Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Ibarat Kucing


Keara membuka paperbag dari ibuk. Dia tercenung melihat isinya. Sehelai baju tidur yang dibawakan ibunya untuk ia pakai malam ini. Baju tipis menerawang berwarna putih itu terlihat cukup se*xy bila dibandingkan setelan baby doll yang biasa ia pakai untuk tidur sehari-hari.



Lama Keara menimbang akan memakai baju tipis ini atau tidak. Ia sangat malu dan segan. Tapi sikap acuh tak acuh Harris sore tadi membuatnya berpikir dua kali.


'Tadi saja mas Harris semangat banget mau bantu buka kebayaku.. Tapi sekarang dia bahkan gak mau ikut naik ke kamar.. Dan biarin mbak Angel yang bantuin aku semuanya. Mana sekarang udah hampir jam tujuh, tapi Mas Harris belum kembali juga..'


'Apa tadi aku salah ngomong yaa..? Tapi emang malu banget ngaku kalau aku juga sebenarnya pengen ngekorin dia pergi kemanapun.. Apalagi dia kalau meeting keluar negeri, balasan chatnya amat sangat slow respon.. Gak kebayang besok -besok gimana senewennyaa aku nunggu kabar darinya..'


Tadi jam 18.20, mas Arman sudah datang ke kamarnya untuk menjemput ibuk, dan mereka pulang bersamaan dengan mbak Angel juga.


Padahal tadi mas Harris pergi ke mushalla hotel sama mas Arman. Itu artinya sekarang Mas Harris sendirian di mana entah dia tidak tahu.


Keara tidak ambil pusing. Lebih tepatnya ia menunda memikirkan dimana suaminya itu berada. Keara lebih memilih untuk membongkar isi paperbag pemberian ibunya tadi. Masih ada perintilan lain selain baju tidur tipis setipis kulit ari itu.


Ada seperangkat wewangian dari brand yang Keara tau berharga cukup fantastis. Mulai dari shower gel, shampoo, body lotion, parfum tubuh, sampai parfum untuk mi ss v nya. Keara cukup terpana dibuatnya. Ada juga alat cukur, yang ia tahu pasti fungsinya.


Keara tidak heran, karena ibu bilang paperbag itu pemberian mbak Merry. Mbak Merry yang memilihkannya untuk Keara pakai setelah menikah. Calon kakak iparnya itu memang terlihat sangat perhatian.


"Dengar baik-baik, K.. pantang hukumnya menolak 'permintaan' suami.. Sekalipun kamu lagi capek atau sakit. Tapi kalau ibuk lihat sih, nak Harris gak bakalan tega juga memaksa kamu melayaninya saat kamu sakit atau lelah.." terngiang kembali petuah ibu tadi, sebelum ibu pulang ke rumah meninggalkan anak gadisnya yang baru saja resmi dipersunting orang.


"Ibaratkan suami kamu itu seperti kucing. Kalau kamu sudah memberinya cukup makanan, ia tidak akan mencuri ikan asin di rumah tetangga. Jadi penuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya.. Kalau perlu sampai 'kekenyangan', supaya ketika suami kamu pergi keluar rumah, ia tidak akan tergoda untuk memakan ikan-ikan yang bertebaran di luaran sana. Karena kamu sudah cukup bisa membuatnya kenyang. Dia sudah puas bersamamu.."


"Betul mbak K.." mbak Angel ikut menimpali. "Suami kayak mas Harris sih pasti banyak yang mengincar.. Kalau lihat mas Harris sih orangnya pasti setia, tapi pelakor-pelakor di luar sana punya 1001 ajian buat menjerat mangsa. Jadi betul kata ibu, Mbak.. Harus dijaga dan dilayani sebaik mungkin.."


Berbekal petuah ibu itulah, Keara memutuskan untuk mandi. Membersihkan dirinya. Mencukur area-area yang harus dicukur. Memakai wewangian terbaik dan termahal hadiah dari mbak Merry. Dan mengenakan baju tidur setipis kulit ari.


Keara memutuskan untuk menunggu suaminya kembali sambil merebahkan raga yang terasa amat lelah itu. Meluruskan punggungnya, dan menyamankan kepalanya di atas bantal empuk dan super lembut itu.


Sampai Keara selesai menunaikan sholat isya, mas Harris belum juga kembali. Keara sudah mencoba meneleponnya satu kali tapi tidak ada jawaban. Ia juga mengirim pesan singkat menanyakan keberadaan suaminya itu, tapi belum dibalas juga. Bahkan belum terbaca.


'Tapi masa iya, gara-gara gitu aja mas Harris ninggalin aku di malam pertama sih? Apa dia segitu marahnya? Aku harus cari dia kemana kalau udah begini...?'


Keara yang merasa kelopak matanya teramat berat, tanpa sadar ia sudah terpejam dibuai mimpi. Raga yang lelah bertemu dengan ranjang empuk hotel bintang lima sontak membuatnya dengan cepat terbang ke alam mimpi. Ia meringkuk seperti bayi di atas ranjang king size yang ia tempati sendirian.


...----------------...


Pukul 19.50, Harris masuk ke room presidential suite di lantai dua puluh lima itu. Kamar dimana bidadari cantiknya pasti sedang menunggunya.


Tadi Harris menunaikan ibadah shalat maghrib di mushalla hotel. Sembari memberi ruang dan waktu pada istrinya membersihkan diri usai menjalani prosesi pernikahan yang cukup melelahkan. Kemudian ia putuskan untuk sekalian menunggu sampai isya tiba.


Bukan hanya itu alasan sebenarnya. Ia juga ingin menghindar dulu melihat istrinya. Ingin meredam gejolak dalam dirinya.


Harris ingat, semenjak mereka mulai dekat sampai menikah hari ini, tidak sekalipun Keara menyatakan cinta padanya. Pun ketika teman-teman istrinya debat kusir di atas pelaminan tadi, tidak terlihat tanda-tanda Keara sudah mulai mencintainya. Setidaknya itulah yang dirasakan Harris.


Ia tidak ingin memaksakan kehendaknya untuk bercinta dengan istrinya, pasangan halalnya, ketika gadis itu tidak benar-benar menginginkannya. Toh, untuk apa terburu-buru. Ia punya banyak waktu. Seumur hidupnya akan ia habiskan bersama gadis tercintanya itu. Malam pertama yang ia impikan bisa terjadi kapan saja saat gadisnya benar-benar siap, melakukannya dengan ikhlas dan penuh cinta.


Tidak, Harris bukannya marah. Ia sangat memaklumi kalau Keara belum memiliki rasa yang sama dengannya. Ia pun sudah pernah mengatakan kalau dirinya akan sabar menunggu perasaan cinta itu tumbuh dengan sendirinya di hati sang ratu.


Tapi kelapangan hatinya berbanding terbalik dengan has ratnya yang berapi-api. Memaksanya untuk sengaja menghindar dulu dari istrinya demi meredam gai rahnya itu. Menenangkan juniornya yang terus menegang ingin menerkam mangsa tanpa kompromi.


Harris menelan salivanya. Nafasnya tercekat. Pemandangan di depan mata sungguh membuat usahanya menyepi di mushalla tadi sia-sia. Musnah. Semua menguap ke udara begitu saja.


Harris mendekat ke ranjang king size. Mendekati raga cantik yang terlelap berbalut baju tidur tipis berwarna putih yang menggetarkan imannya.


Harris mengecup singkat kening istrinya. Pipi. Ujung hidung. Kemudian beralih mengecup bibirnya. Bersyukur Keara telah benar-benar terlelap. Gadis itu jadi tidak menyadari perlakuan manis penuh has rat dari sang suami.


Harris tidak ingin mengganggu tidur nyenyak Keara. Ia pun juga tidak akan menyentuh istri cantiknya tanpa persetujuan dari si empunya.


Berbaring di samping istrinya. Sangat dekat hingga ia bisa menikmati betapa wangi dan segar aroma shower gel dan shampoo yang dikenakan Keara. Ia pun berusaha memejamkan mata dengan memeluk pinggang sang istri dan tenggelam di ceruk leher seraya menghirup aroma paling melenakan seumur hidupnya.


Angan tinggallah angan.


Harapannya ingin tertidur. Melepas penatnya dan merehatkan raganya yang sangat lelah. Nyatanya ia tak kunjung bisa terlelap dengan nyenyak sampai tengah malam.


Apa daya.. Hasratnya yang membuncah lebih kuat daripada keinginan untuk beristirahat.


Pesona gadis di sampingnya ini menariknya begitu kuat hingga ia ingin sekali tenggelam dalam pusaran gelombang cinta yang indah dan memabukkan.


Tapi gadis itu faktanya masih tertidur dan tidak sedikitpun menyadari keberadaannya. Membuat Harris bangkit dan masuk ke kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Memadamkan api gairah yang memanaskan tubuhnya semalaman ini.


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih