
Tiga hari berlalu. Keara masih enggan mengangkat tubuhnya usai melaksanakan sholat shubuh berjamaah dengan Mas Harris. Bahkan ketika sang suami sudah selesai mandi dan berganti baju, barulah Keara turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan suaminya.
Pagi yang indah setelah pertempuran ranjang beberapa ronde semalam. Akhir-akhir ini Keara selalu merasa kelelahan di pagi harinya. Sampai membuatnya kembali bergelung di ranjang setelah menunaikan sholat shubuh.
"Selamat pagi kak K.." sapa Stella begitu mendaratkan pantatnya ke kursi meja makan.
"Pagi, Stella..." Keara mengangkat roti panggang. Menawarkan pada Stella.
"Yes, please.." jawab Stella dengan wajah sumringah. Terlalu sering berinteraksi dengan Keara membuat Stella jadi lebih ceria dan tidak canggung lagi. Meskipun di depan Harris dan mommy Martha, Stella akan kembali ke mode pendiam dan canggung lagi.
"Mommy kamu ga ikut sarapan bareng, Stel?"
"Mommy udah berangkat kerja pagi-pagi sekali.."
Keara mengangguk paham. Lantas kembali ke aktifitasnya menyiapkan sarapan untuk mas Harris.
Tak lama kemudian Harris bergabung di meja makan. Ia menyantap sandwich roti panggang tuna yang sudah disiapkan Keara sebelumnya. Keara menyimpan kotak bekal makanan di depan Harris.
"Sayang, ini bekal makan siang nanti yaa.."
"Hm? Tumben sudah dibawakan dari pagi..?" tanya Harris menatap heran pada istrinya. Biasanya Keara akan bersemangat mengirimkan makan siang ke kantornya.
Keara tersenyum penuh arti. "Hehee.. Siang ini aku mau treatment di klinik kecantikan, sayang.. Aku kan sudah bilang sama kamu kemarin.. Dan kayaknya bakalan ngabisin waktu seharian dari pagi sampai sore.. "
"Oh iya, maaf sayang aku lupa. Do it everything that's make you happy, sweetheart.."
Keara tersenyum manis seraya mengusap lengan atas suaminya. "Sekalian aku mau body massage mas.. Badanku rasanya remuk semua. Kamu kalau udah dikasih ijin sekali aja, suka gak kira-kira kalau nyiksa istri.."
"Hahaahaa.." Harris tergelak. Ia selalu terhibur dengan keluhan istrinya. "Itu sih gak nyiksa sayang.. Orang kamu mende*sah bilang 'enak, mas.. Aahh.. Faster, sayang' gitu terus.."
"Astaghfirullah... Ada anak kecil nih mas.. Sembarangan aja kalau ngomong.." Keara mencubit dada suaminya. Membuat Harris meringis kesakitan tapi masih tetap bisa tertawa.
Stella yang merasa disinggung hanya nyengir seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sedikit mengerti yang dimaksud dua orang dewasa di depannya. Tidak lain adalah hubungan antara sepasang kekasih. Meski tidak tahu hubungan dan gerakan lebih tepatnya seperti apa.
"Iiisshh.. Asal jeplak aja kalau ngomong.." wajah Keara sudah memerah. Dia malu pada anak kecil.
"Ahh istriku memang menggemaskan.. Kalau tidak ingat ada meeting pagi ini, udah pengen aku bajak dulu ladangmu yang ranum itu.." Harris berbisik di telinga Keara. Sengaja membuat istrinya itu meremang dengan sensasi aneh yang seketika membuat telinga dan pipinya merona.
"Mas Harriiiiiss.."
"Hahahaa.. Ampun ampuunn.." Harris langsung beranjak dari kursinya. Sarapannya sudah tandas dari tadi. Dia hanya masih menikmati sesi menggoda istrinya yang terus merona dan tersipu malu.
"Sayang, setelah treatment sekalian beli gaun yaa.. Nanti malam ada gala dinner di ballroom hotel X. Kita pergi berdua yaa..?"
"Ehmm tapi mas, aku gak PD.. Gak pernah datang ke acara begitu.."
"Tenang aja sayang.. Kan perginya sama aku, oke?"
"Hemm.. Oke deh."
"Inget, jangan pilih gaun terbuka. Jangan yang terlalu cantik, karena aku ga mau orang-orang melihat istriku yang cantik."
"Isshh.. Aku pake kemeja kamu aja kalau gitu.." Keara mendecih. Tapi sukses membuat Harris melotot padanya.
"Awas kalau kamu berani!"
Bagi Harris, melihat Keara memakai baju miliknya, itu jauh lebih se*xy daripada memakai linge*rie menerawang sekalipun.
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih