Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Akurat


Pagi-pagi sekali Martha datang ke perusahaan Handoko Building. Senyumnya merekah lebar pertanda ada maksud terselubung yang membingkai kedatangannya kali ini.


"Saya mau ke ruangan Pak David." ujar Martha kepada resepsionis di depan pintu masuk gedung lima lantai itu.


"Apa sudah ada janji, Nyonya Martha?"


"Sudah."


Resepsionis itu melihat daftar tamu langganan bosnya dan nama Martha tertera di sana. Martha memang tidak sekali dua kali saja datang ke perusahaan itu untuk menemui David. Resepsionis itu pun mempersilahkan Martha untuk langsung naik ke lantai empat dimana ruangan CEO Handoko Building berada.


Kaki berbalut sepatu high heels setinggi tujuh sentimeter itu melangkah dengan angkuhnya. Menengadahkan dagu melewati beberapa orang karyawan. Seolah ingin menegaskan kalau dia bukan tamu sembarangan. Tapi seseorang yang punya koneksi kuat dengan CEO perusahaan itu. David Soehandoko. Pewaris tunggal Handoko Building group.


"Selamat pagi, Dave.." sapa Martha riang, begitu raganya memasuki ruangan David. Yang disapa mengangkat kepalanya dengan malas.


Wajah David terlihat kusut dengan mata merah yang sorotnya lesu. Bagaimana tidak, semalam ia di bar bersama asistennya sampai jam empat pagi. Dan sekarang jam delapan pagi ia sudah duduk di kantornya dan hanya sampat tidur dua jam saja. Pengaruh alkohol bahkan belum sepenuhnya hilang.


"Waduuh.. Bos kita kenapa itu wajahnya kusut banget.." Goda Martha seraya mendekatkan dirinya pada Dave. Mengusap dengan sensual kedua sisi bahu Dave dan memberi kecupan singkat di pipi pria itu.


Dave mengendikkan bahu agar Martha menyingkir. "Ada apa pagi-pagi sudah kesini, tante..? Bikin kepalaku makin pusing aja." sahut Dave dengan nada malas.


Martha terkekeh kecil. Dia tau Dave semalam mabuk sampai hampir menjelang shubuh. Itulah alasan wajah Dave yang tak seberapa tampan itu semakin terlihat berantakan. "Tante tuh kesini bawa berita penting yang harus kamu tau.."


Dave mengubah posisi duduknya. Kepalanya pun menengadah demi bisa melihat Martha lebih intens. "Berita apa? Apa itu tentang Keara? Gimana? Semalam mereka berdua bertengkar hebat kan??" rentetan pertanyaan itu terlontar dengan antusias.


Martha dengan santainya melenggang ke depan meja. Lantas mendaratkan pan*tatnya untuk duduk di kursi di seberang meja Dave. "Bertengkar? Aku rasa enggak. Mereka baik-baik aja tuh. Semalam aku lihat mereka makan berdua. Tengah malam."


"APA?? Sial!!" geram Dave.


"Dave.. Dave.. omongan provokasi begitu aja mana bisa bikin orang cerai. Kamu tuh ada-ada saja. Yang frontal lah sekalian.." Martha berucap dengan nada mengejek.


Wajah Dave makin tampak kusut. Ia hanya bisa menggeram tanpa bisa membalas ejekan Martha.


"Satu lagi berita pentingnya." imbuh Martha seperti menyiram bensin di bara api. "Tadi pagi aku dengar si nyonya kecil itu nyuruh pembantu membeli testpack. Sepertinya dia hamil."


"Apa?? Aaarrghhh Breng*sek!!" Dave menggebrak meja dengan kesal. "Harusnya wanita itu hamil anakku. Aku mau dia hamil keturunanku. Aku harus bertindak."


...----------------...


.


.


Ia tidak sabar melihat hasilnya. Memastikan ada tidaknya benih lelaki yang ia cintai itu berhasil menerobos sel telurnya. Bibit premium. Begitu yang biasa disombongkan oleh Harris. Ya kali gak premium.. Calon anak emas yang akan dimanjakan setulus hati oleh kedua orang tuanya.


Sedangkan di luar kamar mandi, Ibu dan Bik Santi mondar-mandir berjalan tak jelas mau kemana. Keduanya ikut merasakan ketegangan atas hasil tes Keara yang belum kunjung keluar. Padahal sudah lebih dari lima menit berlalu.


"K, kamu bisa nggak?" seru ibu seraya mengetuk pintu keras-keras. Sudah lama tidak terdengar lagi bunyi gemericik air, membuat ibu khawatir. "Kalau gak bisa biar ibu bantu di dalem. Buka dulu pintunya.."


Tidak ada jawaban dari Keara. Tapi tak lama kemudian pintu terbuka. Wajah Keara tampak menyembul dengan ekspresi keraguan yang semakin membuat ibu dan bik Santi ikut kebingungan.


"Gimana hasilnya non?" tanya Bik Santi ingin segera menuntaskan rasa penasarannya.


Keara mengendikkan bahunya. "Gak tau nih.. Lima alat ini hasilnya beda-beda.."


"Hah? Kok bisa beda-beda?"


"Lah, beda-beda gimana tho non?"


Ibu dan Bik Santi berkata bersamaan.


"Gak akurat tuh alatnya. Jadi bingung juga kalau banyak alat. Masa lima-limanya hasilnya gak jelas gini sih.." gerutu Keara dengan wajah kesal. "Harusnya Bik Santi beli satu aja. Yang paling akurat. Yang paling mahal. Biar hasilnya gak bikin bingung begini...."


Ibu dan Bik Santi mengernyit tidak percaya. Ibu mengambil lima testpack dari tangan Keara. Lantas melihatnya satu per satu.


"Itu ada yang tandanya (+) positif. Ada yang dua garis tapi satu garisnya tipiiiis banget. Ada juga yang garisnya agak samar.." jelas Keara saat ibu mengamati tespack-testpack itu.


Ibu dan Bik Santi yang mendengar penjelasan Keara, kompak tersenyum lebar.


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih