Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
A Night to Remember (2)


Mas Harris berbalik dan hendak berjalan menjauh. Meninggalkan Keara yang masih diam mematung.


Baru lima langkah Harris berjalan. Keara dengan cepat berlari menyusul lelaki itu. Ujung Heelsnya yang tertancap ke pasir membuat langkahnya melambat. Ia menghentakkan kakinya hingga kedua heelsnya terlepas dan lanjut berlari dengan kaki telan*jang.


Diraihnya telapak tangan besar lelaki itu untuk menghentikan langkahnya. Keara memilih cara cepat menghentikan Harris. Karena terlalu lama kalau menunggu ia bisa mengejar mendahului lelaki itu.


Harris langsung berbalik karena raga Keara yang masih berada di belakangnya. Menatap gadis yang saat ini sedang menepuk-nepuk dada demi menetralkan nafasnya yang tersengal.


"Ma-af... Jangan pergi..!" ujar Keara dengan nafas yang masih belum teratur.


Mendengar itu, Harris langsung tersenyum lebar. "Of course, sweetheart.. Bisa melihatmu saja sudah butuh perjuangan berat, mana mungkin aku pergi begitu saja."


"Ta-pi itu tadi mau pergi...."


"Enggak.. Siapa bilang?? Aku cuma lagi pengen dikejar sama kamu aja..." jawab Harris santai. Padahal Keara sudah merengut dan melotot padanya..


Keara menghempaskan tangan Harris yang tadi digenggam olehnya. Kesal karena merasa dikerjai oleh Harris.


"Kalau tadi aku ga ngejar gimana??" tanya Keara.


"Ya aku balik lagi.."


Keara mengernyit. Sedang Harris tersenyum makin lebar.


Harris mengusap lembut pipi Keara. "Karena rinduku lebih besar dari pada gengsiku, sayang.."


Keara tertunduk. Ia malu tapi juga merasa tersanjung dengan ucapan Harris. Tidak terasa air matanya menitik.


"Ma-af," lirih Keara berucap sambil terus menunduk. "Ucapanku waktu itu pasti sangat menyakitkan.."


Harris mengangkat wajah gadis kesayangannya itu. Satu tangannya masih betah membelai pipi gadisnya. Sedang tangannya yang lain meraih pinggang ramping Keara dan merapatkan dengan raganya.


"Aku juga pasti sangat melukaimu.. Sampai kamu mengucapkan kata-kata itu. Maafkan aku juga, sayang.."


Keara mengangguk.


Harris meraih tubuh mungil gadis itu. Direngkuh ke dalam pelukannya. Meleburkan kerinduan yang terasa sangat menyiksanya selama seminggu terakhir ini. Sungguh ia sangat menikmati saat lengan Keara melingkari tubuhnya dan membelai punggungnya dengan lembut.


"Maafkan aku sayang.. Aku sama sekali tidak bermaksud menjauhkanmu. Apalagi aku sengaja melakukannya karena tidak mau berada di sisimu.. Itu sangat tidak benar. Dan aku yakin, di hati kecilmu pun tau bahwa semua ucapanmu itu tidak benar.."


"Bahkan seandainya saja semua manusia di dunia ini meninggalkanku, satu-satunya orang yang ingin tetap kumiliki adalah kamu, K.."


Keara mengangguk. Meski tidak melihat, ia yakin mas Harrisnya bisa merasakan gerakan kepala yang melekat di dada bidang itu.


"Kamu tau sayang? Lebih dari setengah umurku kuhabiskan sendirian. Tidak ada yang peduli apa masalah yang menimpaku, bagaimana perasaanku hari ini, dan bagaimana cara duniaku berputar? Semua kurasakan dan kulalui sendiri.."


"Karena itu, sayang.. Aku tidak terbiasa membagi bebanku dengan orang lain. Aku pun merasa tidak ingin membebani orang yang kusayang dengan masalah-masalahku. Bukan karena aku tidak menerimamu di duniaku, sayang.. Sungguh bukan begitu. Aku hanya ingin memastikan kebahagiaanmu.."


"Kalau ada yang harus kubagi denganmu, maka aku ingin hanya berbagi kebahagiaan saja, sayang.."


"Tapi aku mau mas Harris merubah pikiran itu.. Aku mau kita bersama-sama melalui semuanya. Se-mu-a-nya! Kebahagiaan atau pun kesedihan.. Kita berbagi semuanya. Aku ingin selalu ada di saat terbaik dan juga terpuruk mas Harris.."


"Iya, sayang.. Aku ngerti. Karena itu maafkan aku.."


Keara mengangguk lagi.


"Aku sangat merindukanmu sayang.. Apa kamu juga merindukanku?" tanya Harris tanpa melonggarkan pelukannya.


"Apa kamu menunggu kedatanganku kemarin?"


Keara mengangguk. Dia terpikir sesuatu. Kemudian menengadahkan wajahnya menatap Harris tanpa melepaskan pelukan. "Apa mas Harris yang merencanakan liburan ini dan sengaja mengerjaiku?"


Harris terkekeh. Ia lalu menjawilkan ujung hidungnya dengan ujung hidung Keara. "Bukan ngerjain sayang... Aku pikir aku akan kesulitan bertemu denganmu kalau kamu tetap ada di dalam rumah.. Jadi aku meminta tolong pada Ocha untuk mengajakmu liburan ke Bali.."


Keara kembali membenamkan kepalanya di dada Harris. Ia tidak ingin lelaki itu melihat wajahny ayang sudah bersemu merah.


"Lalu datang memberi kejutan dengan bernyanyi seperti tadi? Aku gak nyangka mas Harris seorang beliebers.. " ujarnya setengah meledek.


Harris menarik tubuh Keara, melepaskan pelukan mereka agar bisa melihat wajah gadisnya lebih jelas.


"Kenapa, sayang? Apa lagunya tidak enak atau kamu tidak suka?"


Keara menggeleng sambil tertawa.


"Katakan, K.. Kalau kamu gak suka lagunya, akan kubunuh si Aswin.. Dia yang nyuruh aku latihan menyanyikan lagu ini.."


Keara tergelak semakin keras. "Jadi tiga hari ini mas Harris gak datang nyariin aku karena lagi latihan nyanyi lagu ini? Hahahaa... Tapi harus kuakui suara mas Harris oke juga kok.. Bentar lagi pasti viral.. Secara mas Harris udah terkenal kayak selebgram sekarang... Kalau diseriusin dikit bisa-bisa mas Harris lebih famous dari Justin Bieber.. Hahahaahaa.."


"Kamu menertawakanku, sayang? Hm..?" Harris merangsek maju. Melekatkan bagian tubuh bagian depannya pada sang wanita. Dengan kedua tangannya menangkup kepala Keara.


Keara berusaha menghentikan tawanya. Meskipun dengan menutup mulutnya, tawa mengejek itu masih saja lolos dari bibirnya.


"Maaf.. Maaf.. Aku tidak akan tertawa lagi.. Hahaa.. Aaeemmmpphh.."


Benar saja. Harris mempunyai cara yang lebih ampuh untuk menghentikan tawa Keara. Gadis itu seketika diam seribu kata saat ini. Bibir manisnya sedang dilu*mat dengan rakus oleh Harris. Ciuman yang dalam dan penuh gairah. Tidak memberi jeda sedikitpun hanya untuk bernafas.


"Lihat kan, caraku lebih baik untuk menghentikan tawa ejekanmu.." ujar Harris setelah melepaskan ciumannya pada sang gadis.


"Dasar mesum." Keara menutup bibirnya dengan sebelah tangan. Entah bagaimana rupanya sekrang. Lipstiknya pasti sudah belepotan karena ulah Harris.


"Beberapa hari ini Aku sibuk mengurus pekerjaanku, sayang.. Bukan karena aku sengaja tidak mencarimu.." tutur Harris lembut. Tangannya masih betah membelai pipi Keara, dengan ujung jarinya mengusap bibir indah itu. Dia merapikan lipstik Keara yang berantakan karena ulahnya.


"Aku mau kalau kita menikah bulan depan, pekerjaanku sudah tidak akan terlalu mengganggu lagi.. Kita bisa bulan madu dengan tenang setelahnya.."


"Hahh? B-bulan depan??"


"Iya, sayang.. Aku sudah bicara dengan ibu kamu, dan kami sudah sepakat kalau pernikahan kita tanggal dua puluh lima bulan depan.. Pihak WO juga sudah tau dan mengurus semuanya dengan cepat.."


Keara terbelalak. Sedang Harris masih tenang saja, tidak merespon keterkejutan Keara. Dia memang tidak main-main ingin mempercepat pernikahannya dengan gadis ini. Perpisahan karena kesalah pahaman yang terjadi kemarin sangat membuatnya belajar dan tidak ingin sampai terulang kembali.


...----------------...


...----------------...


Harris Risjad said : Bagi vote hari seninnya kakaa 🥰 Jangan lupa klik rating bintang lima jugaa yaa.. Buat modal nikah nih.. hehehee


...⭐⭐⭐⭐⭐...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih