Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Terbawa Suasana


"Dia memukuli kamu sampai begini, kamu baru tau dia jahat?? Kemana sih logikamu, K? Sebelum tau fakta ini, kamu masih percaya kalau dia baik dan kalem? Gitu??" Harris tertawa sinis. Ia kesal dengan pernyataan 'Juna ternyata jahat'.


'Dari tadi dia sudah dipukuli sampai bonyok, baru sekarang dia sadar kalau Juna breng*sek. Menyebalkan.' geram Harris dalam hati.


Keara masih terisak. Tapi sekaligus juga ingin tertawa mendengar kekesalan Harris. Dia tadi refleks saja mengucapkan kalimat itu. Sama sekali tidak bermaksud masih membela Juna. Apalagi setelah ia merasakan tiga kali tamparan yang membuat pipinya memanas, bahkan sampai sekarang. Keara juga bukan peri baik hati yang selalu berbaik sangka pada semua orang.


"Tunggu mas.. Mukanya jangan kesal begitu..." Keara terkekeh. Dengan linangan air mata dan pipi yang masih basah dan sembab. Lengannya terulur menahan Harris yang hendak bangkit dari duduknya di tepi ranjang.


"Kamu itu mau ketawa apa mau nangis?" seloroh Harris dengan ekspresi wajah datar.


"Jangan dua-duanya begitu.. Serem didengerinnya.. Kayak kuntilanak."


"Ihh.. Mas Harris... iiiiihh!!" Keara mengeluarkan jurus andalannya. Mencubiti pinggang dan dada Harris sampai pria itu meringis kesakitan. "Jangan nakut-nakutin ihh!! Ngeselin banget sihh!" Keara menggerutu gemas. Harris tergelak merasa di atas angin.


"Kita kan lagi di rumah sakit. Jangan ngomongin setan, ntar disangka manggil lagi..."


"Hahahahhaa.. Kamu tuh ya.. Sama setan takut banget... Sama manusia kayak Juna gak ada takut-takutnya.." ejek Harris. Setelah berhasil menangkap kedua tangan gadis itu. Untuk menghentikan serangan cubitan mautnya.


"Ya.. kan seremm..." Keara mencebikkan bibirnya. Dia tertunduk setelah menarik paksa tangannya yang masih dipegang Harris.


"Siapa bilang aku gak takut..? Aku takut banget.. Sampai mikir aku bakal mati di sana. Aku udah pasrah aja. Gak bisa mikir. Lemes. Gemeteran. Gak tau gimana caranya ngadepin orang mabuk. Sampai mas Harris telepon, aku ngerasa aku masih punya harapan hidup. Aku yakin mas Harris pasti benar-benar akan datang jemput aku. Nyelametin aku. Jadi aku ngulur-ngulur waktu biar ga dibawa mas Juna pergi dari sana."


Netra Harris nanar, dengan air mata sudah memenuhi kelopak matanya. Tangannya mengusap puncak kepala Keara. "Gadis pintar.. Gadis pemberani..!" ucapnya dengan senyum haru yang membuat Keara terpana.


Entah dapat keberanian dari mana, impuls Keara menggerakan raganya untuk beringsut maju. Lalu menelusupkan kepalanya di dada bidang Harris. Ia memeluk erat Harris yang terasa kaku dan canggung menerima pelukan Keara yang tiba-tiba.


"Makasih, Mas.. Terima kasih banyak. Aku bersyukur ada mas Harris di dekatku. Aku yakin mas Harris akan selalu melindungiku. Aku juga yakin, Mas Rizky di atas sana juga sedang tersenyum, dan dia pasti bahagia memiliki sahabat seperti mas Harris. Kalau mas Rizky masih hidup, dia juga pasti akan memeluk mas Harris dan mengucapkan terima kasih karena sudah menemukan dan menghukum orang tidak bertanggung jawab yang sudah mencelakainya."


Semua kalimat Keara lewat begitu saja seperti hembusan angin. Harris tidak benar-benar mendengarkan ucapan Keara. Dia lebih sibuk menata hatinya. Degup jantungnya bertalu-talu seperti tabuhan genderang perang. Bahkan wajahnya sudah memerah. Menahan gejolak hatinya yang memalukan.


Bagaimana tidak memalukan? Keara yang sudah menempelkan kepalanya di dada Harris, pasti bisa merasakan degup jantung yang berirama tidak wajar.


Perlahan tangan Harris bergerak menyentuh punggung Keara. Merapatkan raga keduanya. Mengusap dengan lembut punggung gadis mungilnya itu. Saling menghangatkan perasaan masing-masing. Mereka berpelukan tanpa kata. Menenangkan tanpa bicara.


Lama pelukan itu terjalin tanpa interupsi kata. Hening yang mencekat. Diwarnai perasaan bahagia dan haru biru, membingkai rasa syukur telah saling memiliki meski tanpa ikrar yang terucap. Tenggelam dalam pikirnya masing-masing. Keara pun larut dalam kenyamanan berada dalam kungkungan lengan kekar Harris, yang senantiasa memberinya rasa aman.


Harris menunduk dan mendapati Keara tengah menengadah di ceruk lehernya. Gadis itu tersenyum memandangnya. Senyuman termanis yang mampu mengusik ketentraman hati Harris. Mengguncangkan ketahanan imannya. Mengundang bibirnya turut mengukir senyum dengan sorot mata tajam penuh cinta.


Hening kembali menyapa. Hanya ada dua pasang mata yang bersitatap. Entah karena terbawa suasana, tiba-tiba kepala Harris seakan tertarik untuk mendekat. Semakin dekat, dekat, dan lebih dekat. Hingga hidung mereka nyaris bertemu.


"Assalamualaikum..."


sebuah suara salam disusul pintu kamar yang dibuka dari luar, membuat Harris spontan berdiri tegak. Keara terbatuk-batuk entah apa yang menggelitik tenggorokannya sampai terasa begitu gatal.


"Kearaaaaa....!!" suara nyaring yang semakin mendekat membuat Keara memberanikan diri mengangkat kepala.


"Ibuuk... Mas Arman...!!" Keara membuka lengannya demi bisa memeluk ibu. Sedangkan mas Arman mengusap puncak kepala Keara, sambil memutar-mutar wajah adiknya itu untuk melihat luka-luka yang bersarang di sana.


"Kamu gimana keadaannya? Mana yang sakit?" tanya ibu dengan nada suara sangat khawatir.


"Aku baik-baik aja kok, Buk..." jawab Keara sambil tersenyum menenangkan.


"Ibu sama Mas Arman kok tau aku di sini?"


"Dijemput sama pak Diman..." jawab Ibu. Setelahnya, ibu, mas Arman, dan Keara kompak menoleh pada Harris.


Wajah Harris masih memerah. Ia kini semakin salah tingkah dilihat ketiganya. Ia berdehem beberapa kali demi menetralkan jantungnya yang berdetak lima kali lebih cepat dibanding kondisi normalnya.


"Ehheemm.. Engg.. i-iya, aku minta Pak Diman buat jemput ibu dan mas Arman. Aku kira, kamu akan lebih nyaman di sini kalau ibu dan mas Arman menemani kamu.." jawab Harris.


Keara menunduk malu. Semburat merah menjalari wajahnya.


'Apa ya itu tadi? Mas Harris mau nyium aku? Beneran mau nyium?? Nyium bibirku?? OMG!! Kita hampir aja ciuman... Kalau saja ibu dan mas Arman gak masuk kesini tadi.. Terus bodohnya, aku tadi diam aja lagi.. udah kayak yang nungguin dicium gitu.. Iiiihh malunyaa..'. gumam Keara dalam hati.


"Eehheemm.." Harris berdehem sekali lagi. Menormalisasi debaran tidak wajar yang terus menyerang jantungnya.


"Ehmm.. K-karena ibu dan mas Arman sudah disini, saya permisi keluar dulu..."


Harris menyalami ibu dan mas Arman. Mereka juga tak lupa mengucapkan terima kasih pada Harris. Karena sudah menolong dan merawat Keara dengan baik. Sampai sudah memberikan kamar rawat VIP dan perawatan terbaik.


'Laah.. Kok keluar sih? Kirain bakal nungguin aku semalaman.. Huuh.. Dasar gunung es!! Tadi aja manis banget, kayak dewa penolong.. Gak taunya nyuruh orang buat jemput ibuk dan Mas Arman biar dia bisa pulang. Hiishh.. Jitak juga nih..'


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih