Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Trauma Masa Lalu


"Bagaimana? Apa yang sudah kamu ketahui tentang wanita idamanku?"


"Mereka berdua sangat mesra, Pak. Layaknya pasangan pengantin baru pada umumnya. Sudah seminggu ini orang suruhan saya mengamati mereka. Menurut dia, akan sangat sulit buat Pak Dave untuk masuk ke rumah tangga mereka." jawab Edo. Asisten Dave yang ditugasi mengirim orang untuk memata-matai Keara.


Saat ini Dave dan Edo sedang duduk di bar. Dave terus menyesap minuman beralkohol yang membuatnya kehilangan lebih dari setengah kesadaran. Sedangkan Edo berusaha agar tetap waras karena tidak ingin terjadi hal-hal yang membahayakan jika keduanya mabuk berat.


Buktinya, Dave sudah bertanya hal yang sama sebanyak sebelas kali. Edo harus menjawab sebelas kali pula. Karena kalau tidak menjawab, Edo bisa jadi sasaran lemparan gelas oleh Dave. Pria itu sepertinya memang sudah gila. Gila karena wanita bernama Keara Assyifa.


"Goblokkk!! Lakukan apa saja biar mereka bercerai. Begitu saja kau tidak bisa?? Harus aku yang mengajarimu?! Dasar tidak berguna." rutuk Dave pada Edo.


Edo menarik nafas panjang. Sudah sebelas kali pula ia mendengar cacian itu terlontar padanya. 'Iisshh.. Sia*lan. Memang apa hebatnya istri Mr. Risjad itu?? Masih lebih cantik model yang baru dipacari Pak Dave kemarin. Sekarang ia Malah terobsesi sama istri orang. Dasar bos sinting.'


Tentu saja kalimat itu tidak terlontar dari mulut Edo. Hanya bisa digaungkan dalam hati Edo saja. Karena nyawanya bisa tamat malam ini juga kalau sampai ia berani mengatakannya.


Bagi Edo, David Soehandoko bukanlah orang yang jahat atau kejam. Bosnya itu juga loyal dan tidak pelit. Rajin memberi bonus dan gaji besar. Lelaki itu hanya sedikit gila kalau sudah berurusan dengan wanita incarannya. Dia merasa dirinya harus mendapatkan siapa saja yang dia inginkan.


"Buat apa aku membayarmu mahal mahal kalau kau tidak berguna sama sekali. Kau harus bisa membantuku untuk mendapatkan wanita itu. Dia sangat cantik dan manis.. Aah.. Mambayangkan wajahnya saja sudah bikin anacondaku bangun. Hahahaa.."


Edo setengah menutup wajahnya. Lumayan malu juga berdekatan dengan orang mabuk. Asal saja berbicara mesum dengan suara lantang di tempat ramai.


"Hubungi Martha. Kita bisa cari tahu apa yang terjadi di rumah mereka sekarang. Aku rasa malam ini si Risjad itu bertengkar dengan istrinya. Aku sudah memantik pertengkaran kecil sebagai salam perkenalan di acara gala dinner tadi. Haha hahaa !!" Dave terbahak-bahak sangat lebar sampai menengadahkan kepala. Tubuhnya sudah oleng ke kanan dan kiri. Tidak lagi seimbang.


Edo menarik nafas kasar. Lagi-lagi dia mendengar kalimat yang sama. Dan ini sudah ke-sebelas kalinya.


"Bos, lebih baik kita pulang. Anda sudah mabuk berat."


Oke, ini sudah ajakan yang dilontarkan Edo ke dua puluh satu kali. Entah harus memiliki stok sabar seberapa banyak, memiliki atasan yang terobsesi pada istri orang sampai seperti orang sinting begini.


...----------------...


.


"Janji dulu." akhirnya Keara membuka mulut. Ia merasa harus menegaskan pada Harris tentang apa yang mengganjal di benaknya.


"Hmm.. Anything, sweetheart.." suara berat dan serak Harris terdengar sangat sensual di telinga Keara. Lelaki itu jelas sudah terbakar api gai*rah dan sedang ingin bercinta. Hanya saja Keara yang masih dalam mode galak pun harus pura-pura tidak tau menau tentang hasrat suaminya itu.


"Mulailah percaya sama aku.. Aku bukan perempuan ganjen yang suka dipilihin gaun sama pria asing. Atau mencoba gaun di depan pria yang tidak aku kenal. Aku bukan perempuan seperti itu. Kenapa mas Harris bersikap seolah tidak pernah mengenalku? Hiiiks.. hiikkss.." Keara mulai terisak-isak lagi.


Harris menangkup pipi mulus itu. Mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Keara. Hatinya perih teriris. Dia dikuasai rasa cemburu menggila sampai tega menyakiti hati wanitanya. "Maaf." lirih Harris sambil mengecup kening istrinya.


"Bisa janji?" tanya Keara lagi. Ingin memastikan agar di masa depan Harris tidak lagi cemburu buta sampai tidak mau mendengar penjelasannya sama sekali seperti malam ini.


Tentu saja hal ini sangat prinsip bagi Keara. Karena bagaimanapun, ia ingin rumah tangganya berbingkai kepercayaan satu sama lain. Ia ingin rumah tangganya kokoh dan tidak terpengaruh omongan orang lain yang sengaja berniat menggoyahkan mahligai indahnya.


"Aku janji, sayangku.. Hal seperti ini tidak akan terulang lagi." ucap Harris mantap. Meski dalam hati ia tidak yakin apakah bisa menepati janjinya itu. Ia begitu takut kehilangan Keara sampai rasanya ingin mengurung istrinya itu di rumah saja.


Berlebihan memang. Tapi trauma masa lalu yang pedih juga menjadi dasar atas ketakutan Harris itu.


'Maafkan aku sayang, kamu jadi merasakan imbas dari traumaku atas rasa sakit hati papa di masa lalu. Aku sangat takut kamu mengkhianatiku, meninggalkanku, lalu aku harus merasakan neraka yang dialami papaku dulu.. Rasa sakit itu sangat membekas di benakku, sayang.' gumam Harris dalam hati.


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih