
Keara merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Hembusan angin tipis juga menerpa tengkuknya. Ia mende*sah lirih dan menggeliat. Berusaha menjauhkan beban yang ada di atas perut membuat kesadarannya berangsur pulih.
Keara mengucek matanya. Memastikan perasaannya. Mengulik kembali ingatannya. Benar rupanya, saat ini sang suami sedang memeluk erat tubuhnya dari belakang. Pantas saja tidurnya lumayan nyenyak meski bantal yang sebelumnya ia peluk sekarang sudah terlepas tanpa sadar.
Keara membalikkan raganya hingga menghadap Harris yang sudah nyenyak terbuai mimpi. Ia menelusuri wajah tampan suaminya dengan ujung jari. Membelai rahang kokoh Harris yang membuatnya begitu ingin mencium suaminya itu.
"Ngapain peluk-peluk? Tadi aja marahnya kebangetan sampai kayak orang kesurupan.." gumam Keara lirih. Hanya mengatakan begitu saja sudah membuat bibirnya bergetar menahan tangis yang akan kembali pecah.
"Mas kalau marah ngeselin tau gak sih..? Diajak ngomong gak dengerin. Dijelasin baik-baik juga mas cuek aja.. Pengen ku getok aja,, Hihh!!" Keara mencebikkan bibirnya. Tangannya terkepal dan dilayangkan ke udara seperti hendak memukul kepala suaminya. Tapi tentu saja ia tidak benar-benar memukul. Karena telapak tangannya justru berakhir di pipi sang suami dan membelainya lembut.
Keara terus menggerutu meskipun Harris masih terpejam sempurna. Ia melirik jam digital di atas nakas. Pukul 02.07. Dan perutnya terasa sangat lapar. Ia ingat semalam menahan rasa laparnya karena benar-benar enggan untuk makan. Nafsu makannya menguap ke udara capek nangis. Tapi sekarang rasa laparnya sudah tak tertahankan lagi.
Keara bangkit dari ranjang. Mencari baju untuk menutupi tubuh moleknya. Masuk ke kamar mandi sebentar untuk buang air kecil. Lantas memilih keluar kamar untuk mengisi perutnya.
Mendengar suara pintu dibuka sebentar lalu ditutup lagi, membuat Harris menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ya, Harris sudah terbangun tadi. Ketika wajahnya dibelai-belai lembut oleh sang istri. Dia mendengar semua omelan Keara dengan jelas dan senyumnya semakin terkembang.
Harris menyusul istrinya turun ke bawah. Dengan langkah mengendap-endap seperti maling masuk rumah karena takut derap langkahnya didengar Keara. Ia pun mendapati istrinya itu berada di dapur.
Harris semakin merasa bersalah. Kemarin saat masih berada di hotel istrinya itu sudah mengeluh perutnya lapar dan meminta untuk membeli makan di restoran iga favoritnya. Tapi karena Harris yang marah-marah tidak jelas membuat rencana itu menguap begitu saja. Sekarang, tengah malam begini, Keara sampai rela turun ke dapur dan memasak makanan. Pasti karena sudah sangat lapar.
Harris menatap punggung istrinya yang tampak asik berkutat di depan kompor. Bik Santi juga ada di sana, memaksa ingin merebut pekerjaan Keara agar dikerjakan olehnya saja. Terlihat wanita berumur itu sesekali menguap tapi tetap setia mendampingi Keara.
"Sudah, Bik Santi duduk saja di situ. Sambil tiduran juga gak apa-apa kok.." Keara mengibaskan tangannya untuk mengusir Bik Santi agar menurut untuk duduk di kursi yang ada di tengah dapur.
Harris terkekeh kecil tanpa suara. Gadis cengengnya itu masih saja takut hantu. Sampai harus bangunin Bik Santi hanya untuk menemaninya memasak. 'Mana ada hantu di rumah ini.. Ada ada saja..' batin Harris.
Bik Santi memutar tubuhnya. Sepertinya hendak duduk di kursi sesuai perintah Keara. Tapi netranya lebih dulu bertemu dengan Harris, tuannya. Dan Harris memberi isyarat dengan tangan agar asisten rumah tangga kepercayaannya itu keluar dapur dan kembali beristirahat ke kamar.
Bik Santi mengangguk dan tanpa berkata-kata lagi langsung kembali ke kamarnya. Meninggalkan Keara memasak sendiri, bahkan nyonya rumahnya itu tidak tahu menahu kalau dirinya ditinggalkan sendiri.
...Eh gak sendiri ding.. Ada yang lagi mengintai diam-diam karena gengsi abis marahan.....
...----------------...
.
.
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih