
🌹 Rumah Sakit
Pagi-pagi sekali Keara sudah terbangun. Padahal semalam dia tidur cukup larut karena bercerita panjang lebar dengan ibu dan mas Arman. Dua orang perawat datang untuk memeriksa kondisinya. Ibu yang tertidur di sofa pun ikut terbangun karenanya.
Setelah memeriksa tekanan darah, kantong infus, dan lain-lain, perawat tersebut membereskan peralatannya. Mereka berdua cekikikan dengan suara tertahan. Dan saling mengerling sangat aneh di mata Keara.
Salah seorang perawat berkata, "Pacarnya kasian tuh, mbak.. Tidur di depan sendirian. Kedinginan. Hehe.."
Seorang perawat yang lain menimpali. "Iya, mbak.. Mana ganteng banget lagi.. Jadi buat liat-liatan deh sama perawat lain.."
"Heh? P-pacar?" tanya Keara bingung. Matanya celingukan mencari keberadaan ibu. Malu kalau ibu sampai mendengar. Bisa salah paham.
Beruntung ibu sedang sibuk membuat teh panas di meja sudut kamar. Jadi tidak dengar grasak grusuk perawat kecentilan ini. Begini ternyata nyamannya dirawat di kamar VIP. Berasa menginap di hotel. Ada meja kecil di sudut ruangan yang berisi toples-toples kecil untuk kopi dan teh celup. Di samping meja ada dispenser untuk air panas dan dingin dan kulkas satu pintu dengan isian lengkap.
Setelah dua perawat pamit, Keara melirik jam digital di meja samping ranjang. Pukul 06.07.
Ibu mendekat dan menyimpan secangkir teh panas yang masih mengepulkan asap. "Ini ibuk buatkan teh, K.. Diminum selagi hangat."
"Iya, Buk..Makasih.. Mas Arman mana?" tanya Keara. Ia curiga yang dimaksud perawat-perawat tadi adalah mas Arman. Tapi ngapain mas Arman tidur di luar?
"Masmu pulang tadi setelah shubuh. Dia harus ngantor pagi-pagi. Jadi mau pulang dulu buat siap-siap.." jawab ibu.
"Oohh..." Keara mengangguk-angguk lemah. Di kepalanya berpikir keras. 'Lalu siapa yang tidur di luar kata perawat tadi? Emm.. Mas Harris? Gak mungkin ah. Kan kemarin dia sudah pamit pulang..'
"Mikirin apa K? Istirahat, biar cepet sembuh.." seru ibu seraya mengusap puncak kepala Keara.
"K sudah sembuh kok Bu.. Gak ngerasa sakit apa-apa. Gak tau juga ngapain disuruh nginep di sini.." ucap Keara sambil merengut.
"Kata Mas Harris, kamu syok dan tekanan darah kamu rendah banget. Kemarin juga dokter bilang ga perlu opname, cukup diresepkan obat. Tapi mas Harris yang ngotot minta kamu dirawat di sini dulu.. Sampai benar-benar sembuh, katanya.."
Wajah Keara spontan memanas. Hanya mendengar nama Harris disebut, sudah berhasil membuat semburat merah menjalari wajahnya. Iisshh.. Malu-maluin aja.
"Udah kamu tidur lagi aja. Ibuk mau mandi dulu.. Gak enak banget nih, lengket badan ibu." ujar ibu sambil berlalu ke kamar mandi di ujung ruangan.
Harris tidur terlentang. Di deretan kursi tunggu yang berbahan besi. Tubuh tingginya sampai melebihi deretan empat kursi. Kepalanya berbantal sebelah lengan. Dan tubuh kekarnya sesekali bergetar. Mungkin saat itu udara dingin sedang menusuk ke tulangnya. Lelaki itu hanya mengenakan kaus tipis yang dipakainya sejak kemarin. Pasti tidurnya sangat tidak nyaman dan kedinginan semalaman.
Kemarin malam Keara mengira Harris pulang setelah berpamitan dengan ibu dan mas Arman. Ternyata melihat Harris berbaring di depan kamarnya seperti saat ini, ada rasa membuncah yang tak dapat ia jelaskan. Mengundang senyumnya terukir dan pipinya memerah.
Keara berbalik masuk kembali ke dalam kamar. Mengambil selimut, lalu keluar lagi. Sekali lagi melihat Harris tertidur, dadanya berdebar hebat. Senyumnya terus saja tersungging meski sudah coba ia tahan.
Keara melangkah mendekati sosok yang masih terlelap itu. Ia membentangkan selimut dengan sebelah tangannya yang masih tersambung selang infus. Sedikit menyusahkan gerakannya.
Keara menyelimuti kaki Harris yang bertelan jang tanpa alas kaki. Merapatkan selimut menutupi tubuh lelaki itu. Kemudian bergumam sendiri,
"Kayaknya selimutnya harus ditarik lagi nih. Enak saja kata perawat-perawat tadi.. Wajah mas Harris dibuat liat-liatan? Heh!! Dikira TV seratus inc apa?? Buat vitamin mata lah.. Cuci mata laah.. Bilang aja kalau emang keganjenan.. Minta digetok."
Keara terus ngedumal sambil menarik selimut sampai menutupi setengah wajah Harris. Hanya menyisakan mata lelaki itu yang terpejam rapat dan rambut yang berantakan khas orang tidur. Keara cekikikan sendiri melihat 'hasil karyanya'.
"Gini nih.. Baru bagus. Hehee... Biar gak jadi konsumsi publik ya kaan... Enak aja, perawat centil-centil pada nyicip liatin muka gantengnya mas Harris.. Emangnya muka Mas Ha......"
"Ada yang cantik gak perawat centilnya?" tanya Harris tiba-tiba. Dengan mata yang masih terpejam. Mengejutkan Keara hingga langsung membuatnya melepaskan tangannya dari selimut Harris dan berdiri tegak.
"Astaghfirullah.. Mas Harris ngagetin aja! Iihh!!"
Nah kaan.. Si K suka malu-maluin diri sendiri deh..
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih