
Harris tidak berkata apa-apa sampai tiba tepat di samping mobilnya. Tangannya membukakan pintu mobil. Sedangkan satu tangan yang lain masih mencengkram kuat pinggang Keara.
"Ah, sakit mas.." lirih Keara. Netranya sudah berkaca-kaca menahan tangis. Ia tidak mungkin menyentakkan tangan suaminya di depan banyak orang. Dan juga di depan David sia*lan itu.
"Masuk." titah Harris dingin. Telinganya seolah tuli dengan gumaman Keara tadi. Hati dan otaknya sudah panas memikirkan yang tidak-tidak perihal ucapan David tadi. Dia hanya sedang menjaga gengsi dan tidak ingin David besar kepala kalau sampai ia marah pada Keara di depannya tadi.
Keara menurut masuk ke dalam mobil dan menggeser duduknya. Harris menyusul masuk dari pintu yang sama. Pak Diman pun dengan cekatan menjalankan mobil setelah mendapat anggukan kepala dari Tuannya.
"Mas, aku..."
"Gimana bisa kamu beli gaun sama David?? Sama laki-laki lain!" hardik Harris menyela ucapan Keara. Netranya bahkan tidak melihat ke samping sama sekali. Ia menatap lurus ke depan. Mengabaikan wajah Keara yang sudah memerah dan menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tidak pecah. "Pengen kurobek saja gaunmu itu!"
Pak Diman yang mendengar pertengkaran majikannya hanya diam membisu. Semenjak menikah enam bulan lalu, baru kali ini sepasang suami ini bersitegang. Tidak mungkin dia menyela dan membela Keara. Meskipun ia tahu pasti Keara pergi sendiri dan hanya diantar olehnya.
Jantung Keara berdegup kencang. Ini pertama kalinya Harris berkata kasar dan tajam seperti itu. Padahal apa yang dipikirkan lelakinya sangat jauh dari kenyataan.
"Aku tidak membeli gaun dengan laki-laki itu mas.. Mana mungkin?! Membayangkannya saja tidak pernah." tangis itu pecah. Keara memalingkan wajahnya menghadap ke luar jendela. Mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Lalu kenapa tadi dia bilang seperti itu?? Dia yang sudah memilih gaun itu untukmu?? Hah!! Bagus sekali pilihannya. Bahkan aku sudah memuji istriku cantik berkali-kali. Itu sama saja dengan aku mengakui pilihan gaunnya memang tepat." Harris tersenyum sinis. Hatinya sangat terluka membayangkan istrinya memilih dan mencoba gaun bersama dengan lelaki lain.
"Dengerin aku dulu mas.. Aku tadi pilih gaun ini sendiri. Benar-benar sendiri. Cuma ditunjukin sama mbak-mbak butiknya aja. Dan setelah aku memilih, aku berikan gaunnya ke pegawai butik, baru si David dari antah berantah itu tiba-tiba muncul di belakangku. Dia bilang, 'gaun itu memang cocok buat kamu'. Udah. Gitu doang."
"Aku juga gak tau dari mana tuh orang bisa menilai gaun ini cocok apa gak buat aku. Aku juga ga merespon lebih banyak karena aku ga mau memperpanjang obrolan dengannya." imbuh Keara karena Harris tidak kunjung menjawab penjelasannya tadi.
Harris masih saja terdiam. Tapi sorot tajam dari netranya seolah jadi pertanda kalau dia belum menerima penjelasan Keara itu.
"Mas, please.. Jangan marah begini. Aku bahkan ga ngerti salahku apa.." Keara mengusap lengan kekar suaminya. Berusaha meredam emosi di dada lelaki itu. Tapi Harris masih bergeming dan tidak bereaksi apapun. Bersyukur suaminya itu tidak menepis tangannya.
Sampai Pak Diman menghentikan laju mobilnya tepat di depan pintu masuk kediaman majikannya. Harris yang masih dalam mode dingin menyelonong keluar mobil tanpa memperdulikan Keara. Hatinya tidak melembut sedikitpun karena usapan di lengannya.
Keara menyusul Harris keluar mobil. Bergegas masuk ke dalam rumah, lalu ke kamar mengejar suaminya yang sudah lebih dulu masuk ke kamar. Terdengar dari suara pintu kamar yang ditutup dengan kasar, jadi bukti bahwa Harris masih marah padanya.
Keara menahan lengan Harris setelah keduanya berada di dalam kamar. "Tunggu mas.. Kenapa mas Harris gak percaya sama aku??"
"Kamu gak tau salahmu apa?" tanya Harris dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya. Tapi lebih menekankan setiap kata yang ia lontarkan. Ini lebih menyeramkan bagi Keara.
"Karena kamu tidak mengatakan apapun padaku tentang pertemuanmu dengan David!" Harris berkata ketus.
"Aku pikir itu gak penting mas.."
"Gak penting kamu bilang?? Itu penting buatku!" geram Harris.
"Lagipula gak ada interaksi yang gimana-gimana, dia cuma menyapa gitu aja..."
"Aku juga ingin tau istriku bertemu dengan siapa saja di luar sana kalau tidak ada aku. Aku juga ingin tahu kejujuranmu. Aku juga tidak ingin terlihat bodoh dan tidak tau apa-apa saat David berkata seperti tadi. Ujung-ujungnya apa?! Kita salah paham kan??"
"Iya, maaf mas...." lirih Keara. Ia menunduk saat air matanya luruh semakin deras.
"Tapi aku benar-benar tidak melakukan apapun, mas.. Si David itu hanya menyapa dan tidak lebih. Sejak mas Harris pulang kerja, mas dan aku sama-sama sibuk mempersiapkan diri untuk gala dinner ini. Masalah bertemu David di butik sudah terlupakan karena menurutku itu bukan berita penting dan mendesak."
Harris menarik nafas panjang. Sama sekali tidak menjawab penjelasan Keara. Sudah dianggap seperti angin lalu saja ucapan istrinya itu.
Harris berbalik badan dan masuk ke ruang kerjanya. Sebenarnya ia sangat ingin masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri dulu di sana. Tapi emosi yang masih menguasai membuatnya enggan berlama-lama berada di satu ruangan dengan istrinya. Ia takut hatinya akan luluh melihat wanitanya yang cengeng itu terus menangis. Atau yang lebih parah, ia takut menyakiti istrinya secara fisik kalau terus dekat dengan emosi yang masih meledak-ledak.
...----------------...
.
.
...Maaf kaka.. kemaren othornya gak jadi dapat hidayah 😝 jadinya cuma up dua part saja. ...
...Tau nih si hidayah nyasar kemana.... ...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih