Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Peringatan


"Keara... Harris.." Martha berjalan cepat mendekati sepasang suami istri yang sedang berjalan hendak naik ke kamarnya. Keduanya pun nampak terpaksa menghentikan langkahnya. Bahkan terdengar helaan nafas kasar dari Harris.


"Tante minta maaf, Keara... Maafkan tante, sayang..." Martha menggenggam pergelangan tangan Keara. Ekspresi memelasnya hampir sama seperti saat ia meminta untuk tinggal di rumah ini. Sepertinya orang ini hanya bisa berpura-pura 'sedih' sebatas ini.


Keara menggoyang lemah tangan kirinya agar genggaman Martha terlepas. "Aku sudah maafkan tante. Aku juga minta maaf kalau tadi aku juga kasar sama tante."


"Oh iya, sayang.. Tentu saja tante sudah maafkan kamu..."


Harris menarik tubuh istrinya agar sedikit menjauh dari Martha. Karena dari geriknya terpantau wanita berumur itu hendak memeluk Keara. Gak akan. Harris tidak rela istrinya dipeluk sembarang orang. Meskipun dia seorang wanita. Bahkan tantenya sekalipun.


"Keara tidak seharusnya minta maaf, tante.. Tante lah yang bersalah disini." sergah Harris.


"I-iya, Harris.. Tante ngerti itu.. Tante minta maaf.." Martha terbata. Mendengar Harris menyela dengan suara dingin dan tegas membuatnya sedikit tercengang.


"Dengarkan aku, tante. Ini peringatan pertama dan terakhir." suara Harris terdengar mendominasi. Dia memang sangat kesal dengan wanita berumur ini. Kalau bukan karena Keara yang meminta, wanita ini sudah pasti tidur di jalanan malam ini.


"Jangan bertingkah di rumahku. Tante hanya menumpang tidur di sini. Awas kalau aku dengar sekali lagi tante menghina Keara. Dia wanitaku. Dia berhak atas rumah ini dan semua hartaku tanpa terkecuali."


"Kalau sampai sekali lagi tante berulah, aku tidak segan mengusir tante, meskipun Keara memohon-mohon padaku untuk memaafkan tante, tidak akan pernah mengubah keputusanku. Mengerti?!"


Martha meraih jemari Harris. Ia menunduk menempelkan hidungnya di jemari Harris. "Iya, Harris.. Tante ngerti. Tante bener-bener minta maaf.. Tante janji masalah seperti ini tidak akan terulang lagi."


Keara menekan pinggang suaminya beberapa kali sebagai kode agar suaminya itu tidak marah-marah lagi. Bisa dibilang ini pertama kalinya Keara melihat Harris memarahi orang. Biasanya kalau dengan bawahannya, nada bicara Harris tegas, lebih ke arah menegur.


Harris mengendikkan bahu agar Martha melepaskan genggaman tangannya.


"Kalian tau kan, hormon wanita seusiaku begini tidak stabil.. Mudah marah, dan tidak menentu. Tapi tante memang salah sudah sangat tidak tau diri menghina Keara. Nyonya rumah di sini." ujar Martha setelah ia mengangkat wajahnya kembali.


Keara sudah akan membuka mulutnya untuk menanggapi, tapi Harris kembali menarik tubuh rampingnya.


"Aku tidak peduli alasan apapun, tante. Kupastikan ini jadi yang pertama dan terakhir tante menghina istriku."


"Kami permisi." Harris berkata dingin. Tidak ada ramah tamah apapun kepada tantenya. Ia mengeratkan rangkulan di bahu sang istri agar wanitanya itu berjalan mengiringinya masuk ke kamar pribadinya tanpa menyela maupun protes.


Rangkulan itu terlepas setelah mereka memasuki kamar. Harris yang sudah menahan diri selama berada di restoran tadi sudah siap hendak melahap wanita di sampingnya ini. Tapi Keara lebih cepat melenggang ke kamar mandi. Meninggalkan Harris yang tersenyum sendiri meredam debaran jantung yang tak pernah stabil bila berdekatan dengan sang istri.


"Aku menunggumu, sayang..! Keluarlah dari kamar mandi dalam keadaan segar.. Aku siap menerkammu.." monolog Harris seraya memandangi pintu kamar mandi yang tertutup dari kejauhan.


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih