
"Udah ah.. Aku mau pulang.." ucap Keara dengan nada lesu. Wajahnya masih berpaling dan tidak mau melihat netra Harris yang binarnya sangat mendebarkan.
Tapi saat Keara bergerak ingin melepaskan diri, Harris justru mengeratkan lagi kaitan lengannya di pinggang gadis itu. "Mau kemana? Kamu belum jawab pertanyaanku..."
"Pertanyaan apa lagi..? Tanya jawab mulu.. Kayak ikut kuis.." gerutu Keara lucu. Lagi-lagi membuat Harris tertawa lepas.
"Kamu mau kan lebih dekat lagi denganku? Bukan sebagai teman atau sahabat.. Tapi jadilah kekasihku.. Jadi pacarku, K.. Atau apa saja kamu menyebutnya.."
Keara mengangguk.
Harris tersenyum tipis. "Lihat aku." ucapnya seraya mengarahkan wajah cantik Keara yang terus berpaling darinya.
"Kalau jawab itu sambil ngeliat orangnya.. Biar jelas K..."
Keara cemberut. Dengan kesal ia meraup wajah Harris dengan segenap perasaan gemas bercampur malu. "Iyaa.. iyaa.. Nih udah dijawab dari tadi juga.. Masih rese aja siiih..... Hiiissshh!!"
"HahaHahaa..." Harris tertawa senang. "Cium lagi boleh?"
"Gak boleh. " ketus Keara seraya menutup bibirnya sendiri dengan sebelah tangan.
Harris yang gemas dengan tingkah lucu Keara, ditambah lagi wajah gadis itu yang sudah memerah sempurna, membuatnya tidak tahan untuk kembali merengkuh gadis mungilnya itu. Ia kembali mengusap-usapkan hidungnya ke ceruk leher Keara. Membuat Keara bergidik geli dan tertawa-tawa dalam dekapnya.
"Mas.. Stop!! Gelii..." Keara beringsut dari jerat dekapan Harris. Dia mengusap kasar lehernya yang terasa geli karena tertusuk bulu halus di rahang Harris. Degup jantungnya jangan ditanya lagi. Menggebu dengan kecepatan melebihi batas wajar.
Harris tertawa penuh kemenangan. Sekarang dia punya hobi baru. Menggoda Keara dan mencium aroma tubuh gadis kesayangannya itu. Kebahagiaannya membuncah hingga ia merasa jantungnya akan meledak. Kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan hingga usianya yang sudah hampir menyentuh kepala tiga.
"Sekarang temani aku makan, K.. Itu tugas pertama kamu jadi asistenku.."
"Jangan modus deh.. Lagian siapa juga yang mau jadi asisten mas Harris.." seloroh Keara.
"Aku kan bilangnya mau dipikirin dulu..."
"Jangan lama-lama dong mikirnya.. Kalau ditanyain mau jadi pacar apa enggak, langsung dijawab ngangguk-ngangguk.. Tapi urusan kerjaan lama banget mikirnya.."
Keara, yang sialnya setuju dengan argumen Harris mendadak jadi sangat malu. Ia tertawa terbahak sambil menghujani dada dan pinggang Harris dengan cubitan mautnya. "Hahaa.. Mas Harris nih, suka rese ngomongnyaa.."
"Idihh.. Dia yang malu, dia juga yang cubit-cubit.. Awwhh.. Sakit, K..!"
Keara menghentikan serangannya. "Makanya jangan macem-macem.. Rese sih.."
"Ayolah K... Besok kerja jadi asistenku yaa.. Udah kamu gak perlu ngapa-ngapain. Kamu cukup duduk diem aja di depan mataku. Jobdesc kamu cuman itu.."
"Justru itu yang bikin males.. Mas Harris itu gak niat kasih kerjaan, tapi niatnya modus aja. Mana ada jobdesc asisten begitu.."
"Ya terserah aku dong, K.. Aku boss disini. Aku bebas kasih kerjaan ke siapa aja, dan bebas kasih jobdesc apapun.. Everything under my control.."
"Idih.. Aku gak mau ah kerja di sini.. Bossnya GaJe.. Gak Jelas." Cibir Keara.
"Hahahaa gemes banget sih.. Cium lagi nih.."
"Hiihh dasar mesum." Keara mendelik kesal. Harris terkekeh saja.
"Udah ah aku mau pulang... Mana Hpku.." Keara menunjuk ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Harris menyambar ponsel Keara. Mengetikkan nomor ponselnya sendiri lalu menyimpannya. Dia tidak ingin ada alasan lagi yang membuat Keara tidak bisa menghubunginya, dan dia menjadi galau tak berdasar.
"Temani aku sarapan dulu, lalu aku anterin kamu pulang ke rumah.. Pleasee.. Oke?"
"Baiklah..." jawab Keara pasrah.
Harris tersenyum senang. Ia menggamit lengan Keara dan menggandengnya keluar ruangan.
Tapi sebelum mencapai pintu, terdengar pintu diketuk dua kali dan Harris mempersilakan masuk.
Dari balik pintu, muncullah Tiara dan Aswin. Mereka membawa berkas hasil rapat yang tadi tidak dihadiri Harris. Aswin mengangsurkannya pada Harris.
"Ini pak, hasil rapat hari ini. Notulennya sudah diringkas Tiara dan di selipkan di halaman paling belakang." ujar Aswin.
Aswin yang sama terkejutnya, hanya bisa nyengir seraya menoleh bergantian pada Keara dan Harris. Seolah sedang mencari pertolongan tentang jawaban apa yang harus ia berikan pada Keara, tanpa disalahkan oleh Harris.
"Ya sudah, toh aku gak mungkin nyembunyiin kamu seterusnya.. Kayak simpananku aja." gumam Harris pada Aswin. Dan langsung dihadiahi tatapan tidak mengerti dari Keara. Kening gadis itu sudah berlipat-lipat sampai alis yang hampir bertaut.
"Hehee.. Kenalkan mbak Keara, nama saya Aswin Syailendra. Panggil saja Aswin."
"Gini mbak, kebetulan saya sudah pensiun jadi mata-mata, dan sudah dipecat juga dari salesman obat kuat. Sekarang saya jadi asisten Pak Harris... Begitu..." sahut Aswin seraya terkekeh kecil.
Butuh waktu beberapa detik untuk Keara memahami jawaban Aswin. Dan seketika alisnya terangkat dengan netra membulat. Ia menghujamkan tatapan tajamnya kepada Harris. Rahangnya mengatup rapat dan bibirnya memberengut kesal.
"Mas Harriiiiiss....!!" Keara memekik dengan suara tertahan. Beringsut hendak menyongsong tubuh tegap pria itu.
"Eeeiiittss.. Stop!" Harris dengan sigap menangkap kedua lengan Keara.
"Please nanti aja nyubitnyaa... Kalau mereka sudah keluar, oke?"
...----------------...
"Sekarang jelasin. Kenapa asisten mas Harris itu dulu tiap hari selalu dateng ke kafe?" Keara melontar tanya yang ia pendam sejak di kantor Harris tadi. Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Ya mungkin dia hobi ngopi tiap hari..." jawab Harris asal. Tanpa berpaling dari kemudi dan jalanan di hadapannya.
Keara menjewer telinga Harris. Sampai lelaki itu meringis kesakitan. Tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa karena sedang fokus menyetir.
"Dasar boss seenak jidat. Arogan. Dingin kayak gunung es! Ngomongnya irit tapi pedes!Nyuruh-nyuruh orang buat buntutin aku ya, kaann...? Gitu pake gak ngaku lagi.. Dibayar berapa asisten yang jobdesc nya nungguin aku kerja sambil foto-fotoin aku, hah??" geram Keara sambil terus menarik telinga Harris.
"Eehh.. iyaa.. iyaa.. Ampuunn.. Lepasin K... Bahaya ini lagi nyetir.. Awwhh.. Aaawwhh...!!"
"Aku tuh udah curiga, kalau tuh customer datengnya selalu pas di shiftku kerja. Sampai aku pulang dia juga nungguin di parkiran. Aku sampai takut mau diapa-apain sama tuh penguntit.. Hihh.. Ngeselin!" Keara melepaskan jewerannya dengan menghentak kasar.
"Awwhhh.. Iihhh.. Kamu nih pake kekerasan mulu yaa.. Dulu Rizky gak pernah cerita kalau kamu agak bar-bar begini... Kalau aku nyetirnya gak seimbang terus kita kenapa-kenapa gimana??"
"Itu soalnya mas Harris selalu ngeselin!" ketus Keara. "Segala ngirim mata-mata buat ngikutin aku..."
"Itu kan juga termasuk jobdesc asisten.." kilah Harris.
"Jobdesc apaan??"
"Nyariin obat buat aku bisa semangat kerja..."
"Obat apa??"
"Obat kangen.." Harris nyengir sambil menatap Keara. Mobilnya sedang berhenti di lampu merah saat ini.. Membuat Harris leluasa menatap wajah ayu gadis di sampingnya.
"Setelah Aswin kirim foto kamu, atau aku video call dia dan liat langsung kamu dari layar ponselnya, energiku langsung full charged! Boosting mood to the maximum level. Jadi Siap menghadapi rintangan apapun.."
"Pinternya kalau gombal..." ucapnya datar. Keara tersipu dan tidak bisa menutupi rona kemerahan di pipinya. Meskipun sudah bersusah payah menahan agar sudut-sudut bibirnya tidak tertarik untuk tersenyum.
"Kalau sekarang aku udah gak butuh Si Aswin lagi.. Karena obat kangenku sudah sangat dekat denganku.."
Keara memalingkan wajahnya melihat ke luar mobil. Sudah pasti ia ingin tersenyum lebar meluapkan kebahagiaan di hatinya.
"Lampu ijo tuh.. Jalan. Jangan gombal mulu.."
"Siap, Tuan Putri...."
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih