
"Mas yakin ngijinin tante Martha tinggal disini sama kita?" tanya Keara begitu keduanya sudah masuk ke kamar.
"Ehmm.. Maksudku bukannya aku keberatan, tapi..."
"Iya, sayang.. Aku ngerti. Mungkin kamu ngerasa gak nyaman.."
"Bukan begitu, cuma....."
Keara sulit mengungkapkan apa yang ada di benaknya. Ia takut Harris akan salah paham mengira ia tidak menyukai tinggal bersama anggota keluarga suaminya itu. Tapi entahlah.. Keara juga tidak tau mengapa ia merasa ada yang mengganjal dengan sikap tante Martha. Tapi terlalu abu-abu sehingga Keara tidak bisa menjelaskan perasaan ganjal itu pada Harris. Terlebih lagi, tante Martha pernah berbuat jahat pada suaminya itu di masa lalu.
"Sayang, aku ngerti perasaan kamu..." tutur Harris lembut. "Aku sudah menyelidiki tante Martha. Memang rumah dan semua aset mereka disita oleh bank. Aku hanya kasihan pada Stella. Dia masih seusiaku dulu..."
"Maaf mas.." lirih Keara bergumam.
"Hey.. Kenapa istriku meminta maaf..?" Harris mengecup bibir Keara singkat. "Aku tau kamu hanya mengkhawatirkan aku.."
"Aku pikir membiarkan tante Martha tinggal di luar sana akan lebih sulit untuk mengontrolnya. Aku juga susah menjagamu.. Kalau di rumah ini, banyak yang bisa menjagamu. Dan banyak juga yang mengontrol tindakan tante Martha."
Keara mengangguk pelan. Ia paham maksud suaminya. Seperti istilah memasukkan musuh ke dalam istana untuk mengendalikan pergerakan lawannya itu.
"Jangan berpikir macam-macam, sayang.. Aku janji akan selalu melindungi kamu, hm?"
Keara mengangguk lagi. Tapi kali ini disertai senyuman dan tatapan penuh cinta untuk suaminya. Ia masih merasa berdebar setiap kali Harris menyentuh dan membelai pipinya dengan lembut. Meski sudah dua minggu mereka menjadi suami istri.
"Mas, apa nanti aku boleh pulang ke rumah ibuk? Aku kangen sama ibuk dan mas Arman..."
"Boleh dong sayang.. Nanti malam ke rumah ibuk sama aku juga yaa.."
Keara mengangguk.
"Sekarang kita istirahat dulu. Sini aku bantu lepasin baju kamu.."
"Heh? Kenapa istirahat aja pake lepas baju?? Dasar mesum.." Keara mendesah kesal. Suaminya benar-benar di luar ekspektasi. Gairahnya terlalu berapi-api. Padahal sudah dua minggu penuh honeymoon.
"Biar enak istirahatnya sayang..." Harris tidak memperdulikan tatapan penuh ancaman istrinya. Dia tetap dengan gerakan penuh tipu muslihat melepas kaus dan celana jeans Keara.
Keara terkekeh melihat tingkah jahil Harris. Bagaimana bisa suaminya itu tidak lelah setelah menempuh enam jam perjalanan di udara..? Keara tidak tahan kalau tidak mendaratkan cubitan manja di dada suaminya.
Meskipun begitu, Harris tidak bergeming. Ia tetap mendorong istrinya sampai keduanya jatuh terlentang di ranjang. Dan serangan berikutnya sama sekali tidak ditampik oleh Keara. Wanita itu justru menikmati setiap sentuhan Harris. Terbukti dari desa han merdu yang terlontar dari bibirnya dan gerik tubuh yang mulai bisa mengimbangi ritme hujaman alat tempur Harris. Keduanya memanaskan ranjang tidur Harris untuk pertama kalinya.
"Mas Harris.. Kalau di sini ada kameranya, berarti kita.. tadi.. kerekam..?" Keara berucap dengan tersengal. Usai menuntaskan ritual penyebaran bibit kehidupan, mereka berdua berbaring miring seraya berpelukan hangat.
"Engga, sayang.. Semua kamar tidur dan kamar mandi tidak ada kameranya." jawab Harris. "Tapi kalau kamu mau adegan tadi direkam, ayo kita reka ulang lagi sambil menyalakan kamera ponselku.."
"Dasar suami sengklek.."
...----------------...
"Assalamualaikum....." seru Keara begitu kakinya menapak di pelataran rumah ibunya. Genggaman tangannya tidak lepas sedikitpun dari tangan besar
Wanita tua dari arah dalam rumah setengah berlari menyongsong anak gadisnya itu. Disusul seorang lelaki tinggi dan jangkung. Mereka Ibu dan Mas Arman.
Keduanya langsung memeluk erat Keara Mereka sangat merindukan Keara. Gadis cerewet kesayangannya itu ternyata membuat suasana rumah jadi sepi sejak ia menikah.
Harris menyalami ibu mertua dan kakak iparnya. Setelahnya mereka masuk ke rumah dan Keara dengan hebohnya menceritakan pengalaman honeymoon nya melancong di tiga negara. Korea, Hongkong, dan China. Tidak hanya mengunjungi tempat-tempat wisata, Harris juga membawa Keara untuk berkunjung ke perusahaan rekanannya. Agar Keara memiliki gambaran, kemana Harris akan pergi jika berada di salah satu dari negara itu.
Keara juga membawakan banyak sekali oleh-oleh untuk ibunya dan mas Arman. Mulai dari baju, tas, sepatu, makanan kering, cindera mata, kosmetik-kosmetik lucu.
"Astaghfirullah, K.. Ini banyak banget.." tegur ibu begitu Keara membongkar isi koper yang dibawanya. "Kamu jangan boros nak. Walaupun nak Harris punya duit, tapi alangkah baiknya kalau..."
"Tidak apa-apa, Bu.. K sangat berhemat sampai saya harus memaksanya membeli sesuatu.." sela Haris.
Keara tertawa puas.
"Senengnyaa.. punya suami jadi ada yang belain sekarang.." seloroh mas Arman.
"Iya dong.. Hehehee...."
Keara dan Ibu melanjutkan obrolan mereka sampai ke dalam kamar lama Keara. Sedangkan mas Arman dan mas Harris mengobrol santai di teras. Mas Arman merokok dan Harris hanya duduk menerawang langit gelap dan bintang yang berkelipan.
"Ris.. Maaf sebelumnya. Tapi aku ingin bertanya sesuatu." ucap mas Arman.
"Silakan, mas..."
"Kenapa kamu memberi uang pada bapakku?"
Harris menoleh tajam. Ia cukup terkejut dengan pertanyaan Mas Arman.
"M-mas.. Mas Arman tau dari mana?" tanyanya dengan nada terbata.
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih