
Kini Harris dan Keara sudah keluar dari ballroom. Melangkah menyusuri koridor yang kebetulan tidak banyak orang yang lewat. Karena acara gala dinner yang sebenarnya belum sepenuhnya selesai. Keara kini jadi sedikit mengerti sifat suaminya. Lelaki tampan ini kurang suka berbasa-basi kalau tidak penting dan tidak ada untungnya.
"Kalau diingat-ingat, makanmu banyak juga akhir-akhir ini sayang.. Apa memang segitu sebenarnya porsi makanmu? Tapi di awal-awal pernikahan kita kamu cuma gengsi aja kalau langsung makan banyak. Jadi bikin kamu menahan diri.." cicit Harris.
Keara menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Membuat Harris terkejut dan kakinya ikut berhenti melangkah juga. "Ada apa, sayang?" tanyanya panik. Tidak sadar kalau ucapannya sendiri yang membuat Keara terkesiap.
Keara menatap suaminya tajam. Raut wajahnya yang tadi ceria perlahan memudar. "Kenapa mas Harris ngomong gitu? Apa aku kelihatan makin gendut?"
Harris tergelak seraya mengacak rambut Keara gemas. "Enggak sayang.. Gak gendut sama sekali. Kamu masih kerempeng sama seperti sebelum kita menikah dulu.."
Keara mencebik sebal. Dia mencubit manja pinggang suaminya. "Hemm.. Kayaknya gak deh, aku emang gendutan.. Kita gak jadi aja deh ke resto iganya.. Aku mau diet aja."
Keara kembali berjalan menuju pintu keluar. Bibirnya sudah terlanjur cemberut. Tapi otaknya berputar mengingat ingat apa benar sekarang makannya lebih banyak? Dan bagaimana kalau benar berat badannya bertambah?
"Hahha... No, sweetheart. Gimana jadinya badan kerempeng kayak gini kalau diet? Mau jadi sekurus apa lagi..?"
"Aahh.. Mas Harriis.. Awas yaa kalau aku beneran tambah gendut. Tanggung jawab."
"With my pleasure, sweetheart.." Harris mendaratkan satu kecupan di pelipis Keara seraya kakinya yang terus melangkah.
"Selamat malam pak Harris." suara sapaan seorang lelaki menghentikan langkah Harris dan Keara di lobi hotel. Padahal kurang sedikit saja mereka mencapai pintu keluar, dimana Pak Diman sudah siap dengan mobilnya di depan pintu keluar.
"Selamat malam Pak David.." balas Harris. Dua lelaki ini berjabat tangan. Sedangkan Keara hanya menganggukkan kepala membalas sapaan Dave.
"Kita belum sempat saling menyapa saat di dalam tadi, Pak Harris.. Makanya begitu melihat anda di sini saya langsung kemari." tutur Dave.
"Oh yaa.." Harris mengangguk. Senyum palsunya kembali bertengger di wajah tampan itu hanya untuk bersopan santun dengan kolega bisnisnya satu ini.
"Selamat atas pencapaiannya taun ini, Pak Harris.. Semoga dengan kerja sama kita, saya bisa banyak belajar dari anda untuk mengembangkan bisnis dan perusahaan saya."
David tertawa. "Anda terlalu memuji Pak Harris.. Padahal belum ada kontribusi yang saya berikan untuk perusahaan saya."
Setelah sebentar saja berhaha-hihi, mas Harris memutuskan untuk pamit lebih dulu. "Baik, saya permisi Pak David. Driver saya sudah menunggu di depan." pamit Harris. Keara bersyukur dalam hati. Karena tidak perlu berlama-lama mengobrol basa-basi seperti ini.
"Iya, Pak Harris. Silakan.." David tersenyum seraya mengulurkan tangan pada Harris.
Setelah kedua lelaki itu berjabat tangan, pandangan David tertuju pada Keara. Lelaki itu mengulas senyum dengan ekspresi yang sulit diartikan. Keara kembali menganggukkan kepala untuk berpamitan dengan kolega bisnis suaminya itu.
"Benar kan kata saya, Keara.. Gaun itu sangat cocok kamu pakai."
*Deg
Keara memicingkan matanya menatap David. Keningnya berkerut. Bisa-bisanya David berkata begitu di depan mas Harris pula. Mas Harris bisa saja salah mengartikan kalau gaun ini pilihan David.
"Terima kasih." sahut Keara singkat.
Keara melirik Harris. Benar dugaannya. Raut wajah Harris kini berubah tegang. Rahangnya mengeras dan tatapannya tajam. Jangan lupakan rangkulan lengannya di pinggang Keara sudah berubah jadi cengkraman kuat yang membuat Keara menahan rasa sakit karena tekanan jari-jari kekar itu.
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih