Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Hukuman


"Mas, Apa kamu kasih uang ke bapakku setiap bulannya?"


Harris sangat terkejut. Bagaimana Keara bisa tau hal tentang ini? Padahal sudah dia rancang sedemikian rupa agar Keara tidak sampai istrinya mengendus tentang ayahnya ini. Harris terlalu takut Keara terluka. "Ehm.. Sayang, begini... Ehmm.... Biar aku jelasin..."


"Mas, jawab iya atau enggak. Aku bukan sedang minta penjelasannya.." lugas Keara.


Lama Harris diam. Dia berpikir untuk kembali membohongi istrinya. Ia tidak siap akan kemarahan dan kesedihan Keara bila mengetahui bahwa sekali lagi ia merahasiakan hal penting dari istrinya. Tapi kalau harus berbohong untuk menutupi kebohongan yang sebelumnya, ide yang sangat buruk.


"Mas Harriss..."


"I-iya."


Terlontar sudah jawaban singkat yang cukup menusuk hati Keara. Harris memilih mengatakan yang sebenarnya. Ia sudah pasrah menerima kemarahan istrinya. Tapi ia sangat takut melihat Keara menangis. Sama seperti hari ini. Air mata istrinya, yang sangat tidak ingin ia lihat, nyatanya mengucur deras menganak sungai di depan matanya.


"Berapa banyak mas?"


"Seratus juta setiap bulan." Harris menunduk. Tidak sanggup melihat tangis Keara.


"Berarti benar kan cek yang kulihat sebulan yang lalu? Cek untuk Suryo Pratomo itu bukan nama klien mas Harris yang sama dengan nama bapak, tapi memang nama bapakku kan?"


Harris tidak menjawab. Ia hanya bisa menunduk makin dalam sebagai jawaban kalau dirinya memang merasa bersalah telah membohongi Keara.


"Kenapa sih mas Harris selalu gak mau jujur sama aku??" tangis Keara semakin pecah. Hatinya perih teriris. Selama ini dia merasa sudah sangat mengenal Harris. Tapi nyatanya dia masih saja sangat mudah dibodohi oleh suaminya sendiri.


"Maafin aku sayang... Aku ga bermaksud bohongin kamu. Aku minta maaf sayang..." Harris hanya bisa menunduk menatap kaki istrinya yang mulai ditarik turun dari posisi semula menumpang di atas kakinya.


Harris meraih jemari istrinya. "Sayang, please maafin aku.."


"Mas ngerti kan, bukan nominal uangnya yang aku permasalahkan... Tapi ketidak jujuran mas Harris.."


"Iya aku ngerti sayang.. Maaf."


Jumlah uang bulanan yang diberikan mas Harris memang tidak sebanding dengan uang bulanan untuk Keara. Keara juga tau suaminya kaya raya dan loyal padanya. Sekalipun memberikan seratus juta pada bapaknya, Keara yakin jumlah itu tidak akan mengusik jatah bulanannya. Tapi bukan itu permasalahannya. Keara sedih karena sekali lagi suaminya memilih merahasiakan sesuatu yang penting darinya.


"Sekarang mas cerita yang jujur. Jangan ada yang ditutup-tutupi." sergah Keara. "Gimana ceritanya bapak bisa minta uang bulanan pada mas Harris?"


"I-itu karena.... Ehmm.."


"Maaf, sayang.. Dengarkan aku dulu." Harris menangkup pipi Keara. Berusaha menatap ke iris hitam milik istrinya. Meskipun netra itu kini sedang digenangi air mata, tidak mengurangi sedikitpun kecantikan Keara.


"Aku minta maaf,sayang.. karena sebelum kita menikah aku diam-diam mencari bapak kamu. Aku hanya ingin memastikan apa benar bapak kamu masih hidup atau sudah meninggal.. Karena aku ingin status pernikahan kita jelas.." Harris mengutarakan alasannya mencari bapak mertuanya hingga berujung dengan membuat perjanjian yang salah satunya berisi poin uang bulanan senilai seratus juta rupiah agar Suryo Pratomo itu bersedia menikahkannya dengan putri kandung yang sudah ia telantarkan sejak kecil.


Keara mengusap pipinya yang basah oleh air mata yang tidak mau berhenti mengalir. "Aku jadi merasa dibeli dengan cara dicicil seratus juta perbulan." gumamnya seraya terisak-isak.


"Aku sama sekali tidak bermaksud begitu sayang, maafkan aku.."


Keara menangis tersedu-sedu. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menolak Harris yang hendak mendekapnya. Ia masih sangat terluka dengan kenyataan yang baru ia tau.


Beruntung tadi siang netranya dengan tajam mampu menangkap lembaran cek yang akan disembunyikan bapaknya ketika bertemu dengannya di kantor Harris. Kalau tidak, sudah bisa dipastikan Harris akan tetap membohonginya sampai detik ini.


"Maafin aku sayang.. Jangan menangis terus.. Aku gak tahan lihatnya..."


"Ya sudah. Jangan dilihat." ketus Keara. Ia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ranjang.


"Jangan gitu dong sayang.. A-ku....." ucapan Harris terhenti karena langkah Keara berhenti di tengah jalan hingga membuat Harris hampir saja menubruk raganya.


"Sebagai hukuman karena selalu bohongin aku, satu minggu ini jangan harap ada jatah bercocok tanam." kecam Keara.


"Sayaang.. Jangan, please... Satu minggu itu lama.." Harris dibuat kelimpungan meminta maaf pada Keara. Satu minggu tidak berolah raga panas di ranjang itu sama saja penyiksaan lahir dan bathinnya. Tidaaak... Itu bahkan lebih buruk dari dicubiti sekujur tubuh oleh Keara.


...----------------...


Wes a? Kapok a mas?


Makanya jangan suka berbohong. Kalau bohong digigit kambing ompong...


Mas Harris : Ya ampun, thor... Tega banget kasih hukuman.. 🙈🙈


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih