Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Ngidam Pizza


Harris mengendarai mobil mewahnya. Membelah jalanan malam yang cukup lengang dengan kecepatan sedang. Sebelah tangannya menggenggam erat jemari lembut wanitanya. Senyum dan raut bahagia juga terpancar dari wajah seorang Harris Risjad.


Bagaimana tidak? Baru sejam lalu dia dan wanita hamil di sisinya saat ini menghabiskan hidangan makan malam di rumah. Tapi sang istri sudah mengeluh lapar lagi dan ingin makan pizza.


Harris dengan senang hati menuruti keinginan istrinya. Lagipula kalau diingat-ingat, sudah lama juga mereka tidak makan di luar. Usia kandungan Keara sudah menginjak bulan ke enam, itu artinya semakin berkurang waktu bagi keduanya menghabiskan waktu berduaan saja layaknya pengantin baru. Sebelum nantinya akan diruwetkan dengan kehadiran dua bayi kembar yang sudah pasti akan menyita waktu dan perhatian sang istri.


"Sayang, kalau sampai kamu melahirkan aku harus menemanimu makan berulang kali seperti ini, perutku bisa meledak.." kelakar Harris.


"Tentu saja bukan hanya sampai aku melahirkan mas.. Tapi sampai aku kelar menyusui si kembar nanti." timpal Keara.


"What?!" Kali ini Harris berhasil dibuat terperanjat sampai menoleh tajam ke arah Keara. "Ehmm.. Sayang, aku nanti temenin kamu aja makannya.. Aku gak ikut makan yaa.. Aku masih kenyaaang banget."


"Gak bisa! Gak boleh!" tegas Keara.


Harris mencelos. "Sayang.. Lihat nih perutku makin buncit semenjak kamu hamil. Aku jadi ikutan sering makan, nyemil, bahkan siang hari pun kamu anterin makanan ke kantor atau kirim makanan via ojol. Berat badanku udah gak terkontrol lagi niih..."


"Bagus dong.. Maghnya mas Harris biar gak kambuh-kambuh lagi."


"Ya tapi kan masa aku jadi kayak orang hamil jg sih sayang...."


"Halaah.. Cuma buncit seuprit begini. Kalau cuma segini sih ga bisa disamain sama orang hamil tau gak sih.." Keara menanggapi protes sang suami dengan santainya. "Lagian mas Harris ngeluh buncit karena takut gak ganteng lagi? Atau ada pegawai cewe yang mas incar jadi mas Harris malu kalau perutnya buncit? Gitu?"


"Eeeh.. Kenapa larinya jadi ke cewek lain sih..? Enggak... Enggak.. Gak kayak gitu sayang...."


"Alaah.. Cowok mah egois. Kami para wanita ga keberatan jadi gendut, berat-berat nenteng bayi dalam perut kemana-mana, muka sampai badan gak keurus, demi jaga buah hati berdua. Tapi sekalinya istri gak keliatan menarik lagi gara-gara hamil atau hal lainnya, langsung deh para suami tebar pesona ke cewek-cewek di luar sana. Alasannya yang di rumah udah ga bisa merawat diri.. Gitu kan?!"


"Astaghfirullah.. Kamu ini makin ngelantur aja." Harris melepas genggaman tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi tanda menyerah. "Oke. Oke, cintaku bidadariku.. Aku temani kamu makan pizza, oke? Kalau perlu seloyang penuh aku habisin semua. Puas??"


Keara tergelak. Tawa penuh kemenangan meledak mengisi keheningan dalam mobil malam ini. Dia memang tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Keara hanya berniat menggoda suaminya saja tadi karena tidak terima kalau Harris tidak ikut makan bersamanya.


Baginya, setiap hal yang dilakukan bersama dengan Harris sangat menyenangkan. Entah itu tidur, menonton film, menemani Harris bekerja, makan, sampai mandi sekalipun. Mungkin bawaan hamil. Atau mungkin juga itu hanya alasan Keara menutupi kebucinannya pada sang suami yang mulai mengakar kuat dalam hatinya.


Harris hanya menggeleng geli. Sikap manja dan cerewet istrinya itu semakin menjadi-jadi semenjak ia hamil. Gak kebayang kalau nanti anak kembarnya meniru kebiasaan Keara. Sudah bisa dipastikan telinganya akan sering memanas tiap kali trio cerewet itu menyerangnya bersamaan.


Tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah restoran Italia yang memiliki menu pizza favorit Keara. Dengan mata berbinar Keara berjalan memasuki restoran. Tak lupa lengannya melingkar erat pada lengan kekar Harris. Seperti takut kalau-kalau sang suami akan melarikan diri.


"Seneng banget sih mamanya si kembar inii.." celetuk Harris sesaat setelah mereka sudah duduk di salah satu meja dekat jendela besar. Dengan pemandangan jalan raya di malam hari yang gemerlapan.


"Iya dong, sayang..." jelas Keara dengan wajahnya yang berseri-seri.


Pramuniaga restoran mencatat pesanan pizza sepasang insan yang berbahagia itu. Dua loyang pizza berukuran large dengan toping melimpah dan pinggiran keju mozarella yang menggugah selera. Menggugah selera bagi Keara. Bagi Harris lain lagi ceritanya. Dia sudah merasa perutnya penuh bahkan sebelum pizza pesanannya terhidang.


"Mas, aku ke toilet dulu yaa.. mau pipis."


Keara bangkit dari kursinya. Mencari letak toilet di resto tersebut. Kemudian langsung beranjak begitu mengetahui kamar kecil yang ia cari. Harris menawarkan diri untuk mengantar. Tapi ditolak oleh Keara. Dia masih cukup kuat untuk pergi ke toilet sendiri.


Ketika hendak mencuci tangannya di wastafel, terdengar oleh Keara sapaan seorang wanita seusia ibunya. Meskipun dari penampilannya, wanita itu tampak lebih elegan dengan make up cantik serta baju dan tas bermerk. "Wah.. Hamil berapa bulan nak?"


"Enam bulan, Bu.." jawab Keara dengan senyum ramah menghiasi wajah cantiknya. Ia mengusap jemari-jemari tangannya dengan handsoap beraroma buah.


"Oh.. Ibu kira malah sudah tujuh atau delapan bulanan.. Kelihatan besar.." sahut si nyonya.


"Waah.. Senengnya. Saya juga punya saudara kembar. Tapi anak-anak saya sampai saat ini belum ada yang pernah hamil kembar. Hehehee.. Kayaknya anak-anak saya nurun gen bapaknya semua ya.." cicit si ibu dengan suka rela membeberkan masalah hidupnya tanpa Keara tanya. Tapi Keara senang saja. Ia menanggapi dengan sopan.


"Berarti ibu sudah punya cucu? Saya kira masih muda, Bu..." sahut Keara.


"Hahaa.. Kamu bisa saja." si ibu menanggapi dengan tawa renyah. Mereka berdua pun masih melanjutkan senda gurau. Mereka bahkan sempat berkenalan seraya berjalan keluar dari toilet dan kembali masuk ke area restoran.


"Ibu sama keluarga kesininya?"


"Iya, ibu diajak sama menantu ibu. Menantu ibu kebetulan ada perjalanan bisnis kesini. Biasa laah.. Ibu bantu-bantu ngurus cucu yang masih bayi."


"Oh.. Jadi ibu dari luar kota?"


"Iya, sejak menikah dengan almarhum suami ibu, ibu merantau ke Kalimantan dan tinggal disana selama ini." tutur si ibu. "Nak Keara sendiri kesini sama siapa?"


"Sama suami saya, Bu.. Malam-malam tiba-tiba ngidam pengen makan pizza."


"Hehee.. Iya wajar, lagi hamil.. Lagi enak-enaknya bermanjaan sama suami."


Keara tersenyum manis menanggapi wanita berkelas di sampingnya ini. Batinnya justru membayangkan betapa kesalnya mas Harris diajak makan pizza setelah selesai makan malam.


Mereka berpisah menuju meja masing-masing. Keara dan ibu itu sempat melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.


Semakin dekat dengan sang suami, Keara justru melihat keanehan pada air muka Mas Harris. Wajah tampan kekasih hatinya itu entah kenapa terlihat kaku dan memerah. Seperti menahan marah atau sedih, Keara tak mengerti.


"Sayang.." sapa Keara riang. Menutupi rasa penasarannya sebisa mungkin.


Harris langsung berdiri. Ia mencengkram lengan Keara dan menariknya pergi. "Ayo pulang." titah Harris singkat dan tegas.


"Tapi mas.. kita belum makan apa-apa." protes Keara. Keara bahkan melirik meja yang masih kosong. Hanya berisi dua gelas air mineral yang masih utuh.


"Kita makan di rumah."


"Tapi kenapa, mas? Kenapa tiba-tiba mau pulang.. Aku mau makan..." protes Keara. Keara sedikit meronta agar cengkraman Harris terlepas. Tapi gagal. Harris begitu kuat mencengkram tangannya.


"Nanti aku minta di take away saja pizzanya. Puas?" sahut Harris tajam. Matanya merah dan penuh amarah yang sama sekali tidak Keara tau penyebabnya.


Tanpa sadar, air mata Keara menitik ke pipi mulusnya.


......................


Up ulang. Karena yg kemaren gak tau kenapa episodenya ga urut 😌


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih