
Seminggu berlalu. Harris disibukkan dengan pekerjaannya yang padat. Ia ingin sekali menyelesaikan pekerjaan dengan cepat agar tidak mengganggu waktunya saat nanti ia melangsungkan pernikahan dan berbulan madu. Sungguh.. Ia sudah tidak sabar ingin memiliki gadis itu seutuh-utuhnya.
Namun, konsekuensi dari itu semua adalah mengorbankan Keara untuk menentukan pilihan tentang banyak hal sendirian. Ia hari ini bahkan harus melakukan fitting baju pengantin sendiri. Ehm.. Bersama orang Wedding Organizer tentunya.
Keara datang ke butik yang diinformasikan pihak WO. Ia datang diantar pak Diman. Di butik, Keara bertemu dengan Angel, salah seorang tim dari WO yang disewa Harris. Sebelumnya, mereka pernah bertemu dulu, ketika meeting pertama untuk menentukan tanggal pernikahan.
"Selamat siang, calon pengantin kita yang cantik.. Hari ini harus sendirian ya?" sapa mbak Angel.
"Siang mbak.. Iya nih.. Yang ono masih sibuuuk mulu.." seloroh Keara santai. Tidak ingin memberi jarak dan kesan bossy.
"Gak apa-apa mbak.. Sibuknya kan demi kesejahteraan honeymoon yang bebas gangguan pekerjaan.."
Mereka pun tertawa bersama.
Angel menuntunnya masuk ke dalam butik. Menyodorkan banyak pilihan model baju pengantin. Meminta Keara memilih baju untuk akad dan resepsi sekaligus.
Setelah menentukan beberapa pilihan, Keara pun diminta mencoba baju-baju itu demi mendapatkan pilihan terbaik. Ia mencoba mengirim chat untuk Harris. Berharap lelaki itu membaca dan bisa membantunya memilih mana yang terbaik dari deretan gaun-gaun indah itu.
Tapi sampai setengah jam berlalu Harris tidak juga membalas pesannya.
Keara memilih sendiri gaun terbaik sesuai seleranya. Tidak ada yang bisa diharapkan dari calon suami super sibuknya itu. Ia pun mengambil foto dan tetap mengirimkan pilihannya pada sang calon suami.
Setelah menentukan ukuran tubuhnya, dan sedikit merubah dan menambah beberapa detail di gaunnya, Keara dan Angel membuat janji temu tiga hari kemudian. Mengingat hari pernikahan mereka semakin dekat. Dan banyak persiapan yang harus dikejar.
"Pak Diman, kita ke kantor mas Harris yaa.." pinta Keara setelah ia masuk kembali ke dalam mobil.
Hari sudah sore. Setidaknya meskipun sedang sibuk, Harris seharusnya tetap memiliki waktu senggang meskipun sebentar. Dan Keara memutuskan untuk menunggu lelaki itu di ruangannya nanti.
"Baik, Non.." jawab Pak Diman. Kemudian melajukan mobilnya menembus kemacetan sore itu.
Setengah jam menempuh perjalanan akhirnya Keara tiba di kantor Harris. Ia langsung bertemu dengan Tiara, sekretarisnya, dan menanyakan keberadaan Harris.
"Pak Harris masih di ruang meeting, mbak.. Meetingnya sudah selesai lima belas menit yang lalu. Tapi masih ngobrol sama klien di sana.." jawab Tiara.
Keara menganggukkan kepala.
"Mbak K tunggu di dalam saja.."
"Oke." sahut Keara singkat.
Keara memilih untuk melihat-lihat benda-benda di sana daripada duduk di sofa nyaman di ruangan Harris. Melihat deretan piagam penghargaan yang dipajan di lemari sudut. Foto-foto dengan pigora besar dimana Harris dan beberapa orang eksekutif lainnya. Foto Harris menerima plakat penghargaan.
Ia pun penasaran dengan pigora kecil di meja Harris. Ingin melihat foto siapa yang dipajang di sana. Keara mendekat ke arah meja. Dan mendapati fotonya lah yang ada di meja kerja lelaki itu. Ia tersenyum dan tersipu malu sendirian.
'Dasar bucin...' gumamnya.
"Apa kamu segitu narsisnya sampe senyum-senyum gitu lihat foto sendiri?"
Keara terkekeh begitu melihat Harris sudah berada di ruangan tanpa ia sadari kapan lelaki itu masuk.
"Hehhee.. Mas Harris kapan masuknya? Aku sampe gak denger mas masuk..."
"Itu karena kamu sibuk meng-inspeksi ruanganku..."
"Engga kok.. cuma liat-liat aja..." bibir Keara mengerucut. Wajahnya juga merona karena malu. Pelan-pelan dia bergeser dari posisinya yang sangat dekat dengan kursi tahta Harris.
Harris melangkah dan menahan tubuh mungil itu, lalu mendekapnya erat. "I miss you so bad, sweetheart.."
Keara tersenyum dalam dekapan lelakinya. Pelukan tanpa kata yang melebur rindu dalam hati keduanya.
Lama sampai akhirnya pelukan itu terlepas. Harris mengulas senyum terbaiknya. Jemarinya masih bertaut di balik punggung calon istrinya. "Terima kasih, sayang.. Kamu mau nyamperin aku ke sini.."
"Itu karena mas Harris sama sekali gak bales chatku.."
"Maaf sayang.. Tadi aku ada klien dari Hongkong. Kita meeting dan sekarang orang-orang itu baru kembali.."
"Iya, aku tau... Sekarang lihat ponsel mas Harris.. Aku tadi sudah pilih gaun pengantinnya.."
Harris menurut. Ia langsung mengambil ponsel pribadinya yang ia simpan di laci. Sambil membuka ponselnya, ia berkata, "Sayang, simpan juga nomor ponselku yang biasa aku pakai untuk pekerjaan. Kalau ada yang penting dan nomor pribadiku tidak bisa dihubungi, kau bisa menelepon nomorku yang lain... Nanti kuberikan juga nomor Aswin atau Tiara. Jangan sampai kamu tidak bisa menghubungiku sama sekali.."
"Iya.. Iyaa...." Keara tersenyum. Ia bisa merasakan ketulusan Harris mengutarakan keinginannya.
"Astaghfirullah !!"
"Apa? Kenapa??" tanya Keara panik. Tiba-tiba saja Harris memekik sambil melotot melihat layar ponselnya.
"Tega apa?"
"Ini kenapa kamu kirim foto sepotong gini?? Aturan keliatin semuka-muka dong.. Aku kan mau lihat gimana cantiknya calon pengantinku...."
"Iiishh.. Kirain apaan..." Keara mendengus kesal. Tapi sedetik kemudian dia tertawa mengejek.
"Biar surprise dong.. Masa udah liat aku pake baju pengantin dari sekarang..."
"Ayolaah, K.. Kita balik ke butik itu lagi aja.. Lagian aku belum milih mana yang paling cocok buat kamu.."
"Yee.. Aku kan sudah milih.. Sudah diukur sesuai badanku pula. Salah sendiri tadi gak ikut.. Mana ditelpon gak diangkat-angkat.." seloroh Keara.
Harris merubuhkan kepalanya ke bahu Keara dengan ekspresi yang pura-pura lemas.
"Kamu benar-benar membuat separuh semangatku hilang, sayang.. Please.. Aku mau lihat foto full body kamu pakai gaun itu.."
"Nope." jawab Keara dengan suara tawa tertahan. Menepuk-nepuk punggung lelakinya sok menguatkan.
"Sadis banget..." keluh Harris, seraya menggosok ujung hidungnya di kulit mulus di leher Keara.
"Mas Harris... Geli iiihh....!" Keara tertawa kegelian. Dia bergerak-gerak agar terlepas dari dekap Harris. Tanpa sadar ia justru membangunkan sesuatu dalam diri Harris.
Harris spontan melepas dekapannya. Ia langsung menghempaskan tubuhnya bersandar di kursi. "Tadinya aku yang mau menggodamu. Tapi yang ada kamu malah ngundang macan yang mau nerkam kamu..."
"Hahahaa... Apa sih.. Ngomongnya GaJe.. Dasar bujangan mesum. Hahahaaha.." ledek Keara. Dia tertawa puas karena merasa berhasil mengerjai Harris.
...----------------...
Malam menjelang. Sepasang manusia yang sedang dimabuk cinta itu akhirnya terdampar di salah satu meja restoran Italia di dekat area perkantoran Harris. Restoran yang dipilih pun mengikuti keinginan Keara yang sedang ingin makan mac and cheese.
Keara mengeruk dengan sendoknya hampir setengah porsi makanannya, lalu meletakkannya di tepi piring spagetty Harris.
"Makan yang banyak, mas.. Masa sampe jam segini Mas Harris belum makan nasi sih.. Kayak orang susah aja.. Udah belum makan, sekarang cuma makan mie seuprit lagi, mana kenyang...?"
"Ini spagetty sayang.."
"Ya sama aja..."
"Ini juga ada potongan daging dan kejunya.."
"Ya emang kenyang.. Makan daging dipotong seukuran upil gitu.."
"Iishh jorok kamu.." Harris bergidik. Tapi tetap melahap makanannya yang ditambahkan setengah porsi mac and cheese oleh Keara. Dia sedang menikmati makan malam dengan backsound omelan Keara. Terdengar seperti nyanyian merdu yang menggugah selera makannya.
"Coba tadi kalau mas Harris bilang kalau belum makan, aku pasti ga minta makan di sini... Kita bisa makan nasi padang dobel porsi biar mas Harris kenyang.." ocehan Keara seperti kaset yang tak pernah putus.
"Mas Harris kan sudah dewasa.. Masa gak bisa ngatur jadwal makannya sendiri? Apalagi Mas Harris tuh sibuk.. dan banyak pekerjaan.. Ya harus banyak makan juga.. Biar ada energinya.. Emang gak ngerasa laper gitu?"
Harris menggeleng sambil menahan tawanya.
"Huhh.. Pantesan aja sampe kena magh kronis.. Pola makannya begitu siih..."
"Tugas istriku nanti yang harus ngingetin dan nyiapin makananku..." sela Harris santai. Keara mendelik kesal. Dia sudah mengomel panjang lebar, tapi lelakinya santai saja menanggapi omelannya.
Seorang wanita paruh baya dengan dandanan mentereng datang mendekati meja mereka. Harris menatapnya dengan pandangan dingin.
"Harris... Tante seneng ketemu kamu di sini.." wanita itu langsung berjongkok dan memeluk leher Harris. Tentu saja Harris langsung menyentak dengan kasar.
"Harris.. ini Tante Martha. Istrinya Om Aldo Risjad, adik papa kamu..."
Harris terlihat tetap dingin. Sama sekali tidak terkejut dengan salam perkenalan tantenya. Ia jelas mengenali tantenya. Salah satu orang yang pernah membuat hidupnya sengsara.
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih