
Hari ini hari pertama Keara mulai bekerja di Firstlove Cafe. Sedari pagi dia sudah excited. Bersenandung setiap saat. Mematut dirinya di depan cermin lebih lama dari biasanya. Memakai riasan wajah berbeda dari biasanya. Dan tak lupa, makan lebih banyak dari biasanya. Karena bekerja butuh tenaga kan..? Hehee..
Ia memakai kaos hitam berkerah dengan bordir tulisan 'Firslove member' di dada kanannya. Seragam pemberian mbak Marsya. Dipadukan dengan celana jeans biru terang dan sepatu kets warna hijau tosca. Ia ikat rambut panjangnya ke belakang. Dan memakai parfum secukupnya. Oke, siap berangkaaat..
Sesampainya di kafe, dia dikenalkan langsung oleh mbak Marsya pada seluruh karyawannya. Juga pada Bu Ijah, orang kepercayaan mbak Marsya yang merangkap sebagai Quality Controller terhadap rasa, higienitas, dan penyajian cake, makanan dan minuman pesanan customer. Kafe yang menyatu dengan bakery ini juga melayani sistem pesan antar dan melayani pemesanan cake dalam jumlah besar. Wow.. makin exciting jadinyaa..
Keara langsung membaur dengan yang lainnya. Dengan tangkas dia mempelajari apa harus ia lakukan. Menghafalkan menu dan merekomendasikan pada customer, mencatat pesanan customer, mengantar pesanan customer ke meja, membersihkan meja yang sudah ditinggalkan customer. All she can handled so far.
Customer selanjutnya yang datang membuat Keara terkejut. Campur senang. Keara melirik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. Jam 16.30. Yaps.. teman-temannya datang mendekati jam pulang kerja Keara. Muthia dan Ocha.
Keara memang sempat menceritakan pertemuannya dengan Muthia pada Ocha. Juga perihal dia yang bekerja di kafe milik kakak Muthia. Tapi melihat Ocha yang datang bersama Muthia, cukup mengejutkannya. Sekaligus membuatnya bersemangat untuk lekas membereskan shiftnya.
Saat di loker hendak mengambil tas dan jaketnya, seseorang menepuk bahu Keara dari belakang. Ternyata mas Juna. Koordinator staf, yang tugasnya mengatur pembagian shift semua staf pramusaji sampai kithcen. Agar jumlah staf yang masuk pagi dan sore seimbang, tidak ada yang timpang sebelah.
"Iya, mas Juna.."
"Kerja kamu hari pertama saja sudah bagus."
"Hehe.. makasih mas Juna.."
"Pertahankan semangatnya yaa.."
"Siap... Mas Juna.." Keara tersenyum lebar seraya mengangkat tangan dan menempelkannya di pelipis menandakan gerakan hormat.
"Oiya K.. Besok kamu masuk sore yaa.. Jam 3 sore sampai jam 10 malam. Kamu ga keberatan kan?"
"Siap mas. Ga keberatan sama sekali kok.."
"Oke. Sip kalau gitu. Kata mbak Marsya juga kamu fleksibel masuk jam berapa, cuma harus konfirmasi dulu."
"Iya mas Juna.. aku sih oke masuk jam berapa aja." ujar Keara. "Maklum mas.. aku kan mahasiswa semester akhir yang udah gak ada kelas. Terus ngerjain skripsi juga baru bisa konsen dan dapet inspirasi kalau ngerjainnya tengah malam aja. Jadilah seharian aku nganggur.. hehehehee..."
"Iya K.. semoga lancar yaa ngerjain skripsinya." mas Juna terdengar bijak. Dan ganteng... eh!
"Ya sudah sana.. kamu sudah ditunggu teman-temanmu kan di depan.. Buruan samperin."
"Oke mas Juna.." Keara membuat simbol oke dengan jemarinya. Lalu segera mencangklong tas dan berlari kecil ke arah depan kafe di mana Ocha dan Muthia sudah menunggunya dari setengah jam lalu.
Keara menghampiri Ocha dan Muthia. Mereka asik mengobrol dan sesekali diselingi tawa renyah. Mengisi keriuhan cafe di sore hari. Bersahutan dengan music yang diputar sebagai backsound yang melatari cerita dan obrolan pengunjung kafe yang datang.
Mereka duduk di meja bundar yang letaknya paling dekat dengan pintu masuk. Keara duduk di tengah-tengah, antara Ocha dan Muthia. Muthia menyodorkan ice lemon tea padanya, yang ternyata sudah dipesankan Muthia untuknya beberapa saat lalu.
"Oii.. gimana hari pertama kerja? Pegel pegel yaah?" seloroh Ocha saat Keara menyesap dalam-dalam lemon tea nya. Menyegarkan dahaga yang menyerang kerongkongannya.
"Lumayan.." jawabnya sambil terus menyedot lemon tea, kini hisapannya lebih santai. Menikmati setiap tetesannya.
"Kerjaan dan teman-temannya asik dan seru.."
"Kafe kakakmu gak ada sepinya Mu.. Tiap menit adaaa aja yang dateng." Keara meletakkan gelas lemon tea nya. Lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menarik otot-otot punggung yang kaku.
"Pergi satu, datang lagi seribu.." imbuhnya.
"Hehe.. iya Alhamdulillah.." sahut Muthia kalem.
Muthia memesan siomay kukus yang setelah mendarat di meja mereka masih mengepulkan asap.
"Eh bumil nyemil mulu.." Ocha menggelengkan kepala tak habis pikir. "Padahal tadi baru aja ngabisin dessert box.."
"Ya wajar lah Cha.. Kan yang mamam dua orang." Keara membela Muthia.
"Siomay buatan kakakku enak banget tau.. Nih cicipin.." Muthia mendorong piring siomaynya ke tengah meja. Agar kedua temannya bisa leluasa mencomot siomay.
Mereka asik berbincang hal-hal remeh diselingi tawa renyah membahana. Tentang bagaimana kejadian konyol saat Ocha melamar kerja di sebuah bank swasta. Tentang bagaimana akhirnya ia diterima bekerja sebagai accounting di sebuah dealer motor zamaha. Disusul cerita tentang suami Muthia, kehamilan Muthia, dan bayinya yang mulai aktif memberikan tendangan-tendangan kecil di perut Muthia.
Ocha menyentuh tangan Keara seraya memanggil namanya. Firasat Keara tentu bisa menebak kalau percakapan kali ini akan lebih serius dari sebelumnya. Keara hanya berdehem, tanpa menghentikan aktifitasnya mencomot cemilan di meja dan memakannya.
"Eng.. Ini soal Mayra, K.." Ocha terdengar sangat berhati-hati dalam berbicara.
"Kenapa dia?" tanya Keara dengan nada malas. Muthia terlihat diam saja. Seakan memberi ruang pada Ocha dan Keara berbicara serius. Dia memang tidak dekat dengan ketiganya, Keara, Mayra, dan Ocha. Tapi masalah yang membelit mereka, lebih tepatnya antara Keara dan Mayra, sedikit banyak Muthia sudah dengar kisahnya.
"Mayra minta nomer Whatsapp kamu.."
"Jangan dikasih.." sela Keara.
"Dia bilang pengen minta maaf sama kamu, K.." lanjut Ocha.
"Bilang sama dia, aku sudah maafin. Tapi untuk saling komunikasi lagi..." Keara menghembuskan nafas panjang. "Maaf aku belum bisa."
"Emang dia kenapa sih? Bukannya hidupnya sudah tenang dan bahagia? Ngapain nyari-nyari nomerku lagi..." sambung Keara.
Ocha terlihat mengaduk-aduk minumannya. Seakan mencari pilihan kata yang tepat untuk diutarakan. "Mayra sudah dengar kabar kematian mas Rizky..."
"Terus dia mau tau nomerku buat ngetawain aku gitu? Karena udah dua kali gagal nikah.." Keara tertawa getir.
"Jangan gitu dong K... Aku jadi ikut sedih kalau kamu ngomong kayak gitu.."
"Iya, K.." Kali ini Muthia turut bersuara. "Urusan Jodoh kan sudah digariskan sama Allah.. Sudah jadi ketetapan Nya pula kalau kamu tidak berjodoh dengan Nico dan mas Rizky. Cuma memang cara Nico dan Mayra yang nyakitin kamu memang salah.. salah banget. Apalagi kamu dan Mayra sahabat dekat. Pun kamu dan Nico sudah berpacaran lama, bahkan sudah sempat tunangan."
"Iya Mu.. Aku gak nyimpan dendam sama mereka berdua kok." Keara tersenyum. Dengan getir lagi. Ia beberapa kali harus menghela nafas panjang. Kenyataannya mengingat penghiatan Nico tidak pernah menjadi pembahasan biasa untuknya. Masih menyesakkan. Seakan mengusik luka yang masih basah. Walaupun sudah berlalu bertahun-tahun silam.
"Aku juga udah gak ada perasaan apa-apa sama Nico. Tapi kalau untuk berkomunikasi lagi sama Nico atau Mayra, ehmmm.. Aku masih susah banget Mu.."
"Iya K.. Aku ngertiin kamu." Ocha berkata lirih seraya menundukkan kepala.
"Cha, kamu jangan terbebani dengan masalahku." Keara menggenggam jemari Ocha. "Dulu kita bersahabat bertiga. Aku, kamu, Mayra. Sekarang aku ada masalah dengan Mayra, bukan berarti aku memaksamu juga menjauhi Mayra. Kalian boleh berteman tanpa aku kok.."
Keara menghela nafas panjang lagi. Pembahasan tentang masa lalunya selalu diakhiri dengan moodnya yang terjun bebas ke jurang tercuram.
...----------------...
🌹 Flashback 4 tahun silam
Hari dimana Keara akan bertunangan dengan Nico. Beberapa jam lagi Nico dan keluarganya akan datang secara resmi ke rumahnya untuk melamar Keara. Serta untuk menentukan tanggal pernikahan mereka.
Ini adalah hari paling bahagia untuk Keara. Hari yang ia nanti-nantikan setelah berpacaran lebih dari empat setengah tahun lamanya.
Banyak hal yang telah mereka lalui bersama. Kenangan manis mereka berdua banyak terukir indah. Bahkan sampai hal yang menyakitkan sekalipun. Meskipun Nico pernah beberapa kali jalan dengan cewek lain, di belakang Keara. Mengkhianati kepercayaan Keara. Namun, pembuktian cinta Nico pada Keara dengan tindakan lamaran, pada akhirnya membuat Keara luluh.
Saat itu usia keduanya masih dua puluh tahun. Tapi kedewasaan tidak diukur dari umur, bukan? Nico masih berkuliah sambil bekerja part time di sebuah restoran Malaysia. Sedangkan Keara bekerja di sebuah minimarket.
Semua hal yang berhubungan dengan acara pertunangan ini membuatnya sangat exciting. Mulai dari mencari barang-barang seserahan, mencari kebaya couple untuk acara di hari H, make up, sepatu, nail art, dekorasi, kue dan makanan catering untuk acara, dan perintilan lainnya.
Ocha, sahabat Keara sejak SMA, ikut kebagian tugas menjadi sek si sibuk dan menemani Keara belanja keperluan yang dibutuhkan. Tapi sahabatnya yang lain yaitu Mayra, selalu beralasan sibuk mengerjakan tugas kuliah dan tidak bisa membantu Keara mulai dari persiapan sampai hari H pertunangannya. Keara sempat mencibir sahabatnya itu, tapi akhirnya dia memahami kesibukan Mayra.
Singkat cerita, Acara pertunangan berlangsung dengan lancar. Dengan ditetapkannya suatu tanggal di bulan Desember nanti mereka akan menikah. Itu artinya enam bulan lagi mereka akan resmi jadi suami istri. Impian Keara untuk menikah muda dengan seorang lelaki yang dicintainya pun, akan terwujud dalam waktu dekat.
Namun mimpi indah agaknya tidak datang sendiri. Ada gelegar petir menyambar mengikuti di baliknya. Malam itu, saat semua keluarga besar Nico sudah pulang, menyisakan Nico yang mengatakan masih ingin tinggal sedikit lebih lama di rumah Keara. Mayra datang dengan raut gelisah yang tidak bisa didefinisikan. Dan lolos dari perhatian Keara, wajah panik Nico yang berusaha memberi kode pada Mayra untuk tetap diam dan tidak bicara.
"Mayra.....!! Aku seneng kamu dateng, walaupun telat gak papa deh.. Aku maklum kalau calon ibu pengacara ini sibuknyaaa minta ampunn.. " Keara menyambut kedatangan Mayra dengan ceria. Dia menggenggam jemari sahabatnya itu, seraya menariknya masuk.
Namun wajah murung Mayra tertangkap juga oleh netra Keara. Mayra tetap mematung di tengah ruang tamu. Keara dan Ocha saling berpandangan. Nico, terlihat gugup dan panik di sudut ruangan. Tapi seolah tak ada yang bisa ia lakukan. Nico tetap bergeming.
Secara mengejutkan Mayra berlutut di depan Keara. Kedua lengannya terjulur, mendekap kaki Keara erat-erat. "Ra.. Kamu kenapa Ra? Jangan begini..."
Mayra bergeming. Dia justru menangis tersedu- sedu. Membuat Keara dan Ocha semakin kebingungan. Sementara Nico dengan geram berusaha melepas tautan jemari Mayra dari kaki Keara.
"Lepas! Jangan macam-macam kamu! Jangan merusak hari bahagiaku dengan K !!" hardik Nico.
Tangis Mayra semakin keras. Semakin terdengar menyayat. Namun bukannya cemas, Nico berulang-ulang menghardik Mayra dan terus berusaha melepas tautan tangannya.
"Lebih baik kamu pulang sekarang! Pergi dari sini!!" Nico terus saja marah dan berkata kasar pada Mayra.
"Jangan merusak hari bahagiaku!!"
Ibu dan Mas Arman sampai terpaku menatap adegan membingungkan yang terjadi usai acara pertunangan putrinya itu. Keara terus membujuk Mayra, namun tak digubris.
"Jangan marah-marah dulu, Nic.. kita ga tau Mayra ada masalah apa."
"Mayra.. Bangun dulu. Jangan menangis, dan ceritain pelan-pelan ada masalah apa sebenarnya.." ujar Keara.
Ibu ikut membujuk Mayra. Sampai Mayra tenang dan mau duduk di sofa. Ibu mengambilkannya air putih untuk menenangkan Mayra yang masih terisak. Keara dan Ocha duduk mengapit Mayra seraya mengusap punggung sahabatnya itu. Berusaha meringankan sesak yang mereka juga tak tau apa penyebabnya.
Sesaat Mayra tenang, ia justru beringsut turun dari sofa dan kembali bersimpuh di kaki Keara. Mayra menenggelamkan wajahnya di pangkuan Keara. Berusaha mengatur nafas sebelum mengutarakan isi hatinya.
"A-aku hamil K..!" dengan terbata Mayra mengucapnya. Sembari terus terisak di pangkuan Keara. Di hadapan banyak orang. Keara, Nico, Ocha, Ibu Keara, mas Arman, dan beberapa saudara sepupu Keara yang tidak ia kenal sebelumnya.
Nico terduduk lemas di lantai. Wajahnya merah padam menahan kekalutan dalam benaknya.
Namun semua perhatian tertuju pada Mayra.
"Astaghfirullahaladzim.."
"Apa?"
"Hah?"
"Kok bisa?!"
"Gimana ceritanya, Ra??"
Beragam reaksi mampir ke telinga Mayra. Tapi ia tidak peduli.
Mayra mengangkat wajahnya menghadap Keara. Sahabatnya itu menatapnya pilu. Penuh empati dan keprihatinan.
"Aku ha-hamil a-nak N-Nico..." Mayra sudah tidak kuasa mendengar betapa gaduh suasana yang tercipta di ruang tamu sempit itu.
"Aku hamil anak Nico! Maafin aku K...!" tangis Mayra makin pecah.
Terlebih Keara. Air matanya menganak sungai. Keara merasa atap rumahnya mendadak rubuh menimpa kepala dan dadanya. Menyesakkan. Menghimpit dengan begitu menyakitkan. Tidak memberi ruang untuknya sekedar bertanya 'kenapa?'. Ia merasa lehernya tercekik oleh fakta yang sulit diterima nuraninya.
Dalam sekejap mata, harinya yang bahagia mendadak gelap. Suram.
Dan malam itu, terakhir kali Keara melihat wajah Mayra dan Nico.
Pun ketika dua bulan kemudian Mayra dan Nico menikah, Keara seolah tutup mata dan telinga. Meskipun berita itu sampai juga padanya.
Kekasih hatinya dan sahabat karibnya, menikah dalam kondisi hamil 5 bulan.
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih