Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Lampu Hijau


Keara mengerjap berkali-kali. Ia mengucek matanya. Memaksa agar kesadarannya segera kembali.


Lamat-lamat ia mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Membuatnya sontak terhenyak.


Keara bangkit dari tidurnya dan berada dalam posisi terduduk. Meraih ponsel yang ia simpan di nakas samping ranjangnya. Melongok jam digital yang ditampilkan layar smartphonenya.


Pukul 00.48.


'Jam segini mas Harris baru kembali ke kamar?? Lalu dari tadi sore dia pergi kemana aja? Sama siapa? Dan apa yang dilakukannya di luar sana?'


Tiba-tiba terbersit perih menjalari sekujur hatinya. Ia terluka.


Tidak tau sebesar apa kesalahannya sampai sang suami meninggalkannya di malam pertama.


Ia juga semakin yakin kalau dirinya belum terlalu mengenal seorang Harris Risjad. Apa yang bisa membahagiakan lelaki itu.. Apa yang menyulut amarahnya.. Apa saja yang ia lakukan ketika sedang marah...


Sementara itu, Harris keluar dari kamar mandi. Dengan mengenakan celana piyama tanpa atasan. Ia mengusap rambut basahnya dengan handuk. Tapi titik-titik air yang menetes dari rambutnya masih terlihat membasahi leher dan bahu bidangnya.


Harris setengah berlari begitu ia menoleh ke ranjang. Mendapati istrinya duduk bersandar di headboard ranjang dengan mendekap kedua kaki di dada.


Tapi bukan itu yang membuat Harris terkejut. Melainkan istrinya itu menangis terisak-isak di sana.


"Sayang, kamu kenapa??" tanya Harris panik. Ia berusaha mengangkat wajah gadisnya.


wajah cantik itu dibanjiri air mata. Ujung hidungnya sudah memerah dan matanya sembab berkaca-kaca.


Harris mengusap pipi sehalus pualam milik istrinya. "Sayang.. Kamu mimpi buruk? Kenapa bangun tidur nangis-nangis begini, Hm?"


Keara menatap tajam suaminya. Meski air mata yang memenuhi membuat pandangannya kabur. "M-mas Harris dari mana barusan?"


Harris menautkan alisnya. Bingung. Bukannya jelas dia dari kamar mandi? Kok pake ditanya lagi?


"A..ku dari kamar mandi, sayang.. Aku mandi barusan.." jawabnya dengan nada sumbang.


"Tadi!" ucapnya ketus. Dengan lebih menekan nada bicara yang masih terisak-isak.


"Tadi?" ekspresi bingung Harris semakin menyebalkan di mata Keara. Pasti lelaki itu sedang memikirkan alasan untuk berbohong, pikir Keara.


"Tadi sebelum mandi? Aku tidur....."


"TIDUR DENGAN SIAPA??!!" sambar Keara secepat kilat.


"Astaghfirullahaladzim.. kamu ngagetin aja sih sayang.. Kenapa tiba-tiba marah-marah gini..?" Harris hendak duduk di tepi ranjang dekat dengan istrinya. Tapi Keara langsung mendorong sampai Harris akan terjungkal.


"Ya tidur sama istriku.. Mau tidur sama siapa lagi?" jawab Harris sambil mengusap pantatnya bekas didorong Keara.


"Mas Harris aja baru kembali ke sini, gimana bisa tidur denganku?!"


"Astaga... Enggak K.. Tadi aku sudah kembali kesini sejak jam delapan kurang, tapi kamunya sudah tidur.." Harris dengan cepat beringsut duduk di tepi ranjang samping Keara. Khawatir didorong lagi.


Keara merasa detak jantungnya berdebar lebih cepat. Lagi-lagi ia melihat badan kekar Harris tanpa terbungkus baju. Raga itu berada cukup dekat dengannya. Dan itu cukup membuat akal sehatnya kacau.


"Kapan mas Harris masuk kamar?? Aku gak tau.. A-aku telepon dan chat gak ada balasan.. Tiba-tiba sekarang, baru pulang mas langsung mandi... Siapa yang gak....."


"Bukan baru pulang sayang.. Aku beneran udah kembali ke sini sebelum jam delapan tadi." Harris membenarkan posisi duduknya.


"Ponselku di kamar sejak masih resepsi tadi.."


"Hem? Oya?"


"Iya sayangku... Lihat, itu tadi aku juga bawakan makanan.. Sekarang pasti sudah dingin" Harris menunjuk kotak makanan yang masih terbungkus plastik di meja dekat sofa.


Keara menunduk malu. Bibirnya cemberut. Tapi isakannya masih tersisa.


Harris mengangkat wajah istrinya, kemudian memberikan kecupan singkat di bibir gadis itu. "Tidurlah lagi, sayang.. Jangan berpikir yang tidak-tidak.."


"Terus kenapa mas Harris mandi malam-malam begini?" tanya Keara lagi.


"Aku gak bisa tidur, K.."


"Kenapa gak bisa tidur? Emang mas Harris ga capek..?"


"Capek...." jawab Harris mengambang.


Dia merebahkan raga istrinya, daripada harus menjawab kalau ia mandi untuk memuaskan hasr at dengan caranya sendiri. Itu lebih memalukan.


"Kalau capek kenapa gak bisa tidur?" tanya Keara lagi. Seakan istrinya ini memang berniat menggoda juniornya yang sangat ingin membobol gawang sang istri.


"Karena... Ehm....." Harris bingung hendak beralasan apa kali ini.


"Kenapa mas Harris berubah?" tanya Keara. Tidak tahan dengan sikap canggung dan setengah-setengah yang ditunjukkan Harris malam ini.


"Berubah?" Harris mengangkat alis. Tak mengerti maksud Keara.


Keara bangkit dari posisi rebahannya. Ia langsung berdiri di hadapan Harris. Membenarkan bawahan dress mininya yang sedikit menyingsing. Membuat Harris menelan salivanya saat melihat pemandangan indah tersuguh di depan mata.


"Apa.. Ehmm.. Apaa setelah menikah mas Harris tidak mencintaiku lagi?"


"Hah?"


"Apa penampilanku jelek?" Keara melihat ke bawah dirinya. Melihat baju tidur se*xy yang ia pakai ternyata kurang menarik perhatian suaminya.


'Apa baju ini terlalu se*xy? Sampai bikin mas Harris risih? Atau malah mungkin kurang se xy??' pertanyaan ini hanya terlontar dalam hati Keara saja. Ia tidak punya cukup keberanian untuk mengutarakannya langsung.


Harris menggamit pinggang istrinya. Merapatkan raga itu dengan raga tegap tanpa baju miliknya. "Ngomong apa sih istriku ini? Mana mungkin istriku jelek?? Ia bidadari paling cantik di dunia ini..."


"Dan lagi, Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu.. Menikah denganmu adalah suatu kebahagiaan yang tak terukur bagiku." Harris kembali mendaratkan kecupan singkat di bibir gadisnya.


"Terus kenapa ciuman mas Harris gak seperti biasanya?" Keara memberanikan diri bertanya hal sensitif seperti itu.


Keara ingat pesan ibunya agar Keara pandai-pandai membuat kucingnya kekenyangan. Tapi yang dilakukan Harris dari tadi hanya mengecup-ngecup saja. Tidak seperti sebelumnya, dimana Harris selalu melu mat bibirnya dengan rakus.


Harris terkekeh kecil. Tangannya membelai rambut istrinya dan sesekali mengusap pipi gadis cantiknya itu. "Aku takut tidak bisa menahan diriku sayang.."


"Menahan diri apa?"


"Menahan diri untuk tidak menyentuhmu lebih jauh.."


"Kenapa harus menahan diri?" tanya Keara lagi. Ia sungguh tidak mengerti jalan pikiran suaminya.


"Aku sangat ingin bercinta denganmu, sayang..." Harris mendekatkan wajahnya. Sengaja menempelkan ujung hidungnya menjelajahi wajah sang istri.


"Tapi aku tidak ingin melakukannya ketika kamu belum sepenuhnya siap dan menginginkanku, sayang.."


"Heh?" desiran panas mengaliri wajah hingga dada Keara. Merasakan dari dekat hangatnya nafas Harris membuat gelenyar aneh memenuhi perutnya.


"Lagipula kita sudah menikah sayang.." ujar mas Harris lagi. "Kamu milikku selamanya.. Kita tidak perlu terburu-buru.. Seperti yang pernah aku katakan, aku akan bersabar menunggu perasaan cinta itu tumbuh di hatimu.. Aku bisa menahan dir....."


"Mas.. Aku istrimu sekarang." sela Keara. "Aku siap kapanpun mas Harris menginginkanku.. Aku milikmu.."


Keara memeluk punggung telan jang itu dengan kuat. Sampai terasa gesekan kuku Keara menggores kulit punggung Harris.


'Enak saja menahan diri... Udah ditungguin dari tadi jugaa..' batin Keara.


"Jadi aku boleh melakukannya sekarang?"


Keara mengangguk.


"Kamu yakin?"


Keara mengangguk lagi. Tapi kali ini sambil tersipu dengan senyum manis berhias rona merah di pipi.


"YEEESSSS !!"


...----------------...


...----------------...


Heh, senenge ta laah mas Harris inii..


Harimau, dipersilahkan keluar kandang.. Next bab kita main terkam-terkaman.


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih