Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Mendadak Dilamar


🌹 Rumah Keara


"Nah, jadi.. Dalam waktu dekat, keluarga Rafa akan kesini. Melamar kamu secara resmi."


"Hah??" Keara terbelalak. Dia tidak mengenal Rafa dengan baik. Bagaimana mungkin lelaki itu mau melamarnya..?


"Inget ya K.. Kalau sampai keluarga Pak Camat datang ke sini, pantang menolak lamaran. Bisa jauh jodoh kamu nanti.. Tidak baik. Pamali."


"Yaah.. Gak mau Buk.. Itu sih namanya pemaksaan.." sela Keara. "Memangnya gak bisa dicegah biar mereka gak sampai kesini, Buk?"


"Yaa... Kalau kamu belum punya pasangan kenapa harus ditolak? Rafa sudah mapan. Dia kerja di pemerintahan. Ganteng pula.. Ketemuan aja dulu kamu sama Rafanya.. Siapa tau cocok.."


"Tapi Buk.... K gak mauuu..." Keara menempelkan keningnya di meja makan, tanda ia sudah cukup frustasi.


Ia mengerti kekhawatiran ibunya perihal hilal jodohnya yang belum terlihat. Tapi Keara juga tak bisa memastikan apa yang bukan kuasanya.


"Jangan pemilih K.. Ibu itu gak suka denger tetangga gosipin kamu yang enggak-enggak.. Ibu akan tenang kalau kamu sudah menikah dengan pria baik, yang bisa jagain kamu dan membimbing kamu.."


"Maaf, permisi..." suara Harris yang entah sejak kapan datangnya membuat Keara terkejut dan mengangkat kepalanya dengan cepat.


"Mas Harriis.." Keara langsung bangkit menghampiri Harris. "Mau sholat maghrib sekarang? Atau mau ke toilet dulu? Maaf yaa aku lama..."


"Engga, K.. Aku yang minta maaf sudah menyela. Boleh saya duduk, Bu?" tanya Harris meminta ijin pada ibu Keara untuk ikut duduk bersama.


"Iya, nak Harris.. Silakan." Ibu menarik satu kursi di samping Keara untuk Harris.


"Maaf yaa ibu kelamaan yaa pinjam Kearanya.."


"Tidak apa-apa Bu.. Ehm.. Begini," Harris memegang tengkuknya, terlihat sangat canggung.


"Mas Harris kenapa? Ayo ke depan lagi.. Aku sama ibu udah selesai kok.." Keara sudah akan beranjak, tapi ditahan dengan lembut oleh Harris. Ia mulai salah tingkah karena takut Harris salah paham padanya.


"Begini, Ibu.. Saya minta maaf sebelumnya karena sudah lancang. Sungguh saya tidak bermaksud menguping, tapi peembicaraan ibu dan K terdengar oleh saya di depan.." tutur Harris.


Wajah Keara mendadak pucat. Ia belum bisa menebak ke mana arah pembicaraan Harris.


"Oh gitu yaa.. Hehehee.. Ibu kalau ngomong emang gak ada setelan volumenya yaa nak Harris.." ibu terkekeh kecil.


"Begini maksud saya, Bu.. Saya ingin melamar Keara sekarang juga." lugas Harris. Sukses membuat Keara dan Ibu terkejut.


"Mas..." Keara bergumam lirih.


Harris melirik Keara. Gadis itu terlihat kaget sekaligus bingung. Harris meraih jemari Keara, membawanya ke atas meja dan menggenggamnya di hadapan ibu Keara.


"Saya serius ingin melamar Keara untuk jadi istri saya, Bu.. Saya menyayangi Keara dan siap menjadi imam baginya." ucap Harris mantap.


"Saya tidak mengerti bagaimana itikad melamar yang baik.. Mohon petunjuk ibu.."


"Oh.. I-iya nak Harris.."


"Sebelumnya, saya mau memberi tahu kalau saya tidak punya keluarga. Ayah saya sudah meninggal dunia sejak usia saya sepuluh tahun. Ibu saya sudah pergi meninggalkan kami setahun sebelum papa meninggal.. Sampai sekarang saya tidak mengetahui keberadaan mama saya. Tapi saya yakin beliau masih hidup. Saya juga tidak punya saudara. Jadi saya tidak tau siapa yang harus saya bawa untuk mendampingi saya melamar Keara.."


"Mas, lebih baik dipikirin dulu.. Aku....." Keara mencelos. Mendengar pengakuan Harris tentang keluarganya membuat hatinya sakit. Ia mengingat semua kalimat demi kalimat yang tertulis di artikel yang ia baca tentang Alfariz Risjad.


Harris mengeratkan lagi genggamannya pada jemari Keara. "Kalau saya harus bawa keluarga, saya bisa mengajak keluarga Bu Farida. Keluarga almarhum Rizky. Mereka satu-satunya keluarga yang saya kenal.."


"Nak Haris serius? Sudah yakin betul? Apa gak mau dipikirkan dulu?"


"Saya serius Bu.. Inshaa Allah saya yakin. Mungkin terkesan mendadak, dan tanpa persiapan. Tapi saya sudah memikirkannya matang-matang." lugas Harris.


"Ehmm.. Alhamdulillah kalau nak Harris yakin dan sudah mantap. Ibu sih tidak keberatan.." senyum ibu terkembang. Begitu pula dengan Harris. Meski samar, tapi terlihat dari raut wajah lelaki itu kelegaan luar biasa.


Keara melirik ibu dan Harris bergantian, dengan perasaan yang tidak karuan. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Keara tidak menampik kedekatannya dengan Harris akhir-akhir ini membawa debaran yang berbeda. Tapi sungguh itu belum bisa disimpulkan sebagai cinta.


Image Harris sebagai sahabat Rizky masih kental di benaknya. Rasanya aneh saja kalau memikirkan dia akan menikah dengan sahabat dari mantan calon suaminya. Eh, gimana sih..?


"Tapi keputusan akhirnya tetap ada pada Keara yaa, Nak Harris.."


Harris seketika menatap Keara tajam. Dengan sorot penuh pengharapan. Dia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada jemari gadis itu. "Gimana K? Apa kamu menerimaku?"


"Ehmm.. T-tapi.. aku belum siap menikah dalam waktu dekat. Aku juga butuh waktu untuk mengenal mas Harris lebih jauh.. Kita belum benar-benar saling mengenal kan?" Keara menjawab setelah cukup lama berpikir.


"Iya, aku mengerti, K.."


"Apalagi.. Aku sudah pernah gagal menikah setelah lamaran. Aku tidak mau gagal untuk ketiga kalinya...." gumam Keara sambil terus menundukkan kepala.


"Aku ngerti. Aku bisa menunggu sampai kamu siap. Sampai kapanpun.. Kamu harus yakin kalau aku siap kapanpun kamu siap untuk menikah denganku." imbuh Harris dengan penekanan suara demi membuktikan kesungguhannya.


"M-mas Harris mau nunggu?"


"Aku mau selesaiin kuliah dulu. Aku mau wisuda dulu..."


"Anything, K.. Kamu boleh lakuin semuanya yang ingin kamu lakukan, asal demi kebaikan kamu dan keluarga. Aku siap menemani kamu dalam keadaan apapun.." tukas Harris.


Entah dari mana dan sejak kapan, tiba-tiba mas Arman dari balik punggung Keara langsung berseloroh nyaring, "Aseeeekk adek gue dilamaar... Cihuuuyy.."


"Mas Arman ihh.. apaan sih.?!" gerutu Keara. Ia tersipu tanpa berani mengangkat wajahnya.


"Saya minta maaf pada Ibu, mas Arman, dan juga K.. Lamaran ini mungkin sangat mendadak. Saya juga tidak membawa apapun yang seharusnya dibawa untuk melamar putri cantik ibu.. Tapi saya harap lamaran ini bisa dijadikan pengikat agar tidak ada laki-laki lain yang datang ke rumah untuk melamar Keara."


...----------------...


...----------------...


Sepeninggal Harris, dan Keara sudah masuk ke kamarnya setelah makan malam usai. Ketika malam semakin larut dan ibu masih mengupas duo bawang untuk persiapan memasak sarapan besok pagi, Arman datang mendekat.


"Buk, emang bener mamanya Rafa tadi sore datang ke rumah? Kok Arman gak tau? Arman kan udah di rumah dari sore..." Arman melontarkan pertanyaan yang mengganjal di hatinya sejak tadi. Ia sengaja menunggu sampai tidak ada Harris dan Keara karena tidak ingin adiknya menjadi semakin ragu.


"Engga kok.. Ibu ketemu pas belanja sayur.."


"Laahh..?"


"Tapi beneran kok.. Mama Rafa nanyain K udah ada calon apa belum. Soalnya si Rafa nanyain, katanya.."


"Terus ibu jawab apa?"


"Ibu jawab aja K udah punya calon.."


"Loh?" Arman semakin mengerutkan kening. Tidak memahami skenario ibunya.


"Ya ibu gak rela laah.. Rafa mau pdkt sama Keara. Ibu kan tau kalau Rafa itu sering bawa cewek, gonta ganti lagi ceweknya.."


"Nah, trus ibu tadi kenapa ngomong sama K Rafa mau datang nglamar?" tanya Arman lagi.


"Ya kan kelanjutan dari pdkt, ya lamaran Mas.."


Arman berpikir sejenak. Keningnya sudah berkerut-kerut memahami cerita sang ibu.


"Berarti gak ada omongan mereka mau datang ke rumah buat melamar?"


"Belum sempat aja, Mas.. bukan gak ada." Jawab ibu santai.


"Ya Allah.... ibuk ngeprank Keara??" pekik Arman dengan membulatkan matanya.


"Husshh.. Kecilin suara kamu nanti K dengar.."


"Apa itu prank? Ibu gak ngerti... Ibu tuh cuma kasih penyemangat. Dorongan buat Nak Harris biar berani maju gitu loh.."


"Astaghfirullah.. Buk.. itu sama aja pemaksaan.. penipuan..." Arman mengusap dadanya. Sangat kontras dengan sikap ibu yang tenang.


"Pemaksaan apanya.. Harris datang sendiri dan melamar sendiri. Ibu gak maksa tuh.. Ibu juga ga ngajak Harris bicara. Harrisnya aja yang langsung nyambar ke dalam.."


"Iya.. Tapi ibuk sengaja ngomongnya pas ada Harris disini.."


"Nah, betul itu. Hahahaa..." ibu tergelak.


"Harris itu se-tipe sama kamu. Kalau gak dipecut ya ga jalan. hehehee.. Ibu cuma ngasih pecutan sedikit kok.. Eh ternyata disambut baik."


"Lagian coba dipikir mas, kalau Harris ga ada perasaan apa-apa sama Keara, harusnya dia tenang-tenang aja kan denger Keara mau dilamar. Tapi lihat tadi? Harris langsung kelabakan dan mendahului ngelamar K.."


"Itu tanda kalau Harris memang cinta dan serius sama Keara, Mas..."


"Ampuun... Kasian banget kamu, Ris.. Harriis.. Masuk jebakan batman ibuku..." ujar Arman sambil melenggang pergi. Masuk kembali ke kamarnya.


"Jebakan batman itu apa?" tanya ibu. Tapi keburu Arman menjauh.


"Eh ini rahasia ya Mas.. Hanya kita berdua yang tau..." seru ibu.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih