Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Pesan Dari Keara


🌹 Rumah Keara


"Aku tuh baruuu aja kelar ngisi seminar di Hongkong, langsung naik penerbangan eksklusif balik ke Indo, dan begitu sampai ke Surabaya langsung datang ke rumah kamu.. Kamu pikir tujuanku apa kalau bukan kangen sama kamu? Masa aku bela-belain kesini cuman pengen makan rendang??"


"Hah? eeeehh...." Keara tergagap. Otaknya mendadak nge-bug mendengar pengakuan tiba-tiba dari Harris.


"Haha.. Kamu tidak perlu menjawab apapun, Anak cereweett.." sela Harris seraya mengacak-acak rambut Keara dengan gemas. "Aku hanya mengutarakan maksud kedatanganku. Tidak lebih dan tidak kurang. Jadi jangan terbebani dengan itu... Oke?"


"Heee.. Iya Oke.."


Keara hanya meringis kaku. Dia mengangguk saja seperti robot yang sudah terprogram. Memberi reaksi sekenanya saja. Karena otaknya belum stabil memproses pengakuan rindu dari Harris. Berbeda dengan hatinya yang sangat bahagia seolah-olah bunga sedang bermekaran dan diiringi kepakan sayap kupu-kupu yang terbang mengitari. Dia merasakan kebahagiaan yang ia tidak tau alasannya.


'Aku bahagia karena mas Harris kangen sama aku? Masa sih gitu doang udah bahagia? Ayo, K.. Waras dong.. Masa hati dan otak gak sinkron gini sih?? Biar ga canggung depan Mas Harris nih.. ' perdebatan hati dan logika Keara.


Masih cukup sulit bagi Keara mendefinisikan rindunya. Ia masih menyangkal kalau sikap uring-uringannya karena komunikasi tersendat, rasa khawatirnya karena tak kunjung mendengar kabar Harris, dan keinginan segera bertemu dengan Harris adalah wujud dari kerinduan itu sendiri.


Harris tersenyum. Senyuman manis yang sejuk sekaligus meneduhkan. Mengkamuflase gejolak yang ia pendam dalam dadanya.


Bagaimanapun, Keara adalah mantan calon istri sahabat terbaiknya, Rizky. Seseorang yang sudah memberinya kehidupan dan keluarga baru yang tidak dimiliki Harris sebelumnya. Keara juga sangat mencintai sahabatnya itu. Sehingga, sangat keterlaluan bagi Harris kalau ia sampai memaksakan perasaannya pada Keara. Biarlah waktu yang menumbuhkan cinta dalam hati Keara.


Lagipula, bisa sedekat seperti sekarang ini dengan Keara benar-benar langkahnya yang sudah melesat jauh ke depan. Ia tidak menyangka akan bisa mendekati Keara. Jika bukan karena pesan terakhir Rizky, maka sudah bisa dipastikan hubungannya dengan Keara pun akan tetap dingin dan jauh. Alias jalan di tempat.


"Aku seneng sudah bisa ketemu kamu.. Sudah cukup lah buat obat kangenku tiga hari ini gak lihat kamu sama sekali. Jadi aku sudah minta Pak Diman untuk jemput aku kesini.." ucap Harris tanpa ditanya. Dengan senyum yang terulas, ingin memecah kecanggungan yang menyeruak di antara mereka.


Keara tersipu mendengarnya. "Gimana seminar di Hongkongnya mas?" tanyanya kemudian.


"Alhamdulillah lancar, K.."


"Oh iya, aku serius minta kamu kerja di kantorku. Gimana? Sudah dipikirin belum?"


"Eehhmm iyaa.. Sudah sih mas. Tapi...."


"Jangan kebanyakan tapi.. Anggap saja ini jenjang karir yang bagus selagi kamu belum lulus kuliah, tapi sudah bisa bekerja di perusahaan besar.. Jangan dipikirin tentang jadwal kuliah kamu, kamu bisa ijin kalau memang diperlukan harus datang ke kampus.."


"Terus, nanti aku kerja di bagian apa? Emang ada bagian staf yang lagi kosong di kantor mas Harris?"


"Gak usah khawatirin begituan lah K.. Ntar aku atur. Gampang.."


"Iih.. Jangan ngegampangin.. Ntar aku udah terlanjur masuk, taunya jadi OB.. Apanya yang jenjang karir kalau gitu sih..? Sebelas dua belas sama waitress kafe.."


"Ya gak laah, anak cereweet.." decak Harris sambil mencubit ujung hidung Keara. "Kamu bisa jadi asisten pribadiku.. "


"Emangnya asisten pribadinya Mas Harris udah resign?" tanya Keara polos.


"Belum. Kalau kamu mau posisi itu, aku bisa pecat dia sekarang." Harris menahan tawanya. Membayangkan jika Aswin mendengar ucapannya sekarang, ia pasti akan protes sambil jingkrak-jingkrak.


Hayo looh.. Aswin.. Posisimu terancam tuh.


"Dasar Ngawur.. Bos sombong..!" protes Keara."Ya gak boleh arogan gitu dong, Mas.. Seenaknya aja main pecat orang.."


"Hahahahaa..." Harris tergelak.


"Ya udah, kalau gitu caranya aku batal aja mau kerja di kantor Mas Harris.. Kantor apaan tuh? Bosnya sengklek." cibir Keara. Memicu gelak tawa Harris makin menjadi.


"Becanda, K.. Becanda..!" ujar Harris disela-sela tawanya. "Asisten aku tuh sangat setia sama aku. Dia juga paham betul bagaimana mauku, cara kerjaku, dan bagaimana karakteristik ku. Dia sudah lama ikut denganku, bahkan saat aku belum memiliki apa-apa. Jadi gak mungkin aku pecat dia.."


'Si Aswin pasti gede kepala kalau denger aku muji-muji dia begini. Hiisshh..!'


"Bagus deh kalau begitu.." Keara mengangguk-angguk pelan.


"Terus jadinya aku ditaruh bagian mana kalau jadi kerja di kantor mas Harris??"


"Kamu mau jadi wakil direksi? Atau jadi wakil CEO? Pemegang saham? Pimpinan cabang? Apapun yang kamu mau, sayang.."


"Terserah kamu, sayang.. Terserah."


*Deg!


'Sayang? Ya ampun, Keara.. jangan udik. Mas Harris manggil begitu gak ada tendensi apa-apa. Lagian, kamu dan mas Harris tuh beda level. Dia di kahyangan dan kamu di pinggiran kali. Sadar ya K, jangan GR...' Keara menghardik hatinya sendiri. Karena hatinya itu yang sempat melambung oleh ucapan kangen mas Harris yang terdengar tulus. Ditambah panggilan sayang yang baru saja membuatnya berdebar.


"Iya, K.. Ini juga serius. Kamu maunya di bidang keuangan kan? Sesuai bidang kuliah kamu?"


"Iya, mau.." Jawab Keara cepat.


"Oke, ada satu posisi staf yang kosong di divisi pajak.. Kamu mau?"


"Mau.. Mauu.." jawab Keara dengan mata berbinar.


"Oke, K.. Kamu emang cocok di bagian pajak.."


Keara mengangguk-angguk senang. "Tapi aku ga bisa langsung resign dari kafe.. Harus nunggu sampai akhir bulan, mas."


" Anytime, K.. Anytime.. Kapanpun kamu mau dan siap datang ke kantor, aku terima dengan tangan terbuka." ujar Harris seraya membentangkan lengannya. "Kalaupun kamu mau main-main aja ke kantor juga boleh K.. Sebelum kamu siap kerja."


"Emang kantor mas Harris taman bermain.."


"Yaah.. In case kalau kamu kangen sama aku, misalnya.." Harris mengerling jahil.


Keara mencibir kesal. Tapi tak dapat dipungkiri jika ia tersanjung dengan semua yang diucapkan Harris malam ini. Hingga semburat kemerahan menjalari pipinya yang pucat.


Dan Harris sungguh mengagumi pipi pucat kemerahan Keara. Sangat cantik. Menggemaskan. Dan membuatnya berdebar, meski hanya melihatnya saja.


Begitu mobil Pak Diman terlihat memasuki pekarangan rumah Keara, Harris beranjak. Pamit pada ibu dan mas Arman. Merasakan keramahan keluarga Keara. Bahkan ibu membawakan sekotak rendang untuk dibawa pulang Harris.


"Terima kasih, Bu.. Terima kasih banyak.." ujar Harris saat menerima kotak rendang yang dibungkus plastik.


"Sama-sama Nak Harris.. Nanti kalau tidak langsung dimakan masukkan kulkas saja yaa.. Kalau mau dimakan bisa dipanasin dulu.." pesan ibu.


"Baik, Bu.."


Harris melangkah keluar. Berjalan mendekati mobilnya. Tapi sesaat sebelum membuka pintu mobil, panggilan Keara menghentikannya.


Keara berlari kecil mendekati Harris.


"Mas, kalau sampai rumah telepon yaa.."


"Iya, K.." sahut Harris sambil mengusap singkat puncak kepala Keara.


"Terus.. Kalau sudah di rumah, mandi. Biar capeknya ilang. Sholat, biar hatinya tenang. Sebelum tidur pastikan pakai baju biar gak masuk angin. Terus jangan lupa berdoa, minta sama Allah biar ga mimpi buruk dan ngigau-ngigau lagi.."


Harris tersenyum kian lebar mendengar rentetan petuah Keara.


"Jangan senyum-senyum aja.. Catet tuh. Pesan dari Keara.."


"Kata Bik Santi, mas Harris kalau kecapekan tidurnya mesti ngigau.."


"Kalau aku ngigau lagi, Pak Diman kesini jemput kamu."


"Ogah.. Capek tau tidur sambil duduk.."


"Ya udah, sambil tiduran juga aja.."


"Hiiisshh.. mesum."


"Hahahahaa..."


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih