
Harris membalikkan tubuh wanita yang berbaring membelakanginya. Lantas menghujani wajah cantik itu dengan ciuman bertubi-tubi di setiap lekuk wajah Keara. Seperti tak ada lelahnya ia memuja wanita tercintanya itu. Tangan kirinya mengusap lembut perut Keara yang masih rata. Bibirnya berangsur turun menciumi perut Keara.
Harris menangkup pipi Keara dan menatapnya penuh cinta. "Sayangku, istriku, i love you so muuch.." Kemudian melu*mat penuh cinta bibir manis Keara.
Keara tidak bisa menahan senyuman bahagianya melihat ekspresi Harris. Ia pun melingkarkan lengannya ke leher sang suami yang masih menikmati bibirnya. Lelaki itu terlihat sangat bahagia. Harris terus tersenyum lebar sambil menciumi istrinya, tapi dari sudut-sudut netranya mengalir bulir bening pertanda haru.
"Anak papa, akhirnya dari sekian juta bibit premium yang aku tanam berbulan-bulan ada juga yang berhasil menembus ke rahim mamamu yang cantik ini." ujar Harris setelah ciuman tanpa hasrat itu terlepas. Ia menggeser wajahnya sampai berada tepat di atas perut istrinya.
"baik-baik di dalam sini yaa.. Jangan bikin mamamu sakit atau kelelahan." Harris mengecup permukaan perut rata yang sudah disingkirkan kain penutupnya itu. Kemudian ia berbisik dengan nada menggoda. "Anak papa, bantuin papa ngerayu mama dong.. Biar mama maafin papa dan gak jutek lagi."
Keara mencubit gemas lengan suaminya dan menarik lembut wajah tampan itu agar berhadapan dengannya. "Tau gak sih anak kamu ini sejak dalam kandungan udah bucin banget sama bapaknya."
"Oh iya? Jadi bukan mamanya yang bucin?"
"GAK!" sahut Keara cepat.
Harris tergelak. Tangannya membelai lembut pipi wanitanya. "Babynya bucin, mamanya ngegas mulu." goda Harris.
"Abis mas Harris tuh nyebelin banget. Anak ini tuh maunya deketan terus. Dipeluk terus.. Tapi malah gak pulang-pulang kamunya.."
"Iya, maafin aku sayang.." Harris menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Keara dan menggesek-gesekkan ujung hidungnya di sana. Menghirup rakus aroma tubuh Keara yang selalu menjadi candunya. "Cintaku, aku sayang banget sama kamu.."
Pipi mulus yang akhir-akhir ini sedikit lebih berisi itu sontak bersemu merah. "Baby kita ini kayaknya ga mau jauh dari papanya. Biarpun aku lagi kesel dan marah sama mas Harris, rasanya tetep aja gak mau jauh dari kamu. Makin ngeselin kan kalau kayak gitu.."
"Kenapa ngeselin? Malah gemes banget itu namanya..." seloroh Harris. Wajahnya memang berada tepat di atas wajah cantik istrinya. Tapi tubuh kekarnya tidak menindih seperti biasanya. Ia takut calon bayinya akan merasa sesak di dalam sana.
"Ngeselin aja.. Kayak si baby tuh numpang hidup aja di badanku. Tapi hatinya ke kamu banget. Dia belain mas Harris sejak dalam kandungan. Ga ngertiin aku lagi marah atau sebel sama mas Harris, tapi dianya pengen deketan terus.. Maunya dipeluk terus."
Harris tergelak. Ia semakin gemas dengan istri mungilnya ini. Harris semakin mendekatkan wajahnya dengan Keara. Mengikis jarak sebanyak-banyaknya. Sungguh wanitanya ini semakin kuat menjadi candunya.
"As your wish, baby.. Papa peluk sepanjang malam, setiap detik, setiap waktu, oke?"
Keara tersenyum kian lebar. Ia mengusap rambut Harris yang masih nyaman tenggelam di ceruk lehernya dengan penuh kasih sayang. "Not oke. Sesek dipeluk terus." kelakarnya.
Harris merebahkan dirinya. Ia merentangkan lengan kanannya agar menjadi bantal untuk kepala Keara. Lantas memeluk tubuh wanita itu dengan lembut hingga wajah Keara menempel nyaman di dada bidangnya. "Tidurlah sayang.. Kamu harus banyak istirahat.."
Keara memejamkan mata dengan senyum yang masih terulas. Ia bisa merasakan dada Harris yang naik turun menghela nafasnya. Ia sangat menikmati itu. "Hmm.. Nyaman sekali." gumamnya.
Harris tiba-tiba tersentak begitu ingatannya menyadarkan. "Sayang, itu artinya tadi pagi perut kamu kram karena aku menghajarmu dengan kekuatan penuh? Padahal kamu sedang hamil?!"
"Hmm.."
"Astaghfirullahal'adziim." Harris memeluk Keara semakin erat, tapi masih memberi jarak di bagian perut agar tidak menggencet embrionya.
"Maafkan aku sayang.. Maaf papa, baby..." desis Harris penuh penyesalan. "Besok pagi kita harus periksakan kandungan kamu ke dokter ya, sayang.."
"Iya, sayang.. Aku juga berencana mengajak mas Harris periksa kandungan bersama."
"Oke, biar Aswin atau Tiara saja yang mencarikan info tentang dokter kandungan wanita terbaik, sekaligus mendaftar antrian untuk kita. Kita datang di jam yang sudah dijanjikan dengan dokter saja. Supaya kamu gak menunggu dan antri terlalu lama.."
"Memangnya harus dokter kandungan wanita? Kata teman-temanku yang sudah pernah hamil, kebanyakan mereka periksa di dokter kandungan pria, dan banyak rekomendasiin dokter ke aku.." tutur Keara.
"Hemm.." gumam Keara sambil tersenyum. "Dasar posesif."
"Emang."
Keara sudah terlalu mengantuk karena memang seharian ini dia susah tidur. Juga karena posisi nyamannya saat ini dalam pelukan sang pujaan hati, bisa mengantarkannya terbang ke alam mimpi dengan cepat.
Harris tersenyum saat merasakan hembusan nafas Keara yang mengenai dadanya mulai teratur diiringi dengkuran halus pertanda wanita dalam dekapannya itu sudah terlelap. Belum ada lima menit mereka berbaring, tapi Keara sudah terlihat nyenyak dan tidur dengan senyuman menghiasi.
"Apa benar anak papa ini paling suka dipeluk begini? Kalau begitu, dengan senang hati akan papa peluk setiap saat, sayang.. Papa ingin memastikan kalau kau tidak akan kekurangan kasih sayang dari papa dan mama sejak dari dalam kandungan." gumamnya lirih seorang diri.
...----------------...
Keesokan paginya, seraya menunggu Keara yang masih membersihkan diri di kamar mandi, Harris menelepon Aswin. Ia sudah menugaskan pada pria lajang itu untuk mencari dokter kandungan wanita terbaik di kota ini dan membuat janji untuk cek kandungan.
"Ada dokter Kamila namanya, prakteknya di rumah sakit Xxx. Aku sudah meregistrasi dan sudah dikonfirmasi kalau jadwal periksa nona Keara jam sembilan pagi ini."
"Oke, thanks Win.." sahut Harris.
"Bos, sudah ada info tentang tikus yang kemarin." ucapan Aswin membuat Harris menunda untuk memutuskan sambungan teleponnya.
"Kenapa dia?"
"Bara sudah tau siapa orang yang memerintah si Alex itu."
"Aku juga sudah tau."
"Hah? Bos Harris tau dari mana?" tanya Aswin heran. Ia pikir dialah orang pertama yang menerima informasi dari Bara. Tapi kenapa bosnya ini juga sudah tau?
"Insting."
...----------------...
.
.
...Makin dekat bulan Ramadhan othor makin riweuh sama olshop nih kaka-kaka.. Makanya jadwal up part baru agak berantakan 🙈 Maapkeun...
...Semoga bisa namatin cerita Keara dan Harris sebelum masuk bulan puasa yaa.. ...
...Terima kasih buat yang masih setia baca, like, Komen, dan kasih gift 🌹🌹🌹...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih