
Selanjutnya, waktu seakan berjalan melambat. Keara merasa detak jantungnya sedikit bisa terkontrol. Meski bulir bening terus mendesak turun dari netranya. Pelan-pelan ia seka dengan tisu yang sudah dire*mas dari tadi. Khawatir akan merusak make upnya.
Keara terkesiap ketika disodori selembar kertas untuk dibubuhi tanda tangannya. Tangannya yang gemetaran sudah basah karena keringat dingin yang menjalari hampir sekujur tubuhnya.
Keara melirik lelaki di sisinya. Lelaki yang baru saja resmi menjadi suaminya. Harris Risjad. Rautnya sudah merah padam sebab merasa malu bercampur bahagia yang teramat sangat. Ternyata sang suami sedang memandanginya dengan tatapan memuja.
"Silahkan, sudah sah.." ujar penghulu mempersilahkan kedua mempelai pengantin itu untuk saling bersalaman.
Tangan Keara yang gemetaran kini beradu dengan tangan kokoh sedingin es milik Harris. Namun begitu menyatu, kehangatan langsung menjalar di antara mereka berdua. Hingga keseluruhan tubuhnya meremang lalu meleleh begitu saja.
Harris menarik kedua sudut bibirnya. Mengulas senyum penuh kelegaan. Netranya tidak pernah sedikitpun melepas pandangan pada bidadari yang saat ini sedang mencium tangannya.
Ada secercah haru menggelayuti batinnya ketika Keara mencium punggung tangannya. Harris merasa hatinya begitu rapuh sampai membuatnya ingin menangis. Gadis yang dicintainya. Satu-satunya gadis yang ia cintai. Kini telah resmi menjadi istrinya. Menjadi belahan jiwanya.
Dengan lembut Harris meletakkan telapak tangannya di puncak kepala Keara. Melafalkan doa-doa pernikahan serta harapan baik untuk rumah tangga mereka. Ia bisa merasa gadisnya itu sedang menangis karena punggung tangannya yang mendadak sedikit basah.
"Sekarang kita foto dengan buku nikahnya ya, mbak.. mas.." sela seorang fotografer. Dan sontak diikuti oleh kedua mempelai.
Setelahnya mereka melakukan serangkaian prosesi sungkeman. Diarahkan oleh tim Wedding Organizer. Kemudian sesi foto bersama di depan dekorasi akad nikah yang indah.
Harris dan Keara lantas dijemput oleh mobil pengantin yang akan membawa mereka ke hotel tempat resepsi pernikahan digelar. Sedang keluarga yang lain akan menyusul setelah dhuhur. Sebelumnya, Keara diijinkan untuk melepas siger dan beragam hiasan di kepalanya. Serta menanggalkan kain jarik yang melilit kakinya. Hanya menyisakan atasan kebaya dan celana legging saja.
Harris menggamit pinggang ramping wanita yang duduk di sampingnya. Mereka sudah berada di dalam mobil yang akan membawanya menuju ke venue resepsi.
Harris tersenyum ketika mendapati wajah tegang dan malu-malu istrinya bahkan setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Rona merah di wajah dan telinga sang istri seolah memancing gairahnya untuk merengkuh gadis yang sudah jadi miliknya ini.
Cup! Cup!
Harris mendaratkan satu kecupan singkat di bahu dan pipi Keara.
Keara yang tadinya terlalu malu untuk menatap lelakinya, ia membuang muka melihat keluar jendela. Ia pun terkesiap karena tidak menduga gerakan cepat Harris mencium pipi dan bahunya. Wajah yang sudah memerah itu semakin merona dibuatnya.
"Mas Harriss.. Itu ada orang....." Keara mendelik kesal padanya. Tapi Harris hanya terkekeh.
Memang benar ada sopir mobil yang langsung senyam senyum melihat kemesraan yang masih berbalut sikap malu-malu kedua pasangan pengantin ini. Tentu saja ia tidak akan bersuara ataupun menyela apa saja yang akan dilakukan pasangan yang duduk di belakangnya ini. Tapi tatapan tajam Harris membuatnya lebih memilih bersikap seperti patung batu, karena masih ingin bekerja dengan tenang.
"Memangnya kenapa? Kamu lupa kita baru saja resmi menikah..?" Harris mengerling menggoda istrinya. Seolah ia tidak gentar sedikitpun dengan pelototan Keara. Istrinya yang menggemaskan ini tidak membuat gairahnya surut barang sebentar.
"Iya, tapi bukan berarti ga liat tempat juga.." gumam Keara sambil menunduk malu.
"Kamu kalau malu-malu gini, aku makin gemes dan ga bisa nahan diri..." Harris sudah memajukan lagi wajahnya hendak meraih bibir ranum istrinya. Tapi keburu Keara menahan bibir lelaki itu dan mencubit dadanya.
"Aaawwhh Hahhahaa.." Harris lalu tergelak. Sungguh hatinya ini sudah dipenuhi bunga yang amat sangat membahagiakan.
Harris menyerah. Tidak mungkin juga memaksa Keara meladeni otak mesumnya di dalam mobil. Ia hanya meraih pinggang ramping istrinya agar lebih dekat dengan tubuhnya. Lantas menarik lembut kepala gadis itu dan disandarkan di atas dadanya.
"Mas.."
"Dimana Hanna? Gimana kalau nanti dia datang ke hotel dan...."
"Sssstt..." sela Harris. Memutus kekhawatiran istrinya.
"Bara sudah mengamankannya, sayang.. Wanita itu tidak akan lolos begitu saja.." Harris membelai pipi lembut milik istrinya. Mendekap gadis itu sangat menenangkan baginya.
"Diamankan dimana?" rupanya ketakutan Keara akan adanya pengacau di hari bahagia masih begitu membekas. Ia ingin memastikan orang yang akan mengacau itu benar-benar tidak akan datang lagi.
"Di apartmentku, sayang.."
"Apartment?" gumam Keara. Ia tercenung mendengar jawaban suaminya. Keara jadi menyadari satu hal. Bahwa tidak banyak yang ia ketahui tentang suaminya ini. Bukan perihal harta. Tapi lebih kepada apa saja yang hal-hal pribadi tentang lelaki misterius ini.
Mereka sudah saling mengenal sejak lama. Tapi hanya sekedar kenal. Tidak ada kedekatan dan hubungan apapun. Tapi ketika mereka memutuskan untuk saling mendekatkan diri, pernikahan ini terjadi dalam waktu singkat sebelum mereka benar-benar dekat dan saling mengenal satu sama lain.
"Kenapa diam, sayang? Jangan khawatir.. Wanita gila itu tidak akan bisa mengacaukan pernikahan kita." Harris mengeratkan lagi dekapan tangannya di lengan atas Keara. Ia menciumi puncak kepala gadis kesayangannya itu.
Keara mengangguk dalam dekap sang suami.
Sesampainya di hotel, Keara dan Harris langsung memasuki kamar yang sudah dipesan sebelumnya. Kamar presidential suites di lantai dua puluh lima.
Sesuai instruksi tim WO tadi, mereka masih memiliki waktu setengah jam untuk beristirahat. Sebelum Keara dijemput untuk dirias kembali untuk persiapan resepsi sore ini.
Keara sudah merasa punggungnya kaku dan kakinya pegal-pegal. Waktu setengah jam ingin ia manfaatkan sebaik-baiknya untuk beristirahat. Mengisi ulang energinya.
Tapi ia lupa, suaminya ini punya peliharaan hewan buas yang selalu kelaparan. Yang sedang mengincar untuk memangsanya kapanpun ia lengah. Dan begitu Keara melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, baru tiga langkah, lengannya sudah dicekal dan dirapatkan sedemikian rupa pada tubuh tegap lelaki itu.
"K, mau kubantu melepaskan kebayamu? Sepertinya kancing kebaya ini cukup sulit dilepas sendiri.."
"I-iya.. Ehmm A-ku lepas sendiri aja di kamar mandi, Mas..." Sahut Keara tergagap. Dia juga wanita dewasa, yang paham modus terselubung suaminya ini. Tapi entahlah.. Ia masih sangat malu dan tak bisa mengendalikan debaran jantungnya sendiri.
"Tapi ini susah, sayang.. Butuh dua orang yang harus bekerja sama.."
"Enggg.. Gak susah kok mas.. Tadi sudah nyoba. Bisa sendiri. Ehm... Aku lepas di kamar mandi saja, sama sekalian mau bersih-bersih.. Engg.. mandi maksudnya..." Keara berkelit. Dan beringsut dengan cepat ke kamar mandi. Meninggalkan Harris yang tergelak geli melihat istrinya tersipu dan salah tingkah.
'Sabar, Riis.. Kamu masih punya waktu yang lebih panjang nanti malam dan malam-malam berikutnya..' batin Harris menghibur diri dan menenangkan juniornya yang sudah berdenyut tiap kali berdekatan dengan Keara.
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih