
🌹 Kantor Harris
Lama mereka terdiam. Saling menatap dalam posisi dekat tak berjarak. Seolah tatapan mata bisa menggantikan semua perkataan yang sulit terlontar. Banyak sekali ucap yang mereka pendam dalam hati. Bagaimana keduanya merasakan debaran yang sama, tapi sulit menyatakannya lewat kata.
Sorot temaram senja kian indah menerpa kulit. Sinar keemasannya menerobos sempurna dari jendela besar yang ada di dekat mereka. Biasnya menyinari wajar cantik Keara. Membuat Harris tak jemu menatap wanitanya ini dengan posisi raganya yang masih melekat tak berjarak.
Keara, si gadis cerewet yang beberapa detik lalu masih saja terus mengoceh, kini diam dan tercekat. Dia masih kesulitan mengendalikan debaran yang tiba-tiba mendera dadanya. Niat hati ingin menunjukkan kedekatan Hanna dan Harris tadi, kini kedekatan raga mereka justru membuat dadanya seperti akan meledak.
Dia menatap dalam netra Harris. Lelaki dingin yang dulu begitu ia benci, kini sosoknya begitu ia pedulikan. Bagaimana pria kesepian ini menjalani hidupnya? Seolah tanya itu terus berputar-putar di kepalanya. Bagaimana ia begitu ingin menemani lelaki baik hati ini.. Memberikan perhatian yang tak pernah ia dapatkan. Memberikan cinta yang tak pernah ia miliki. Tapi.. apa ini cinta?
Oh, wait!
Keara mengerjap. Ia sadar Harris telah mengerjai nya sampai mereka saat ini berada dalam posisi yang hampir berpelukan. Tangannya yang memegang dada Harris, tangan Harris yang melingkari bahunya, bagian depan tubuhnya yang nyaris menempel sempurna tanpa jarak.
'Heh! Sia lann!!'
Keara menepuk dada Harris dengan keras. Sampai lelaki itu terhuyung ke belakang. Tak puas dengan itu, Keara beberapa kali mengayunkan pukulan ke lengan Harris, ke punggung, lalu lengan lagi. Tak lupa bonus cubitan di pinggang dan dada bidang lelaki itu.
"Aawwhh..Ahahaa.. Heii.. stop, K... Awwhh.. Hahaahaa.." Gelak tawa Harris menggelegar. Memenuhi ruang kantor yang selama ini sudut-sudutnya tak pernah dihiasi tawa.
Kalau saja dinding dan seluruh perabot di kantornya punya mata, pasti saat ini mereka semua sedang terbelalak melihat bos dingin dan kakunya tertawa begitu riang, sambil menggeliat kegelian, dan berusaha menahan serangan kekesalan seorang wanita padanya.
Sungguh momen ajaib yang langka.
"Heii.. Stop, K.. Ampun... Ampuunn... Hahahahaaaa..."
"Dasar manusia ngeselin. Nyebelin. Sukanya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Gak ada ampun. Rasain nih..!" Keara terus memukuli dan mencubit bagian mana saja yang bisa ia jangkau. Karena tangan Harris yang menyilang di depan tubuhnya memberi ruang terbatas bagi Keara melancarkan aksinya.
"Awwhh.. Stop, stop.. Kan kamu sendiri yang mau reka adegan..?"
"Reka adegan.. Reka adegan.. Mas Harris tuh yang suka manfaatin keadaan.."
Keara menghentikan serangannya. Entah karena lelah, atau sudah merasa kasihan pada Harris. Sepertinya sekarang dada, pinggang, lengan dan punggung Harris sudah bercap biru hasil cubitan dan pukulan kesal Keara.
Keara berjalan ke arah sofa. Lalu menghempaskan tubuhnya duduk di sofa kantor Harris yang empuk dan nyaman. Berbeda dengan sofa di ruang tamu rumahnya. Hihii..
Harris menyusul dengan duduk di dekat gadis itu. Dengan senyum tersungging yang seolah sudah paten melekat di wajahnya tiap kali bersama Keara. Ia mengangsurkan sebotol air mineral dingin pada Keara. "Minum K.. Pasti kamu capek dan haus setelah menganiayaku tadi."
"Makasih." jawab Keara ketus, dengan lirikan tajam yang membuat Harris tergelak.
"Udah yaa.. Damai, oke? Badanku pasti udah biru-biru ini gara-gara kamu.."
Keara tidak menjawab. Ia meneguk minuman sampai habis setengah botol.
"Memangnya tadi mas ngomongin apa sih sama Hanna? Kok ancamannya tadi nyeremin gitu?" tanya Keara setelahnya.
"Dia minta aku mau jadi pacar settingannya.. Dia malu sama wartawan karena klarifikasiku yang kemarin lalu itu.."
"Terus mas Harris gak mau?"
"Hem.." jawab Harris sambil menscroll notifikasi di ponselnya.
"Tapi kok dia berani ngancam-ngancam begitu? Serem banget.."
"Lebih serem cubitan kamu kalau lagi kesel begini.." Harris beralih menatap Keara dengan senyum menggoda yang terus membingkai.
"Salah sendiri, mas Harris ngeselin banget." Keara mencibir dengan bibirnya yang masih mengerucut. Menggemaskan.
"Mas Harris gak takut denger ancaman Hanna tadi? Dia bisa aja ngapa-ngapain mas Harris.."
"Asal dia gak nyentuh kamu, aku gak takut." Jawab Harris singkat dan lugas. Membuat semburat merah menjalari pipi Keara.
"Ditanya apa jawabnya apa.." sahut Keara, dengan mimik salah tingkah.
Harris terkekeh.
"Temani aku makan di luar ya K.. Aku belum makan dari tadi pagi nih.."
"Iiihh.. Dompet doang tebel, tapi diksinya udah kayak template pengemis.."
"Hah? Maksudnya?" Harris mengerutkan dahi.
"Minta uangnya, mbak.. Belum makan dari pagi mbak..." tutur Keara menirukan gaya orang minta-minta yang biasa ia dengar.
"Hahahahaaa..." Harris tergelak. Lagi.
Tiara, sekretaris Harris dibuat memicing keheranan. Boss kaku sebanding dengan kanebo kurang air itu sore ini terdengar tawanya meledak beberapa kali. Membuatnya yakin kalau gadis yang dikenalkan padanya tadi bukan teman biasa.
"Iiisshh.. Apaan sih mas Harris nih.?! Dikira aku anak balita apa..! Main cubit-cubit pipi.." protes Keara.
Harris tergelak. Lagi.
"Udah, ayo kita makan di luar. Tapi tunggu sebentar, aku mau nelepon orang dulu. Oke?"
Tanpa menunggu jawaban Keara, Harris langsung beranjak. Menghampiri meja kerjanya, menyambar ponsel keduanya, lalu mendial nomor seseorang.
"Laporkan!" perintah Harris singkat, begitu teleponnya tersambung. Ia mengecilkan suaranya karena tidak ingin mengganggu Keara dengan urusannya.
"Saya sudah bertemu dengan orang yang membeli mobil itu, Bos. Tapi dia mengaku tidak tahu siapa pemilik mobil itu sebelumnya. Dia bilang yang bertransaksi adalah papanya, dan dia tidak tahu menahu papanya membeli mobil dari siapa." jawab informan yang merupakan orang kepercayaan Harris.
"Kemungkinan dia berbohong. Jadi tetap ikuti dia. Tapi juga tetap selidiki variabel lain yang mungkin mengarah pada pemilik mobil itu."
"Baik, Bos."
"Saya mau hasil cepat! Ini sudah enam bulan dan kalian tidak menemukan informasi apapun! Kalau sudah tidak becus kerja, bilang! Jangan menghambat saya dengan kebodohan kalian!" geram Harris.
"Siap, Bos. Kami akan segera menemukan pelakunya."
Harris langsung memutus jaringan ponselnya. Mengurai raut geramnya. Dan memijit pangkal hidungnya. Tidak ingin Keara melihat dan mempertanyakan masalah apa yang sedang ia urus saat ini.
Harris berbalik badan. Ia melihat Keara berdiri di dekat jendela. Persis seperti kebiasaannya setiap sore menjelang. Harris pun berjalan mendekatinya.
Menyadari Harris sudah berdiri di belakang tubuhnya, Keara menunjukkan ketakjubannya pada apa yang ia lihat di depan matanya, "Indah banget melihat senja dari sini ya mas.."
"Heem.. Aku selalu senang menikmati senja dari sini. Tapi senja kali ini ribuan kali lipat lebih indah dari biasanya." tutur Harris tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cntik Keara.
"Oh iya? Emang bedanya apa?" tanya Keara polos, sembari celingak celinguk ke arah luar jendela. Barangkali ia bisa menemukan fenomena alam yang menurut Harris ribuan kali lipat lebih indah tadi.
'Karena hari ini sinar senja membawamu dekat sekali di sisiku.' jawab Harris dalam hati. Namun jawaban yang terlontar dari bibirnya justru,
"Karena senja kali ini aku lebih lapar dari biasanya."
Keara memelototinya. Ngeselin!
"Jadi, bisa kita pergi makan sekarang, nona? Saya sebentar lagi bisa pingsan karena kelaparan."
"Lebay." seloroh Keara sambil mengayunkan telapak tangannya memukul Harris.
...----------------...
Mereka sedang berada di dalam lift. Turun dari lantai tujuh menuju lobi kantor. Harris sudah memerintahkan Pak Diman untuk membawa mobil ke lobi depan perusahaannya.
Dua kali pintu lift terbuka sebelum mencapai lobi. Tapi karyawan yang hendak masuk ke lift hanya menunduk sopan sambil meminta maaf dan tidak jadi masuk ke dalam lift.
"Loh kok pada gak jadi masuk sih.. Gak apa-apa kali masuk aja.. Kita cuma berdua ini.." ucap Keara. Tapi jelas tidak ada yang menggubrisnya. Harris tersenyum melihat sikap ramah Keara. Sungguh berbanding terbalik dengan sikapnya pada bawahannya.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai satu. Yang tak lain adalah tujuan mereka. Lobi perusahaan.
Tapi sebelum sempat melangkah, Keara berpapasan dengan sosok lelaki yang cukup familiar di matanya. Sosok itu berdiri di depan lift, hendak masuk ke dalam lift. Dia mengangguk sopan menyapa Harris.
"Loh kamu? Kerja disini juga?" tunjuk Keara.
Harris yang menyadari hal itu, segera menggamit lengan Keara dan menariknya keluar lift. Ternyata Keara mengingat wajah Aswin, asistennya yang dulu ia tugaskan untuk memata-matai Keara.
Aswin tersenyum kaku. Ia mendadak gagap dan tak tau harus menjawab apa.
"Ehmm.. engg... Anu..."
"Dia itu sales obat kuat yang sering mangkal disini." sahut Harris asal.
"Sales obat kuat??" Keara dan Aswin memekik bersamaan.
"Iya, udah ayo cepetan jalannya.." Harris terus melangkah menjauh dengan menggandeng lengan Keara. Meninggalkan Aswin yang mendengus kesal.
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih