
Harris melihat istrinya dari belakang. Wanita itu sedang menata-nata pernak-pernik entah apa. Segitu seriusnya sampai tidak menyadari suaminya sudah pulang. Bahkan sudah masuk ke kamar.
Harris menyentuh pinggang istrinya dengan kedua tangannya. Bibirnya mengecupi bahu wanitanya yang terbuka. Melekatkan tubuhnya di punggung ramping wanitanya.
Keara menggeliat kaget. Ia beringsut dengan cepat membalik badan. Mendapati suaminya tersenyum, ia pun memaksakan senyuman di bibirnya.
"Mas Harris sudah pulang." ucapnya datar. Jemarinya meraih telapak besar Harris kemudian mengecup punggung tangan kokoh itu.
"Hemm.. Sambutan kecut macam apa ini?" Harris mengerutkan kening. Ia heran pada perubahan air muka istrinya. Padahal baru sejam yang lalu istrinya terlihat sangat ceria.
Keara memalingkan muka. Berpura sibuk pada apa yang ia kerjakan tadi. Menghindari tatapan suaminya yang mulai mencium ada yang tidak beres dengan dirinya.
"Maaf mas.. Aku selesaikan ini dulu yaa.." Keara berkilah tanpa melihat wajah tampan sang suami.
"Udahan berenangnya?"
"Udah." singkat Keara.
"Terus ini kok cemberut? Apa karena masih mau berenang sesi dua sama aku? Kita bisa ngulang waktu di Maldives kapan hari lalu..."
Meski tetap tidak menoleh, tapi dari tempat Harris menatap, terlihat Keara mengukir senyum tertahan.
Harris memegang kedua lengan atas Keara, lantas membalikkan tubuh mungil istrinya agar ia leluasa menatap manik mata istrinya. "Kenapa sayang? Apa yang membuat istri cantikku ini cemberut..?"
"Gak apa-apa, mas.. Gak cemberut kok..." Keara tersenyum. Meski terlihat dipaksakan. Dia berusaha keras menetralkan ekspresi wajahnya. Menyembunyikan kekesalannya pada tamu pria tante Martha tadi.
"Mas Harris sudah makan? Kita makan yuk.. Aku laper banget tadi abis berenang langsung habis energinya..." oceh Keara. Terlalu fokus ingin menutupi perasaan kesalnya, ia sampai lupa kalau tadi Harris sudah bercerita kalau dia sudah makan.
Harris tidak begitu saja percaya. Dia meraih pinggang istrinya. Ditempelkan pada tubuh tegapnya. "Padahal tadi aku sudah sangat bersemangat mau cepat sampai di rumah. Aku tidak sabar ingin melihat istriku yang cantik dan ceria seperti di layar ponsel tadi. Tapi begitu sampai rumah, istriku ini malah hilang cerianya..."
Keara langsung merasa bersalah. Ia sadar tadi tidak menyambut suaminya pulang sebagaimana mestinya. Kedua lengannya spontan meraih leher sang suami. Ia bersusah payah berjinjit demi bisa mengecup bibir Harris. "Maaf sayang.." lirihnya.
"Ada apa, hm?" tanya Harris dengan senyum yang begitu meneduhkan.
"Jangan memaksaku mencari tau sendiri, sayang... Aku mau istriku ini jujur dan terbuka padaku."
Keara terlihat berpikir. Tadi dia sudah berucap untuk tidak akan mengatakannya pada mas Harris. Tapi yang dikatakan mas Harris ada benarnya juga. Harris pasti bisa mencari tau lewat pekerja di rumahnya. Dia juga bisa mencari tau lewat video tersembunyi yang terpasang di setiap titik sudut di rumah ini. Jadi apa yang bisa ia tutupi?
"Aku lagi kesel aja mas... Kesel banget.. Sebel banget.." gerutu Keara. Mimik cemberutnya sangat lucu di mata Harris.
"Iya.. tapi kesel kenapa sayang? Apa aku kelamaan nyampe rumahnya?" Harris mengerling menggoda istrinya.
"Isshh mas Harris niih.... Ngeselin jugak." Keara mencubit dada bidang tempat ia menyandarkan kepala.
"Cerita. Apa yang membuat tuan putri kita ini kesel dan sebel..?"
Keara meraih ponsel yang tersimpan di meja yang ada di dekatnya. Layarnya hitam pekat tak menyala. Ia sedikit mendorong ponsel itu ke dada Harris. "Handphone ku rusak. kena air kolam."
"Hah? Kamu ngambek karena ponselmu rusak? Gara-gara nelpon aku tadi, hm?" Harris mengernyit.
Keara menggeleng samar. Otaknya terbayang senyuman menyebalkan teman pria tante Martha. Ia kembali mengerucutkan bibirnya.
"Kalau cuma ini alasannya, kita bisa beli hp baru, sayang.. Mau pergi sekarang?"
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih
...----------------...