Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Sudahi Sampai Di Sini


Di kamar rawat berkelas satu itu, tampak sepasang orang tua muda dengan senyum terkembang membelai buah hati mereka yang baru berumur enam jam itu. Dialah Harris dan Keara. Yang tak henti mengucap kata cinta untuk satu sama lain.


Ibu dan mas Arman baru saja pulang ke rumah. Mereka ingin bersiap karena Keara dan Harris juga si kembar akan pulang ke rumah ibu Keara untuk beberapa hari. Sementara, sambil menunggu perbaikan rumah mereka yang dirusak preman pagi tadi.


Sebenarnya banyak apartment Harris yang bisa ditempati, tapi ibu memaksa agar mereka pulang ke rumahnya. Dengan dalih ibu ingin merawat cucu kembarnya, juga rindu memanjakan Keara seperti dulu lagi. Memenuhi kebutuhan anak gadis yang sudah tak gadis lagi itu.


Saat ini Keara sedang menyusui putra kecilnya. Sedang sang putri sudah menyusu terlebih dahulu dan saat ini tengah terlelap dalam buaian Harris.


"Sayang, kamu sudah ngabarin mama Anita kalau aku udah lahiran?" tanya Keara.


"Belum sayang.. Nanti aja. Tanganku sibuk." Harris menunjukkan kedua tangannya yang tak bisa bergerak karena sedang menggendong Ghaitsa.


"Ya sudah.. Aku saja yang telepon."


"Hmm.. Lagian Gala juga sudah tidur. Taruh di boxnya lagi aja.."


"Galen, sayang.. Namanya Galen." seloroh Keara sambil menahan senyum. Ia merasa lucu setiap kali Harris enggan memanggil Galen. Malah mengganti panggilan untuk putra kecilnya itu menjadi Gala.


Harris berdecak. "Aneh sekali aku nyebut Galen, sayang... Berasa manggil diri sendiri. Udah deh, bocah itu panggilannya Gala aja. Titik."


"Ah. Terserah kamu." Keara bergerak pelan. Meletakkan Galen.. Eh, Gala- yang sudah tidur pulas di box bayinya. Setelah sang putra tidur pulas di kotak kecil yang dikelilingi pagar kayu dan dilindungi tirai putih tergantung itu, Harris ikut melakukan hal yang sama. Menidurkan putrinya di box bayi miliknya.


Keara sedang mengetik pesan di ponsel Harris, ketika Harris mendekatinya lalu memeluk tubuh mungilnya dari belakang. Wajah lelaki itu bahkan sudah terkulai di bahu Keara, dengan bibir yang berkali-kali mencumbu leher dan tengkuk Keara.


Keara tersenyum dibuatnya. Ia segera melempar ponsel yang tadi ia gunakan untuk mengirim pesan pada mama mertua, ke sofa yang ada di depannya. Lantas mengusap lembut sepasang lengan kekar yang bertaut di atas perutnya.


"Aku bahagia banget, mas.. Kita sudah jadi mama dan papa. Kita sudah jadi keluarga yang utuh. Masyaa Allah...." Keara memejamkan mata dan merubuhkan kepalanya ke belakang. Agar bisa bersandar di dada sang suami.


"Aku juga bahagia banget sayang. Can't describe by words." Harris kembali mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke wajah Keara yang dapat ia jangkau.


"Terima kasih K.. Mau memilihku untuk mendampingimu melalui semua ini." lanjut Harris. Ia merangkum bahu istrinya, membalikkan tubuh wanita itu agar berhadapan dengannya. Tampak jelas oleh Harris netra cantik wanitanya sudah dipenuhi air yang siap luruh ke pipi.


"Aku mencintaimu, mas.. Aku sangat mencintai suami tampanku inii.." Keara dengan impulsif menangkup rahang tegas Harris yang kasar oleh bulu-bulu halus maskulinnya. Lantas berjinjit dan mengecup sekilas bibir suaminya yang terbuka hendak berkata sesuatu. Tapi urung dilakukan.


Harris menggunakan satu tangannya untuk menahan tengkuk Keara, dan satu tangan yang lain menahan pinggang wanitanya agar tetap di posisi merapatkan tubuh dengannya. Lantas mencium bibir Keara. Bukan sekedar kecupan singkat, namun ciuman lembut dan menuntut. Bibir semanis madu yang sudah menjadi candunya sejak dulu. Hingga ciuman lembut pun perlahan berubah menjadi luma tan yang dalam dan lama. Meski tanpa has rat bercinta, namun suara decapan penuh gai rah tetap menggema di kamar rawat VIP itu.


Hingga keduanya tidak sadar pintu ruangan dibuka dan dua orang pria masuk begitu saja. Melotot melihat adegan setengah panas di tempat yang tidak seharusnya. Membuat Harris menghentikan aksinya mengecap bibir Keara.


Harris berdecak kesal. Ia menatap malas pada tamu tak diundang, yang membuatnya harus berhenti melakukan kegiatan enaknya tadi. Tamu tak diundang yang tak lain dan tak bukan adalah Aswin dan Bara. Mereka menenteng parcel buah dan kotak besar yang dibungkus kertas kado berwarna warni. Pemandangan langka.


Keara tetap tersenyum dalam rengkuhan satu lengan Harris. Tidak ada sikap canggung meski sudah ketauan sedang berciuman. Mungkin karena sudah terbiasa. Ciuman sama suami sendiri ini.....


"Aduhduh.. Baru juga brojol, masa udah mau bikin bayi lagi sih bos...?" seloroh Aswin.


"Ck! Ngapain kalian kesini?" Harris mengangkat dagu ke arah tamunya.


"Lah. Kok ngapain? Ya mau jenguk ponakan baru kami laah.. Si kembar yang unyu-unyu.." ucap Aswin dengan wajah kocaknya. Ia mengecilkan volume suaranya. Meletakkan bingkisan buah-buahan di atas meja yang ada di sudut ruangan. Lalu melongok ke dua box bayi yang diletakkan berdampingan dengan ranjang pasien.


"Lucu banget ,bos.. Mirip sama kalian berdua ya." Aswin berkata dengan setengah berbisik. Tak mau menimbulkan suara ribut yang bisa membangunkan bayi-bayi yang masih merah itu.


Bara, meski tanpa ekspresi -seperti biasanya-, juga melakukan hal yang sama dengan Aswin. Meletakkan bingkisan kado di meja, lalu melongok ke box bayi si kembar. Seutas senyum tipis terulas di wajahnya, meski tak ada yang melihat. Itu adalah senyum tulus bahwa ia turut bahagia atas kebahagiaan Harris.


"Heh! Jangan deket-deket. Kalian bawa virus dari luar." tegur Harris.


Bara menoyor kepala Aswin. Membuat Aswin mengaduh, tapi langsung cepat-cepat menutup mulut takut si kembar terbangun.


Keara menahan senyum dibuatnya. Interaksi tiga orang pria dewasa yang sangat aneh menurutnya. Kompak, saling menjaga, tapi tak pernah terucap di mulut. Persahabatan yang terjalin tanpa frasa. Tanpa kata. Tapi terbukti dari sikap nyata.


Mereka selalu bersikap profesional di lingkup pekerjaan, tapi sangat kekanakan ketika di luar lingkup formal. Saling mengumpat, saling mengejek, saling pukul -meski hanya pukulan ringan-. Tapi tak ada yang mengambil hati.


"Oh iya, udah liat breaking news pagi tadi kan bos?" tanya Aswin.


Harris menggeleng. "Mana sempat. Liat Keara kesakitan bikin ga kepikiran apa-apa selain pengen bocil dua itu cepet lahir.. Tapi aku udah tau dari mas Arman. Gercep juga kerjamu... Tumben."


"Yaiyalah boss.. Harus gercep. Kamu lupa ninggalin Mr. Chen? Klien jauh-jauh dari China udah duduk manis di ruang rapat, malah si tuan rumah ga dateng. Kalau ga cepet eksekusi beritanya di media bisa tamat riwayatku digorok sama dia.." Aswin bercerita dengan gaya konyolnya.


"Kalau aku cuma beralasan, mr.Chen ga akan percaya.. Tapi kalau media yang berbicara, dia langsung mengungkapkan turut bersimpati. Dan mau menjadwalkan ulang meeting di lain hari.."


"Tumben pinter...."


"Ya elaaahh... Aswin selalu jenius." ucap Aswin pongah.


"Udah jangan banyak ngomong. Laporan cepet, laporan!" perintah Harris berpura-pura ketus. Keara tau itu karena bibir Harris yang bergetar menahan senyum.


Bara, si muka datar, membuka mulutnya. "Mereka suruhan David Soehandoko."


"What?? David?!" pekik Harris tak menyangka dalang penyerangan di rumahnya tadi pagi ternyata ulah David. Pria gila yang terobsesi dengan istrinya. Pantas saja sasarannya Keara. "Breng sekk!!"


Keara tak kalah terkejut. Ia gemetaran mengingat kembali kejadian mengerikan yang ia alami pagi tadi. Mengingat pria berperawakan kekar, pakaian berantakan dan muka seram yang sempat menjamahnya, membuat Keara mengeratkan kaitan jemarinya di lengan Harris. Netranya sudah berkaca-kaca siap menangis.


"Sayang, it's okey.. Semua sudah baik-baik saja. Sudah aman." bisik Harris. Ia membelai lengan Keara. Ia tau pasti istrinya itu masih shock dan ketakutan. Berbeda dengan dirinya, ini pasti pengalaman menjijikkan pertama yang dialami Keara.


"David sepertinya hanya ingin menggertak. Karena itu dia membayar preman-preman amatir. Kalau dia berniat mencelakai kalian, sudah pasti dia akan menyewa orang-orang profesional. Dia melakukan ini hanya ingin menunjukkan bahwa dia marah karena tindakanmu melaporkan ulahnya pada pak Handoko, papanya. Sehingga dia harus pindah, diasingkan di luar negeri dan dikurangi nilai warisan yang akan dia peroleh nantinya" papar Bara.


"Tapi tetap saja perbuatannya harus aku balas!" sengit Harris. Ia merapatkan rahangnya menahan amarah.


"Baik. Kalau itu maumu." jawab Bara tanpa ekspresi. "Berikan saja perintahmu. Tidak perlu mengotori tangan. Bos bi....."


"Jangan." sela Keara cepat. Harris, Bara dan Aswin serempak menatap Keara. "Jangan diperpanjang! Cukup sampai disini saja."


"Tapi sayang....."


"Engga mas.. Kalau mas Harris membalas, bukan tidak mungkin David nanti juga akan membalas kembali. Daripada saling balas, kita sudahi sampai disini." Keara menatap Harris dengan tatapan memohon. "Please.. Kita tidak sendiri lagi sekarang sayang.. Ada anak-anak yang harus kita lindungi. Jangan menambah musuh."


"Baiklah sayang.. Aku mengerti." ucap Harris melunak. Tatapannya beralih pada Aswin dan Bara. "Itu artinya keamanan tempat tinggalku yang harus ditingkatkan."


Aswin dan Bara mengangguk setuju. Ucapan Harris adalah perintah. Stigma tak tertulis itu seolah sudah mengakar di benak mereka berdua. Ada budi yang harus dibalas. Dan mereka berdua selalu tulus melakukan apapun untuk membalas budi baik Harris di masa lalu.


...****************...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih