Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Melebur Dalam Rasa


Malam kian beranjak larut. Keara dan Harris baru saja merebahkan raga di ranjang empuk mereka di kamar. Lelah sekali rasanya. Padahal tidak ada yang terlaksana satu pun dari list yang diinginkan Keara untuk dilewati di ulang tahun Harris hari ini.


Usai makan siang menjelang sore di restoran padang tadi, mereka berdua mengantar mama kembali ke hotel. Membantu mama Anita mengepak kembali barang-barang ke dalam koper. Lantas mengantar mama ke bandara untuk kembali ke Banjarmasin, Kalimantan.


Setelah dari bandara, sampai pesawat yang ditumpangi mama Anita lepas landas, Harris dan Keara menyempatkan diri mampir makan malam di warung makan pecel lele. Mereka batal melakukan candle light dinner di restoran, karena ibu hamil satu itu sudah terlanjur kelaparan. Terlalu jauh kalau harus menuju restoran yang sudah dipesan dua hari lalu itu.


Mama Anita tidak bisa berlama-lama di Surabaya. Sebab masih harus menjaga cucunya yang masih bayi. Sebenarnya Anita merasa tidak enak dengan Harris dan Keara. Baru saja berbaikan. Sudah harus berpisah lagi..


Kinanthi masih terlalu muda dan belum berpengalaman menjadi seorang ibu. Ia masih butuh bantuan mama Anita dalam hal mengurus anaknya yang masih bayi. Harris dan Keara memaklumi hal itu. Mereka berjanji akan sering bertukar kabar melalui telepon seluler. Harris pun meyakinkan mamanya kalau tidak perlu merasa tidak enak.


Keara bangkit sejenak dari posisi rebahan. Dengan setengah duduk, ia mengambil sesuatu dari dalam handbag yang tergeletak di ranjang dekat kakinya. Keara memutar tubuhnya dan menjatuhkan diri di atas badan kekar berterlan jang dada yang masih asik merebahkan diri. Ia menyodorkan sebuah kotak beludru hitam dengan hiasan pita biru di atasnya.


"Apa ini sayang?" Harris memutar-mutar kotak berpita biru itu. Bibirnya menyunggingkan senyum seraya mengguncang-guncangkan kotak itu. Berharap bisa tau apa isinya tanpa membuka.


"Kado ulang tahun.."


Harris menatap dengan binar cerah. Rasa kantuknya mendadak lenyap. Ia menangkup pipi Keara lantas mencium bibir istrinya. Belum juga tahu apa isinya. Sudah sangat bahagia saja lelaki itu. Baginya, kotak hadiah itu diisi daun pun, ia sangat senang. Apapun barang yang diberikan oleh sang istri akan menjadi kado terindahnya. Heh... Lebay..!


"Kamu bilang ga nyiapin kado spesial..." tanya Harris. Belum juga berniat membuka kotak. Tapi senyuman terus menghiasi wajah tampannya.


"Itu memang bukan kado spesial. Cuma jam tangan biasa.."


"Boleh kubuka?'


Keara mengangguk. "Tentu sayang.."


Harris membuka kotak beludru itu tanpa bangkit dari posisi rebahannya. Sudah terlalu nyaman dengan setengah badan istrinya menumpang di atas dada. "Bagus sekali. Terima kasih, sayang.." Harris mengangkat jam tangan pemberian Keara. Melingkarkan di pergelangan tangan. Lantas merengkuh raga cantik itu. Melabuhkan ciu man di puncak kepala wanitanya.


Keara merasa begitu tersanjung. Padahal kado itu tak seberapa jika dibandingkan dengan deretan jam tangan yang dimiliki Harris. Harga tidak mahal, merk pun terbilang standart. Tapi Harris terlihat sangat senang dan berulang kali mengucapkan terima kasih.


"Sayang, are you happy?" tanya Keara tanpa mengangkat kepala yang masih betah bersandar di dada Harris. Ujung jemarinya melukis gambaran abstrak di dada sang suami. "Maaf yaa.. Hanya itu yang bisa kuberi. Kupikir mas Harris sudah punya semua barang. Jadi aku bingung mau kasih kado apa.."


"Hmm.. I'm very happy, K.. Saangaat bahagia." tutur Harris. Ia membelai surai panjang kecoklatan milik Keara. "Ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku, K... Kamu ga perlu kasih kado apapun. Kamu, si kembar, dan mamaku. Itu sudah sangaat berarti untukku. Aku yang seharusnya minta Maaf sayang.. Tidak satupun rencana yang kamu inginkan tadi terlaksana.."


Keara menggeleng. "ada kok.. Rencanaku mau kekepin mas Harris dua puluh empat jam. Sudah terlaksana."


Harris terkekeh. "Setiap hari kekepin aku dong, sayang..."


Keara menatap Harris. Tubuhnya bergerak merambat hingga wajah sampai di dekat suaminya. Mendekat lalu mengecup pipi Harris. "Dengan senang hati, sayang..."


Lelaki itu membalas dengan ciu man bibir. Lembut. Dalam. Dan lama.


Setelah tiga menit, Harris mengakhiri sesi luma tan bibirnya. Ia rebahkan kepala sang istri di sampingnya. Membelai pipi putih selembut sutra itu.


Keara menatap mas Harris. Lagi. Kali ini dengan binar semakin terang. Penuh cinta. Senyum tipis pun menghiasi wajah polos tanpa make up itu. "Terima kasih.. Mas sudah mau berbesar hati menerima mama kamu kembali. Memaafkannya dan mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Aku yakin itu gak mudah. Tapi mas bisa menerima mama lagi. Aku banggaaaa banget sama suamiku yang berhati emas ini.."


"Aku belajar dari kamu, sayang..."


"Heh??" Keara mengernyit bingung.


Keara masih diam tak mengerti.


"Menerima takdir dan ketetapan Allah. Orang yang paling bisa menerima adalah orang-orang yang paling bahagia. Menerima berarti mampu berdamai dengan peliknya hidup, memeluk erat, lalu perlahan menyembuhkan luka di hati. Dari kelabu jadi penuh warna." tutur mas Harris.


"Karena kamu mau menerimaku, K.. Dengan segala kegelapan masa mudaku. Kamu meyakinkanku kalau kamu bisa menerimaku sepenuhnya. Masa lalu, masa saat ini, dan di masa mendatang. Dengan itulah Kamu menyembuhkan luka di hatiku, sayang.."


"Sejak ada kamu, hidupku tak lagi kelabu. Sekarang jadi penuh warna." lanjutnya. Membuat Keara menghujani wajah tampan itu dengan kecupan berulang kali.


Keara membentangkan lengan. Lantas merengkuh raga besar suaminya itu. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Harris. Yang menjadi penenangnya selama hamil muda lalu. Aroma yang menjadi candunya. "Manusia gunung esku sekarang sudah meleleh. Gak beku lagi. Sekarang hangat.. Bahkan terkadang sangat... panas."


"Kamulah nyala api dalam hidupku, sayang.. Kobaranmu tak hanya melelehkan bekunya hatiku, tapi juga menghangatkanku dan memberi cahaya terang di hidupku."


"Uuuh.. Gunung es ku kalau udah ngegombal jadi maniiiis sekali.." Keara makin merapatkan lilitan tangannya yang mengelilingi tubuh Harris. Membuat lelakinya merasa sesak, namun anehnya, juga merasa begitu bahagia.


Ciu man yang entah keberapa kali terjadi malam ini, kembali terulang. Harris tidak bosan membelit lidah manis Keara. Ia merasa takjub karena candunya itu tidak berkurang sedikitpun rasa manisnya meski sudah berulang kali ia sesap


"Beneran nih.. Bumil ini ga ngambek? Hari ini sangat melenceng dari rencana semula.." Harris mendekap Keara. Dengan mata terpejam ia kembali berkata. "Aku janji akan mengganti di lain hari yaa, sayang.."


Keara mengangguk. "Tidak masalah, sayang.. Masih banyak hari.. Yang terpenting, hubunganmu sama mama kamu sudah membaik.. Aku ikut seneng, mas.."


"Semua itu berkat kamu sayang.."


"Terima kasih sudah mau menemui mama di hotel kemarin.."


"Hah?" netra Keara membulat. Ia sampai mendongak ingin menatap Harris untuk memastikan pendengarannya tidak keliru. Yang didapati justru Harris tersenyum dalam kepadanya.


Keara nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Mas Harris kok tau?"


Harris mengacak rambut depan istrinya. Terlalu gemas. "Tentu tau, sayang.. Yang kamu perintah untuk mencari tau keberadaan mama itu anak buahku yang paling setia... Dia bukan tipe manusia yang bisa menyimpan rahasia dariku.."


Keara berdecak sebal. Ia merubuhkan lagi kepalanya di atas bantal. Bibirnya menggerutu, "Dasar Mas Bara gak bisa dipercaya...."


Harris tergelak. "Hahahaa..."


"Berarti sejak awal mas tau kalau kemarin aku abis nemuin mama kamu? Trus kamu juga tau kalau mama kamu bakalan dateng?" selidik Keara.


Harris mengendikkan bahu. "bagaimana aku tahu?" Harris tertawa seraya mengusap puncak kepala Keara. "Bara tidak memberi tahuku sejak awal. Ia baru melapor sejam lalu waktu kamu di kamar mandi tadi.. Jadi... bisa dibilang Bara masih menuruti perkataan kamu. Meskipun sedikit."


"Cih.. Dasar batu bara." cibir Keara.


...****************...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih