
Harris berkali-kali mengusap wajahnya kasar. Sampai tak sengaja berkali-kali pula rambut klimisnya terkena usapan hingga berantakan. Jalanan pagi ini masih padat merayap. Harris terus saja berteriak pada pak Diman agar jalan lebih cepat. Sialaan.....
Sungguh, ia tak pernah membayangkan akan se parah ini. Menghadapi wanita yang sedang kontraksi saja sudah sangat mencekam, ditambah lagi insiden yang baru saja menimpa Keara membuat Keara semakin lemas dan tak kunjung bersuara. Membuat Harris semakin cemas tak karuan.
Sesekali Harris menoleh ke samping. Memastikan Keara masih tersadar meski cairan ketubannya telah membasahi sebagian besar jok mobilnya. Bibirnya sudah pucat pasi. Tapi wanita itu tidak mau bersuara meski saat rasa mulas menderanya. Keara hanya mendesis dan meringis menahan sakit dengan diam. Seraya tangan mencengkram kuat lengan Harris yang masih terbalut kemeja lengan panjang.
"Ck! Salip ke sebelah sini pak. Jangan jalan di jalur kanan.. Macet!" kembali Harris berdecak kesal. Kalau saja bisa, ia ingin sekali membawa Keara ke rumah sakit sambil berlari. Sepertinya lebih cepat untuk sampai ke rumah sakit. Tapi itu bukan cara terbaik.
Sungguh Harris takkan sanggup memaafkan diri sendiri jika hal buruk terjadi pada Keara. Ia tak mampu membayangkan rasa sakit yang dirasakan Keara. Mearasakan seberapa kuat cengkraman kuku-kuku jari tangan Keara di lengannya saja sudah menjadi bukti bahwa mulas yang dialami Keara teramat menyakitkan. Harris tau kalau cengkraman itu hanya mewakili sepersekian persen rasa sakit kontraksi.
Kembali diliriknya Keara karena cengkraman di lengannya berangsur melemah. Keara juga tak begitu meringis dan mendesis. Kontraksinya berhenti sejenak.
"Sayangku, say something.." Harris membelai surai lepek Keara dengan sebelah tangan yang bebas dari cengkraman Keara. "Kamu bahkan ga teriak saat kesakitan.. Kamu bikin aku kuatir, sayang.."
Keara mengusap lembut lengan Harris yang sedari tadi menerima keganasan cengkramannya. Bermaksud menenangkan lelaki itu. Terbalik memang. Harusnya Keara lah yang ditenangkan. Agar tidak stress. Agar bisa melakukan persalinan dengan lancar. Ini malah Harris yang stress dan uring-uringan.
Keara mendongak menatap Harris. "Mas,.. Haus..."
"Astaghfirullah......" Harris merutuki kebodohannya yang tidak memberi minum untuk Keara setelah tadi mengalami insiden cukup mengerikan di rumah.
Harris membongkar tas bekal yang tadi disiapkan Keara untuknya. Kemudian mengangsurkan tumbler berisi air mineral yang langsung diteguk dengan semangat oleh Keara. Tenggorokannya yang basah karena bertemu dengan air putih segar seolah memberi kekuatan baru untuk menghadapi kontraksi yang akan menyerang kembali.
"Sayang, mau jus tomat?" tawar Harris.
Keara menggeleng. Sedetik kemudian cengkraman di lengan Harris menguat kembali. Wajah cantik Keara juga kembali meringis menahan sakit.
Harris merasa tak berdaya. Biasanya, setiap kali ada masalah apapun, dia akan pasang badan untuk melindungi Keara. Tapi kali ini ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong wanitanya. Bahkan hanya sekedar mengurangi rasa sakit yang diderita Keara, Harris tak bisa. Sungguh, ia sangat frustasi dibuatnya.
Sampai-sampai setiap kali Keara kesakitan, Harris akan meneriaki pak Diman untuk melaju lebih cepat. Menyalip di sisi kanan atau kiri. Memaki pengguna jalan lain yang berkendara ugal-ugalan sehingga mengganggu perjalanannya.
Keara hanya menggeleng geli. Namun tak punya cadangan tenaga untuk memprotes sikap Harris yang uring-uringan. Sampai kontraksinya mereda, ia kembali mengusap lembut lengan Harris.
"Sabar, mas... Jangan marah-marah terus.." lirih Keara dengan wajah pucatnya.
"Ga bisa, sayang.. Aku stress banget liat kamu kesakitan gini tapi ga bisa bantu apa-apa."
Keara mendengus. Ingin sekali Keara memberi kultum pada suami tampannya ini, kalau dia bisa sangat membantu dengan memberi Keara ketenangan. Tapi kali ini Keara lebih memilih diam. She's on the 'saving energy' mode.
"Telepon ibuk, mas.." pinta Keara.
"Oh iya.. Iya..." Harris dengan tergesa gesa merogoh ponsel di saku celananya. Mendial nomor ibu mertua dan langsung menyalakan loudspeaker.
"Halo.. Assalamualaikum.." suara ibu terdengar begitu panggilan tersambung.
"Waalaikumsalam ibuk.." jawab Keara. Suaranya masih serak dan gemetar.
"Keara.. Ada apa nak? Kok suara kamu...."
"K mau lahiran buk... Sakiiitt.." rengek Keara. Membuat Harris menaikkan alisnya. Sedari tadi Keara hanya diam di mobil, baru sekarang dia berbicara cukup panjang dan merengek sakit.
"Masyaa Allah... Sekarang sudah di rumah sakit?"
"Belum. Masih di jalan. Kena macet. Aaahh....." keara mendesis kesakitan. Mulas di perutnya kembali terasa.
"K.. Dengerin ibuk yaa. Kamu ga boleh cengeng. Jangan menghabiskan energi untuk menangis, apalagi berteriak. Melahirkan itu butuh tenaga dan kekuatan si ibu.. Bayangkan bayi sedang mencari jalan keluar dari perut kamu, makanya terasa sakit.." tutur ibuk memberi wejangan.
Keara hanya mengangguk, meski tidak terlihat oleh ibuk, dengan wajah yang masih meringis menahan sakit.
Keara menggeser posisi duduknya. Ia merubuhkan diri hingga berbaring miring dengan kepala berbantal paha Harris.
Harris mengusap pipi Keara dengan lembut. Raut paniknya masih tergambar jelas.
"Ibuk langsung ke rumah sakit nanti setelah mas Arman pulang. Mas Arman ibuk suruh ijin pulang cepet dari kantor, biar bisa nemenin kamu lahiran." lanjut ibuk. "Nak Harris jagain Kearanya yaa.. Jangan ikutan panik.."
"Gak bisa, buk.." sahut Harris cepat. "Ketubannya udah rembes dari tadi. Keara juga kesakitan terus, saya lihatnya ga tega buk.. Mana jalanan macet banget kayak ta*ik, duh pak Diman... Ga ada jalan lain apa..."
Keara terperangah. Melongo bukan main. Harris tanpa sadar mengucap kata kasar ketika sedang berbicara dengan ibu mertuanya? Hah.....? Unbelieveable.
Keara yakin ibunya di seberang sana juga pasti sedang terkejut. Menantu yang dikenalnya alim, kalem, dan berwibawa itu bisa-bisanya mengumpat depan mertua saat panik. Mana ga sadar lagi kalau sudah ngomong kotor.
"Sayang, kamu senyum.. Eh iyaa.. Kamu udah bisa senyum sayang? Hm..?" Harris memeluk kepala Keara dengan senyum lebarnya. Tampak sangat senang hanya dengan melihat Keara tersenyum.
Keara mendengus. Gimana ga senyum..? Tingkah suaminya absurd gitu....
"nak Harris jangan panik juga.. Biar Keara gak tambah panik. Daripada kemrungsung ga jelas, Itu mending diusap yang lembut perut Kearanya.. Trus sambil berdoa yang baik-baik.. Semoga proses persalinan lancar dan selamat ibu dan bayinya..."
"Iya buk.. Iya.. Baik buk.." mas Harris mengangguk-angguk seolah benar-benar bicara berhadapan dengan ibuk. Tangannya terulur mengusap perut Keara. Menuruti perkataan ibu mertuanya. Merapalkan doa-doa dengan merdu dan khusyu' dalam hati. Sebelum akhirnya sampai di rumah sakit dan Keara segera dilarikan ke IGD .
Di IGD, dokter kandungan Keara sedang berada di tempat. Sehingga Harris bisa bernafas lega karena Keara langsung ditangani oleh dokter Kalila.
"Wah.. Sudah bukaan enam ini. Perkiraan saya satu sampai dua jam lagi bisa lahir.." ucap dokter Kalila.
Keara yang merasa sudah berada di rumah sakit kini bisa sedikit lebih tenang. Keadaan mencekam yang terjadi di rumahnya tadi berangsur terlupakan. Kini ia mengusap perut besarnya sembari memberi afirmasi positif pada dua janinnya.
"Tapi dok, ketubannya sudah pecah dari tadi.. Apa tidak bahaya kalau melahirkan secara normal?" mas Harris terlihat masih tegang dan cemas. Keara mengusap telapak tangan besar Harris.
"Tidak apa-apa Pak Harris.. Ketubannya masih ada. Masih bisa ditunggu sampai dua jam lagi. Paling lama. Semoga segera lahir sebelum dua jam ya pak.." jelas dokter Kalila dengan sabar. "Asal ibunya kuat, bisa lahiran secara normal.."
"Kamu kuat sayang?" tanya Harris pada Keara. Dan dijawab dengan anggukan mantap dari Keara. Dokter Kalila pun meninggalkan Harris dan Keara untuk mempersiapkan proses persalinan.
Harris kembali menatap Keara. "Sayang, kamu ga harus melahirkan secara normal. Kamu...."
"Sudah, sayang.. Jangan khawatir. I'm okay. Tadi aku cuma shock liat preman-preman itu." Keara menghela nafas. "Mereka siapa mas?"
Harris mengangkat bahu. "aku juga tidak tau sayang.."
Keara menatap intens Harris. Netranya berair menahan mulas di perut. Tapi rasa penasaran terus menuntut ingin dituntaskan. "Sayang, jujur deh.. Kamu ada masalah? Mas Harris berantem sama orang?"
Harris menggeleng. "Engga sayang.. Aku bisa pastikan. Tidak ada masalah. Aku juga ga tau mereka siapa."
Harris bisa tau, Keara, istrinya yang cerewet itu tak akan puas dengan jawaban ketidak tauannya. Tapi wanita itu sedang sibuk menahan rasa sakit yang kembali menyerang perutnya lebih intens.
Harris mengusap lembut perut Keara. Wanitanya yang sedang berbaring menghadap kiri di atas ranjang rumah sakit itu terus bergerak gelisah sembari merintih kesakitan. Sampai tiba-tiba Keara meraih lengan Harris yang sedang mengusap perutnya. Keara meremas lengan itu dengan sekuat-kuatnya hingga Harris membulatkan netranya.
"AAAAWWHHHH... MAASSSS... SAKIIIIIIITTTTT !!!"
...****************...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih