Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Mantan Meresahkan


"Kaka Kelaa..!"


"Haii Ala.." Keara nyengir kuda sambil melambaikan tangan. Biarlah.. Penting kan nyengir sama anaknya, bukan sama bapaknya. Anggap aja sopan santun sama bocah.


"Hai, K.." sapa Nico. Keara hanya membalas dengan lirikan mata sekilas, lalu berjongkok di depan Ara, agar sejajar dengan bocah gemoy ini.


"Ala lagi jalan-jalan ya..?"


"Iya. Kaka Kela kemana aja sih? Ala sudah dua kali datang ke kape tapi gak ketemu kaka Kela.."


"Mungkin pas Ala dateng, kak Kelanya udah pulang kali.. Atau Kak Kelanya lagi libur.." jawab Keara asal.


Sejak kejadian labrakan salah sasaran dulu, Keara memang sengaja bersembunyi di ruang karyawan setiap kali melihat Nico datang ke kafe. Baik Nico datang sendirian, maupun bersama Ara. Ia berpikir, menghindar lebih baik daripada harus terlibat lebih dalam dan lebih lama lagi di rumah tangga sang mantan.


Terlebih ia ingat mas Arman, kakaknya, dan juga kakak dari Mayra sedang menjalin hubungan serius. Jika ia terus bermasalah dengan Nico dan Mayra, pasti tidak akan baik ke depannya untuk hubungan Mas Arman dan Mbak Merry.


Tapi apa daya, emang nasib gak bisa ditolak. Sekarang ia malah bertemu dengan duo bapak dan anak ini di mall. Mau sembunyi di mana coba..? Mana Ara cuma sama bapaknya lagi.. Bisa-bisa emaknya Ara salah paham lagi nih..


'Ini mas Harris kemana lagi..? Saat aku butuh pertolongan gini malah ga keliatan batang hidungnya.. Minta digeprek tuh orang.. Hihh !!'


"K, aku sebenarnya beberapa kali dateng ke kafe pengen ketemu kamu."


Keara berdiri. Melihat Nico dengan tatapan malas.


"Aku mau minta maaf atas sikap Mayra tempo hari. Aku bener-bener minta maaf."


"Iya, dimaafkan. Tapi bukankah lebih baik kita gak ketemu-ketemu lagi ya? Jadi stop lah dateng-dateng ke kafe nyariin aku. Apalagi sama bawa-bawa Ara.. Gak usah nyari senjata deh.." ketus Keara.


"Aku bolak balik dateng ke kafe karena belum dapat maaf dari kamu." sahut Nico, dengan senyum menyebalkan khasnya. Senyum penuh pesona yang dulu bisa membuat cewek-cewek termehek-mehek karenanya. Tapi sekarang gak mempan untuk Keara.


"Sekarang udah dapet kan.. Jadi aku pergi duluan." Keara kembali berjongkok di depan Ara.


"Ala.. Kakak duluan yaa.. Udah ditunggu nih sama ibunya kaka.. Daah.. Ala..."


"Tunggu, K.. Ehmm.. Sebenarnya hubunganku sama Mayra sudah merenggang sejak hari itu. Ehm.. tapi itu sungguh bukan karena kamu. Aku hanya merasa di hatiku masih ada kamu. Dan..."


"Kamu gila ya? Ngomong kayak gini di depan anak kamu sendiri.. Gak habis pikir..." Keara menggelengkan kepala. Benar-benar heran dengan jalan pikiran Nico.


"Udah dulu aku gak mau tau masalah rumah tangga kalian."


"Dadaah.. Ala.." Keara tetap tersenyum dan melambaikan tangan di depan Ara.


Keara berbalik badan. Tapi baru saja kakinya terayun, lengannya ditahan dengan cengkraman kuat oleh Nico.


"Lepasin, Nic!!" pekik Keara dengan suara tertahan.


"Tunggu K.. Aku ga bohong cuma buat deketin kamu.. Aku.."


"Gak mau tau! Lepasin gak?!" pekik Keara lagi.


"K, aku cuma mau minta waktu kamu sebentaar aja.. Please K..!"


"Papa.. Papa.. tangan ka Kela jangan ditalik talik gitu.." Ara berbicara sambil menarik tangan papanya.


"Bisa lepasin gak!" Keara sampai melotot pada Nico. Tapi lelaki itu tidak mengendurkan cengkramannya sama sekali.


Sementara dari jarak sekian meter, Harris dengan membawa dua cone ice cream dengan kedua tangannya, berjalan mendekati tempat dimana Keara tadi menunggunya. Ia tadi menjauh untuk menelepon Aswin. Memerintahkan asistennya untuk menyelidiki segala sesuatu tentang Juna. Ia harus tau siapa Juna dan apa motif baj ingan itu menyuruh Keara menjauhinya.


Tapi betapa terkejutnya Harris ketika dia sudah bisa menangkap sosok Keara, gadis itu justru sedang dicengkram dengan sangat kuat oleh seorang lelaki. Keara terlihat berkali-kali memelintir lengannya agar cengkraman itu terlepas.


Harris gusar. Ia seketika gelap mata. Ia melempar es krimnya ke lantai dan dengan langkah secepat kilat menyambar lengan gadis itu. Dengan kasar dihempaskan tangan Nico, sampai lelaki itu terhuyung ke belakang bersama putrinya.


"Dia bilang lepaskan! Kamu tuli?!" geram Harris.


Keara sangat kaget. Jantungnya seakan berkejaran. Ia melihat ke arah Harris. Lelaki itu terlihat sangat marah. Ia hendak merangsek maju untuk kembali menghantam Nico. Tapi beruntung refleks Cepat Keara dapat menahan Harris.


"Ini bukan urusanmu! Jangan ikut campur!!" pekik Nico.


'Huwaaa Huwaaa Huwaa ' tangis Ara pecah. Semakin membuat kisruh keadaan. Mengundang perhatian orang-orang di sekitar mereka.


"Cukup, Nic! Kamu gak kasian sama Ara??" Keara berkata pada Nico, yang mulai terpancing emosi dan egonya. "Sudah sana pulang. Kasian Ara."


Nico dengan raut geram menggendong Ara. Lantas berjalan menjauh dari Keara dan Harris.


Keara melihat sekeliling. Beberapa pengunjung mall bahkan sudah mengitari mereka. Pun orang-orang yang berada lebih jauh semua terlihat memperhatikan drama romance Action dadakan ini.


"Mas, banyak orang di sini.. Tenangkan diri mas Harris.. Ayo kita pulang aja... Ayok.." Keara berusaha terus membujuk Harris.


Harris bergeming. Matanya masih memerah. Nampak jelas kobaran amarah di dalamnya.


"Ayo mas.."


Harris mengusap wajahnya. Mungkin untuk mengaburkan amarah yang sedari tadi membingkai. Dia lalu menatap Keara sebentar. Meraih jemari gadis itu, kemudian menautkan dengan jemarinya. Harris menggandeng erat tangan Keara.


"Sini. Kamu tuh emang gak bisa dilepasin barang sebentar."


Keara terbengong-bengong. Ia tidak memberontak tangannya digenggam sedemikian erat oleh Harris. Kemudian keduanya berjalan keluar mall. Keara harus berjalan dengan setengah berlari. Demi mensejajari langkah lebar Harris.


"Mas Harris sih.. Kemana aja sih tadi..? Lama banget."


"Setelah telpon asistenku, aku beliin kamu es krim."


"Oh iya? Aku mau es kriiimm.." pekik Keara girang. "Sekarang mana es krimnya?"


"Udah aku buang."


"Hah?"


"Nyesel juga tadi kenapa aku buang sembarangan.."


"Ya iyalaah.. kan sayaang..."


"Tau gitu aku lemparin ke muka mantanmu."


"Heh? Ahahahahahaa" Keara tergelak.


Harris dengan wajah dan ekspresi datar terus berjalan dengan menggandeng tangan Keara.


"Kamu tuh emang gak bisa dibiarin sendirian yaa..? Di tempat kerja ditaksir sama si freak. Ditinggal telepon sebentar, udah ditarik-tarik sama mantan sia*lan."


"Udahlah gak perlu nunggu sampai akhir minggu. Mulai besok jangan kerja di kafe itu lagi.."


"Gak bisa gitu lah.."


Keara menahan tawanya. Ia harus mendongak untuk melihat wajah geram Harris, yang tidak membuatnya takut. Tapi justru menggelikan baginya.


"Nanti kalau jadi istriku, bisa-bisa aku kurung terus kamu di kamar."


"Hah? Jadi apa?"


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih