
Ibu membimbing Keara agar kembali rebahan di ranjang. Keara kembali mengeluh pusing dan perutnya lapar. Tadi dia tidak jadi makan apapun karena sudah memuntahkan nasi yang baru masuk satu suap saja.
"Non mau makan apa?" tanya Bik Santi. "Apa mau sup iganya tadi bibik panasin lagi?"
Keara mengangguk. "Tapi gak pakai nasi ya Bik.."
"Siap Non.."
Bik Santi langsung beranjak keluar kamar tuannya itu. Sepanjang perjalanan ia terus tersenyum lebar dan siap membagikan kabar gembira ini kepada semua pekerja di rumah ini.
Semua pekerja di rumah Harris ini begitu menyayangi nyonya kecil mereka itu. Keara memang sangat ramah pada mereka. Keara selalu bersikap baik, sering membawakan makanan kalau pergi kemanapun, dan tidak pelit memberi tunjangan. Dan yang paling utama, Keara jauh dari kata sombong dan semena-mena terhadap orang-orang yang menjadi bawahannya. Bagaimana tidak sayang? Kabar kehamilan Keara juga pasti sangat menggembirakan semua orang.
"Ibu sama bik Santi kok senyam senyum terus sih?" tanya Keara karena melihat ibunya dan juga asisten rumah tangganya yang sudah tak terlihat lagi itu terus mengulas senyum. Dia saja masih kebingungan dengan hasil test tadi, kenapa ibunya malah terlihat senang senang saja?
"Kamu itu selama menikah enam bulan ini emang belum pernah pakai testpack?" ibu bukannya menjawab pertanyaan putrinya, justru balik bertanya.
"Belum." Keara menggelengkan kepala. "Selama ini menstruasiku datangnya lancar. Gak pernah telat. Cuma bulan kemarin aja yang bolos gak datang."
"Ini tandanya kamu memang positif hamil, K..."
Keara membulatkan matanya. Ia tersenyum bahagia. Wajah pucatnya kembali berseri. "Beneran Buk? Tapi kok garisnya samar-samar begitu.."
"Iya, memang begitu.. Walaupun garisnya samar, tapi kalau ada dua garis begini itu artinya positif." jelas ibu dengan sabar.
"Alhamdulillah... Aku seneng banget buk.." Keara spontan bangkit dan memeluk ibunya. Ibu membalas pelukan putrinya itu dengan mengusap punggungnya.
"Mas Harris juga pasti seneng banget buk.. Aaah.. Aku mau telpon diaa..." pekik Keara exciting. Ia ingin cepat-cepat mengabarkan berita baik ini pada Harris.
"Eh, kata kamu mas Harris hari ini ada meeting penting.."
"Oh iya yaa.. Ya udah deh nanti aja aku telponnya..."
Keara mengubah aplikasi di smartphonenya dari telepon ke kamera. Ia memotret lima biji testpack itu sebagai kenang-kenangan. Ia ingin mengirimkannya pada Harris, tapi urung dilakukan. Lebih baik mengemas testpack itu ke kotak kado dan memberikannya nanti secara langsung. Seperti yang sering Keara lihat di sinetron atau video-video orang lain.
"Nanti kalau suami kamu pulang, kamu periksakan kandunganmu ke dokter. Usia kandunganmu sepertinya masih muda. Masih rentan dan harus dijaga baik-baik."
"Iya, bu.." jawab Keara dengan senyum merekah.
"Kalau ga nafsu makan nasi, ya makan yang lainnya. Ada roti, sayur, daging, buah. Jangan sampai perut kamu kosong. Sekarang ada bayi yang menyerap nutrisi dari makanan yang kamu makan. Jadi jangan sampai malas makan.."
"Siap buk.."
"Juga jangan stress.. Ibu hamil harus bahagia. Biar bayi di dalam kandungan juga bisa merasakan. Kalian punya ikatan batin yang kuat. Kalau kamu stress atau banyak pikiran, anak kamu bisa merasakan. Dia nanti juga ikutan stress. Tapi kalau kamu menjaga mood kamu, tetap bahagia, banyak berkomunikasi sama si bayi, Inshaa Allah bayi kamu juga akan bahagia terus dan baik perkembangannya."
"Iyaa, ibuk.. " Keara terkekeh mendengar begitu banyak petuah ibunya. Ia mengusap-usap perutnya yang masih rata. Kebahagiaannya tidak dapat dibendung lagi. Ingin rasanya segera bertemu dengan Harris dan saling memeluk berbagi bahagia dan rasa syukur.
...----------------...
🌹 Kantor Harris
Harris menghempaskan raganya di kursi ternyaman segedung besar ini. Lumayan banyak energinya diforsir hari ini. Semalam dia kurang tidur karena menjaga Keara yang kram perut. Lalu pagi sampai menjelang sore hari harus meeting dengan klien luar negeri yang luar biasa detailnya sampai kesan cerewet.
Seharian ini dia belum mendengar kabar apapun dari Keara. Harris pun memutuskan untuk menelepon wanitanya itu. Tadi pagi saat ia tinggalkan berangkat ke kantor, Keara bahkan makan apapun dan itu menambah kekhawatirannya.
"Mas Harris.....!!"
Harris harus menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga karena mendengar pekikan nyaring istrinya.
"Cepet pulang. Cepet pulang. Cepet pulaaang..!!" lanjut Keara.
"Iya sayang, ini meetingnya baru selesai." jawab Harris dengan senyum terkembang. Lelahnya sedikit menguap. Mendengar suara riang istrinya membuat ia lega. Setidaknya, dinilai dari suaranya saja, tampaknya kesehatan Keara sudah jauh lebih baik dari tadi pagi.
"Gimana keadaan kamu, K? Sudah makan?"
"Sudah baikan mas, malah sekarang udah sangat baik." jawab Keara. Kalau saja mereka melakukan video call, pasti Harris bisa melihat betapa sumringah istrinya saat ini.
"Cepet pulang mas.. Barusan ibuk sudah pulang diantar pak Diman. Aku sendirian sekarang.. Ayo cepet pulang." rajuk Keara.
Harris terus tersenyum senang. Keara tidak pernah mendesaknya cepat pulang seperti ini. Wanita itu selalu sabar menunggunya pulang kantor jam berapa pun itu. "Iya sayang, aku pulang sekarang. Tunggu yaa.."
"He'em.."
Baru saja Harris akan menutup teleponnya, tapi suara nyaring Keara kembali terdengar membuatnya kembali merapatkan ponsel ke telinganya lagi.
"Mas, belikan aku donat j.ko yaa..!"
"Oke. Rasa favorit kamu biasanya yaa.."
"Iya, sayang.."
Harris segera bangkit dari duduknya. Menyampirkan jas ke lengannya karena sudah terlalu malas memakai kembali jas itu. Kemudian menyambar tas kerja dan kunci mobilnya. Kakinya terayun mantap menuju ke pintu ruangannya.
Belum sampai tangannya meraih handle pintu, tapi pintu sudah terdorong ke dalam membuat Harris sedikit memundurkan tubuhnya.
"Kamu ini ngagetin aja. Mana gak pake ketuk pintu.. Kamu pikir ini rumah mbahmu?" sembur Harris begitu tau pelaku pembuka pintu adalah Aswin.
"Maaf, Bos.. ini mendesak." jawab Aswin. Meski dalam hati ia ingin menyahut kalau mbahnya sudah meninggal dan tidak mewariskan rumah karena memang tidak punya.
"Bara menyuruh kita datang ke markas Pak. Dia menangkap seseorang yang mencurigakan."
Harris memicingkan mata. "Siapa?"
"Belum tau, Pak. Tapi laki-laki itu selama seminggu ini dia selalu mengikuti kemanapun non Keara pergi."
"Apa??" Harris melotot tajam. "Berani sekali tikus itu mengintai istriku! Cepat kita kesana. Aku ingin menghajarnya dengan tanganku sendiri." geram Harris.
Harris dan Aswin langsung menuju ke markas Bara. Emosi sudah menguasai, hingga Harris lupa memberi kabar pada Keara kalau hari ini ia pulang terlambat. Padahal baru beberapa menit lalu ia pamit akan segera pulang.
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih