Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Setitik Api Cemburu


"K-Keara?!" pekik Harris. Segera ia singkirkan raga molek Hanna di hadapannya.


"Oh, m-maaf.. A-aku ganggu yaa..? Ehmm.. Di depan tidak ada orang, jadi aku langsung ketuk pintu dan masuk kemari.." ucap Keara terbata. Jantungnya berdebar sangat cepat. Tapi kerja otaknya melambat.


Seperti orang linglung, Keara terlihat salah tingkah. Tidak tahu harus berbuat apa. Tetap menerobos masuk? Atau pergi ngacir dan menghilang dari pandangan dua makhluk yang sedang bermesraan ini?


Sebelum sempat Keara memutuskan, Harris sudah menghampirinya dan menggamit jemarinya. Menarik raga mungil itu untuk masuk ke dalam kantornya.


"Eemm.. Mas, aku bisa kembali lagi nanti. Kalian silakan lanjutkan dulu. A-aku tidak bermaksud mengganggu...." Keara berusaha menarik tangannya dari genggaman Harris. Tapi genggaman itu terlalu kuat.


"Kamu tidak mengganggu sama sekali K.. Kamu bebas datang dan masuk ruanganku kapanpun kamu mau.." ujar Harris. Sorot mata tajam yang dihujamkan membuat Keara merasa kalau Harris sedang menyuruhnya untuk diam dan menurut.


Keara sekilas melirik ke arah Hanna. Artis itu tampak jauh lebih cantik daripada yang terlihat di tv. Tubuhnya lebih ramping dan rahangnya lebih tirus. Belum lagi kulit putih mulusnya itu. Benar-benar nyata terlihat. Jauh dari efek filter kamera. Dan...


'Baju apa itu yang dipakainya itu? Apa gak masuk angin kesana kemari pakai baju blak-blakan begitu?? Terus itu kalau talinya putus satu apa gak langsung melorot bajunya? Iishh.. Pantes aja Mas Harris betah nempel-nempel..!! Hiiihh.. cuiihh..' batin Keara. Antara kesal dan minder. Membuatnya tampang kikuk dan pasrah saja saat Harris terus menggenggam tangannya.


"Mbak Hanna, urusan kita sudah selesai. Keputusanku tidak bisa diubah. Apapun alasannya. Jadi silakan keluar dari sini.." tegas Harris. Membuat Hanna mendecih sebal.


"Tuan Harris Risjad yang terhormat, sekedar informasi, kalau saya selalu membalas perbuatan siapapun kepada saya.. Dengan setimpal, atau bahkan lebih menyakitkan!" kecam Hanna.


Mendengar ucapan penuh nada ancaman itu membuat Keara mengangkat wajahnya demi melihat si artis gatal itu. Wajah cantik tanpa noda itu tersenyum sinis. Sorot matanya penuh amarah. Entah apa yang terjadi sebelum ia masuk tadi, tapi Keara sedikit mengerti, kalau mereka berdua tadi tidak sedang bermesraan seperti yang ia pikirkan.


"Silakan. Saya juga bukan tipikal naif dan pemaaf. Selalu ada balasan atas perbuatan kita, Hanna. Baik balasan dari manusia, maupun dari Allah. Jadi jangan sungkan untuk angkat kaki dari sini, dan jangan berani menyebut namaku lagi di depan media. Untuk kepentingan apapun!"


Dengan langkah menghentak penuh emosi, Hanna pergi meninggalkan ruangan Harris. Saat berpapasan dengan Keara, ia sempatkan melirik gadis itu dengan tatapan sinis dan menyeramkan. Membuat Keara bergidik ngeri dilirik sedemikian rupa. Tak lupa pintu yang ditutup dengan suara membanting cukup nyaring.


Tiara, sekretaris Harris langsung masuk begitu bayang Hanna tak nampak lagi. Melihat ada satu tamu lagi yang masuk ruangan bosnya tanpa sepengetahuannya membuat Tiara semakin mencelos. Bosnya pasti akan marah, sudah dua orang yang lolos menerobos masuk ke ruang CEO.


"M-Maaf Pak.. Saya tadi sedang ada di toilet.. Aswin masih di bawah. Saya tidak tau ada tamu..."


"Tiara, kenalkan dia, namanya Keara."


Tiara mengangguk dengan senyum santun ke arah Keara.


"Dia boleh kapanpun datang dan masuk ke ruangan saya. Ingat! Hanya dia!" tegas Harris. "Selain dia, kalau sampai ada lagi satu orang saja yang menerobos masuk kemari tanpa ijin, kamu dan Aswin terima akibatnya."


"B-baik Pak.." ujar Tiara, setelah itu ia keluar ruangan atas perintah Harris.


Setelah Tiara keluar ruangan, Harris beralih menatap Keara lagi. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan dress putih selutut. Rambut panjangnya tergerai indah, dan wajahnya dihiasi make up tipis natural. Ehmm.. Beautiful.



Harris tersenyum simpul. "Ayo sini.. duduklah K.. Aku seneng banget kamu datang kesini."


Harris yang sedari tadi masih menggenggam jemari Keara, menariknya dengan lembut ke arah sofa yang ada di ujung ruangan. Tapi Keara memelintir lengannya agar genggaman Harris terlepas. Keara pun diam mematung.


Harris menoleh dan menatap Keara bingung. Gadis itu mencebikkan bibirnya. Lucu dan menggemaskan, di mata Harris.


"Masa sih mas Harris seneng aku kesini..? Kesel kali maksudnya.. Aku datang di saat yang tidak tepat." Keara menyeringai sinis. Tangannya bersedekap di dada.


Keara tau, ada pertengkaran antara Harris dan Hanna tadi. Entah apa permasalahannya, tapi aksi saling balas ancaman yang didengarnya terlontar dari mulut duo H tadi cukup jelas menyiratkan bahwa mereka sebelumnya sedang bersitegang.


'Tapi tetep aja kan, kalau berantemnya sama cewek se xy setengah telan jang gitu, cowok mana yang gak menikmati??! Sambil menyelam minum air! Heh.. Apalagi posisi mereka tadi yang pegang-pegangan dan nempel banget kayak lagi pelukan dan otw ciuman.. Coba aku gak masuk, palingan juga berantemnya berubah jadi adegan h o t..' batin Keara kesal.


"Gimana maksudnya, K? Aku seneng laah.. Dan gak ada waktu yang tidak tepat. Kamu bisa kesini kapanpun kamu mau.." jawab Harris polos. Tidak sadar Keara sedang menyindirnya perihal berdekatan dengan Hanna tadi.


"Oh ya? Bukannya tadi aku udah ngerusak golden moment mas Harris dan artis se xy itu??"


"Enggak K.. Sama sekali enggak. Gak ada golden moment.. Apaan itu? Tadi kami malah..."


Harris tersenyum kecil. Dia melihat ada kilatan api cemburu di mata Keara. Meskipun hanya setitik saja. Tapi itu sudah cukup membahagiakan. Entah benar gadis ini cemburu atau hanya perasaan Harris saja yang ke-GeeR-an, Harris tidak ambil pusing. Tapi melihat Keara yang sudah memasuki mode cerewet ini membuatnya gemash bukan main.


"Nah kan.. senyam senyum sendiri.. Pasti keinget kenangan manis barusan tuh.." cibir Keara. Harris semakin keras berusaha menahan agar tawanya tidak meledak.


"Apanya yang kenangan manis..? Anyep begitu.." jawab Harris cuek.


"Isshh.. Ngomong anyepnya aja sambil senyum- senyum.. Ketauan banget kalau tadi emang lagi menikmati pelukan sama artis se*xy.."


"Hahaa.. Aku gak pelukan, K.. Mungkin kelihatannya begitu, tapi sebenarnya enggak.. Tadi itu aku lagi....."


"Lagi apa?" Keara menyela ucapan Harris, dan melangkah maju lebih mendekatkan raganya dengan raga kekar berbalut jas hitam milik Harris. "Kalau dari sudut pandangku sih posisi kalian tadi kentara banget kalau mau ciuman..."


"Astaghfirullah..." Harris menjitak pelan kening Keara. "Pikiran kamu tuh yang kotor.."


Keara mengusap keningnya sambil meringis. "Kan aku bilang, kalau aku lihat dari sudut pandangku..." Keara menggerutu dengan bibirnya yang mulai mengerucut.


"Dilihat dari sudut pandang manapun, gak ada cerita aku mau ciuman sama si Hanna. Aku gak gila, K.." tegas Harris. Kepalanya sudah mulai pening tidak tahu harus berkata apa lagi untuk meyakinkan gadis cerewet di hadapannya ini.


"Siapapun yang liat pasti sependapat sama aku. Emang posisi kalian tadi deket banget kok, kayak mau ciuman.. Kali aja kalau aku tadi ga masuk, kejadian tuh mas sama si Hanna itu ciuman di kantor... iisshh.. Dosa mas, inget dosa...!"


Harris sudah membuka mulutnya siap menyangkal, tapi Keara lebih cepat menyela.


"Sekarang coba mas Harris pikir, siapa yang ga ngira kalian mau ciuman, orang kalian aja deket banget begiini.. Dia aja mesra banget pegang dada mas Harris begini..." Keara dengan impulsif memperagakan Hanna memegang dada Harris.


Deg!!


Jantung Harris serasa berhenti berdetak. Tenggorokannya tercekat. Lidahnya kelu dan sendinya kaku. Butuh beberapa detik Harris beradaptasi dengan debaran di hatinya. Didekati sedemikian rupa oleh Keara nyatanya membuat dunianya serasa berhenti berputar.


"Kalau di posisi begini kira-kira ada yang mikir kalian lagi presentasi atau lagi meeting project baru gitu? Semua orang kalau liat kayak gini ya pasti mikirnya kalian lagi mesra-mesraan.." Keara terus mengoceh tanpa menyadari dada Harris yang terasa akan meledak hanya karena 'dipegang' oleh Keara.


"Eehhemmm" Harris berdehem demi menetralkan jantung beserta segenap debaran meresahkan yang membingkainya.


"Tapi seingatku, tadi aku tidak sedekat ini dengan Hanna...." Harris menggoda Keara. Melancarkan modus demi bisa lebih dekat lagi dengan gadis cerewetnya ini.


"Eh, kata siapa??" cibir Keara lebih ketus. "Malahan tadi lebih dekat daripada ini. Segini nih.." Keara dengan polosnya melangkah lebih mendekat lagi ke raga Harris. Hingga jarak keduanya semakin mengecil, dan debaran di jantung Harris kian membuatnya tersipu.


"Ehemm tapi kan aku ga ikutan pegang-pegang Hanna.."


"Iisshh ngeles aja.. Orang tadi aku liat jelas tangan mas Harris pegang sini...."


Keara mengarahkan tangan Harris memegang lengannya. Semuanya mengalir begitu saja. Hingga keduanya sengaja tidak sengaja melakukan reka adegan Harris dan Hanna beberapa waktu lalu.


Tapi yang kali ini ribuan kali lipat lebih membahagiakan Harris. Membuat darahnya dialiri desiran hangat dan jantungnya dipicu aliran listrik tegangan tinggi yang mendebarkan. Melenakan. Membuatnya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada gadis manis mantan pacar almarhum sababatnya ini.


'Rizky, apa kamu ikhlas kalau aku ingin memilikinya?'


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih