Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Tanda-Tanda


"T-testpack? Buat apa Buk?" tanya Keara polos.


"Buat test urine.. Kayaknya ibu mau punya cucu nih kalau diliat dari tanda-tandanya.." jawab ibu seraya menaik turunkan alisnya seraya tersenyum lebar penuh arti.


Keara ikut tersenyum. Rona merah perlahan menjalari wajahnya. Membayangkan ada benih dari lelaki tercintanya tumbuh di dalam rahimnya, membuat dadanya berdebar. Benarkah aku sedang hamil?


"Tapi aku gak punya testpack buk.."


"Minta dibelikan saja sama siapa gitu.."


Keara mengangguk. Lalu ia menelepon ke bawah dan meminta Bik Santi membeli testpack seperti saran sang ibu.


"Wah, iyaa.. Iya non.. Siap. Saya belikan sekarang, yang paling akurat." jawab Bik Santi antusias.


"Semangat banget Bik Santi ini.. Emang mau ketemu siapa di apotik, bik?" seloroh Keara.


"Iih.. Bukan mau ketemu siapa-siapa non.. Cuman saya emang udah feeling aja Non Keara lagi hamil. Tapi gak berani bilang.. Hehe.." terdengar suara bik Santi terkekeh, dan suara bisik-bisik asisten rumah tangga yang lain di belakang bik Santi. Sepertinya semua orang ikut antusias mendengarkan begitu tau Bik Santi dapat tugas untuk membeli alat untuk mengetes kehamilan itu.


"Masa? Emang gimana bisa punya feeling gitu Bik?" tanya Keara penasaran. Dia yang punya badan saja gak nyadar dia benar sedang hamil atau tidak. Masa orang lain bisa sampai merasa begitu.


"Iyaa.. Habis semingguan ini non Keara agak aneh.."


"Aneh? Aneh gimana Bik?"


"Itu.. soalnya.. Non K sering banget pake baju Tuan Harris."


"Emang itu tanda orang hamil bik?" tanya Keara lagi. Wajah pucatnya sudah berangsur membaik karena dihiasi senyuman cerah pagi ini. Ia sampai lupa kalau Bik Santi jadi tidak bisa segera pergi ke apotik karena di terus bertanya.


"Iya, bisa jadi non.."


"Terus, biasanya Non Keara itu rajin banget bangun pagi, terus nyiapin sarapan buat Tuan Harris. Sekarang turun dari kamarnya agak siangan, barengan sama tuan, dan makan masakan bibik.. Hehee.. Tapi bukan maksud bibik ngatain non males atau gimana yaa.. ehmm.. maksud bibik, wajar gitu kalau orang hamil paginya suka males bangun, mual, gitu-gitu laah non..." jelas Bik Santi panjang lebar.


"Ya udah, biar lebih pasti cepetan sekarang beliin saya testpack bik.."


"Iya non.. Siapp..."


Tut !


Telepon terputus.


Keara tersenyum sambil bergeleng kepala. Ia sungguh tidak memikirkan sebelumnya tentang tanda-tanda kehamilan yang disebutkan Bik Santi tadi.


Ibu Marni juga tersenyum sembari membelai lembut rambut putrinya. Dalam hati ia merasa lega dan sangat bersyukur, kehidupan putrinya setelah menikah ternyata jauh lebih baik dan bahagia. Suami Keara tidak hanya sekedar menikahi saja. Tapi Harris benar-benar mencintai dan memperlakukan Keara seperti ratu dalam istana megah berlimpah harta.


"Ada ada aja Bik Santi itu, Buk..." ujar Keara dengan terkekeh kecil.


"Ibuk seneng.. Kamu kelihatan bahagia banget, K."


"Iya, buk.. K bahagia banget."


"Mas Harris baik kan sama kamu?"


"Baik banget Buk.. Sangat baik." ujar Keara dengan senyum terkembang. Meskipun masih pucat, tapi keceriaannya sudah kembali lagi.


"Alhamdulillah.."


"Sini, Buk.. Tiduran sebelah aku. K kangen tidur sama ibuk.." Keara menepuk ranjang di sisinya yang masih luas. Bahkan masih bisa diisi dua orang dewasa lagi.


Ibu menurut, duduk berselonjor kaki di ranjang. Dengan kepala bersandar di headboard. Tangan keriputnya terus memberi usapan lembut dan penuh kasih sayang pada rambut putrinya.


Keara tersenyum mengingat suaminya itu cekatan sekali merawatnya saat sedang sakit. Lelaki itu bahkan hampir saja melewatkan sebuah meeting penting hanya untuk menemaninya.


"Iya buk.. Tadi itu mas Harris ada meeting sama klien orang Korea. Mau dibatalin sama dia, tapi gak aku bolehin. Aku bilang mau ditemani ibuk aja selama dia pergi meeting. Jadinya mas Harris bisa tenang meetingnya." jawab Keara.


"Jadi ibuk cuma dijadiin asisten istri CEO aja nih...? Cuma nemenin biar bu boss ini gak kesepian...?" goda ibu.


"Hah?" Keara menaikkan alisnya. Tapi sedetik kemudian ia terkekeh. Ada-ada aja diksi ibu nih.. Asisten istri CEO.


"Ya enggaklaah ibuk... Emang K kangen banget sama ibu." Keara berbaring miring sambil memeluk kaki ibunya. "K kangen juga sama mas Arman sebenarnya.. Tapi dia pasti ga bisa kemari, karena lebih milih di kantor sama Pak Daniel. Hehe.. Mas Arman kapan sih buk ngelamar mbak Merry?"


"Masmu itu belum mantep. Katanya belum siap mental memperistri anak konglomerat. Yaah.. Walaupun perekonomian keluarga kita sudah jauh lebih baik semenjak hutang-hutang bapak kamu lunas dan kamu menikah dengan nak Harris."


"Uang bulanan dari nak Harris juga sangat-sangat berlebih." imbuh ibu dengan nada berbisik. Padahal tidak ada seorang pun yang berada di kamar itu selain mereka berdua yang bisa mendengar percakapan itu.


"Alhamdulillah ya Buk.." Keara hanya tersenyum. Ia sebenarnya merasa miris. Mengingat ayahnya yang juga mendapat jatah bulanan dari mas Harris. Meski dengan cara yang keliru.


'Jumlah uang yang diberikan pada ibu hanya setengah dari jatah bulanan bapak. Gimana yaa kalau ibu tau bapak dan mas Harris punya perjanjian somplak yang bikin bapak dapat seratus juta tiap bulan? Aku perlu cerita ke ibuk gak yaa?' gumam Keara dalam hati.


"Eh kok malah ngelamun..?" ibu mencubit pelan pipi Keara. Membuat Keara meringis karena ketahuan melamun.


"Hehe.. Gak ngelamun kok Buk.." kilah Keara. "Buk, bapak masih suka dateng ke rumah gak?"


"Udah jarang. Paling sebulan sekali. Sudah ibuk larang sering-sering datang kalau tidak ada urusan penting. Sudah beda jalan hidupnya.. Bapakmu sudah punya keluarga sendiri. Ibuk juga punya kamu dan Arman.." tutur ibu lembut.


"Ibuk tinggal di sini aja yaa sama K.. K kesepian kalau mas Harris kerja Buk.. Kalau ada ibuk kan enak, K ada temennya. Lagian nanti juga mas Arman mau nikah dan tinggal sama istrinya." pinta Keara. Tapi belum sempat ibu menjawab, suara ketukan pintu menyela pembicaraan keduanya.


Keara berteriak mempersilahkan masuk. Ia malas berjalan ke depan hanya untuk membuka pintu kamarnya.


"Sudah, itu nanti aja dibicarakan lagi.. Itu Bik Santi sudah datang." bisik ibu.


Bik Santi datang mendekat ke ranjang Keara. Membawa bungkusan plastik yang di dalamnya terdapat lebih dari satu alat test kehamilan.


"Ini non, saya belikan lima merk yang paling mahal dan akurat." ujar Bik Santi seraya menyodorkan bungkusan itu.


Keara menerima plastik tersebut lantas melongok isinya. "Banyak banget, bik?"


"Iya biar makin meyakinkan, non.." bik Santi terkekeh lucu.


"Ya sudah cepat sana kamu coba." Ibu menepuk bahu Keara. "Mari kita buktikan kalau feeling ibu benar."


"Feeling saya juga begitu bu..." timpal Bik Santi.


"Ayo kita tunggu hasilnya sama-sama, Bik.."


Keara tersenyum. Lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi dengan jantung berdebar tak karuan.


"Bismillah." lirih Keara.


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih