
Minggu pagi yang cerah. Keara duduk menonton tivi setelah sarapan bersama ibu dan mas Arman. Pagi-pagi sekali dia bahkan sudah mandi. Sungguh fenomena alam yang langka.
"Ciyee.. Anak ibu sekarang rajin mandi. Sejak dilamar Harris tuh.." seloroh ibu. Dan sukses membuat bibir Keara mengerucut sedangkan mas Arman tergelak penuh nada ejekan.
"Emang cinta itu bikin kita sadar pentingnya mandi ya Bu.." timpal Arman.
"Iya dong, mas.. Biar wangi dan cantik kalau ketemu pujaan hati. Hahaa.." seru ibu lagi.
"Iiih kenapa pada lebay sih..? K mau masuk kamar aja deh. Males sama orang-orang yang gak paham pentingnya kesehatan dan kebersihan yang dimulai dari hal kecil. Mandi pagi salah satunya.." balas Keara. Dia langsung bangkit dari duduknya.
"K, daripada kamu kangenan tiap hari karena Harris sibuk, benernya kamu terima aja tawaran kerja jadi asisten Harris.. Enak kan, bisa ketemu tiap hari, ngintilin dia kemana-mana, terus dapet gaji lagi.. Triple kill!!" ujar mas Arman dengan gaya lebay yang dibuat-buat.
"Siapa juga yang kangenan...?"
"Halaah mas Arman bisaan nasehatin orang. Sendirinya gak berani nyeriusin mbak Merry.. Dih, cemen!"
"Hari minggu nih, gak pengen ngajak jalan-jalan apa? Kasian banget mbak Merry pacaran sama mas Arman.. Anyep." balas Keara. Setelah itu langsung terbirit-birit lari masuk ke dalam kamar menghindari sambitan remote tv dari kakaknya.
Keara berganti pakaian. Memakai make up tipis dan menyemprotkan parfum favoritnya. Beberapa kali ia mematut dirinya di depan cermin. Mencoba satu baju, dan berganti-ganti dengan baju lain yang menurutnya lebih pas. Di alam bawah sadarnya, sungguh ia sangat exciting untuk pertemuannya hari ini dengan Harris. Ia bahkan sudah deg-degan sejak bangun tidur pagi ini. Halaah.. Bodohnyaa orang yang lagi kasmaran.
Bohong kalau dia tidak kangen pada Harris. Dua hari Harris kerja di luar kota komunikasi mereka tersendat. Cukup membuat Keara gundah gulana. Berkali-kali melihat ponselnya untuk mengecek balasan pesan dari Harris. Dan berkali-kali pula ia menimbang ingin menelepon atau bervideo call dengan lelaki itu. Tapi selalu urung ia lakukan karena takut mengganggu kesibukannya bekerja.
Keara mulai bisa membaca ritme berkomunikasi dengan Harris. Di jam kerja dia akan lebih lama membalas pesan. Meskipun masih dalam tahap wajar. Tapi masih bisa telepon dan video call.
Saat Harris bekerja di luar kota atau luar negeri, komunikasi keduanya akan semakin terjeda lebih lama. Harris juga tidak pernah meneleponnya, saat malam sekalipun. Hanya pesan chat yang terbalas lebih lambat dari biasanya.
"K.. Harris dateng tuh..." teriakan mas Arman, spontan memacu detak jantungnya semakin menjadi-jadi.
"Iyaaa..." Keara bergegas keluar kamar. Mendapati Harris sudah duduk di teras rumahnya bersama ibu.
Keara dan Harris berpamitan pada ibu. Harris mencium punggung tangan ibu seeprti biasanya. Sama seperti Keara. Nampak jelas bukti didikan keluarga Bu Farida yang menurunkan nilai-nilai kesantunan yang baik.
Di dalam mobil, Keara tersenyum tipis melirik Harris yang tampak ganteng dengan outfit casual. Hanya memakai kaos putih dan celana jeans belel.
"Kamu cantik banget hari ini.." ujar Harris dengan senyum tipis dan mata tetap tertuju ke jalanan di depannya.
Keara senyum tertahan. Dia tidak menjawab, hanya membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Dia yakin Harris tau tentang ekspresi malu-malu yang saat ini tergurat di wajahnya. Belum lagi pipi yang sudah memerah. Memalukan.
"Aku kangen banget sama kamu, K.. Jangan ngadep sana mulu dong." ucap Harris dengan senyum menggoda.
"Apa siih... Ini juga udah ketemu..." seloroh Keara seraya berputar haluan jadi menatap Harris yang sedang mengemudi. Tidak peduli lagi wajahnya yang bersemu merah. Apalagi senyuman Harris yang merekah kian lebar.
"Kita mau kemana dulu ini?" tanya Keara kemudian.
"Langsung ke mall. Nyari cincin tunangan. Tapi temenin aku sarapan dulu ya K.."
"Jam segini belum sarapan?" Keara melirik jam tangannya, sudah pukul sepuluh pagi. "Emang mas Harris bangun kesiangan?"
"Hemm.. Tadi abis sholat shubuh aku tidur lagi."
"Terus setelah bangun tidur dan sebelum datang ke rumahku, kan bisa sarapan dulu.."
"Gak sempet masak.. Aku pikir lebih praktis makan di luar. Bisa lebih cepat ketemu sama kamu juga. Aku kangen banget tau sayaang.."
"Emang ga dimasakin Bik Santi?"
"Bik Santi pulang kampung. Suaminya sakit..,"
"Kenapa tadi ga bilang? Kan bisa sarapan di rumahku tadi.."
"Gak apa-apa, sayang.. Aku malu tiap ke rumah kamu numpang makan terus.."
"Ya gak apa-apalaah.. Cuma makan doang. Ya kecuali mas Harris emang gak suka kalau makan masakan kampung. Lebih suka makan di restoran mewah dengan harga yang fantastis cuma buat porsi makanan seuprit.." Keara melipat tangannya di dada. Tapi sedetik kemudian Ia seketika menutup rapat mulutnya. Menyadari pasti dia telah salah bicara.
Keara menatap Harris yang memijat pelipisnya dengan jemari. Lelaki itu bahkan tidak ada ekspresi dan keinginan untuk membalas ucapan Keara. Lama suasana hening mencekat keduanya. Hingga terdengar nafas Harris menghembus kasar.
"Kamu tau aku tidak seperti itu." hanya kalimat singkat itu saja yang terlontar dari bibir Harris.
Keara tau betul, Harris lebih menyukai masakan rumahan. Selama hidupnya, ia jarang makan di rumah. Karena itu, saat ada kesempatan makan makanan bu Farida atau ibu Keara, Harris sangat menunjukkan kebahagiaannya. Apapun makanan yang terhidang, meski jauh dari kata mewah dan mahal.
Harris melirik Keara. Gadis itu sedikit menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Melihat itu Harris spontan tersenyum.
"Bibirnya jangan digigit gitu, kasian.." ucap Harris memecah keheningan.
"Kasian apa?"
"Kasian sama aku.."
"Heh?"
"Aku kan jadi pengen gigitin juga..."
Keara memukul pelan lengan Harris. Dengan senyum tersipu yang semakin mempertebal rona merah di pipinya. Harris mengusap lembut puncak kepala Keara.
"Aku kangen sama cerewetnya kamu.. Tapi jangan bilang aku gak suka makan masakan kampung. Masakan ibu kamu enak banget gak ada lawan. Aku sungguh-sungguh merasa tidak enak saja, sudah sering makan di rumah kamu.."
"Iya.. Maaf.." tutur Keara dengan raut cemberut yang menggemaskan.
Harris mengusap lembut pipi gadis itu dengan penuh kerinduan. Keara yang merasa ada yang aneh langsung menangkap tangan besar yang menempel di pipinya. Memegang tangan itu dengan kening berkerut.
"Mas Harris demam?" Keara menempelkan punggung tangannya ke pipi dan dahi Harris. Mencoba memastikan suhu badan lelaki itu.
"Iya, mas Harris lagi demam kan ini? Kenapa memaksakan tetep keluar sih mas..? Kalau Mas Harris kenapa-napa gimana? Kayak anak kecil aja sih udah tau lagi sakit masih nekat pergi main.."
Rentetan omelan Keara justru membuat Harris tergelak. Dia merasa kepalanya semakin berdenyut. Sakit. Tapi ada sebongkah kebahagiaan yang menghangatkan hatinya.
Sudah lama. Sudah sangat lama tidak ada yang menyadari ia sedang demam atau tidak, kalau ia tidak bicara. Sekalipun Bik Santi. Tidak ada yang mengkhawatirkan saat dia keluar rumah saat sedang demam. Dan tidak ada yang berani mengomelinya.
"Malah ketawa.. Bandel banget sih. Putar balik sekarang. Mas Harris pulang aja. Nanti aku bisa pulang sendiri dari rumah mas Harris.. Ayo putar baliikk.." ketus Keara.
"Nyari cincin kan bisa besok besok.. Masih ada waktu. Ini udah tau lagi demam malah keluar, belum sarapan pulak.. Iiihh ngeselin banget sih.."
"Aku gak apa-apa, K.. Beneran."
"Ini demam, mas.. Ngerti gak sih.."
"Aku cuma terjangkit malari..."
"Malaria??!!" Keara terperanjat.
"Malarindu."
Huuuhh.. Prett!!
...----------------...
...----------------...
Segini dulu dobel up nya 🥰
Buat nemenin malam tahun baru...
Selamat tahun baru, reader kesayangan mas Harris semuaaa 🌹🌹
🎉🎉 HAPPY NEW YEAR 🎊🎊
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih