
"Tapi shubuh itu di luar ekspektasi ku. Aku yang masih sadarkan diri meski seluruh tulangku terasa patah dan hancur, aku justru harus melihat dengan mata kepalaku sendiri. Papa mengakhiri hidupnya dengan memotong -motong urat nadi di kedua pergelangan tangannya. Ia bahkan memberi beberapa tusukan di anggota tubuhnya sendiri....."
Keara terhenyak. Membuka mulut dan netranya lebar-lebar. Berharap ia salah dengar. Tapi senyum getir Harris menyadarkan Keara. Bahwa kalimat yang ia dengar tadi benar adanya.
"Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, papa memberikan wasiat terakhirnya dengan berkata, 'tetaplah hidup, Nak.. Cari mamamu dan katakan padanya tentang rasa sakit hati papa. Katakan pada mamamu bagaimana kamu menyaksikan sendiri dengan mata kepalamu bagaimana papa mengakhiri hidup papa. Dan katakan padanya, semua yang kita alami berdua adalah kesalahan mama kamu.'."
Keara terus terisak. Kedua jemarinya sudah sibuk menyeka air matanya.
"Aku sempat dirawat di rumah sakit selama satu minggu dengan trauma yang masih lekat di pelupuk mata. Kejadian mengerikan itu terus terulang dalam mimpiku. Setiap malam. Papa menghantui setiap malamku. Sampai aku sebesar ini."
Keara jadi ingat ucapan Bik Santi dulu. Saat Keara pertama kali datang ke rumah Harris dan mendapati Harris mengigau.
"Kalau Tuan Harris ngigau manggil papanya, pasti lebih histeris dari ini.."
"Entah kenapa alasan Allah masih memberiku umur panjang setelah menjalani bermacam-macam operasi untuk memulihkan kondisi tubuhku. Mungkin aku masih hidup untuk mewujudkan pesan terakhir papa. Memberi tahu mama tentang rasa sakit yang kami rasakan.."
Harris mengambil tisu dan menyodorkannya pada Keara. ia juga membantu gadis itu menyeka pipinya yang sangat basah.
"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" tanya Keara dengan suara parau.
"Sebelum aku benar-benar pulih, polisi datang menemuiku dan membawa surat penahanan."
Netra Keara melebar. "Ke-kenapa?"
"Selama aku di rumah sakit, om dan tante keluarga dari papa melaporkan kematian papa sebagai pembunuhan. Dan akulah yang dituding sebagai tersangka."
"Hah?"
"Saat itu usiaku sebelas tahun. Aku sempat menjalani masa tahanan selama enam bulan. Selama masa itu, saudara-saudara papa mengganti nama hak waris kekayaan papa. Mereka mengambil alih semuanya. Karena menganggap aku, sebagai pembunuh papa, tidak berhak atas harta warisan papa. Tapi pengadilan tidak bisa membuktikan aku bersalah, sehingga aku dibebaskan dan kematian papa ditetapkan sebagai bunuh diri."
"Setelah menjalani masa tahanan, aku dimasukkan ke panti rehabilitasi untuk memulihkan trauma. Selama tiga bulan aku tinggal di sana dan akhirnya dipindahkan ke panti asuhan terdekat. Karena tidak seorang pun dari om dan tante adik-adik papa mau menampungku. Heh. Mereka hanya mau harta warisan papa. Tanpa belas kasihan sedikitpun padaku.."
"Hiiikkss.. Hhiiiikksss.. Sroooookkk....." isakan Keara terus menggema tanpa henti. Air matanya sudah mengalir deras menganak sungai. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa ada keluarga macam itu masih hidup sejahtera di dunia ini? Mereka bahkan bersuka cita di atas rasa sakit seorang anak yang usianya masih belasan tahun. Terlebih lagi anak itu bagian dari keluarganya sendiri.
"Tidak cukup sampai disitu, K.. Setelah tinggal di panti asuhan, aku harus menjadi bulan-bulanan, sasaran bullying. Mereka menyebutku psikopat, mantan napi, pembunuh.. Mereka bahkan memukulku. Mengasingkanku. Orang-orang pengurus panti tidak satupun ada yang melindungiku. Karena itu aku memutuskan kabur dari panti. Tinggal di jalanan, dan bersekolah mengandalkan beasiswa."
"Aku bekerja jadi cleaning service, tukang cuci piring di warteg, tukang cuci mobil, loper koran, apa saja asal bisa makan dan bertahan hidup. Sampai usiaku lima belas tahun. Aku bertemu dengan Rizky. Dialah sosok pelindung pertama yang kumiliki setelah rentetan peristiwa mengerikan yang kualami. Kami teman sekelas waktu kelas tiga SMP."
"Dia selalu mendatangiku saat aku ingin mengasingkan diri dari teman-teman yang lain. Saat teman yang lain ada yang membully dan mengataiku gelandangan atau apalah yang mereka katakan, Rizky selalu pasang badan dan membelaku. Sampai akhirnya dia berhasil membujukku untuk tinggal di rumahnya.. Setelah itu, kamu pasti tau kelanjutan ceritanya.."
Keara mengangguk. Ia terus menangis sesenggukan. Sampai anggota tubuhnya bergerak impulsif dengan melingkarkan lengan mungilnya di pinggang Harris. Melekatkan pipinya ke dada bidang lelaki itu. Memeluk erat seraya melanjutkan tangisnya yang tak pernah habis untuk meratapi kisah yang baru pertama kali ia dengar.
"Kamu adalah orang kedua yang mendengar cerita ini secara langsung dariku. Yang pertama tentu saja Rizky. Kampret itu benar-benar menepati janjinya untuk menyimpan rahasiaku sampai ia mati.." Harris kembali tersenyum getir. Mengingat mendiang sahabat yang sangat berarti untuk kesembuhan mentalnya. Rasa kehilangan itu masih kuat membekas.
"Kamu itu, sudah tau cengeng.. Harusnya tadi jangan bawa bekal cemilan, lebih tepat bawa sekotak tisu. Ingusmu sampai merembes ke dadaku ini..." keluh Harris. Tentu saja hanya untuk menggoda Keara.
"Mas Harris iiihh.. A-ku kan ha-nya terba-wa sua-sana..." kilah Keara diiringi isakan tangisnya yang belum selesai.
Harris tertawa kecil. Ia kembali mengusap dengan lembut gadisnya yang masih ingin melanjutkan tangis dalam pelukannya. Tidak banyak orang yang tau kisahnya. Sehingga itu tidak banyak pula ia menerima simpati dari orang lain. Meski dia tidak pernah mengharapkan itu.
Mengisahkan kembali masa lalunya yang kelam tidak lagi membuat Harris menangis pilu. Semua kepedihan itu sudah ia tangisi dalam diam. Setiap malam. Dan air matanya sudah mengering untuk menangisi hal yang sama terus menerus.
Lama mereka terdiam. Hanya suara isak tangis Keara yang mendominasi. Harris begitu nyaman memeluk gadisnya. Membelai punggung ramping dan mungil itu. Dan menikmati bagaimana tangan Keara melingkari pinggangnya dan bertaut rapat memeluk tubuhnya.
"Terima kasih sudah menangis untukku, K.. Aku tidak punya keinginan lagi untuk meratapinya. Semua sudah berlalu sayang.."
Harris beberapa kali mengecup puncak kepala Keara. Menciumi harum rambutnya yang wangi dan menyegarkan. Memainkan rambut panjang gadis itu dengan jarinya.
"Sekarang kamu sudah tau ceritaku, K... Sekarang kamu bisa menimbang ulang sebelum rencana pernikahan kita digelar.. Aku bukan manusia sempurna. Suatu saat nanti entah apa dan bagaimana masa laluku bisa saja mengusik rumah tangga kita nantinya. Maka dari itu, aku ingin kamu memikirkan dulu sebelum semua kerumitan itu terjadi."
Keara mengangkat wajahnya. Kini Harris bisa melihat jelas mata sembab dan hidung kemerahan Keara. Pipi basah dan bibir merah alami itu terlihat sangat sexy di mata Harris.
"Calon suamimu ini dicap masyarakat sebagai psikopat, pembunuh, bahkan mantan napi.. Ya walaupun hanya berstatus sebagai tahanan. Punya orang tua yang sama sekali tidak dapat jadi panutan. Calon suamimu ini juga bekas gelandangan yang pernah mengais makanan dari sisa makanan orang lain.. A-pa ka-mu beru-bah piki-ran, K?"
"Pikirkanlah dulu, sayang.. Kamu tau itu semua tidak mudah. Tapi hubungan kita belum berjalan terlalu jauh. Jadi.. Aku pikir... Aawwhhh....!" Harris meringis kesakitan. Ia tidak menyangka akan mendapatkan serangan cubitan maut di pinggangnya.
"Sakit sayaang....."
"Salah sendiri. Siapa suruh mas nanya gituuuu teroooss.. Disuruh mikir, disuruh timbang ulang, apalaah.. Kayak orang yang ga ngerti-ngerti.. Udah dikasih tau jugaa...!" Seperti biasa, rentetan ocehan Keara meluncur dengan lancar dari bibirnya.
"Berapa kali aku bilang. Aku bisa terima apapun dan bagaimanapun masa lalu mas Harris. Aku kan hanya nanya. Cuma pengen ngerti. Cuma pengen kenal mas Harris lebih dalam lagi. Ngerti gak sih diajak ngomog..?! Heran. Diulang-ulang terus nanyanyaa-eemmhhpppp..." dan seketika ocehan Keara berhenti saat Harris tanpa aba-aba membungkam bibir gadis itu dengan ciuman lembutnya.
...----------------...
...----------------...
Tanpa baca ulang, langsung di-up 😌
Komen ya kak.. kalau ada yang typo, dan kesalahan lainnya...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih