Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Fakta Kedua


"Ada yang cantik gak perawat centilnya?" tanya Harris tiba-tiba. Dengan mata yang masih terpejam. Mengejutkan Keara hingga langsung membuatnya melepaskan tangannya dari selimut Harris dan berdiri tegak.


"Astaghfirullah.. Mas Harris ngagetin aja! Iihh!!"


Harris membuka matanya dan tersenyum. Entah senyumnya bisa terlihat atau tidak. Karena selimut masih menutupi setengah wajahnya.


"Kamu ngomel mulu sih.. Berisik. Aku jadi kebangun.." Harris mengangkat tubuhnya. Duduk sambil mendekap kakinya yang masih terbungkus selimut.


"Siapa yang ngomel....?" gumam Keara tidak jelas. Ia menunduk sambil memutar-mutar tiang penyangga kantung infusnya


Harris tertawa kecil. Tangannya menepuk kursi di sampingnya, sebagai isyarat agar Keara duduk.


Keara menurut dan duduk manis di sana. Dia masih menunduk sambil memilin ujung jubah pasiennya. "Kirain mas Harris udah pulang tadi malam.. Ngapain malah tidur disini? Kan bisa tidur di dalam kalau memang mau nginep.."


"Gak enak.. Ganggu waktu kamu sama keluarga."


Keara tersenyum getir. Dulu ketika lelaki ini sakit, ia seorang diri di dalam kamar rawat inap yang luas dan mewah. Sekarang pun, ketika ganti Keara yang sakit, ia tetap menunggu Keara seorang diri di luar. Dan membiarkan Keara bersama dengan keluarganya di dalam kamar. 'Apa dia memang lebih senang menyendiri?'


Harris menempelkan punggung tangannya di dahi Keara. Mengecek kondisi gadis cerewetnya. "Gimana keadaan kamu?"


"Aku udah baikan kok mas.. Udah bener-bener sehat wal afiat.." sahut Keara. "Aku pulang ke rumah aja yaa mas setelah ini.."


"Tunggu Dokter Frans periksa keadaan kamu jam sepuluh pagi nanti..."


"Tapi mas..."


"Kalau dokter ngijinin pulang, kamu boleh pulang.." sela Harris lagi.


Keara merengut. Malas berargumen. Debaran jantungnya sudah tidak bisa ditolerir. Apalagi melihat wajah bersih bangun tidur Harris, yang bagi Keara ketampanannya pagi ini melebihi batas normal dan kewajaran manusia biasa. Halaah.. Lebay K..


Harris mengusap kepala Keara. Membelai rambut panjang gadis itu dengan lembut. "Maaf yaa.. Setelah ini aku harus ke kantor. Ada meeting yang gak bisa ditinggal. Aku sudah suruh pak Diman stand by disini. Kalau nanti kamu butuh apa-apa, atau sudah diijinkan pulang, Pak Diman yang akan nganter kamu sama ibu.."


"Terima kasih, mas.. Tapi aku bisa naik taxi, atau mobil online. Kami bisa ngurus keperluan kami sendiri mas.. Mas Harris gak perlu repot......"


"Jangan cerewet.." Harris menjewer hidung mancung Keara sampai gadis itu meringis.


"Nurut saja dulu yaa, anak cerewet.. Jangan banyak protes."


Belum stabil detak jantung Keara. Diperlakukan sangat manis oleh Harris. Pipinya seketika memerah. Ia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat Harris. Ia terlalu malu. Terlebih bayang wajah Harris yang hendak menciumnya tadi malam terus berseliweran di kepalanya. 'Aahh.. Malunyaaaa..'


"Ini buat kamu." Harris menyodorkan sebuah paperbag dari balik tubuhnya. Paperbag kecil yang tercetak logo sebuah counter HP ternama.


Keara mendelik. Kaget sekaligus kesal. Entah kesal karena apa. Dia hanya tidak terbiasa dimanjakan sedemikian rupa oleh orang lain secara materi. Apalagi oleh Harris. Yang notabene adalah orang baru baginya.


"Mas, ini berlebihan....." Lirih Keara.


"Apalagi K..? Kamu nih protes terus." Harris menguap, kemudian merapatkan selimut yang masih membungkus tubuhnya.


Semalam ia memang meminta Aswin untuk membeli ponsel baru Keara. Memilih tipe keluaran terbaru dan canggih. Tapi tadi malam, Harris terlalu malu untuk memberikannya pada Keara. Terlebih setelah insiden 'terbawa suasana' yang membuatnya hampir saja melu mat bibir gadis itu. Uuh...sungguh bahkan sampai hari ini debaran jantungnya belum normal kembali.


'Aawhh.. Mengingatnya saja sudah membuat senjataku berdiri tegak begini.. Beruntung ada selimut yang menutupi. Jangan gob lok Harris.. bahkan kalian tidak jadi berciuman.. Bagaimana rasanya kalau jadi? Aaahh.. Si*aal!' batin Harris.


"Tapi ini kemahalan mas.. Aku gak bisa terima."


"Gak ada yang mahal K.. Keselamatanmu lah yang terpenting untukku. Di hape itu sudah kupasang aplikasi pelacak yang tersambung langsung dengan ponselku. Aku bisa mengakses lokasimu saat aku ingin tau keberadaanmu.."


"Tapi jangan merasa terintimidasi K, jangan mengira aku kepo. Aku tidak akan mencari tau keberadaanmu setiap saat. Hanya akan kupakai saat situasi genting seperti kemarin terjadi lagi."


"Iya, mas.. aku tau. Tapi......"


"Dengan ponsel ini, kita bisa tetep berkomunikasi saat aku harus keluar negeri. Biar kamu ga ngambek lagi dan ngatain aku tentara perang Afganistan."


"Hahahahha..." Keara tergelak, seraya memukuli lengan Harris dengan sangat malu. "Siapa yang ngambek....? Mas Harris iiihh.. Fitnah itu.."


Harris turut tertawa dibuatnya. Melihat semburat merah di pipi Keara sungguh menyenangkan baginya. Gadis cantik itu menyihir seluruh akal sehatnya. Ingin sekali menerkamnya seperti binatang buas. Dan menjadikannya tawanan untuk dinikmati kapanpun ia mau.


"Aku harus ke kantor sekarang, K..."


Keara mengangguk.


Harris bangkit dan melipat selimut yang tadi ia pakai. Sekali lagi ia membelai rambut Keara dengan sangat lembut.


"Kamu... Bisa pakai ponsel ini.. untuk browsing nama yang disebutkan Junaidi kemarin.. Nama papaku..."


Netra Keara membulat. Ia lalu bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di hadapan Harris. Keara bisa melihat kegetiran di pancaran netra Harris. Meskipun lelaki itu mencoba tersenyum demi menutupi kesedihan di baliknya.


"Apa mas Harris tidak ingin memceritakan sendiri kepada aku? Aku tidak akan mencari tau kalau memang mas Harris melarangku untuk mencari tau.."


"Aku pasti akan menceritakan semuanya kepadamu, K.. " Harris menangkup kedua belah pipi Keara. "Tapi tidak sekarang, sayang.. Aku butuh waktu."


"Sekarang cari tau lah dulu. Baca semua artikel tentang papaku, dan berpikirlah dengan matang. Apa kamu masih ingin tetap bersamaku setelah tau semua itu?"


Keara menunduk dalam. Rasa takut tiba-tiba menyergapnya. Ucapan Harris seakan lelaki itu siap meninggalkannya kapanpun. Dan anehnya, setitik perih menjalari hatinya.


...----------------...


Sepeninggal Harris, Keara kembali ke kamarnya dan mengutak atik ponsel mahal barunya. Dan aplikasi pertama yang ia buka adalah mesin pencari Google.


Mengetikkan nama Alfariz Risjad dengan nafas tercekat. Tanpa menunggu lama, muncul banyak sekali judul artikel di sana. Hanya membaca judul artikel-artikel itu saja sudah membuat lehernya terasa tercekik.


..."Alfariz Risjad, pengusaha sukses Go Tour and Travel, meninggal secara mengenaskan"...


..."Kontroversi di balik kematian Alfariz Risjad."...


..."Nasib buruk di akhir usia Alfariz Risjad, ditinggalkan istri serta dibunuh putranya"...


..."HR (10 tahun), putra tunggal Alfariz Risjad, diduga kuat sebagai tersangka pembunuhan ayah kandungnya"...


..."HR (10 tahun) resmi ditahan"...


..."Alfariz Risjad dinyatakan bunuh diri. Bagaimana nasib putranya?"...


...----------------...


Maapkeun kaka.. bab sebelumnya pendek karena dibagi sama bab yang ini.


Kalau gak dipotong kepanjangan.. Kalau dipotong kependekan. Othor dilemaaa.. β˜ΊοΈπŸ€—


Semoga suka kakaa.. Happy reading 🌹


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru πŸ˜‰


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih