Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Hari Bahagia


🌹Rumah Harris


"Harris.. Kamu sudah siap? Kurang sepuluh menit lagi kita harus berangkat.." seru seorang wanita tua dengan dandanan menor dan se*xy dari arah luar kamar Harris. Martha.


Ya, Tante Martha sejak malam itu beberapa kali menghubungi Harris. Ia meyakinkan keponakannya itu untuk memaafkan dan menerimanya lagi. Tante Martha bahkan sudah berani menginap di rumah Harris semalam, dengan dalih ingin membantu persiapan pernikahan Harris.


"Sebentar lagi, tante...." jawab Harris dengan sedikit meninggikan suaranya.


Lelaki itu sedang mematut dirinya di depan cermin besar di walk in closet kamarnya. Wajah dan rahangnya mengeras. Menahan degup jantungnya yang bergemuruh sejak ia bangun tidur tadi pagi.


Hari ini, hari yang ia nantikan akhirnya telah tiba. Hari pernikahannya dengan Keara. Cinta pertama dan satu-satunya yang pernah mendiami hatinya. Ia teramat bahagia, hingga ketakutan akan mendapati kegagalan di depannya, juga turut menyertai rasa kebahagiaannya itu. Membuat hatinya kalut juga was-was.


Beruntung ia tidak perlu dimake-up atau berhias diri. Cukup memakai jas wedding pilihan Keara, dan mengikuti arahan dari tim Wedding Organizer. Ia memakai waktunya selepas shubuh untuk melaksanakan sholat sunnah. Demi mendapatkan ketentraman hati, yang agaknya masih belum sepenuhnya ia dapatkan sampai saat ini. Mungkin baru delapan puluh persennya saja.


Seorang wanita tua bertubuh gemuk mendekatinya. Wanita itu sudah memakai gaun brokat warna abu silver dan hijab warna senada dengan riasan yang lebih menampilkan kecantikannya.


"Jangan tegang gitu mukanya, Ris..." ledek wanita itu.


"Buk Da.." Harris memaksakan ulasan senyum kaku di wajahnya. Sungguh ini kali pertama dia merasakan atmosfer gugup menyelimutinya tanpa celah.


Iya, wanita berumur dan badan gemuk yang sedari tadi menemani Harris itu adalah Ibu Farida. Ibu dari almarhum Rizky, sahabatnya. Wanita yang tidak melahirkan Harris, namun sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Wanita yang memberinya perhatian yang tidak ia terima dari ibu kandungnya.


"Begitu sudah ganteng maksimal, Ris... Sudah tidak usah bercermin terus.." Bu Farida masih terus menyunggingkan senyum. Ia terharu dengan anak angkatnya yang sebenttar lagi akan mengakhiri masa lajangnya.


"Deg-degan banget Buk.." Harris mundur dan menjatuhkan pantatnya di kursi sofa tanpa sandaran yang ada di tengah-tengah walk in closet.


Bu Farida ikut duduk di samping Harris. Menepuk bahu lelaki dewasa itu, demi menyalurkan energi positif untuk menyemangati anak lelakinya itu. "Keara beruntung banget bisa dapetin anak ibuk yang ganteng ini.."


"Buk Da ini lagi basa basi biar aku seneng yaa? Aku yang sangat beruntung Buk.. Aku bukan hanya akan mendapat istri, tapi juga keluarga baru lagi.. Ibu Keara dan kakaknya sangat tulus dan lapang dada sekali menerimaku.."


"Kamu memang lelaki hebat.. Anak yang kuat. Hatimu baik dan tulus.. Plus bonus ganteng dan mapan. Orang tua mana yang berani menolakmu jadi menantu? Hmm.. Tidak ada. Nonsense, kalau kata anak jaman sekarang.." Bu Farida terkekeh geli mendengar ocehannya sendiri.


Harris tersenyum sedikit lebar. Ucapan Bu Farida sedikit bisa menenangkannya.


"Lalu, gimana dengan bapaknya Keara..? Ibuk dengar bapaknya K sudah kembali setelah bertahun-tahun meninggalkan keluarganya.. Apa beliau tidak mempermasalahkan calon menantunya ini?"


"Tentu saja tidak Buk.. Nonsense.." jawab Harris mengcopy ucapan Bu Farida. Lalu keduanya tergelak bersama.


Mereka berdua pun segera turun ke bawah. Menemui rombongan yang akan mengantar Harris ke tempat akad nikah. Harris bukan hanya sudah tidak sabar untuk melantunkan kalimat ijab kabulnya, tapi ia pun sudah sangat merindukan gadisnya. Selama satu minggu ke belakang, mereka mengikuti tradisi pingitan. Yang artinya mereka tidak bisa bertemu, bahkan Keara pun menolak melakukan video call dengannya. Sudah pasti rindunya membuncah.


Semuanya sudah bersiap dengan dandanan rapi. Semua wanita memakai dress brukat warna abu silver senada, meski dengan model yang berbeda-beda. Sedangkan para lelaki memakai setelan jas hitam yang tersemat bunga kecil di sakunya. Harris dengan detail yang cermat juga menyiapkan seragam untuk para pengiringnya.


Keluarga Rizky lengkap berada di sana. Bu Farida dan suaminya. Mas Adi dan istrinya. Serta Angga dan Ica, adik-adik Rizky. Tante Martha dan Stella, putrinya yang masih berusia sepuluh tahunpun juga sudah menunggunya di ruang tamu.


Tak lupa asisten Harris paling setia, Aswin. Dan juga Tiara. Mereka juga memakai seragam senada. Bik Santi, Pak Diman, semua berpakaian rapi di hari bahagia tuannya. Mereka sudah siap mengantar sang pangeran meminang tuan putri tercinta.


"Mana Bara?" tanya Harris, begitu ia keluar rumah, orang pertama yang ia cari adalah preman kepercayaannya.


"Boss kan sudah suruh dia stand by di rumah Mbak Keara.." jawab Aswin.


"Iyaa, benar.."


...----------------...


🌹 Rumah Keara


Sang pengantin perempuan masih berkutat dengan MUA di kamarnya. Beberapa kali melihat wajahnya yang telah disulap bak ratu semalam. Ia memakai kebaya putih dengan hiasan siger melingkar di atas kepala. Indah dan cantik sekali.



Keara pun tak kalah tegangnya dengan Harris. Tak terhitung berapa kali ia harus ke toilet karena perutnya mulas. Wajahnya cantik dan mungilnya sampai harus beberapa kali diingatkan untuk tersenyum oleh Angel.


Ocha masuk ke kamar Keara setelah mengetuk pintu dua kali. Dia membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Keara.


"Whooaaa.. What a beautiful bride..!!" pekik Ocha dengan suara tertahan.


"Kalau mas Harris liat ini sih auto langsung digendong masuk kamar lagi setelah ijab kabul.. Wekekek.." Ocha terkekeh geli seraya meletakkan nampan di atas meja dekat Keara.


"Emang begini ya rasanya, Cha? Deg-degan banget..." Keara duduk di tepi ranjangnya sambil memegangi dada. Takut kalau-kalau jantungnya itu melompat keluar.


"Yee.. ngeledek atau apa sih kamu, K.. Mana kutau laah.. Aku aja belum pernah menikah.." seloroh Ocha. Keduanya pun tergelak bersamaan. Cukup menghibur Keara untuk sejenak melupakan ketegangannya.


"Makan dulu, bestie.. Nanti bakalan susah kalau mau ngisi perut.."


Keara hanya mengangguk.


Ocha pamit keluar kamar. Meninggalkan Keara yang menurut memakan sarapannya dengan tenang. Agaknya atmosfer tegang yang menyelimuti, turut mengundang perut laparnya.


Di luar, netranya langsung membulat begitu melihat sosok lelaki yang membayangi pikirannya beberapa hari ini. Sosok tegap dengan raut wajah datar. Membuatnya penasaran setengah mati. Ocha langsung berlari kecil menghampiri lelaki itu.


"Mas Bara..." sapanya. Yang disapa hanya menoleh dan berkedip.


"Emangnya rombongan mas Harris sudah sampai ya? Kok mas Bara ada di sini..?" celoteh Ocha lagi. Kelamaan kalau menunggu Bara membalas sapaannya. Bisa-bisa selesai prosesi ijab kabul juga tidak akan dibalas.


"Belum. Masih di jalan." jawab Bara singkat. Dia membuang pandangannya ke segala arah. Otak premannya sudah disetel otomatis untuk terus waspada. Tidak mungkin goyah hanya karena sapaan gadis berisik seperti Ocha.


"Oh.."


"Terus mas Bara di sini udah sampai duluan? Kenapa gak ikut bareng rombongan..? Atau mungkin bisa ditanyain apa mereka udah mau sampai? Soalnya Keara masih makan.. Kalau sudah deket biar aku bilang ke da......"


"Breng*sek! Selalu saja ada anji*ng pengacau.." gumam Bara.


"Apa?" Ocha bergetar menahan tangis. Baru kali ini dia diumpat sedemikian kasar. Terlebih oleh lelaki yang baru ia kenal. 'Apa aku sangat mengganggunya?' batinnya.


"Maaf, bukan kamu yang kumaksud." Bara menyadari gadis di depannya akan menangis. Ia tidak menunggu jawaban Ocha. Dengan langkah cepat ia menuju ke ujung tenda dimana ia melihat 'anj*ing pengacau' itu.


Ocha pun menoleh ke arah Bara pergi. Ia melihat di depan sana seorang gadis berpakaian se*xy berjalan sempoyongan. Gadis itu mabuk. 'Hah? Sepagi ini sudah mabuk?? Gilaak!!'


Ocha pun semakin terbelalak saat netranya bisa mengenali wanita itu. Artis muda yang karirnya sedang terperosok ke semak-semak akibat skandal yang dia buat sendiri. Hanna Rosaline.


"Mas Harris sayang... Kamu sudah bikin karirku hancuur!! Sebagai balasannya aku akan menghancurkan pernikahanmu. Hahahaaa...!!" teriaknya dengan suara serak dan tawa melengking khas orang mabuk.


...----------------...


Mas Harris : Ya ampun Thoorr... Tinggal sahnya doang, pake dikasih batu kerikil segala sih thoor.. Terus aku kapan nerkamnyaaa??


Sabar maasss... Tunggu dikasih vote senin dulu yaa..


Yang mau kondangan juga harap siapkan kembang sekebon 🌹 dan kopinya yaa ☕


Demi kelancaran prosesi terkam-menerkam 😂🤣


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih