
Dalam perjalanan, Keara dan Harris lebih banyak diam. Keduanya seperti orang asing yang terjebak dalam satu ruang. Hening.
Ingatan Keara menelusup pada momen yang hampir sama seperti saat ini. Beberapa bulan lalu, ia juga menumpang di mobil Harris. Yaitu saat Harris mengantarnya pulang usai pemakaman Rizky. Dengan kesedihan mendalam, saat itu ia tidak sempat melihat betapa mewahnya mobil yang dikendarai Harris.
Seperti yang pernah diceritakan oleh Mas Rizky padanya, Harris adalah seorang CEO muda yang sukses. Dia salah satu founder aplikasi Marketplace asli dari Indonesia. Masuk dalam jajaran E-commerce ternama, pusat jual beli online di bawah peringkat aplikasi Keranjang Oren. Nama Marketplace kelolaan perusahaan mas Harris adalah BukaToko.
Perusahaan Harris masih tergolong baru bila dibandingkan dengan nama lain yang lebih dulu dikenal. Meski belum merajai peringkat E-commerce online shop di Indonesia, tapi sebagai aplikasi yang dicetuskan oleh anak bangsa, perusahaan Harris cukup diminati di banyak kalangan.
'Pantaslah mobilnya sekeren ini,' batin Keara. Orangnya juga keren. Masih muda, otak cemerlang, wajah ganteng paripurna, penampilan rapi, Kulit bersih. Aroma tubuhnya perpaduan antara kayu cendana, cinnamon, dan bunga-bungaan; maskulin dan harum menguar memanjakan indera penciuman, jelas bukan sejenis parfum yang biasa dibeli Keara di mart.
Sayangnya, kesempurnaan Mas Harris tidak diimbangi dengan sikap ramah dan hangat. Mungkin karena itu lelaki ini masih setia menjomblo. Pacar tak punya. Istri apalagi. Mana ada cewek yang tahan dianyepin sama cowoknya.
'Makanya, kurang-kurangin dong dingin dan kerasnya gunung es.. Biar ada cewek yang mau.' Batin Keara dalam hati. Bibirnya mencibir meski tanpa suara.
"Kenapa kamu?" tanya Harris. Kalimat pertama yang terlontar sejak mereka masuk ke dalam mobil tadi.
"Gak papa." jawab Keara singkat. Tidak menyangka Harris melihat cibirannya tadi.
"Kita mampir masjid dulu, buat sholat maghrib. Setelah itu makan malam." ujar Harris. Tanpa meminta persetujuan Keara, kalimatnya lebih seperti informasi. Bukan ajakan.
"Aku mau langsung pulang aja mas.." sergah Keara. "Tadi kan ga bilang mau mampir-mampir dulu.. Lagian aku libur sholat hari ini.. lagi halangan."
"Aku belum sholat maghrib. Kalau antar kamu pulang terus nyari masjid buat sholat, gak keburu. Aku juga laper banget. Dari pagi belum makan."
'Astaga.. udah mirip kata-kata pengemis aja. Dari pagi belum makan.. Ga malu ama mobil??' cibir Keara dalam hati.
"Iya, ya udah. Sholat dulu, terus makan." Keara pasrah. Sebenarnya dia juga lapar. Tadi siang dia melewatkan jam makan siang untuk mengantar pesanan kue. Berujung bertemu Nico yang membuat nafsu makannya mendadak hilang.
Dan lagi-lagi, Keara ingat cerita mas Rizky, kalau mas Harris tidak pernah melewatkan sholat wajib. Salut. Mengingat harta dan tahta yang dimiliki, kebanyakan orang memilih lalai pada Sang Khaliq. Tapi tidak untuk Harris Risjad.
"Oke." Harris mengangguk seraya tersenyum tipis.
Tak lama kemudian, Harris menepikan mobilnya di masjid terdekat. Sedangkan Keara tetap menunggu di mobil, karena hari ini dia sedang datang bulan. Keara pun menelepon ibuk untuk memberi kabar kalau dia pulang terlambat.
Beberapa menit kemudian, Harris kembali melajukan mobil setelah menunaikan kewajibannya. Selama di dalam masjid tadi, ia gunakan waktu untuk berselancar di sosial media. Mencari restoran yang nyaman dan sesuai selera Keara.
"K itu suka hampir semua jenis makanan, Ris.. Apalagi yang pedes-pedes. Kecuali kerang. Dia gak suka kerang dimasak apapun.." Itulah informasi dari Rizky yang diingat Harris. Dulu Rizky sering sekali menceritakan semua hal tentang Keara. Membuat Harris mengenal gadis ini bahkan sebelum mereka bertemu tatap muka.
"Mau makan di mie syaiton? Katanyaa.."
"MAU. MAUU..!!" Keara menyambar dengan semangat membara. Bahkan saat Harris belum menyelesaikan kalimatnya. Makan mie syaiton saat moodnya sedang buruk itu ide terbaik.
Harris hanya tersenyum simpul. Lalu mengarahkan kemudinya ke kedai mie syaiton terdekat. 'Dasar cewek aneh. Bisa cepat berubah sikap dari jutek jadi manis tanpa aba-aba. Denger makanan aja matanya berbinar-binar gitu.. Oh, sweet girl.'
Sesampainya di kedai mie, Keara memilih meja di sisi timur restoran. Keara duduk di kursi sofa single yang menempel di dinding. Dinding yang penuh dengan wall art deco kalimat-kalimat motivasi yang ditempel secara acak. Tapi memberi kesan unik. Menjadi background yang pas kalau Keara ingin berfoto ria.
Sejujurnya, ini bukan kali pertama Harris makan di kedai ini. Dulu sesekali ia pernah makan di sini dengan Rizky. Kesimpulannya, ini adalah tempat makan favorit Keara dan Rizky.
"Level 1."
"Serius?" netra Keara membulat. 'cemen amat pesan level 1.. Gak sebanding ama gayanya yang sok cool dan omongannya yang seuprit.'
Harris mengangguk. "Minumnya air mineral saja."
Keara beranjak. Menuju ke meja pesanan. Untungnya saat ini tidak antri panjang seperti biasanya. Hanya ada 2 orang pemesan di depan Keara.
"Mie syaiton level 3, dua ya mbak. Minumnya air mineral 1 dan es teh 1." ujar Keara saat tiba di depan pramuniaga. 'Sorry mas Harris.. kerjain dikit gak papa yaa.. Hehe.. Anggap aja abis ini kita impas. Karena mas udah nakut-nakutin aku pas di makam tadi..'
Setelah makanan pesanannya datang, Keara dengan liur tertahan menggosokkan kedua telapak tangannya. Siap menghabisi isi piring tanpa tersisa. Melampiaskan sesak di dadanya dengan makanan pedas yang menjadi favoritnya dulu. Favorit mas Rizky juga.
Sekali suap, dua kali suap, dan selanjutnya Keara lahap dengan cepat. Keringat di dahi sudah mengalir turun. Wajahnya memerah. Tapi ada hal lain yang menyenangkan bagi Keara saat ini. Yaitu melihat Harris kuwalahan memakan mienya. Terlihat sekali lelaki ini ga kuat makan pedas. Ah, cemen.
"Hahh! Ini kok pedes banget? Kamu salah pesen??" Ucap Harris dengan nada bicara yang kacau, karena diselingi dengan mengatur nafas dan mulutnya yang seakan terbakar.
"Engga salah kok.. Level 1 kan?"
Harris mengangguk, sambil meneguk air mineralnya sampai tersisa sedikit.
"Nih cobain mie punyaku. Aku tadi pesen level 3, pasti lebih pedes punyaku." tantang Keara. Dalam hati, ia terkekeh licik. 'Sekali-kali lah ngerjain gunung es. Pengen tau gunung es itu bisa meletus gak yaa kalau lagi marah..?'
Harris mengucap "No." dari bibirnya tanpa suara. Ia melanjutkan lagi aktivitas makannya meskipun merasa kepedasan. Sudah kepalang tanggung. Siapa tau makin dimakan makin ga kerasa pedesnya.
Keara mengulas senyum tertahan. Melihat penampakan Harris cukup menyenangkan baginya. Tapi reaksi marah yang ia tunggu tak kunjung nampak. Harris tetap makan meski dengan mulut terbakar. Tak ada momen meletusnya gunung es seperti ekspektasi Keara. Membuat Keara mengerut heran.
Keringat sudah membanjiri wajah Harris dan kini mengalir ke lehernya. Membuat Harris sontak melepas jas dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Yang ia rasakan saat ini adalah mulut, kerongkongan, dada, dan lambungnya seperti dialiri lahar panas.
Harris mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dari dompetnya dan menyodorkannya pada Keara. "Tolong belikan lagi air mineral, siomay, dimsum, french fries, dan terserah kamu apa lagi. Pokoknya yang bisa dimakan untuk menetralkan pedas di mulutku ini.." perintah Harris.
"Siap bos!" Keara langsung beranjak dari duduknya, namun sedetik kemudian dia terkekeh geli melihat Harris kuwalahan menghabiskan makanannya.
...----------------...
Karma do exists, Harris..
Kejahilan Keara anggap saja sebagai balasan untuk kegabutan kamu yang udah kempesin ban motor K.. Hihii..
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih