Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Twins Up


Ibu dan mas Arman tiba di rumah sakit satu setengah jam setelah Keara meneleponnya. Karena harus menunggu sampai Arman selesai meeting dan pulang ke rumah. Keduanya duduk di ruang tunggu di depan ruang bersalin. Sama-sama menatap pintu besar ruangan yang masih tertutup seraya menimbang bisakah mereka masuk ke dalam untuk melihat kondisi Keara atau tidak.


Selang beberapa menit tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Ibu dan mas Arman langsung berdiri. Tampak Harris keluar dengan berlinang air mata. Tubuhnya tampak lemas sehingga langsung terduduk di lantai bersandar pada pintu yang telah tertutup kembali. Harris menunduk dalam, menatap kedua lututnya sendiri, seraya tangan menyisir kasar surainya.


Ibu dan mas Arman terhenyak. Terburu-buru menghampiri Harris yang terlihat memprihatinkan. Jantung ibu sampai berdetak cepat dengan segala pikiran buruk membingkai.


"Ris...kenapa Ris??" cecar Arman.


"Nak Harris, Keara bagaimana?" ibuk pun tak mau kalah. Ingin menuntaskan rasa penasaran yang mendesak.


Harris mengangkat wajah menatap ibu dan kakak iparnya itu. "Keara di dalam. Sedang dibersihkan Bu.."


"Terus gimana keadaannya? Sudah lahiran belum?" cecar ibu tidak sabar. Mas Arman juga menatap Harris tajam. Berharap mendengar kabar baik.


"Sudah Buk.. Keara dan bayinya sehat."


Ibu terduduk di lantai. Berhadapan dengan Harris. Beliau menghembuskan nafas penuh kelegaan bersamaan dengan mengucap syukur pada Tuhan. "Alhamdulillah..."


"Anak pertama kami laki-laki, yang kedua perempuan, lahirnya selang satu menit. Berat lahir 2,9 kg dan 2,8 kg. Kata dokter semua baik dan normal Buk.. Alhamdulillah.." lanjut Harris.


"Anjir.. Terus kenapa muka kamu begitu Ris..? Bikin kaget aja." seloroh Mas Arman yang juga menyusul duduk di lantai. Ingin sekali menoyor adik iparnya itu, tapi ia tahan.


"Lemes banget mas.. Gemeteran terus dari tadi. Bawaannya udah mau nangis terus.. Tapi tadi dikuat-kuatin karena liat Keara kuat banget." Harris menyeka air matanya. Persis seperti anak-anak yang puas menangis dan akan bermain lagi.


Arman dan ibu terkekeh geli. "Duh nak Harris.. Ibuk sampe kaget. Takut kenapa-napa.."


"Ck! Harris.. Harriss..Tampang aja yang garang dan tegas.. Anak lahir malah nangis kamu tuh.." timpal mas Arman.


Harris hanya meringis dan kembali mengacak rambutnya. "Mas Arman sih belum punya anak. Ntar juga kerasa sendiri.. Gimana lemesnya nemenin istri lahiran."


Mas Arman tergelak.


"Sudah, ibu mau masuk dulu. Mau bantu-bantu, barangkali Keara butuh.."


"Monggo Bu.. Saya mau tarik nafas dulu disini." Harris bangkit. Melangkah ke depan untuk duduk di kursi tunggu. Juga untuk memberi jalan pada ibuk agar bisa masuk ke ruangan bersalin Keara.


Harris dan Arman duduk berdampingan di ruang tunggu. Keduanya terdiam beberapa saat. Sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hanya ada orang-orang berjalan hilir mudik melewati mereka. Akibat sudah memasuki jam besuk pasien rumah sakit.


"Sudah lama sampai sini mas?" tanya Harris memecah keheningan antara mereka.


"Baru. Lima menitan." Arman menoleh pada Harris. "Breaking news pagi ini beneran Ris? Rumah kamu disatroni preman?"


Harris menghela nafas. "Sudah keluar beritanya mas?"


"Berarti bener? Kok bisa? Bukannya rumah kamu penjagaannya ketat?" cecar mas Arman.


"Mereka nipu bodyguard rahasiaku, mas.. Jadi mereka lepas penjagaan. Terus satpam di rumah dibekuk sampai pingsan." papar Harris. "Pas aku dateng, mereka udah dilumpuhkan sama Bara dan anak buahnya di kamarku. Prediksiku sih, target mereka memang Keara mas.."


"Karena itu mereka nekat beraksi pagi hari?"


"Iya. Mungkin anggapan mereka kalau pagi aku sudah pasti keluar rumah. Kalau malam aku stand by bareng K.."


"Terus Keara?"


"Dia sembunyi di kamar mandi. Tapi karena kejadian itu yang bikin ketubannya pecah dini dan sempat ada flek pendarahan juga."


"Sekarang gimana nasib preman-preman itu? Suruhan siapa mereka?" sepertinya pertanyaan yang berjejal di kepala mas Arman cukup banyak. Hingga terus melontar tanya.


"Semoga baik-baik aja ke depannya.. Kulihat di berita tadi rumahmu lumayan hancur begitu.."


"Breng sek memang.. preman-preman amatir dikirim."


"Ya udah, Kita masuk yuk.. Itu udah selesai kayaknya." ucap mas Arman begitu melihat tiga orang perawat yang tadi membantu Keara sudah keluar dari ruang bersalin. Harris mengangguk mengiyakan. Lantas bangkit dan berjalan beriringan dengan mas Arman untuk menemui belahan jiwa tercintanya.


Di dalam ruangan, terlihat ibu membelai rambut Keara. Netra Harris kembali memanas melihat wanita tercinta yang tampak berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya. Wanita itu tampak tersenyum dengan netra terpejam. Tampak ia sangat kelelahan, tapi raut bahagia tak bisa ditutupi.


Harris kembali menitikkan air mata. Namun kali ini cepat-cepat ia seka. Tak ingin wanitanya bertanya-tanya. Dikecupnya kening sang istri. Dalam dan lama. Hingga senyum yang merekah kian lebar.


Keara mengulurkan tangan untuk mengusap rahang tegas Harris. Netranya terbuka dan bersitatap dengan senyum yang tak lekang. "Bayi kita mana mas?"


"Sedang disiapkan untuk bertemu dengan ibunya yang cantik ini..." jawab Harris.


Harris menggenggam jemari Keara dan mengusapnya dengan sangat lembut. Ia sangat berhati-hati karena takut istrinya masih merasakan sakit sisa-sisa dari proses persalinan yang luar biasa menguras tenaga.


"Mas Harris nih.. Kalau nanti aku hamil lagi, kamu gak usah ikut nemenin aku lahiran deh mas.. Nyebelin soalnya." gumam Keara. Namun cukup jelas terdengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu.


Harris tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuk yang tak gatal. "Jangan dong sayang.. Aku mau nemenin kamu terus. Aku janji! Selanjutnya ga akan nyebelin lagi." Harris meringis sambil mengangkat tangan dengan jari kelingking yang mengacung. "atau, lahiran selanjutnya kamu sc ajalah udah... Gak tega aku tuh liat kamu mengejan kayak tadi. Gak.. Gak.. Gak bisa aku sayang..."


Bibir Keara terbuka hendak membalas. Tapi ibu segera menyudahi perdebatan anak dan menantunya itu. "Sudah dikasih nama belum?" tanya ibuk.


Keara menggeleng. Keara kembali menatap Harris, "Tapi aku sudah siapkan nama buat mereka.."


Harris menaikkan alis seolah bertanya 'siapa?'


"Galen Galadriel Risjad dan Ghaitsa Gemala Risjad" ucap Keara seraya mengerling pada suaminya.


Seketika kening Harris berkerut. "Yang lainnya bagus. Tapi kalau Galen, ga suka. Ganti."


Keara melotot hendak memprotes, tapi Harris lebih cepat menyela. Dengan suara memelas yang sangat menggemaskan. "Galen kan namaku sayang.. Kok dikasih ke bocah itu sih..?"


"Bocah itu... Bocah itu... Itu kan anak mas Harris juga." salak Keara. Sepertinya nyeri pasca melahirkan sedikit pulih mendengar sengitnya ia membalas ucapan suaminya.


"Iya, tapi kasih nama lain dong sayang.. Jangan Galen. Itu namaku dari seseorang yang tercinta.." Harris tersenyum setelah mengucapkan kalimat yang terakhir.


"Itu kan cuma nama sebutan doang... Nama mas kan tetep Harris. Jadi ga masalah dong.. Kalau anak kita kuberi nama Galen.. Aku suka nama itu.."


Harris tak membalas lagi. Hanya menghembuskan nafas pasrah. Pasrah menerima keinginan Keara. Setelah menikah, memang sudah menjadi kebiasaannya untuk menuruti apapun kemauan Keara. Impiannya adalah ingin memastikan kebahagiakan belahan jiwanya ini. Masa iya perkara nama anak aja dia tak mau menuruti..?


Ibu tersenyum mendengar interaksi anak dan menantunya ini. Sedangkan mas Arman tak bisa menahan tawanya.


Tak berselang lama, dua orang perawat masuk dengan mendorong dua box bayi. Keara dan Harris menyambutnya dengan senyum bahagia.


Sepasang malaikat mungil itu dengan cepat berpindah ke dekapan Keara dan Harris. Atmosfer cinta dan kebahagiaan berpendar memenuhi ruangan. Menghangatkan hati siapapun yang menyaksikan sepasang manusia yang tak pernah berhenti saling jatuh cinta itu.


Dengan khusyu' Harris melafadzkan adzan di telinga sang buah hati. Satu per satu. Lantunan indah itu berhasil meloloskan bulir bening penuh haru dari netra Keara. Dua buah hatinya. Buah cintanya dengan suami tercinta telah lahir. Memenuhi setiap ruang di hatinya. Anak-anak yang akan menjadi perekat cintanya pada Harris Risjad. Selamanya.


...****************...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih