan suaminya itu dengan lembut.
"Sayang.. Bangun.. Mas.. Bangun, sayang.." bisik Keara dengan mendekatkan wajahnya pada wajah tampan yang sedang gusar itu.
Harris terbangun. Netranya dipenuhi peluh dan tangannya langsung terulur meraih tubuh mungil Keara. "Sayangku.. Maafin aku.." ucapnya seraya terisak. Terdengar sangat memilukan bagi Keara.
"Mas Harris mimpi buruk, hm? Lihat. Mas Harris sampai keringetan. Aku ga tega. Jadi aku bangunin kamu, sayang.."
Harris tidak menjawab. Tapi bulir bening dari netranya luruh. Dan itu tak luput dari pengamatan Keara.
"Sayang..." lirih Keara.
"Maafin aku, K.. Aku pasti membuatmu bingung.."
Keara menggeleng. "Tidak. Aku hanya ingin memastikan mas Harris baik-baik saja."
Harris meraup raga istrinya. Mendekap erat raga itu seolah mencari kekuatan untuknya bisa. Sekaligus ingin menyembunyikan kekalutan hatinya. Perlahan ia menarik nafas panjang. Harris yakin ia harus berterus terang pada Keara. Ia tidak mau merahasiakan apapun lagi pada istrinya.
"Kamu ga harus bicara apa-apa, sayang.. Aku cuma mau nemenin mas Harris.. Tidurlah lagi.. Tidur yang nyenyak. Aku akan peluk mas Harris sampai pagi." ujar Keara lembut seraya mengusap punggung lebar suaminya.
Ia mulai mengenal suaminya kini. Ada beban besar yang masih enggan pria itu bagi dengannya. Dan Keara memakluminya. Suatu saat nanti, cepat atau lambat, Harris akan mengatakan apa yang terjadi dengannya hari ini.
"Engga sayang.. Kamu harus tau. Kamu berhak tau." Harris mengendurkan dekapannya.
Kini Keara bisa bersitatap dengan suaminya. Menemukan manik mata penuh kegundahan milik lelakinya itu. Keara bergeming. Ia menunggu dengan sabar. Dan bersiap menampung curahan hati lelakinya.
"Aku bertemu dengan mama."
Keara terhenyak. "Mama?"
Harris mengangguk lemah. "Wanita tua yang berjalan bersamamu saat keluar dari toilet resto tadi adalah mamaku, K."
...****************...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih