
Harris menjulurkan kakinya menumpu di atas meja di ruang kerjanya. Punggungnya bersandar dan ia memijat pelipisnya dengan dua jari. Usai sarapan pagi, Harris langsung masuk ke ruang kerjanya. Rencananya, dia akan diam di rumah dan tidak akan pergi ke kantor seharian ini.
Harris sudah bisa memprediksi. Lingkungan di sekitar kantornya pasti tidak kondusif. Banyak wartawan yang siap menghadangnya dari segala arah.
Belajar dari skandal pacaran palsunya dengan Hanna Rosaline, yang membuatnya bisa membaca situasi. Harris memprediksi wartawan dan reporter akan menggila untuk berlomba-lomba menjadi yang pertama mendapat berita eksklusif dari Harris Risjad.
Tapi dari pengalaman itu, kini dia bisa lebih cerdik mengatur skenario untuk mengatasi skandal terungkapnya rahasia masa lalunya. Sebenarnya Harris sangat tidak suka berurusan dengan media. Dan semua kepalsuan berita di balik itu. Tapi dia sadar posisinya sedang terpojok dan sangat tidak menguntungkan.
Harris harus mengelabuhi media dan masyarakat, kalau ingin bisnis dan perusahaannya tetap berjaya. Harga sahamnya tidak anjlok. Dan tak lupa, simpati masyarakat juga harus ia dapatkan. Demi mengubur kembali rahasia yang memang ingin ia pendam selama-lamanya.
Toh, lembah kelam itu akan selalu tersimpan di balik punggungnya. Selalu mengikuti kemana pun langkahnya pergi. Sebuah ruang gelap tempat masa lalu mengerikannya ia kubur dalam-dalam. Ia sudah berusaha mengunci rapat ruang itu.
Tapi kini seseorang tidak beradab sedang ingin mencari gara-gara dengan Harris. Mengorek aib dan kepedihan masa kecilnya. Dengan extra bumbu dan penyedap rasa tentunya. Beruntung ia punya koneksi seorang pimpinan redaksi, sehingga bisa mengolah lebih dulu berita sebelum ditayangkan.
Harris masih menutup mata perihal pelaku yang menyebarkan fitnah tentang kehidupan pribadinya. Dia ingin menyelesaikan satu persatu dengan baik dan terorganisir. Dia bukanlah si ceroboh yang bertindak gegabah tanpa memperhitungkan sebab akibat ke depannya. Dia, Harris Risjad si jenius dalam dunia bisnis, tidak akan jatuh hanya karena skandal receh yang disebarkan orang yang tidak bertanggung jawab.
Tapi sekarang situasinya sedikit berbeda. Dia tidak lagi sendiri. Ada satu orang yang membuatnya tidak lagi merasa sebatang kara. Orang yang ingin dia lindungi. Seorang gadis cantik, berisik, dan begitu memenuhi seluruh ruang di hatinya, yang sangat ingin ia jaga. Tidak ingin gadisnya itu harus ikut merasakan getah atas apa yang menimpanya saat ini.
Itulah alasan Harris yang sebenarnya. Mengirim Keara untuk liburan ke Korea Selatan. Agar gadis itu tidak sampai mendengar berita kejam yang dialamatkan untuk Harris. Agar gadis itu tidak ikut terbebani dengan masalah yang menimpa dirinya.
Harris yakin, dia bisa membereskan semua masalah ini. Hanya butuh tiga sampai empat hari. Ketika Keara pulang hari sabtu besok, semua berita akan reda dan Keara tidak sampai mengetahui itu semua.
Harris mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah sambungan teleponnya dengan Keara terputus, hatinya mulai gusar. Ia sebenarnya tidak sampai hati melepaskan gadis itu harus bepergian sendiri.
Terlebih ini adalah pengalaman pertama gadis itu naik pesawat terbang. Ia sangat ingin mendampingi gadisnya. Kemanapun dan kapanpun. Tapi ia luruskan lagi hatinya. Ia ingat lagi niat tulusnya tidak ingin Keara ikut menderita karenanya.
Lagipula ia sudah menugaskan satu anak buah Bara untuk mengikuti kemana pun Keara pergi. Tiara juga sudah tau perihal rencananya. Dan dia sebagai orang terdekat dengan Keara untuk mengawasi gadis itu.
Aswin dan Bara masuk ke ruang kerja Harris setelah mengetuk pintu sebanyak dua kali. Dua asisten setia Harris itu sudah berada di rumah Harris sejak shubuh tadi. Merekalah orang yang paling sibuk dalam menjalankan misi ini. Bahkan sejak kemarin Harris masih asik berbelanja keperluan Keara pergi ke KorSel, Aswin dan Bara sudah kelimpungan mengurus ini dan itu atas perintah dari tuannya.
"Beritanya sudah ditayangkan Pak.." lapor Aswin.
"Nyalakan TV nya." singkat perintah terlontar dari Harris Risjad. Tanpa menunggu lagi, dengan sigap Aswin memencet remote tv untuk menyalakan benda dengan layar pipih dan lebar itu.
"Berita menghebohkan datang dari dunia bisnis Indonesia. Seorang Founder aplikasi ecommerce yang paling diminati banyak kalangan masyarakat, Harris Risjad. CEO muda dan jenius. Siapa yang menyangka bahwa masa kecilnya sangat tragis dan penuh misteri."
"Harris Risjad bahkan pernah mendekam di jeruji besi di usianya yang baru menginjak sebelas tahun, karena telah menghabisi nyawa ayah kandungnya sendiri. Sungguh kabar yang mencengangkan. Dan setelah dibebaskan dari penjara, ia harus menjalani pengobatan di pusat trauma dan penyakit kejiwaan selama kurang lebih satu tahun lamanya."
"Mampukah Harris Risjad berubah ataukah dia memilih untuk mundur dari dunia yang membesarkan namanya?"
Semua suara yang keluar bersahut-sahutan dari televisi itu membuat kepala Harris semakin berdenyut. Ini ada pertama kali dalam seumur hidupnya. Masalah pribadinya terungkap ke permukaan. Saat dia mati-matian ingin tetap mengubur kisah kelam itu jauh di dasar jurang yang tak tersentuh. Seseorang justru mengungkapnya dan mencari gara-gara dengannya.
Dia sudah tidak memperdulikan ponselnya yang terus menggelepar di atas meja. Dia mengabaikan semua telepon yang masuk karena kepalanya sudah sangat pening mendengar semua berita ini. Yang terpenting baginya, Keara sudah aman dan sedang berada dalam pesawat, menunggu proses flight yang akan membawa gadis itu menjauh dari semua pelik yang menimpanya.
Hanya Aswin yang terlihat sibuk menjawab telepon dari banyak klien dan kolega perusahaannya. Dan menanyakan keabsahan berita yang baru saja ter sebar luas.
"Semua dalam kendali kami, Pak.. Jangan khawatir. Besok akan ada press conference dari Mr. Risjad untuk mengungkap kebenaran sesungguhnya. Baik... Ya, Pak.., Tentu...." tutur Aswin mengulang-ulang kalimat yang hampir sama untuk banyak panggilan yang dialamatkan padanya.
"Saya sudah punya bukti tentang siapa orang yang menyebarkan berita ini pertama kali ke media, Bos.." celetuk Bara. Saat dilihat bosnya itu sudah memejamkan mata seraya terus memijat pelipisnya.
"Siapa?"
"Hanna Rosaline."
"Sesuai dugaanku." Harris mengangguk mantap. Dia berdiri dari duduknya. Menumpukan tubuhnya di atas meja ditopang oleh kedua tangannya. "Kau dan Aswin. Lakukan sesuai rencana kita.. Jangan sampai wanita itu lolos dan bebas dari jebakan kita."
Aswin dan Bara kompak mengangguk.
"Kita biarkan saja dia terlena. Merasa sudah menang dan berhasil menghancurkanku. Kita serang dia dengan senjata yang sama. Media." seringai Harris mengerikan.
Baru saja ia mendudukkan diri kembali ke kursi kerjanya. Tapi ia dibuat terkejut dan terbelalak. Begitu pintu ruang kerjanya dibuka dan dihentakkan dengan keras. Hingga bunyi benturan daun pintu yang menabrak dinding terdengar sangat memekakkan. Namun sosok yang menyembul dari balik pintu lebih mengejutkannya.
"Ke-keara? ehm, sa-yang...?"
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih